Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 42


__ADS_3

Usia kandungan alina sudah memasuki usia lima bulan, alina tetap menjalani hari-harinya seperti biasa dan tidak pernah melewati hari tanpa saling berkabar dengan jovan, namun entah kenapa sudah satu minggu ini jovan sudah tidak sering menghubunginya dan juga ketika alina menelponnya selalu saja ada alasan untuk menolak panggilan alina.


Jika alina bertanya apakah jovan sibuk, jovan selalu menjawab jika dirinya sudah mulai sibuk dengan menekuni praktik bedah sesuai profesi yang dia ambil, alina pun tidak mau berfikiran buruk tentang suaminya hingga ia percaya apapun yang di katakan oleh jovan bahwa sang suami sangat sibuk.


"Nak, kok melamun aja si susunya nggak di minum tuh bunda udah buatin loh." Kata bunda rumi yang melihat putrinya sejak tadi melamun.


Mendengar suara teguran dari bundanya alina segera tersadar dari lamunannya kemudian langsung meminum susu yang sudah di buatkan oleh bundanya hinggah tandas tak tersisah di gelasnya.


"Lin, apa kabar dengan suami mu hari ini kalian sering berkabar kan?" Tanya bunda rumi memastikan hubungan putri dan menantunya.


"Eh.. iya bunda. Kak jo bilang akhir-akhir ini dia sangat sibuk jadi jarang menghungi alina. Itu kalau alina telpon palingan kak jo punya waktu sedikit buat alin, dia bilang sudah sering ada jadwal praktik di rumah sakit tempatnya magang." Sahut alin dengan jujur.


"Oh begitu ya, sabar ya nak. Suami mu sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya di sana. Bunda harap kamu bisa mengerti situasinya, Jangan lupa selalu doakan yang terbaik untuk suamimu selalu mendukung apapun yang ia kerjakan selama itu yang terbaik untuk masa depannya kelak." Nasehat bunda rumi pada alina.


Tak jarang bunda rumi selalu memberi putrinya nasehat-nasehat menyangkut rumah tangga alina dan jovan yang sedang menjalani hibungan jarak jauh, Karena bunda rumi tidak ingin membuat putrinya berfikiran buruk tentang suaminya yang sedang berada di jauh sana ketika sang putri tidak mendapat kabar dari menantunya. Bunda rumi juga paham akan kesibukan sang menantu yang sedang menyelesaikan kuliahnya di negara asing.


Alina mengangguk mendengar setiap nasehat yang selalu di berikan oleh bundanya, alina bersyukur memiliki bunda yang selalu memberinya semangat menjalani hari-harinya.


Hari ini alina meminta ijin akan pergi ke butiknya karena ada beberapa pesanan yang harus ia selesaikan, berhubung hari ini adalah hari minggu jadi alina tidak ada jadwal kuliah.


"Bunda, setelah makan siang dan sholat. Alina mau ijin ke butik ya bunda. Alina mau menyelsaikan beberapa pesanan dari pelangganan di butik alin." Ucap alina yang meminta ijin pada bundanya.


"Iya sayang, ingat juga kamu sedang hamil jadi jangan terlalu di porsir tenaganya ya sayang. Kamu juga sedang sibuk-sibuknya kuliah kan jadi bunda saranin kurangi kegiatan di butik dulu nak. Fokus saja dulu dengan kuliahmu." Bunda rumi yang selalu memberi peringatan untuk putrinya agar tidak terlalu lelah mengurusi butiknya yang mulai banyak pesanan dari beberapa pelanggan.


"Iya bunda, alina tetap jaga kesehatan kok. Bunda juga taukan alina tidak pernah mengabaikan jadwal kontrol rutin kehamilan alin."


Bunda mengangguk tersenyum mendengar ucapan putrinya yang selalu bersemangat menjalani hari harinya.


Usai melaksanakan sholat dzuhur dan makan siang alina bersiap untuk pergi ke butiknya, sudah sejak tadi alina mendapat telepon dari salah satu karyawannya yang bekerja di butik miliknya, memberitahu alina jika butik hari ini sedang ramai dan banyak pesanan dari beberapa pelanggan, tentu saja membuat alina semakin bersemangat mendengar informasi dari karyawannya.


Setelah besiap alina segera pamit pada bundanya kemudian meminta supir untuk mengantarnya ke butik.

__ADS_1


"Bunda alina pamit ya." Ucap alina seraya mencium punggung tangan bundanya kemudian melenggang pergi meninggalkan rumah.


Setengah jam menempuh perjalanan yang sangat macet siang ini, karena jam istirahat para pekerja jadi membuat jalanan sedikit rame serta macet.


"Pak tomi makasih ya." Ucap alina pada supir keluarga yang selalu setia mengantarnya kemanapun.


"Iya non sama-sama, Kalau begitu saya pamit dulu non." Kata pak tomi kemudian melenggang pergi setelah berpamitan dan mendapat anggukan dari alina.


Alina melangkah memasuki butik miliknya.


"Mbak alina sudah sampai ya." Tanya salah seorang karyawannya.


"Iya nih, katanya hari ini lagi ramai banget ya?" Tanya alina.


"Iya mba. Alhamdulillah hari ini ramai banget. Oh ya mba alin ada beberapa orang yang tengah menjalani olshop katanya mau ngambil restok dari butik kita dia bilang kualitas bahan di butik kita bagus-bagus. Jadi mereka tertarik untuk menjadikan butik mbak alin sebagai supllier tangan pertama." Jelas salah satu karyawan yang memang menerima beberapa permintaan dari beberapa pengunjung sejak pagi tadi.


Alina yang mendengar hal itu semakin senang, dan tentunya bersyukur butiknya bisa berkembang pesat secara perlahan, padahal alina belum lulus kuliah hanya dengan bermodalkan ikut pelatihan tambahan di luar jam kuliahnya pada beberapa desainner ternama hingga membuatnya mahir dalam mengembangkan keahliannya mendesain sebuah rancangan berbagai busana sesuai permintaan pelanggan yang berkunjung.


"Iya mba." Sahut karyawan alina.


Kemudian alina masuk ke ruang khusus tempatnya menyalurkan berbagai ide untuk membuat sebuah rancangan.


****


Di belahan bumi yang berbeda tepatnya di negara amerika tempat jovan menjalani kuliahnya. Saat ini jovan tengah di sibukkan dengan beberapa jadwal peraktik yang di tekuninya hingga terkadang dia jarang memberi kabar pada istrinya belakangan ini. Ia berharap semoga alina bisa mengerti dengan situasinya saat ini, jovan juga belakangan ini tidak terlalu begitu menghiraukan ponselnya selama ia sibuk bergelut dengan jam kuliah sejak pagi hingga menjelang larut malam ia selalu lupa untuk sekedar melihat kondisi ponselnya.


"Jo. Lo dapat shif apa hari ini magang di hospital cambridge?" Tanya rey pada jovan.


"Shift malam." Jawab jovan singkat.


"Oh iya bisa tukeran nggak, nanti siang gue ada janji sama si erika mahasiswa baru kedokteran itu yang dari indonesia." Kata rey, berharap jovan mau menukar siftnya siang ini.

__ADS_1


"Ahh resee' lo rey. Waktu istrihat gue lo sita mulu nih. Gue juga pengen telponan kali sama istri gue." Keluh jovan rasanya ingin menolak namun tetap merasa tidak enak dengan temannya itu.


"Gue minta tolong banget jo, Pleasee." Pinta rey dengan raut wajah memelasnya.


Jovan menarik nafas kasar kemudian menuruti permintaan sahabatnya itu dengan berat hati, meski dia juga sangat merindukan istrinya karena merasa jovan sudah sangat jarang berkabar dengan alina.


"Baiklah, tapi ingat untuk on timen entar malam gue nggak mau pulang terlambat. Masih banyak tugas yang perlu gue selesaikan." Jovan mengingatkan rey untuk datang on time ketika pergantian shiftnya nanti malam.


"Siiip boss pasti gue on time kok lo tenang aja." Kemudian rey meninggalkan jovan yang masih duduk di kelas.


Namun rey tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mengingat jovan menyebutkan istri tadi. Rey kembali berbalik ke arah jovan untuk memastikan ucapan jovan yang tadi sekilas ia dengar.


"Ehh jo, lo hutang penjelasan ya sama gue. Tadi sempat gue denger lo nyebut istri?" Tanya rey penasaran.


Jovan sedikit terkejut dan menimpali perkataan rey.


"Hmm. Gue udah nikah bro." Sahut jovan.


"Lo belum cerita sama gue."


"Nanti kalau ada waktu senggang bakalan gue ceritain. Ya udah lo pergi sana temuin pacar baru lo itu." Tukas jovan dengan nada sedikit mengusir karena merasa rey pasti akan kepo dengan kehidupannya.


"Baiklah, gue pergi dulu." Ucap rey lalu melenggang pergi meninggalkan jovan.


*


*


*


TBC...

__ADS_1


Jangan lupa likenya ya teman-teman 🙏😊


__ADS_2