Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 57


__ADS_3

Sudah tiga hari ini jovan berdiam diri di kamar kondisinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, bahkan jovan mengabaikan pekerjaannya. Sudah beberapa kali mbok anis sang pembantu rumah tangga memanggil jovan untuk makan tapi tidak ada respon dari dalam kamar jovan, sudah tiga hari ini jovan tidak menghiraukan kondisinya.


Kondisi wajahnya yang masih terlihat lebam membuatnya demam sejak kemarin dan tubuhnya merasa sakit semua. Jovan ingin meminum obat namun tubuhnya terasa lemah tidak bisa di gerakkan.


Mama intan dan panji rencananya akan pulang hari ini dari luar kota. Mama intan yang mendapatkan kabar dari mbok anis membuatnya khawatir sepanjang perjalanan mendengar jovan yang mengabaikan makannya.


Kurang lebih tiga jam menempuh perjalanan akhirnya panji dan mama intan sampai rumah. Mama intan tidak mau menunggu lama langsung beranjak meninggalkan mobil dan terburu-buru masuk ke dalam rumah tepatnya menuju kamar jovan.


Ketika sampai di depan kamar jovan mama intan mencoba membuka pintu kamar jovan tapi terkunci dari dalam.


"Jo, buka pintunya nak." Panggil mama intan.


Tidak ada sahutan dari dalam kamar jovan, hingga beberapa kali mama intan terus memanggil nama jovan namun tetap saja tidak ada sahutan.


Lama tidak mendapat respon dari jovan mama intan mulai khawatir fikiran-fikiran buruk mulai terlintas di benaknya, akhirnya mama intan memutuskan untuk mengambil kunci cadangan kamar jovan dikamarnya.


Setelah itu mama intan membuka kamar jovan menggunakan kunci cadangan yang sudah di ambilnya.


Ketika sudah berhasil memasuki kamar jovan manik mama intan langsung tertuju pada jovan yang saat ini sedang berbaring di atas tempat tidur, tubuhnya masih menggunakan selimut tebal.


"Jo, kamu belum bangun nak?" Ucap mama intan melihat jovan yang belum bangun padahal hari sudah akan beranjak siang.


Tidak ada respon dari jovan.


"Jo." Panggil mama intan sekali lagi, kali ini di tatapnya wajah jovan masih terlihat memar bekas pukulan beberapa hari yang lalu oleh ayahnya, Mama intan kali ini mengusap kening sang putra


Seketika membuat intan terkejut bukan main ketika merasakan sang putra sedang demam tinggi.


"Ya allah nak, kamu demam. Paaaahh." Teriak intan yang terkejut. Segera ia memanggil suaminya.


"Papaaaa." Lagi-lagi suara intan memanggil sang suami.


Panji yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah ia memarkirkan mobilnya, ia pun kaget dengan suara teriakan intan, segera ia menghampiri intan yang terdengar sedang berada di kamar jovan.


"Ada apa mah, kenapa teriak-teriak bikin kaget saja." Ujar panji sudah berada di kamar jovan.


"Jovan demam, sejak tadi aku memanggilnya tapi tidak bangun-bangun juga pa." Ucap mama intan kedua maniknya sudah berkaca-kaca menghawatirkan kondisi sang putra.


Mendengar ucapan sang istri panji juga merasa khawatir dengan keadaan jovan, ia pun segera mengambil peralatan dokternya dan segera memeriksa jovan, dan benar saja jovan mengalami demam tinggi. Ada rasa bersala di benak panji melihat putranya yang tidak berdaya terlebih lagi wajahnya masih terlihat memar akibat bekas pukulan dirinya tiga hari yang lalu.


"Jo, bangun nak. Sejak kapan kamu selemah ini?" Lirih panji melihat putra satu-satunya sedang terbaring lemah.


"Apa jo kita bawa saja ke rumah sakit pah?" Kata mama intan, sambil terus mengelus kepala jovan.


Panji mengangguk menyetujui sang istri untuk membawa jovan ke rumah sakit.


Beberapa menit kemudian ketika merasa ada yang mengelus kepalanya, jovan mengerjapkan matanya.

__ADS_1


"Jo kamu sudah bangun nak." Lirih mama intan.


"Mama, apa alina sudah kembali?" Suara serak jovan yang tiba-tiba menanyakan alina.


Mama intan hanya menggeleng.


"Ayo jo, kita ke rumah sakit. Kamu harus di rawat karena demam mu tinggi." Ucap panji ingin mengalihkan pertanyaan jovan.


"Tidak pa, Sejak kemarin jo hanya demam biasa, jika minum obat akan sembuh." Ucap jovan.


"Ya sudah papa akan meresepkanmu obat." Kata panji.


Jovan hanya mengangguk samar.


Dan panji pun keluar dari kamar jovan sementara mama intan masih menemani jovan, sebelumnya ia sudah memberitahu mbok anis untuk membuatkan jovan bubur ayam.


Tak lama kemudian mbok anis membawa bubur ayam yang telah ia buat. Segera intan membujuk jovan untuk makan sebelum meminum obatnya.


"Mah, tolong ambilkan ponselku di atas meja itu." Pinta jovan, di sela makannya.


Sudah dua hari dia tidak memegang ponselnya karena kondisi badannya yang lemah membuatnya malas untuk melakukan sesuatu dan juga memeng ponselnya.


Mama intan pun beranjak mengambilkan ponsel jovan, kemudian di berikan ponsel itu pada jovan.


Dengan menahan rasa pusing di kepalanya jovan berusaha untuk duduk dan mengambil ponselnya dan terlihat sedang ingin menghubungi seseorang.


"Siapa yang ingin kamu hubungi nak?" Tanya intan penasaran.


Terlihat jovan menghubungi seseorang.


"Assalamu'alaikum." Ucap jovan ketika teleponnya sudah tersambung.


"Walaikumsalam." Sahut erika.


"Apa aku bisa minta tolong erika?" Tanya jovan dengan suaranya masih terdengar lemah.


"Tentu kak jo, ada apa?" Tanya erika.


"Tolong bantu aku untuk menjelsakan sesuatu pada istriku, dia telah salah paham terhadap kita. Apa kamu bisa ke rumah orang tuanya siang ini?" Ucap jovan meminta bantuan pada erika.


"Temui istrimu? baiklah. Berikan alamatnya."


Setelah sambungan telepon terputus jovan pun segera mengirim alamat kediaman orang tua alina pada erika. Berharap masalahnya saat ini akan terselesaikan dan bisa kembali seperti semula bersama alina.


****


Sementara di kediaman hendra, sudah dua hari ini alina terus saja memikirkan jovan laki-laki yang masih sah menjadi suaminya itu. Entah kenapa ada rasa khawatir yang menguasai dirinya ketika mengingat jovan.

__ADS_1


"Bunda, perasaan alin kok nggak enak sejak kemarin." Kata alina sedikit membertahu perihal yang dirasakan.


"Mungkin hanya perasaan mu saja nak." Imbuh bunda rumi.


"Lin, kamu makan dulu ya nak, sejak kemarin kamu tidak mengisi perutmu dengan baik." Ucap bunda rumi lagi.


Alina menggeleng rasanya enggan untuk makan sesuatu, nafsu makannya tidak ada sama sekali karena terus memikirkan masalah rumah tangganya saat ini.


"Bunda, alina nggak lapar." Sahut alina.


Entah kenapa dia ingin sekali bertemu dengan suaminya, tapi rasa amarah terhadap jovan masih saja menguasai dirinya ketika kembali mengingat perbuatan jovan.


Aku sangat merindukan kak jo.


Tiba-tiba alina meneteskan air matanya ia sangat merindukan jovan.


"Sayang, sudah jangan menangis lagi. Bunda nggak tega liat kamu menangis terus setiap hari. Apa kamu merindukan suamimu nak?" Kata bunda rumi.


Mendengar perkataan bundanya alina langsung menghambur ke pelukan sang bunda, tidak bisa berkata-kata ia hanya bisa menangis saja.


"Bunda, alina sangat mencintai kak jo tapi alin juga sangat membenci perbuatannya." Ujar alina dengan tangis pilunya.


"Apa sebaiknya kamu mendengar penjelasannya dulu nak, baru kamu mengambil keputusan, jangan langsung memintanya menceraikannmu nak." Ucap bunda rumi memberi sedikit saran pada putrinya.


"Tapi alina nggak sanggup mempertahankan pernikahan ini jika jovan sudah memiliki perempuan lain." Ucap alina.


"Bunda kan sudah bilang, mintalah penjelasannya dulu." Ucap bunda rumi kembali meyakinkan alina.


Hening, tidak ada sahutan dari alina.


Alina kembali berfikir lagi apakah ia harus mengikuti saran sang bunda yang harus mendengar penjelasan jovan terlebih dulu? Alina begitu sangat kalut memikirkan semuanya.


Rumah erika, kini erika sedang ingin bersiap untuk mendatangi alamat yang dikirim oleh jovan tadi, setelah bersiap erika segera memesan taksi untuk mengantarnya ke rumah alina, meski dalam keadaan hamil besar namun erika harus membantu jovan kali ini, karena jovan sudah sangat banyak membantunya.


Namun baru saja erika ingin menaiki taksi yang sudah datang, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada panggilan masuk, nomor asing tertera di panggilam masuk tersebut.


"Halo?" Ucap erika menjawab sambungan telepon.


"Halo selamat siang, ini dengan mbak erika? kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan jika pak rey sudah sadar sepertinya ia sedang menunggu kedatangan seseorang karena sejak tadi ia hanya diam tidak berbicara." Ujar petugas rumah sakit menjelaskan kondisi rey terhadap erika.


"Baiklah saya akan segera ke sana, terimakasih informasinya." Ucap erika kemudian menutup sambungan telepon.


Erika yang tujuannya ingin mendatangi kediaman orang tua alina segera di urungkan, ia merasa menemui rey lebih penting saat ini, karena rey sangat membutuhkan dirinya. Erika memberitahu taksi tersebut untuk menuju rumah sakit x.


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2