Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 29


__ADS_3

Semakin hari alina semakin terlihat pucat, karena setiap paginya alina terus saja memuntahkan isi perutnya ketika habis sarapan. Alina sendiri juga bingung dengan kondisinya, sampai bunda dan ayahnya menyarankan alina untuk periksa ke dokter, namun alina terus saja menolak untuk ke dokter karena menganggap kondisinya baik-baik saja.


Sudah hampir dua minggu alina selalu mual dan muntah belum lagi wajahnya sangat pucat.


"Nak sebaiknya ke rumah sakit saja ya, bunda nggak tenang loh nak lihat kamu setiap pagi kayak gini." Saran bunda rumi.


Lagi-lagi alina menggeleng tidak ingin di bawa ke rumah sakit.


"Alina nggak apa-apa bunda." Sahut alina.


"Tapi ini sudah lewat dari seminggu, jangan keras kepala alina." Bunda rumi berkata dengan nada sedikit emosi karena melihat tingkah alina yang keras kepala.


Alina pun mengangguk menuruti sang bunda.


"Bunda yang temanin alin." Ucap alina kemudian. Akhiranya menuruti saran bundanya.


"Iya, memangnya siapa lagi kalau bukan bunda sayang." Ucap bunda rumi seraya mengusap kepala putrinya dengan lembut.


"Alina mau siap-siap dulu bund." Kata alina kemudian.


Alina sudah bersiap akan berangkat ke rumah sakit begitu juga dengan bunda rumi yang akan mengantar alina. Keduanya mengendarai mobil yang di kendarai oleh supir keluarganya.


Kurang lebih setengah jam berkutat dengan jalanan yang sangat macet akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang mereka tuju.


Alina dan bunda rumi segera masuk dan mendaftarkan dirinya di loket setelah itu menunggu di kursi tunggu untuk menunggu giliran.


Selang beberapa menit nama alina di panggil oleh salah satu perawat yang bertugas di ruangan dokter tersebut.


"Bun temanin alina masuk ya." Ajak alina menarik tangan bundanya agar ikut masuk ke ruang pemeriksaan.


"Selamat siang mbak alina, silahkan duduk dulu." Sambut dokter perempuan yang sedang bertugas.


Alina mengangguk sopan menanggapi dokter tersebut.


"Apa keluhan yang mbak alina alami saat ini?" Tanya dokter tersebut.


Kemudian alina menjelaskan semua keluhan yang dia rasakan selama kurang lebih dua minggu belakangan ini.


Dokter itu terlihat mengangguk mendengar setiap keluhan yang alina sebutkan.


"Kapan mbak alina terakhir kali datang bulan?" Tanya dokter itu lagi.


Sedangkan bunda rumi hanya duduk tepat di samping alina seraya mendengar dengan seksama. Sesekali mengusap punggung putrinya dengan lembut.


"Sudah hampir dua bulan ini dokter alina belum datang bulan." Keluh alina, karena memang dirinya selama hampir dua bulan ini belum juga ada tanda-tanda dia akan datang bulan.


"Kalau begitu kami akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu ya, setelah itu kami akan bisa mendiagnosa keluhan mbak alina barusan. Ayok silahkan ke hospitalbet biar langsung di periksa saja ya mbak." Kata dokter tersebut.


Alina menuruti lalu membaringkan dirinya di atas tempat tidur pemeriksaan.


Sekitar sepuluh menit dokter melakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat-alat yang tersedia. Dan akhirnya telah selesai. Namun alina di sarankan untuk pergi ke ruangan poli kandungan karena prediksi dokter umum itu kemungkinan alina sedang hamil.


"Bunda apa benar alina hamil?" Tanya alina dengan muka polosnya masih belum yakin jika dirinya akan hamil.

__ADS_1


"Untuk bisa memastikan mbak alina hamil, langsung saja ke poli kandungan ya mbak di sana bisa di lakukan USG untuk memastikan hasilnya." Ucap dokter perempuan itu.


"Iya lin, sebaiknya kita ikuti saran dokter dulu ya nak." Sahut bunda rumi membenarkan perkataan dokter itu.


Alina dan bunda rumi menuju poli kandungan, kemudian alina melakukan pemeriksaan sesuai instruksi dokter kandungan yang akan memeriksanya.


Dokter pun melakukan pemeriksaan USG pada alina dan benar saja hasil prediksi dan sesuai analisa dokterpun memang benar alina tengah hamil 7 minggu dan sangat terlihat jelas di layar monitor USG tersebut.


"Alina memang benar nak kamu sedang hamil sayang." Kata bunda rumi antusias yang tengah menyaksikan hasil yang di tampilkan pada layar monitor.


"Iya bunda alina sedang hamil." Sahut alina dengan raut wajah bahagia serta rasa haru.


Alina sangat bahagia mengetahui dirinya sedang hamil, sepulang nanti alina akan memberitahukan kabar bahagia ini pada suaminya.


Setelah menerima hasil pemeriksaan dari dokter, alina dan bunda rumi meninggalkan gedung rumah sakit tersebut dan berniat ingin segera pulang ke rumah. Ingin segera memberi kabar baik ini pada semua anggota keluarga termasuk mertua alina.


Alina masih terpaku duduk di dalam mobil sesekali pandangannya tertuju ke arah luar jendela mobil, seolah tidak menyangka dengan kehamilannya saat ini padahal dirinya dan jovan hanya melakukan hubungan suami istri baru sekali, mungkin saja alina sedang dalam masa subur saat itu.


"Alina? kamu kenapa sayang?" Tanya bunda rumi yang melihat alina sedikit melamun.


Alina hanya menggeleng, menatap ke arah bundanya dengan senyuman simpel.


"Apa kamu keberatan dengan kehamilanmu? karena suami mu tidak bisa mendampingi mu saat ini?" Imbuh bunda rumi lagi membenarkan yang mungkin saja ada di fikiran alina.


"Alina sangat merindukan kak jo." Ucap alina kemudian, dengan air mata yang sudah terlihat menggenang.


Alina kemudian memeluk bundanya, air mata sudah luruh di kedua pipinya.


*****


Tidak terasa pada malam hari usai semuanya melakukan kewajiban ibadah serta makan malamnya terlihat semua keluarga sedang berkumpul di ruang kuarga sekaligus menonton acara tv yang ada.


"Ayah, coba buka amplop ini." Ucap alin pada ayahnya seraya menyerahkan sebuah amplop putih persegi panjang pada hendra.


"Apa ini nak?" Ayah hendra pun sedikit penasaran.


Begitu juga dengan aby yang sudah terlihat penasaran dengan isi amplop yang baru saja alina tunjukkan pada ayahnya.


"Mungkin saja hasil nilai alina yah, kali aja dapat nilai jelek terus ayah di suruh dateng ke kampusnya." Tebak aby asal-asalan.


Alina mendengus kesal mendengar tebakan abangnya itu.


"Apaan sih bang, alin nggak pernah dapat nilai jelek loh ya." Sahut alina dengan raut wajah cemberut.


Bunda rumi hanya tersenyum melihat tingkah putra putrinya.


Ayah hendra sedang menelisik isi surat yang baru saja ia buka, dan seketika itu juga ayah hendra tersenyum lebar membaca hasil pemeriksaan alina yang ternyata sedang positif hamil.


"Aku akan menjadi seorang kakek." Ucap hendra antusias dengan raut wajah bahagianya.


Aby sedikit menyerngitkan dahinya, mencerna apa yang di ucapkan ayahnya barusan.


"Ada apa si yah?" Tanya aby penasaran. Kemudian mengambil alih sebuah kertas yang di pegang oleh ayahnya.

__ADS_1


"Ini serius dek, kamu mau punya baby? waahhh aby udah mau jadi om aja nih bunda, ayah." Ucap aby tak kalah bahagia setelah membaca hasil tes alina.


"Bang, pinjem dulu kertasnya, alin mau fotoin habis itu mau kirim ke mama intan dan kak jo." Imbuh alina.


Alina mengambil gambar hasil pemeriksaannya serta foto USG yang di berikan dokter tadi kemudian di kirim ke mama mertuanya serta suaminya melalui chat aplikasi Whatshapp.


Beberapa menit kemudian setelah gambar alina terkirim, langsung saja terdengar nada ponsel alina berdering dan menampilkan sebuah panggilan vidio call dari jovan suaminya.


"Assalamu'alaikum, sayang. Beneran kamu positif hamil?" Ucap jovan dengan raut wajah sangat bahagia di balik layar ponsel alina serta senyum lebar sudah terpancar.


Alina mengangguk tersenyum.


"Walaikumsalam. Iya kak jo alin hamil." Sahut alina tak kalah bahagia.


"Sayang, maaf. Mungkin aku nggak bisa dampingi kamu selama hamil tapi aku janji jika kamu mendekati waktu persalinan aku akan pulang." Kata jo dengan nada suara terdengar menyesal karena tidak bisa mendampingin istrinya yang sedang hamil.


Alina hanya diam mendengar ucapan suaminya, entah kenapa hatinya merasa sangat sedih mendengar ucapan suaminya, membuat kedua netranya kembali berkaca-kaca.


Alina hanya menggeleng seolah berkata tidak apa-apa pada jovan. Mulutnya tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata, tenggorokannya serasa tercekat karena menahan tangis.


"Alina, jangan menangis akan ku usahakan agar bisa pulang." Ucap jovan berusaha menenangkan alina.


Anggota keluarga yang ada di sekitar alina hanya menyaksikan alina yang sedang melepas rindu bersama suaminya.


Alina tidak tahan lagi ingin meluapkan tangisnya, dia pun menyerahkan ponselnya pada bundanya lalu memeluk sang bunda.


"Bunda." Panggil jovan pada ibu mertuanya.


"Iya nak, apa kamu sehat di sana?" Tanya bunda rumi pada menantunya.


"Alhamdulillah sehat bunda. Bunda dan ayah bagaimana kabarnya dan bang aby juga?" Tanya jovan.


"Alhamdulillah sehat semua." Sahut bunda rumi.


"Bunda, ayah. Jo titip alina, saya minta maaf tidak bisa menemani alina saat ini." Ucap jovan pada kedua mertuanya dengan berat hati serta rasa bersalah.


Bunda rumi dan ayah hendra hanya mengangguk serta memberikan dukungan pada sang menantu di sana.


"Halo bang aby, apa kabar?" Sapa jovan pada abang iparnya.


"Alhamdulillah sangat baik seperti yang kamu lihat." Jawab aby dengan senyumnya menanggapi jovan.


"Alhamdulillah, saya titip alina ya bang." Ucap jovan kemudian.


"Aku akan menjaganya meskipun kamu tidak memintanya jo." Imbuh aby.


Jovan haya tersenyum, sangat bersyukur memiliki saudara ipar serta mertua yang begitu baik padanya yang bisa memahami posisinya saat ini.


Jovan melihat alina yang masih menangis dengan posisi memeluk bundanya.


Seketika hati jovan merasakan sedih, tidak tega melihat istrinya yang selalu mengeluarkan air mata. Jovan pun ingin segera menutup sambungan telepon, kebetulan dirinya saat ini sedang ada jam kuliah.


Kemudian jovan menutup panggilan vidionya setelah mengucapkan salam pada anggota keluarganya dan juga istrinya tercinta.

__ADS_1


__ADS_2