
Hari ini adalah jadwal alina untuk melakukan operasi kedua dan papa panji beserta tim dokter lainnya telah berhasil melakukannya, seketika rasa hawatir jovan sedikit berkurang karena operasi kedua alina berhasil, dan dokter juga menjelaskan bahwa alina sudah melewati masa kritisnya yang artinya sebentar lagi alina akan segera sadarkan diri.
Jovan masih setia menunggu alina, berharap secepatnya sang istri segera sadar. Hingga beberapa jam kemudian tepat pukul sebelas malam alina terlihat mengerjapkan mata perlahan dan terlihat pergerakan di jemari alina, jovan bisa menyaksikan bahwa istrinya itu akan sadar, moment inilah yang jovan nantikan sejak beberapa jam yang lalu setelah melewati masa kritis beberapa hari kemarin.
Kini mata alina telah terbuka sempurna dan orang yang pertama kali ia lihat adalah suami tercintanya, namun tidak ada respon sama sekali dari wanita cantik itu, justru memperlihatkan mata sendunya.
"Bunda." Suara alina seperti berbisik mencari sosok wanita yang telah melahirkannya, Meskin ada jovan yang menunggunya tetapi yang ia cari saat ini adalah bundanya.
Namun sosok bunda yang ia cari telah kembali beristirahat di kediamannya beserta ayah dan juga abangnya. Hingga kini hanya tersisa jovan saja yang setia menunggu sang istri untuk membuka mata.
"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar." Ucap jovan yang melihat alina telah sadar dan sedang menatapnya saat ini.
Namun tatapan alina tertuju pada jovan hanya spersekian detik saja, setelah itu pandangannya lalu mengedar.
Senyum tampan serta rasa haru sekaligus ia rasakan, karena mendapati istrinya sudah membuka mata.
Lalu tangan jovan terangkat, berniat menjangkau wajah cantik sang istri yang sudah sangat ia rindukan. Namun belum sempat jovan menyentuh wajah cantik yang terlihat masih sangat pucat itu, tiba-tiba saja perkataan alina menghentikan gerakan jovan.
"Jangan sentuh aku." Ucapan alina yang seketika menghentikan gerakan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya beberapan bulan lalu.
Berhasil menimbulkan rasa terkejut pada jovan.
"Alina?" Lirih jovan dengan raut wajah sedihnya, melihat alina sama sekali tidak menatap ke arahnya.
Tiba-tiba saja air mata alina sudah memenuhi pipi mulusnya dan suaranya sudah sesegukan, ada yang tidak ia sadari dengan perubahan yang ada pada kondisi tubuhnya saat ini, mungkin karena posisinya sekarang masih dalam kondisi berbaring di atas tempat tidur pasien.
Tubuhnya masih terasa kaku untuk di gerakkan, yang ia mampu hanya gerakan tangan.
"Bunda." Suara lirih alina kembali memanggil sosok bunda rumi
Jovan belum juga berniat akan memanggil dokter untuk memberitahu bahwa alina telah sadar.
"Heii sayang, ini aku. Bunda baru saja pulang." Ucap jovan memberitahu alina.
__ADS_1
Tangannya tetap memaksa untuk menggapai wajah cantik istrinya. Dan kini telah berhasil menangkup wajah sang istri. Alina sama sekali tidak ingin melihat wajah jovan hingga dia kembali memejamkan mata karena tindakan jovan yang terlihat memaksa untuk melihat ke arahnya.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter yang bertugas." Kata jovan, kemudian beranjak dari tempat duduknya di samping tempat tidur alina.
Alina sama sekali tidak merespon, ia terus saja mengeluarkan air mata. Ingatannya kembali mengingat terakhir kali ia menelpon sang suami dan mendapati suara seorang wanita yang menjawabnya. Dan alina masih sangat mengingat nama wanita tersebut erika, hingga ia mengalami kejadian naas yang membuatnya terjatuh dari tangga lantai atas kediaman kuarganya tepatnya kediaman keluarga hendra.
Dan seketika alina menghawatirkan kondisi kehamilannya kini, tangannya langsung terangkat untuk meraba perutnya yang sekarang sudah terlihat rata.
Sontak membuat alina terkejut dan ada rasa hawatir di benaknya ketika merasakan tidak ada lagi perut buncitnya yang terdapat janin di dalamnya.
Apa aku sudah melahirkan bayiku? dan kenapa perutku seperti ini, bukankah aku sedang hamil?
Berbagai macam pertanyaan telah mendominan di benaknya, meski rasa hawatir telah menguasai fikirannya saat ini, sebisa mungkin alina berfikir dan berharap semuanya akan baik-baik saja terutama dengan bayinya jika benar ia sudah melahirkan.
Tidak menunggu lama, jovan sudah kembali dengan membawa dokter serta perawat yang bertugas malam ini dan juga akan memeriksa kondisi istrinya yang sekarang sudah sadar setelah melewati masa kritisnya.
Dokter dengan segera melakukan beberapa pemeriksaan pada alina dan hasilnya alina saat ini sudah baik-baik saja, dokter juga memberitahukan jika alina sekarang sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan.
Jovan mengangguk dengan menampilkan senyumnya, rasa syukur kembali ia gumamkan dalam hati mendengar alina sudah baik-baik saja.
"Dokter, apa aku sudah melahirkan bayiku?" Tanya alina pada dokter yang telah selesai memeriksa dirinya.
Dokter yang mendapatkan pertanyaan itu seketika melihat ke arah jovan yang juga merupakan seorang dotker.
Pandangan jovan dan dokter itu pun saling bertemu, lalu dokter laki-laki yang sedang bertugas itu pun terlihat memberi kode seolah meminta pada jovan untuk menjelaskan yang sebenarnya.
Jovan terlihat mengangguk, seolah paham akan maksud dokter itu.
"Sebaiknya biar dokter jovan yang akan menjelaskannya pada anda." Kata dokter itu dan beberapa detik kemudian mengucapkan pamit untuk meninggalkan ruangan tempat alina saat ini.
"Sayang, Aku akan menjelaskan tentang bayi kita. Ku harap kamu jangan bersedih dan bisa menerima kenyataan dengan ujian yang sedang kita hadapi saat ini." Suara jovan masih terdengar lirih dan sangat kentara ia sedang menahan air mata ketika mengingat jika calon bayinya tidak bisa di selamatkan terlebih lagi alina belum mengetahuinya sama sekali.
Seperti tertusuk ribuan pisau tajam di seluruh tubuhnya mendengar penuturan sang suami, seolah ia paham dengan maksud yang ingin jovan jelaskan padanya.
__ADS_1
Manik alina kini mengunci wajah laki-laki yang sedang berada di hadapannya saat ini, menunggu kata-kata yang akan jovan ungkapkan.
Jovan yang sejak tadi menunduk ke arah bawah, berusaha untuk memikirkan kata-kata bagaiman cara untuk menjelaskan pada alina bahwa bayi mereka tidak bisa di selamatkan.
"Alina." Suara jovan serasa tercekat untuk bisa menjelaskannya, sampai ia menjeda perkataan yang akan ia keluarkan.
Kedua netra alina masih saja mengikuti arah wajah jovan yang saat ini sedang tidak menatap ke arah dirinya. Hatinya kini sudah lebih dulu merasakan yang tidak ingin ia rasakan.
Alina terlihat menggeleng sekilas, berharap yang akan di dengar adalah berita baik.
"Kemana bayiku kak jo?" Sudah tidak sabar, hingga alina kembali bertanya keberadaan bayinya.
"Apa dia baik-baik saja? aku ingin menemuinya." Ucap alina lagi-lagi berkata seolah ia benar-benar sudah melahirkan bayinya.
Jovan menggeleng, sudah tidak lagi bisa membendung perasaan sedihnya saat ini, tenggorokannya serasa tercekat. Sangat berat rasanya ia mengeluarkan suara untuk bisa menjelaskan tentang kebenaran bahwa bayi mereka tidak bisa di selamatkan.
"Alina. Allah belum mempercayai kita untuk bisa memilikinya. Allah sudah lebih dulu memanggilnya sebelum ia bertemu dengan kita." Jelas jovan berusaha memberi pengertian.
"Maaf." Kembalj jovan berucap, dan kini hanya kata maaf yang bisa ia loloskan dari mulutnya.
Alina menggeleng tidak percaya bahwa ia benar-benar sudah kehilangan bayinya.
"Tidak mungkiiinn." Suara tangis alina sudah menggema di dalam ruangan itu.
*
*
*
TBC...
Jangan lupa like ya teman-teman.. Maaf semuanya yang sudah setia menunggu kelanjutannya, saya upnya agak telat.
__ADS_1