Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 25


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana alina dan jovan akan terpisah dalam waktu yang cukup lama, karena hari ini adalah hari keberangkatan jovan ke luar negeri, semua barang dan perlengkapan lainnya telah di persiapkan, Jovan memilih jam penerbangannya sore hari karena masih ingin berlama-lama dengan istrinya.


Semua perlengkapan jovan telah di persiapkan semalam oleh alina, meski sangat berat melepaskan kepergian suaminya namun alina dengan menguatkan hatinya agar bisa memberi dukungan pada jovan yang ingin pergi menuntut ilmu di negara yang terpisah jauh dengan dirinya.


Seperti pagi ini di waktu subuh usai melaksanakan sholat subuhnya, alina berniat pergi ke dapur memasak sarapan untuk suami tercintanya. Namun ketika alina ingin beranjak dari tempatnya jovan terlihat menahan tangan alina.


Entah kenapa jovan tidak ingin alina beranjak dari sampingnya mulai dari bangun subuh tadi. Alina heran dengan sikap suaminya kali ini.


"Sayang, kamu tetap disini temani aku ya. Biarkan bibi yang memasakkan sarapan untuk kita." Kata jovan pada istrinya, seraya menahan pergelangan tangan alina.


Alina sedikit heran melihat tingkah suaminya, apa mungkin karena hari masih terlihat gelap? jadi jovan membiarkan alina sedikit bersantai, tapi biasanya jovan tidak seperti ini, jovan pasti dengan senang hati memintanya untuk di buatkan sarapan kesukaannya.


"Kak jo? kakak kenapa, apa kak jovan sakit?" Tanya alina raut wajahnya sudah terlihat hawatir, tangannya seraya memegang kening suaminya.


Jovan hanya menggeleng menanggapi pertanyaan alina, lalu jovan meraih tangan alina yang tadi sempat memegangi keningnya. Kemudian dikecupnya tangan alina. Sementara alina hanya diam menerima setiap perlakuan suaminya.


"Aku ingin menghabiskan waktu pagi ini bersamamu, jika kamu tidak keberatan." Kata jovan kemudian, dengan penuh kehati-hatian.


Jovan telah memikirkannya matang-matang seminggu terakhir ini hingga malam tadi, setelah berperang dengan hati dan fikirannya. Jovan memutuskan ingin menjadikan alina istri yang sesungguhnya pagi ini, sebelum waktu perpisahan mereka nanti sore tiba. Jovan benar-benar ingin membuat alina menjadi miliknya seutuhnya, apa pun resikonya nanti jovan sudah memikirkan semuanya.


Kali ini jovan ingin egois, ia ingin mengabaikan masa depan alina yang penting alina bisa menjadi miliknya untuk hari ini hinggah masa depan nanti. Berharap alina akan setia menunggunya dalam waktu yang lama, sampai dirinya menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke indonesia.


"Ayo duduk lah." Jovan kembali bersuara, tangannya menarik tangan alin dengan lembut untuk duduk di sampingnya.


Alina pun menuruti jovan.


Kali ini keduanya duduk berdampingan di sisi tempat tidur, pandangan jovan tidak pernah lepas dari wajah cantik alina barang sedetikpun dia sangat menikmati momennya di pagi buta ini dan berharap hingga detik terakhir di jam keberangkatannya nanti sore. Dia begitu sangat ingin menikmati pemandangan indah yang di anugrahkah oleh allah ini untuknya, jovan berfikir tidak ingin menyia-nyiakan waktu.


"Kak jo?" Gumam alina masih dengan raut wajah kebingungan.

__ADS_1


Padangan alina pun tidak lepas dari suaminya.


Tangan jovan terulur untuk menyibakkan dengan lembut anak rambut alina ke belakang telinga yang sedikit berantakan di bagian pipi mulus alina.


Alina masih diam terpaku dengan tindakan jovan. Kali ini pandangan mereka terkunci satu sama lain, jovan tidak lagi membalas gumaman alina yang baru saja memanggil namanya dengan suara pelan.


Jovan perlahan mendekatkan wajahnya ke arah alina, mengecup kening alina dengan begitu lembut, lalu beralih di kedua mata alina serta pipi mulus alina. Beberapa saat kemudian jovan menghentikan tindakannya itu, kali ini pandangannya tertuju pada bibir ranum alina yang terlihat lembab dan merona layaknya bibir bayi tanpa polesan lipstik sedikit pun.


Sementara alina masih terpaku di tempatnya dan mulai menerima dan merasakan gelanyar aneh dalam dirinya seolah menerima setiap perlakuan lembut jovan padanya.


Perlahan jovan mengecup bibir ranum istri cantiknya itu, di lihatnya tidak ada perlawanan dari alina kemudian jovan kembali memberi kecupan di bibir alina namun kali ini tidak hanya kecupan, jovan mencoba memperdalam ciumannya dengan begitu lembut. Berharap alina akan menerimanya pagi ini.


Alina hanya memejamkan kedua matanya sama sekali tidak ada perlawanan, salah satu tangan alina mencengkram ujung baju kokoh jovan yang masih di kenakan saat ini.


Kali ini jovan semakin memperdalam ciumannya, kedua tangannya sudah beralih untuk memegang tengkuk alina, seolah hasrat sudah menguasai dirinya. Nafas alina telihat sudah terengah akibat ciuman panas jovan.


Pandangannya masih mengunci alina dan kedua tangan jovan masih dengan posisi menangkup kedua pipi alina.


Lama pandangan mereka terkunci, dan akhirnya alina menganggukkan kepala menanggapi ucapan suaminya.


Jovan tersenyum melihat jawabannya istrinya. Kemudian jovan langsung memberi kecupan dikening alina, lalu kembali beralih untuk mencium bibir alina.


Setiap sentuhan lembut jovan berhasil membuat desiran-desiran halus yang mebuat alina seperti tersengat aliran listrik namun membuatnya terus terbuai dengan setiap sentuhan dari lelaki halalnya itu, hingga membuatnya mencapai puncak kenikmatan.


Berhasil. Keduanya menciptakan paginya yang begitu indah saling berburu manisnya madu melampiaskan hasrat yang memang belum pernah meraka arungi sebelumnya. Iya, ini pertama kali bagi keduanya.


Tak terasa selama dua jam meraka bergelut dengan kegiatan panas di pagi hari, akhirnya jovan menghentikan aksinya ketika sudah mencapai puncak kenikmatan.


"Terima kasih sayang, aku adalah orang pertamamu, ku harap aku juga orang yang terakhir untukmu hingga akhir hayat kita." Gumam jovan tepat di telinga alina masih dengan posisi di atas tubuh polos istri tercintanya.

__ADS_1


Kemudian jovan membaringkan dirinya di sisi alina, jovan kembali mendekap alina dari samping. Seolah tidak ingin melepaskan istri cantiknya.


Alina menatap ke arah jovan, alina tersenyum ke arah suaminya lalu alina membalas pelukan jovan dengan begitu erat. Alina sedikit mengangkat tubuhnya untuk di letakkannya di atas dada suaminya. Posisi ternyaman untuk alina saat ini.


"Kak jo, aku mencintaimu." Gumam alina seperti berbisik.


Jovan mendaratkan sebuah kecupan di kening alina ketika mendengar perkataan alina barusan.


"Aku sangat mencintaimu, bahkan mengalahkan rasa cintamu itu." Sahut jovan, bertubi-tubi mendaratkan sebuah kecupan diseluruh wajah istrinya.


Rasa bahagia alina pagi ini tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, Jovan begitu sangat memperlakukannya dengan begitu lembut. Rasa cinta alina seolah semakin bertambah. Kali ini dia berjanji dalam dirinya akan menjadi istri yang baik serta akan selalu mendukung apapun yang suaminya putuskan untuk masa depannya kelak, setia menunggu jovan hingga kembali pulang meski dalam waktu yang cukup lama.


Jovan pun merasakan apa yang di rasakan oleh alina, rasa bahagia memenuhi relung hatinya. Berharap akan selamanya hingga akhir hayatnya kelak.


Jovan masih belum menyangka akan terjadi hari ini, hari yang membuatnya semakin mencintai wanita yang awalnya adalah asing kini sudah menjadi istri sesungguhnya, wanita yang sudah halal untuk dirinya yang di takdirkan oleh tuhan untuknya.


Terima kasih Ya Allah, atas takdir hidup yang kau gariskan ini aku sangat bersyukur. Aku berharap alina adalah wanita pertama dan terakhirku. Serta titipkanlah benih cinta dalam rahim istriku. Berkahilah rumah tangga kami dengan penuh rahmat dan kasih sayangmu Ya Allah hinggah menuju surgamu kelak.


Seuntai do'a jovan panjatkan dalam hati, berharap keselamatan rumah tangganya hingga allah mempertemukan mereka kembali setelah pendidikannya di luar negeri nanti.


Tangannya tidak henti-hentinya mengulus perut rata alina. Berharap akan tumbuh nyawa baru di dalam rahim istrinya yang akan menguatkan perjalanan cinta mereka kelak, yang akan selalu mengikat dirinya dan alina dalam mengarungi rumah tangga bersama.


"Kak jo, geliii." Suara alina sedikit terkekeh karena merasa geli di bagian perutnya, seraya mencoba menyingkirkan tangan jovan yang terus mengelus perutnya.


Bukannya melepaskannya jovan malah kembali mengeratkan pulukannya, dan semakin mendekap erat tubuh istrinya serta kembali mendaratkan beberapa kali kecupan di seluruh wajah alina, yang mungkin akan menjadi candu untuk dirinya, bahkan akan selalu ia rindukan ketika sudah berada di negara yang berbeda besok.


"Sayang, aku sangat mencintaimu rasanya aku ingin mati jika terus membayangkan ketika hidup berjauhan denganmu nanti. Aku akan menelponmu setiap hari besok ketika sudah di sana." Kata jovan.


Entah sampai jam berapa tubuh polos mereka saling berpelukan, hingga melupakan waktu sarapannya.

__ADS_1


__ADS_2