Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 16


__ADS_3

Melihat jovan bersikap dingin padanya dan tidak mengajaknya berbicara, alina tidak bisa memejamkan matanya meski malam sudah sangat larut, dia memikirkan kesalahannya yang membuat mood suaminya seperti itu.


Jovan tertidur di samping alina dengan posisi memunggungi alina, tidak biasanya jovan bersikap seperti ini padanya, biasanya jovan akan tertidur seraya memeluk alina dari belakang, namun kali ini tidak di lakukan oleh jovan.


Alina menoleh ke arah samping melihat suaminya yang sedang tertidur memunggungi dirinya.


"Kak jo." Panggil alina, melihat ke arah jovan.


"Tidurlah aku mengantuk." Sahut jovan yang enggan melihat ke arah istrinya itu.


"Apa kak jo marah sama alin?" Tanya alina yang sudah tidak tahan dengan sikap suaminya hari ini.


Jovan tetap tidak menghiraukan alina, dia tetap saja dengan posisinya. Sementara alina yang melihat suaminya tidak lagi menghiraukannya seketika menangis dalam diam.


"Apa kak jo marah ke alin, belum bisa menjadi istri yang sesungguhnya?" Ucap alina sudah dengan suara seraknya karena menangis.


Jovan yang mendengar nada suara berbeda istrinya seperti sedang menangis sontak dia menoleh ke arah alina dan benar saja alina sudah menangis.


Wanita yang tetap menggunakan hijab ketika tertidur itu menangis dengan posisi yang sudah memunggungi sang suami, punggungnya terlihat bergetar menahan tangis di tengah malam.


Jovan yang tidak tega melihat alina menangis dia pun mengikis jarak dan mendekatkan dirinya pada alina, jovan melingkarkan tangannya memeluk wanita yang sudah sah menjadi istrinya selama dua bulan ini. Namun selama dua bulan juga jovan dengan begitu sangat mengendalikan hasratnya ketika berdeketan dengan sang istri.


"Maaf." Hanya itu yang jovan ucapkan seraya mendekap erat tubuh alina.


Alina yang merasakan pelukan jovan lagi sontak dia membalikkan dirinya ke arah suaminya itu. Alina kembali menggumamkan kata maaf dengan begitu lirih seraya air mata yang masih betah keluar dari kedua netranya.

__ADS_1


"Kak jo maafkan alian yang selama ini belum bisa menjadi istri sesungguhnya buat kak jo." Lirih alina.


"Alin ingin menjadi istri sesungguhnya buat kak jo sekarang." Sambung alina lagi dengan begitu yakin.


Dan sontak saja membuat jovan terkejut dengan perktaan yang keluar dari mulut alina. Jovan masih mencernah kata-kata yang di lontarkan sang istri. Jovan memperhatikan setiap inci wajah istrinya yang masih begitu polos dan lugu, yang pipinya masih di basahi oleh air mata. Jovan perlahan mengusap air mata yang mengalir, ia menangkup kedua pipi mulus alina.


"Jangan menangis lagi, Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya jika kamu belum siap. Aku akan menunggu sampai kamu siap." Ucap jovan masih mengelus pipi mulus sang istri.


Alina menggeleng cepat untuk meyakinkan jovan jika dirinya telah siap.


"Alina siap." Ucap alina dengan yakin masih menatap mata sang suami.


"Nggak alin, aku nggak mau kamu melakukannya dengan terpaksa. Sebaiknya kita tidur ya ini sudah larut malam" Jovan kembali bersuara, karena tidak yakin dengan apa yang di ucapkan alina.


Gadis polos itu hanya merasa bersalah, hingga merasa dialah penyebab jovan mendiaminya sejak siang tadi sepulang sari rumah ayah hendra.


"Aku juga nggak mau melihat kak jovan bersikap dingin seperti tadi ke alin."


Jovan semakin merasa bersalah mendengar perakataan alina, mungkin jovan terlalu egois hanya karena gara-gara permintaan mertuanya. Sehinggah dia menyalahkan alina yang belum siap untuk memberikan haknya.


Entahlah, jovan hanya merasa kalut setelah mendengar pengharapan sang mertuanya tadi, dia merasa pernikahan yang ia jalani sekarang hanya seperti permainan, dia berusaha untuk tidak merasa terbebani, ingin rasanya membuang pikiran yang membuat dirinya goyah untuk mempertahankan pernikahannya.


Terkadang dia merasa jika dirinya masih belum siap menjalani kehidupan pernikahan ini, meski dirinya terus meyakinkan alin bahwa mereka akan menjalani pernikahan ini secara perlahan. Namun hati kecilnya berkata jika dia harus bertahan mengingat pernikahan mereka baru seumur jagung.


Lama jovan larut dalam lamunannya hinggah tak menyadari sang istri telah tertidur pulas masih dalam dekapannya, wanita cantik yang masih dalam dekapannya itu sudah bernafas teratur. Jovan semakin mengeratkan pelukannya seraya menciumi puncak kepala istrinya itu, mengingat sikapnya tadi yang abai terhadap alin membuat dirinya merasa sangat bersalah. Tak lama kemudian diapun ikut tertidur.

__ADS_1


******


Ke esokan harinya di waktu subuh alina terbangun ingin menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Tidak lupa ia juga membangunkan jovan, jovan yang merasa ada yang membangunkannya mengerjapkan mata berusaha mengambil alih kesadarannya.


"Kak jo, kita sholat bareng ya." Pinta alin memegang lengan suaminya.


Perlahan jovan mendudukkan dirinya, sedikit terkejut dengan permintaan sang istri. Jovan tak bergeming masih duduk di atas tempat tidur, sementara alin terus memandangi suaminya yang sama sekali tidak menyahuti permintaannya.


"Kak jo mau kan jadi imam sholatnya alin." Seru alin sekali lagi.


Jovan melihat ke arah istrinya, perlahan diapun mengangguk menuruti permintaan alin. Alin tersenyum melihat suaminya menuruti keinginannya. Lalu jovanpun menyuruh alin duluan yang masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, dan bergantian setelah alin dia baru beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


Keduanya sholat dengan jovan yang menjadi imam, ini pertama kalinya jovan menjadi imam alin setelah dua bulan pernikahan mereka. Beruntung jovan sedikit fasih dalam bacaan alqur'annya dan tidak terlalu buruk sehingga dia bisa menjadi imam sholat setidaknya untuk keluarga kecilnya.


Setelah mengerjakan sholat alina menyalami punggung tangan sang suami.


"Terima kasih ya kak jo sudah mengabulkan keinginan alin." Kata alina pada jovan.


Jovan hanya mengangguk memperlihatkan senyumnya, entah kenapa pagi ini hatinya merasa sangat bahagia hanya dengan menjadi imam untuk alin hatinya merasa sangat senang dan ada kebanggan tersendiri di dalam benaknya.


Jovan menangkup kedua pipi alin, wanita cantik yang masih dengan balutan mukenanya itu merasa jantungnya seakan berpindah dari tempatnya melihat perlakuan lembut suaminya pagi ini. Mata mereka saling memandang perlahan jovan mendekatkan wajahnya pada alin dan memberi kecupan di kening sang istri.


Perlakuan jovan kali ini lagi-lagi berhasil membuat pipi alina bersemu merah, alina hanya bisa menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"Maafkan perlakuanku yang kemarin, aku hanya merasa bingung tidak tau apa yang harus aku lakukan setelah mendengar bunda dan ayah mu sangat mengaharapkan seorang cucu dari kita, bahkan kita baru dua bulan menikah." Ucap jovan mencoba menjelaskan apa yang ada dalam hatinya sejak kemarin yang membuatnya pusing ketika memikirkannya.

__ADS_1


Alina hanya mengangguk, lalu memeluk suaminya.


"Maafkan alin juga." Kata alin dengan posisi yang sudah memeluk jovan.


__ADS_2