Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Part 21


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu, aby dan shanum menjalani rumah tangga mereka sesuai harapan dan dengan penuh kebahagiaan, shanum begitu sabar dan telaten mengurusi setiap keperluan aby, terkadang aby sedikit melarang shanum untuk tidak terlalu kecapean karena memang saat ini shanum sedang di sibukkan dengan pekerjaan di kantor perusahaan ayahnya.


Meski shanum di sibukkan dengan urusan kantornya, namun shanum tetap menjalankan kewajibanya sebagai seorang istri untuk suaminya.


Pagi ini shanum tengah di sibukkan untuk menyiapkan sarapan buat aby, berhubung kedua orang tua aby bertolak ke luar negeri dalam beberapa minggu ke depan untuk urusan bisnis sang ayah dan bunda belum tau jadwal kepulangan mereka.


Jadilah shanum di temani oleh bi muna selaku asisten rumah tangga di keluarga gunawan tersebut, memasak beberapa menu sarapan mereka.


"Sebentar ya bi shanum panggilin kak aby dulu." Kata shanum pada bi muna, ketika telah selesai menata makanan di meja makan.


Shanum pun telah masuk ke kamar untuk membangunkan aby suaminya namun manik mata shanum melihat jika aby masih di atas tempat tidur.


"Kak aby kok belum bangun." Gumam shanum.


Ia pun mendekati tempat tidur berniat untuk membangunkan sang suami.


"Kak aby." Panggil shanum sedikit menggoyangkan bahu sang suami yang masih terlelap.


Belum ada pergerakan sama sekali dari aby, namun shanum tetap membangunkannya karena ini sudah masuk waktu sarapan, bukankah aby sedang masa pemulihan jadi tidak boleh telat sarapan karena masih harus meminum beberapa obat pasca operasi semenjak kecelakaan.


"Eeggghhh." Aby hanya sedikit melenguh mendengar suara wanita yang selalu membuatnya betah di rumah selama hampir dua minggu ini.


Karena aby memang belum di perbolehkan untuk melakukan kegiatan di luar rumah.


"Kak aby bangun yuk, udah waktunya sarapan nih." Kali ini shanum membangun aby seraya tangannya dengan lembut mengelus pipi sang suami yang masih terlihat lelap.


Merasa ada yang menyentuhnya, perlahan aby membuka maniknya melihat sumber semangatnya yang selama beberapa minggu ini sudah setia menemaninya.


"Sayang." Suara aby khas bangun tidur.


Melihat aby sudah bangun, shanum dengan segera melepas elusan tangannya dari pipi aby. Tapi belum sempat shanum melepasnya aby sudah lebih dulu menahan tangan lembut milik sang istri untuk tetap berada di sana.


"Kak aby sudah bangun?" Ucap shanum dengan rasa gugup, karena merasa tertangkap basah dirinya telah menyentuh aby.


Shanum bahkan belum terbiasa bersentuhan dengan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini, meskipun mereka selama seminggu belakangan ini terlihat akur dan seperti layaknya keluarga harmonis, tapi mereka belum melakukan hubungan layaknya suami istri lainnya. Karena memang aby belum berani memaksakan kehendaknya meski dia sudah sangat ingin menyentuk shanum seutuhnya.


Aby berfikir jika dirinya harus memperbaiki hubungan mereka terlebih dulu hingga terbiasa sampai saatnya keduanya saling membutuhkan satu sama lain.


"Kemarilah." Aby menarik tangan shanum hingga berada di dalam pelukannya.


Terkejut bukan main shanum di buatnya, karena dengan tidak siap aby menariknya.

__ADS_1


"Heii kenapa kamu seperti orang gugup? apa aku begitu menyeramkan sayang?" Goda aby seketika membuat shanum semakin gugup bercampur malu.


Shanum menggeleng, sedikit berusaha ingin duduk memperbaiki posisinya namun aby semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat shanum susah bergerak.


"Kak aby kita sarapan dulu." Ucap shanum, kali ini dia pasrah saja menerima pelukan aby yang sebenarnya begitu nyaman baginya.


"Hmm sebentar, aku masih ingin seperti ini dulu." Gumam aby sekilas mencium puncak kepala shanum yang tertutup hijab.


Shanum mendongak untuk melihat wajah tampan suaminya, dan langsung pandangan mereka bertemu.


Terlihat memerah di wajah shanum semakin mampak, ketika aby membalas pandangannya.


MasyaAllah sunggu sempurna ciptaanmu ya Allah.


Gumam shanum dalam hati memuji ketampan suaminya itu.


Begitupun jg dengan aby yang melihat stiap inci wajah shanum setiap harinya semakin terlihat cantik, itu membuat aby semakin tergila-gila pada wanita yang sudah menjadi istrinya saat ini, karena selain wajahnya yang sangat cantik ahlak yang di miliki wanitanya ini begitu terlihat sangat baik, terbukti dia memperlakukan aby selama ini.


"Kenapa kamu tidak pernah membuka hijabmu ketika sudah berada dikamar hemmm?" Tanya aby kali ini memang sedang terlintas ingin menanyakan hal itu karena selama ini aby belum pernah melihat shanum membuka hijab di depannya.


"Shanum hanya belum siap kak aby." Sahut shanum dengan pandangan yang sudah tidak melihat ke arah aby.


Malu bercampur gugup, itulah yang di rasakan shanum saat ini. Ini adalah yang pertama kalinya mereka berdua saling bertatapan dengan intens.


Perlahan aby mendekatkan wajahnya pada shanum, tatapannya kali ini tertuju pada bibir ranum merah yang dimiliki oleh shanum. Tidak bisa lagi ia menahannya untuk tidak menyentuh bibir yang menarik perhatiannya saat ini.


Melihat tindakan aby semakin membuat shanum merasa sangat gugup, berfikir apa yang akan di lakukan aby padanya? detak jantung shanum terasa semakin lebih cepat.


Hingga detik kemudian bibir keduanya saling bertemu, perlakuan lembut yang di berikan oleh aby membuat shanum tidak bisa menolak perlakuan lembut suaminya ini.


Pasrah, itulah yang di lakukan shanum.


Semakin lama aby semakin tidak bisa mengendalikan dirinya, ingin sekali melakukan hal lebih dari ini. Tangan aby semakin menarik tengkuk shanum agar tautan bibir keduanya lebih dalam lagi.


Merasa shanum kesusahan untuk bernafas, aby segera menghentikan ciumannya.


"Maaf." Gumam aby segera menarik shanum ke dalam pelukannya.


Shanum hanya diam saja, seraya menarik nafas perlahan.


Mendengar nafas shanum sudah teratur, aby melihat wajah shanum yang terlihat memerah.

__ADS_1


"Maaf sayang, aku tidak bisa menahannya barusan, apa aku sudah menyakitimu? apa aku berbuat terlalu kasar barusan?" Tanya aby, ia takut jika shanum akan marah karena tindakannya baru saja.


Shanum menggeleng segera, sekilas menatap manik suaminya.


"Kak aby berhak atas diriku, jadi kak aby bebas bisa melalukan apa saja selagi itu tidak menyakiti batin dan fisik shanum." Sahut shanum yakin, tersungging sebuah senyum di bibirnya, membuat aby yang mendengarnya begitu sangat bahagia.


"Terima kasih." Ucap aby kembali menarik shanum ke dalam pelukannya dan memberikan banyak kecupan pada wajah shanum.


"Kalau begitu aku bisa meminta hak ku sayang?" Ucap aby lagi.


Shanum mengangguk yakin menatap mata suaminya.


"Shanum milikmu kak aby." Balas shanum.


Tersungging senyum tampan di wajah aby saat ini. Di waktu yang masih sangat pagi ini mendapatkan semangat baru, Mendengar semua ucapan shanum bagaikan mendapatkan jackpot.


"Kak aby mandi ya, sarapan sudah siap sejak tadi." Kata shanum kali ini ingin mengalihkan pikiran aby karena memang ini masih sangat pagi jika suaminya meminta haknya sekarang.


"Baiklah." Sahut aby kembali mengecup kening shanum.


Setelah itu aby segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Shanum hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya kali ini, seperti orang bucin.


Apa laki-laki seperti kak aby bisa bucin juga?


Gumam shanum dalam hati.


Menit kemudian shanum segera merapikan tempat tidur aby, tidak lupa juga ia menyiapkan baju ganti yang akan di gunakan oleh suaminya.


Berhubung aby belum mulai bekerja, jadi shanum cukup menyiapkan baju rumahan yang akan di pakai oleh aby.


Setelah menyiapkan semua keperluan aby serta membereskan kamar. Shanum keluar meninggalakan kamar aby dan kembali ke dapur berniat menunggu aby di sana duduk di meja makan.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2