
Seminggu sudah pernikahan alina dan jovan, alina semakin terbiasa dengan perlakuan jovan padanya, begitupun dengan jovan dia semakin terbiasa dengan alina yang ternyata sikap alina tidak terlalu pemalu alina adalah gadis yang ceria serta supel.
Usai sholat subuh alina pergi ke dapur untuk memasak sarapan untuknya dan suaminya, di bantu juga oleh bi mariam, setelah selesai menyiapkan sarapan, alina kembali ke kamar untuk menyiapkan semua keperluan jovan yang akan pergi bekerja termasuk baju yang akan di pakai oleh suaminya.
Hari ini adalah hari pertama jovan bekerja, begitu juga dengan alina dia memutuskan untuk masuk kuliah kembali, sebelum mereka berangkat, sepasang suami istri itu menikmati sarapannya terlebih dulu.
"Kamu yakin mau masuk kuliah hari ini?" Tanya jovan memastikan alina akan kembali masuk kuliah.
"Iya, aku sudah sangat merindukan suasana kuliah aku juga sudah sangat merindukan sahabatku." Sahut alina antusias.
"Baiklah. Kita berangkatnya bareng ya." Kata jovan, berharap alina akan menerima tawarannya.
"Hmmm." Alina bergumam seraya menganggukkan kepalanya.
Jovan tersenyum lalu keduanya melanjutkan sarapannya dengan suasana tenang.
Setelah alina dan jovan menyelesaikan sarapannya, keduanyapun berangkat, jovan mengendarai mobilnya membelah jalanan yang mulai terlihat macet di pagi hari, terlebih dulu jovan akan mengantar alina ke kampusnya.
"Lin, aku boleh minta sesuatu?" Tanya jovan di sela fokus menyetir.
"Apa?" Sahut alina.
"Bisa nggak manggilnya jangan pake nama, aku ngerasa kayak bukan suami kamu." Pinta jovan dan mengeluarkan keganjalan di fikirannya selama ini.
"Terus aku harus panggil apa?" Tanya alina yang merasa bingung.
"Terserah, yang penting sama kayak orang-orang manggil suaminya kayak gimana." Jovan berkata sambil tersenyum.
Alina hanya terkekeh menanggapi perkataan jovan.
"Kenapa tertawa?" Tanya jovan membuat alina menggeleng.
"Gimana kalau aku panggil kak jovan aja." Kata alin kemudian.
Jovan mengangguk. " Baiklah itu tidak terlalu buruk." Jawab jovan.
Tak membutuhkan waktu lama mereka kini telah sampai di area kampus alina.
"Sudah sampai." Kata jovan.
Alina kemudian membuka seatbelt, dia pun berpamitan dengan suaminya tidak lupa dia mencium punggung tangan jovan.
Jovan merasa sangat senang dengan perlakuan alina saat ini.
"Aku masuk ya kak." Pamit alina.
"Nanti aku jemput ya." Ucap jovan sebelum melajukan mobilnya kembali.
"Nggak usah kak, alina bisa pulang naik taxi nanti. Kak jovan kan lagi sibuk kerja. Sebaiknya nggak usah jemput alin." Tolak alin.
"Ya udah kalau gitu, masuk gih." Seru jovan, menyuruh alin segera masuk.
__ADS_1
Setelah memastikan alin sudah masuk ke halaman kampusnya, baru jovan melajukan mobilnya meninggalkan kampus alin. Jovan pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit kota tempatnya akan bekerja.
******
Jam kuliah alina telah selesai, alina sedang menunggu taxi di depan kampus sebelumnya alina sudah memesannya namun tak kunjung datang.
"Lin pulang bareng aku aja." Teriak indah dari dalam mobil.
Indah pun di jemput oleh kekasihnya jadi alin merasa tidak enak jika harus menumpang bersama indah.
"Duluan aja nda, aku udah mesen taxi kok palingan bentar lagi udah dateng." Tolak alina dengan sopan.
"Ya udah, aku duluan ya lin." Kata indah dan berlalu pergi.
Alina hanya mengangkat jarinya berbentuk oke dan tersenyum.
Tak lama setelah itu taxi yang dipesan oleh alina sudah datang. Dengan segera alina menaiki taxi tersebut tidak lupa dia menjelaskan alamatnya pada driver taxi itu.
Sementara jovan masih berkutat dengan pekerjaannya, harus melayani pasien kecelakaan di hari pertamanya bekerja. Dengan cekatan dan penuh konsentrasi jovan melaksanakan tugasnya dengan baik hinggah benar-benar selesai.
Jovan bekerja di rumah sakit kota tempat ayahnya bekerja, jovan adalah dokter umum yang akan melanjutkan kuliahnya lagi untuk mengambil ahli beda.
Namun dia harus menunda lagi kuliahnya, karena takdir hidupnya harus bertemu dengan alina dan menikahinya. Tapi jovan tidak menyesalinya dia bisa sambilan berkuliah jika dia mau.
Kini jovan sedang berada di ruangannya beristrirahat sebentar, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang dan sudah jam makan siang.
Jovan merogoh ponselnya di dalam jas putih yang tergantung di ruangannya ia ingin menelpon alina untuk mengingatkannya makan siang.
"Pah jo mau pulang." Kata jovan tanpa rasa bersalah ingin meninggalkan jam kerjanya yang belum berakhir.
"Apa maksudmu jo, jam kerjamu belum selesai." Sahut panji dengan nada kesalnya.
"Aku mau lihat alin kerumah pah, dia nggak ngangkat telepon jo, dari tadi jo coba telepon." Keluh jovan yang sudah merasa gelisah karena alina sama sekali tidak mengangkat teleponnya.
Panji menggeleng melihat tingkah ke kanak kanakan putranya itu.
"Papa ijinin, tapi setelah jam makan siang kamu sudah harus kembali lagi." Ucap panji dengan tegas, meski jovan adalah putra kandungnya sendiri namun dia harus menerapkan disiplin jika berkaitan dengan pekerjaan.
"Baik pah, setelah jo memastikan alina ada di rumah atau tidak." Kata jovan kemudian segera berlalu pergi meninggalkan ruangan ayahnya.
Jovan telah sampai di rumah, langsung saja dia menuju dapur menanyakan keberadaan alin pada bi mariam pembantu rumah tangga di rumahnya.
"Biii... bi alin sudah pulang belum?" Tanya jovan pada bi mariam.
"Udah den sejak tadi jam stengah dua belasan,, sekarang sedang berada di kamarnya." Sahut bi mariam.
Bi mariam bisa melihat ke khawatiran diraut wajah majikannya itu.
Setelah mendengar jawaban bi mariam, jovan pun dengan langkah lebarnya segera menuju kamarnya mencari alina.
Dan benar saja alina ada di kamarnya sedang fokus mengerjakan sesuatu tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya, bahkan dia tidak menyadari jovan sedang mengahmpirinya sekarang.
__ADS_1
"Aliiiinnn." Teriak jovan emosi. Menghampiri alina dan seketika tangannya tanpa bisa di kendalikan membuang semua kertas yang telah di gambar oleh alina barusan. Hinggah semua kertas yang ada di meja itu pun berserakan.
Alin sangat terkejut mendengar jovan meneriaki namanya, dan tindakannya kali ini sangat keterlaluan.
"Kak jovan, sudah pulang?" Tanya alina sedikit takut, karena melihat aura berbeda dari suaminya.
"Apa yang kamu kerjakan alinaa. Sampai kamu mengabaikan teleponku, aku sudah seperti orang gila menelponmu sampai berkali-kali di rumah sakit hanya untuk memastikan kamu sudah di rumah atau belum." Sarkas jovan dengan amarahnya yang sudah tidak terkendali, nada suaranya naik beberapa oktaf.
Sangat terlihat jelas raut wajah khawatir jovan sekarang, namun alina telah salah menanggapinya dia mengira jika jovan sedang memarahinya saat ini.
"Kak jovan." Gumam alina dengan lirih dia sangat takut melihat kemarahan jovan, karena dia tidak pernah mendapatkan bentakan dari siapapun. Dan baru kali ini di perlakukan seperti ini oleh suaminya sendiri.
Kedua manik alina sudah mulai menggenang.
Melihat alina sudah menangis seketika jovan tersadar bahwa tindakannya barusan sudah keterlaluan.
"Maaf." Jovan berkata lirih merasa bersalah karna sudah membentak alina tanpa mendengar penjelasnnya, dia mencoba menghampiri alina, lalu tangannya terangkat untuk menenangkan istrinya.
Dengan cepat alina menepis tangan suaminya itu.
"Ponsel alin di dalam tas nadanya di silent, aku lupa mengeluarkannya tadi sepulang kuliah." Sahut alin dengan air mata yang sudah luruh.
"Kamu tau alin, aku khwatir sampai aku minta ijin ke papah untuk pulang cepat." Jelas jovan dengan nada suara lembut mencoba menenangkan istrinya.
Jovan memang sangat merasa mengkhawatirkan alina. Tanpa dia sadari telah memarahi alina sekarang.
Alina tidak menanggapi jovan, pandangannya melihat ke arah lantai di lihatnya kertas dari hasil menggambarnya berserakan di lantai, dia segera memungutnya kembali.
Jovan yang melihat kertas berserakan di lantai, dia semakin merasa bersalah. Segera membantu alina memungut kertas kertas itu.
"Lin, maaf ya. Aku yang salah harusnya aku mendengar penjelasanmu dulu." Ucap jovan tulus, kembali mencoba untuk meraih tangan alina. Namun lagi-lagi alina menepisnya.
Jovan merasa sudah melakukan kesalahan besar pada istrinya.
Bagaimana ini. Gumam jovan dalam hati.
Jovan masih melihat istrinya menangis, meski tetap di tolak oleh alin namun jovan tetap kekeh ingin meraih tubuh alina untuk di peluknya.
"Maaf ya lin, aku merasa khawatir tadi." Ucap jovan lembut sambil mendekap tubuh mungil istrinya.
Alina sudah tidak menolak ataupun merespon pelukan jovan, dia hanya menangis dalam diam. Sesekali tangannya mengahapus kasar air matanya. Tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Kamu maafin kak jo kan lin?" Tanya jovan kini sudah posisi menangkup pipi alina, pandangan keduanya bertemu.
Alina mengangguk lalu kembali memeluk suaminya.
"Ya udah sekarang kita makan siang dulu. Aku juga harus balik kerja lagi." Kata jovan, tangannya mengusap lembut kepala alina yang tertutup hijab.
"Kak jovan mau balik ke tempat kerja lagi?" Tanya alina, suasana hatinya sudah lebih tenang.
"Iya sayang, suami mu ini harus rajin kerja biar bisa nafkahin kamu." Kata jovan seraya tangannya mencubit lembut hidung mancung alina.
__ADS_1
Alina tersenyum lebar mendapatkan perlakuan seperti itu dari jovan. Alina tidak bisa membohongi perasaannya dia sangat menyukai perlakuan suaminya selama ini. Bohong jika dia tidak memiliki perasaan pada jovan sekarang. Begitu juga dengan jovan, mungkin sekarang sudah mencintai istrinya itu.