Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Part 9


__ADS_3

Hari ini aby memutuskan untuk menemui shanum di rumah utama mertuanya, Aby memutuskan untuk tetap mempertahankan pernikahannya meski shanum bersi keras dengan meminta bercerai, aby tidak akan mudah mengabulkannya.


Aby bahkan menyesal telah menyia nyiakan wanita itu. Aby bahkan telah menodai ikatan pernikahan dengan perlakuan buruknya selama ini.


Saat ini aby sedang dalam perjalanan menuju rumah shanum, dan tidak membutuhkan waktu lama aby telah sampai di halaman rumah yang terlihat mewah itu.


Seperti biasa terlihat seorang satpam menyambut aby dengan baik, dan sesampainya di pintu ruang tamu seorang wanita paruh baya melihat kedatangan aby.


"Pak aby sedang mencari non shanum ya?" Tanya wanita paruh baya itu yang sudah lama mengabdikan dirinya dengan keluarga shanum.


Aby mengangguk membenarkan wanita itu.


"Shanum ada bi?" Tanya aby.


"Non shanum masih di kamarnya pak, barangkali sedang bersiap akan ke kantor." Jawab bi sumi.


Aby menyerngitkan dahi merasa heran mendengar shanum bekerja di kantor.


"Ke kantor?" Tanya aby ingin lebih memastikan.


"Benar pak, sekarang kan non shanum sudah mulai bekerja di kantor dadynya sudah hampir seminggu ini." Ucap bi sumi dan berhasil mengejutkan aby.


Aby terlihat mengangguk saja mendengar penuturan wanita paruh baya di depannya ini. Kemudian aby melanjutkan langkahnya untuk segera menemui shanum di kamarnya.


"Saya ke kamarnya shanum ya bi." Kata aby kemudian berlalu.


Bi sumi hanya mengangguk samar.


Sesampainya di kamar shanum aby mengedarkan pandangannya dan tidak menemui shanum di sana, Setelah aby mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, aby menduga jika shanum sedang mandi.


Aby dengan santainya duduk di sofa kamar shanum. ia berniat menunggu shanum menyelesaikan kegiatan mandinya.


Selang sepuluh menit terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, aby yang sejak tadi fokus dengan ponselnya seketika menoleh ke arah suara pintu tersebut.


Aby sedikit melongoh melihat penampilan shanum saat ini yang masih menggunakan jubah mandinya yang panjangnya hanya selutut dan sedang mengeringkan rambut basahnya yang berwarna sedikit pirang karena memang shanum mengikuti gen sang ibu yang rambutnya memang berwarna pirang sebab jesi mami shanum adalah keturunan prancis, kulit shanum sangat putih kontras.


Sementara shanum belum menyadari kehadiran aby di sofa miliknya karena masih asik mengeringkan rambutnya menggunakan handuk seraya langkahnya menuju cermin meja rias. Dan ketika shanum berniat untuk mengambil hairdryer tiba-tiba ia melihat pantulan aby yang sedang duduk di sofa seraya meneliti shanum dari sana.

__ADS_1


Betapa terkejut bukan main shanum sontak berbalik untuk memastikan jika yang dilihat tidak nyata. Dan benar saja aby berada di sofanya.


"K...kak aby." Gumam shanum gugup.


Menyadari penampilannya sangat terbuka, shanum segerap berlari menuju walk in closet miliknya.


Ya allah kenapa kak aby tiba-tiba ada di kamar si. Shanumkan malu.


Batin shanum, ia merasa sangat malu di depan aby jika tidak menggunakan hijabnya. Karena memang shanum tidak pernah berpenampilan terbuka di depan aby sebelumnya, apalagi aby meminta untuk tidur pisah kamar dengan shanum selama pernikahannya. Hingga aby belum pernah sama sekali melihat penampilan shanum yang seperti tadi.


Shanum segera memakai baju gamisnya dengan hijab instan syar'i, setelah selesai shanum segera menemui aby.


"Kak aby di sini?" Ucap shamun mencoba menetralkan rasa gugupnya karena masih merasa malu ketika aby melihat penampilannya tadi.


Aby melihat ke arah shanum, dia juga sedikit gugup melihat penampilan shanum baru saja. Penampilan yang bahkan tidak pernah ia lihat sebelumnya.


"Kenapa kamu tidak pernah pulang ke rumah, kamu bahkan tidak meminta ijinku untuk menginap di rumah orang tuamu." Tukas aby dengan nada datar.


Shanum menyerngitkan dahi, heran dengan penuturan laki-laki yang ada di depannya ini.


"Siapa yang akan bercerai, aku tidak pernah meminta untuk bercerai shanum." Kata aby, dia tetap tidak akan pernah menceraikan shanum apapun alasannya.


Shanum menggeleng tidak ingin lagi melanjutkan hubungan ini.


"Tapi aku minta bercerai, aku tidak mau lagi terikat dengan pernikahan seperti ini. Shanum sudah capek." Lirih shanum suaranya terdengar bergetar menahan tangisnya.


"Kamu tidak perlu memaksakan hubungan seperti ini kak aby yang bahkan tidak ada sedikitpun rasa untuk di hargai sedikitpun, akan lebih baik kita berpisah." Ucap shanum lagi.


"Jangan mimpi kamu shanum, aku tetap tidak akan pernah bisa mengabulkan permintaan bodohmu itu." Ujar aby sudah emosi mendengar shanum yang terus memintanya menceraikannya.


Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh juga, aby bahkan masih berkata dengan emosi terhadapnya.


"Tolong bebaskan shanum kak, shanum ingin melanjutkan hidup shanum seperti layaknya wanita lain di luar sana." Lirih shanum dengan isak tangisnya.


Waktu masih menunjukkan pagi, aby sudah datang ke rumahnya membuat kekacauan. Bahkan membuat shanum menangis.


Aby yang melihat shanum menangis, merasa iba dan tidak tega menyaksikan wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu menangis piluh.

__ADS_1


"Shanum...." Gumam aby, kali ini dengan suara lembut.


Aby perlahan memberanikan diri untuk mendekati shanum, dengan seketika ia memeluk tubuh shanum yang bergetar kerena menangis.


"Maafkan aku, apa tidak ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya? aku ingin memulainya dari awal, aku ingin menebus semua dosa-dosaku karena telah mengabaikanmu selama ini. Aku mengaku salah, Apa tidak ada kesempatan sedikitpun untukku shanum?" Tutur aby kali ini ia melembut dan tidak lagi terdengar sarkas seperti sebelumnya.


Shanum yang mendapatkan pelukan dari aby untuk pertama kalinya, sama sekali tidak merespon perlakuan aby saat ini, shanum tidak membalas pelukan laki-laki itu.


"Aku minta maaf, ijinkan aku memperbaiki semuanya." Gumam aby lagi masih dengan posisi memeluk shanum.


Sementara shanum masih menangis. Detik kemudian shanum menggeleng.


"Shanum tidak bisa kak, ijinkan shanum pergi dari kehidupan kak aby, jangan membuat shanum tambah berdosa kak aby dengan bertahan pada pernikahan ini, bahkan shanum sudah seminggu tidak pulang ke rumah tanpa seijin suami shanum bukankah itu sangat berdosa kak aby? tapi jika shanum memilih pulang sudah pasti shanum akan di abaikan lagi. Shanum sudah lelah kak aby, tolong lepaskan shanum." Ujar shanum tangisnya semakin menjadi.


Mendengar setiap ucapan shanum yang membuat aby merasa tertampar, pelukan yang di berikan untuk shanum perlahan melemah. Dan kini mencoba menatap wajah cantik yang terlihat rapu wanita di hadapannya kini.


Kedua manik aby menatap dalam pada shanum dan kali ini kedua tangannya berpindah untuk menangkup wajah cantik shanum.


"Apa tidak ada kesemapatan untukku shanum? apa aku tidak berhak mendapatkan kesempatan?" Tanya aby lirih menatap kedua manik shanum.


Shanum melepaskan tangan aby lalu menunduk. Detik kemudian shanum menggeleng yakin dia tidak ingin lagi melanjutkan pernikahannya ini.


"Aku tetap tidak bisa." Jawab shanum suara tangisnya perlahan meredah hanya terdengar nada sesegukan.


Melihat respon shanum yang tetap meminta untuk berpisah, aby mengusap kasar wajahnya menarik nafas dalam. Kali ini aby tidak bisa meyakinkan shanum untuk memperbaiki semuanya.


Semetara di balik pintu kamar shanum yang sedikit terbuka tante rita yang ingin memanggil shanum untuk sarapan, menghentikan langkahnya ketika mendengar suara shanum dan aby berbicara. Tante rita telah mendengar semuanya dan dia hanya bisa berdoa semoga semuanya baik-baik sjaa, semoga apa keputusan shanum adalah yang terbaiki dan shanum tidak pernah menyesal nantinya.


Apapun keputusanmu tante dukung nak selama kamu merasa nyaman dan tidak merasa di sakiti lagi. Batin tante rita.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2