
Alina dan jovan sudah sampai di kediaman hendra yaitu rumah orang tua alina, bunda rumi menyambut sang putri dan menantinya begitu senang karena ini baru pertama kalinya datang setelah menikah.
"Maaf ya bunda, alin dan kak jo baru menyempatkan diri untuk datang kemari." Kata alin baru sampai langsung menyalami punggung tangan bunda rumi.
"Iya sayang nggak apa apa, ayah sama bunda paham akan kesibukan kalian masing-masing." Sahut bunda rumi.
"Bagaimana rasanya menikah mudah, apa kalian menikmatinya?" Seru aby yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Alhamdulillah kami sangat menikmatinya yah." Sahut jovan berdiri dari sofa langsung menyalami punggung tangan ayah mertuanya.
"Jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan pada kami jika kalian butuh sesuatu." Kata ayah hendra.
Keduanya mengangguk mendengar perkataan ayah hendra. Mereka pun terlibat beberpaa obrolan sesekali bercanda hingga membuat mereka tertawa.
"Bunda. Bang aby kemana?" Tanya alin yang sejak tadi tidak melihat keberadaan abangnya.
"Abangmu tinggal di apartemennya." Sahut ayah hendra.
"Loh kok bisa bang aby memilih tinggal di apartemennya." Kata alina terkejut.
"Sudahlah jangan membahasnya, abangmu kan sudah dewasa, dia juga sudah ingin hidup mandiri makanya dia memilih untuk tinggal di apartemennya sendiri." Ucap ayah hendra.
Alina hanya mengangguk saja menanggapi perkataan ayahnya, mungkin saja benar bang aby ingin hidup mandiri. Tapi tidak biasanya aby seperti ini biasanya dia tidak betah jika tidak memakan masakan bunda. Alina terus memikirkan abangnya.
"Bagaiman? apa sudah ada cucu bunda disini?" Tanya bunda mengelus perut putrinya itu.
Alina yang di tanya seperti itu seketika malu pipinya merona tidak bisa di sembunyikan, jovan yang ikut mendengar pertanyaan ibu mertuanya itu seketika melihat ke arah alin. Smentara alin hanya menunduk tidak mengangkat wajahnya.
"Kami sedang mengusahakannya bunda, iya kan lin." Sahut jovan kemudian.
"Eh? I..iya bunda kami sedang mengusahakannya lagi pula kita kan baru saja menikah, jadi tidak perlu terburu buru memiliki anak." Ucap alina sedikit gugup.
"Nggak apa-apa semuanya butuh usaha serta proses. Alina juga masih mudah." Sahut ayah hendra.
Alina dan jovan hanya bisa mengangguk mendengar penuturan kedua orang tuanya itu.
Lama mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 02.00 siang, mereka baru saja menyelesaikan makan siangnya tak lama setelah itu jovan dan alina pun pamit untuk pulang.
"Kami pamit pulang dulu yah, bun." Ucap jovan pada mertuanya.
__ADS_1
"Baiklah, hati hati di jalan." Kata bunda rumi.
"Kalau bisa luangkan waktu kalian untuk berbulan madu." Ucap ayah hendra.
Alin dan jovan saling pandang merasa terkejut dengan saran ayah hendra.
"InsyaAllah yah, kami akan menyempatkannya jika ada waktu luang. Kami pamit ya ayah, bunda." Kata alina dan segera berlalu pergi ke arah mobil suaminya yang sudah terparkir di ikuti oleh jovan di belakangnya.
Jovan hanya diam sama sekali tak mengeluarkan kata kata selama di perjalanan dia hanya fokus menjalankan mobilnya.
"Maafin kata orang tuaku tadi." Suara alina membuat jovan melihat ke arahnya.
"Tidak perlu meminta maaf, memang sudah sewajarnya mereka bertanya seperti itu. Toh nggak ada salahnya kita kan sudah menikah jadi wajar jika mereka mengharapkan kehadiran cucu pada kita." Ucap jovan panjang lebar berharap alina akan mengerti dengan arah bicaranya kali ini.
Alina yang mendengar jovan berbicara seolah mendukung keinginan ayah dan bundanya merasa gugup, ada rasa takut di benaknya jika dia harus menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri dan akan mengandung seorang anak. Dia berharap ingin menundanya dulu karena dia ingin fokus untuk menyelsaikan kuliahnya.
Jovan melirik ke arah istrinya sekilas dan dia merasakan perubahan raut wajah istrinya itu. Dia mengerti apa yang sedang di fikirkan oleh alina.
"Jika kamu belum siap, aku tidak memaksa." Ucap jovan yakin agar pikiran alina merasa tidak terbenani dengan pengharapan kedua orang tuanya, termasuk dirinya yang sebenarnya ingin menuruti keinginan sang mertua.
Hingga akhirnya mereka telah sampai di kediaman mereka.
Pada malam harinya alina masih saja memikirkan perkataan orang tuanya tadi, bahkan sang ayah sangat berharap mereka berdua untuk pergi berbulan madu.
"Lin, aku mau keluar bentar." Kata jovan, tangannya merogoh sebuah kunci mobil.
"Mau kemana kak?" Tanya alina yang ingin mengetahui kemana perginya sang suami.
"Aku ada urusan bentar sama temen sekolah aku dulu waktu SMA dia ngajak ngumpul bareng. Aku pergi ya." Kata jovan dan berlalu pergi, tanpa melihat ke arah alina lagi.
Alina hanya memandang kepergian suaminya tanpa banyak bertanya lagi. Ada sedikit rasa bersalah di benak alina karena belum bisa menjadi istri yang sesungguhnya untuk jovan.
Sementara jovan sudah meninggalkan tempat tinggalnya beberapa saat lalu menuju cafe tempatnya janjian bersama temannya tadi.
Kini jovan sudah sampai di sebuah cafe green di mana teman temannya sudah menunggu di sana.
"Haiii brow, lu kok lama banget sih di tungguin." Kata ryan yang sudah duduk di salah satu meja.
"Iya nih tadi sedikit macet di jalan." Sahut jovan santai.
__ADS_1
"Ya elaaah, kirain habis ngelonin bini dulu dirumah." Ujar rio sedikit mengejek.
"Jangankan gue kelonin, gue nyentuh tangan dia aja nggak pernah." Seru jovan berbohong padahal dia sudah sering mencuri ciuman alina ketika alina tertidur.
Dan benar saja ketiga sahabatnya itu sontak saja tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan sahabatnya itu.
"Kirain udah jebol brow." Ledek fery tak mau kalah.
Bagaimana nggak dapat ledekan dari parah sahabatnya pasalnya jovan sudah menikah lebih dari dua bulan namun belum juga bisa menyentuh istrinya layaknya seperti pasangan suami istri lainnya.
Jovan tidak menggubris ledekan para sahabatnya itu, dia memanggil salah satu pelayan cafe untuk memesan capucino.
"Gimana jo rasanya berumah tangga sama wanita sholehah kayak bini lu." Tanya riyan penasaran dengan reaksi jovan yang memang notebannya anak bandel dan sedikit bar bar.
"Udaah jangan ngeledek mulu lu, ntar gue sumpal tu mulut pake kentang goreng ini." Kilah jovan yang tidak mau menceritakan rumah tangganya.
"Ya elah sinis banget si ditanyain gitu doang. Kita juga pengen denger pengalaman dari lu." Seru riyan yang kekeh ingin mendengar cerita jovan.
Ke empat laki laki tampan itu menghabiskan waktu mereka dengan beberapa obrolan serta candaan dari ke empat orang bersahabat itu. Hingga pukul setengah dua belas malam jovan masih saja menghabiskan waktu bersama sahabatnya, seolah lupa waktu pulang dan melupakan seorang wanita yang tengah menunggunya di rumah.
Sementara di rumah jovan alina sejak tadi mondar mandir di dalam kamarnya menunggu kepulangan sang suami sampai dia melupakan jam makan malamnya. Sesekali melihat jam dinding di kamarnya sudah pukuk setengah dua belas.
Kak jo sebenarnya kemana si, kok jam segini belum pulang? alina terus saja bergumam dalam hati penuh dengan rasa khawatir.
Alina sejak tadi menelpon sang suami namun tidak ada jawaban sama sekali. Hingga akhirnya alina memumutuskan untuk berbaring di tempat tidur mencoba memejamkan mata untuk menghilangkan segala fikiran buruk mengenai suaminya.
Baru saja alina akan memejamkan matanya terdengar suara mobil dari halam depan rumah, alina pun sontak bangun dari tempat tidur dan melihat dari jendela memastikan itu benar jovan atau bukan. Dan benar saja itu adalah mobil jovan, alina melangkah keluar meninggalkan kamarnya menuju ruang tamu untuk menyambut sang suami.
"Dari mana saja kak? kenapa pulangnya lama sekali? telpoku juga nggak di angkat." Alina memberondong beberapa pertanyaan pada jovan.
"Kan sudah ku bilang tadi, mau ngumpul bareng temen di luar dan aku nggak suka di ganggu ketika ngumpul bareng temen." Sahut jovan datar.
Alina yang melihat perubahan sikap suaminya sejak tadi sepulang dari rumah orang tuanya membuatnya heran. Entah apa penyebabnya jovan bersikap dingin padanya. Alina pun tidak berani bertanya lagi, takut suaminya akan marah.
Jovan melangkah menaiki anak tanggga menuju kamar di ikuti oleh alina di belakangnya.
"Kenapa belum tidur?" Tanya jovan.
"Alina tungguin kak jo pulang." Sahut alina menunduk.
__ADS_1
Jovan pun merasa bersalah telah meninggalkan istrinya cukup lama di rumah. Namun jovan tidak menghiraukan sahutan alina dia langsung masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya serta mencuci muka.