Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 55


__ADS_3

Kini alina baru saja sampai di kediaman orang tuanya bersama dengan aby yang tadi mengantarkan alina ke rumah orang tua mereka.


"Loh kok kalian bisa barengan nak?" Tanya bunda rumi yang terkejut melihat kedatangan putra putri kesayangan mereka.


Alina tidak menjawab ia langsung masuk setelah mengucapkan salam dan langsung menerobos masuk ke dalam kamarnya, tanpa menghiraukan pertanyaan sang bunda.


Sedangkan bunda rumi yang melihat keadaan berbeda dari alina merasa heran lalu bertanya pada anak sulungnya.


"Alina kenapa aby?" Tanya bunda rumi.


Dengan berat hati aby menjelaskan semuanya pada bunda rumi, yang sebenarnya belum ingin memberitahukan kepada orang tuanya mengenai masalah yang terjadi pada rumah tangga alina.


Mendengar semua yang telah di ceritakan oleh aby membuat bunda rumi terkejut bukan main seketika membuatnya ikut menangis membayangkan rasa kecewa putri bungsu kesayangannya.


Setelah aby bercerita panjang lebar tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang dan terlihat kedatangan ayah hendra baru saja pulang dari kantornya.


"Assalamu'alaikum." Ucap salam ayah hendra.


Bunda rumi dan hendra menjawabnya bersamaan.


"Aby? kamu ada di sini, pantas saja ayah tidak melihatmu di pertemuan tadi." Ucap ayah hendra sedikit terkejut melihat keberadaan aby di rumahnya, karena jarang aby datang berkunjung ke rumah setelah menikah.


Hendra melihat ke arah istrinya dan baru menyadari jika istrinya itu sedang menangis.


"Ada apa dengan ibumu aby? kenapa mengangis." Tanya ayah hendra.


Tidak ingin ada yang di sembunyikan pada ayahnya, aby pun kembali menceritakan semua yang terjadi hari ini pada alina. Mendengar cerita aby membuat ayah hendra seketika emosi.


"Aku tidak menyangka laki-laki itu bisa menyakiti putriku seperti ini." Ucap ayah hendra dengan raut wajah sedihnya bercampur amarah.


"Lalu kemana alina?" Tanya ayah hendra lagi yang tidak melihat keberadaan putri bungsu kesayangannya.


"Alina di kamar ayah." Sahut aby.


Sementara bunda rumi tangisnya perlahan mereda mencoba untuk tegar ingin menghampiri putrinya memberi kekuatan pada sang putri.


"Aku akan ke kamar alina, ayah dan aby pergilah makan siang terlebih dulu." Kata bunda rumi.


Aby dan ayah hendra pun mengangguk mengiyakan.


Sedang bunda rumi menaiki anak tangga menuju lantai dua tepatnya menuju di kamar alina.


"Alinaa sayang." Suara panggilan bunda rumi seraya mengetuk pintu kamar alina.

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari dalam kamar.


Alina yang sejak tadi memilih mengurung diri di kamar ia benar-benar terpukul mendapati jovan bersama perempuan lain. Alina terus saja menangisi takdir hidupnya saat ini begitu besar rasa kekecawaan yang dia rasakan. Jovan telah menghianati dirinya, bagaimana nasib rumah tangganya esok? alina terus saja memikirkan hal itu. Apakah dia harus mempertahankan rumah tangganya bersama jovan?


"Alina." Bunda rumi kembali bersuara dari balik pintu kamar alina.


Alina yang sedang kalut dengan fikirannya dan melamun seketika tersadar mendengar suara bundanya memanggilnya.


"Masuk bunda, nggak di kunci." Suara alina yang terdengar masih menangis.


Bunda rumi memasuki kamar alina setelah mendapat sahutan dari sang putri.


Melihat bunda rumi yang menghampirinya, membuat tangis alina semakin pecah. Ia yakin abangnya pasti sudah menceritakan semuanya di ruang tamu tadi.


"Bunda." Suara alina semakin menangis pilu, langsung memeluk bundanya yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Bagaimana bisa jovan berbuat seperti itu nak?" Ucap bunda rumi.


Alina hanya menggeleng masih dengan tangisnya tidak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.


"Bunda, apa alina boleh tinggal di sini lagi?" Ucap alina lirih.


Bunda rumi mengangguk semakin mengeratkan pelukannya, berusaha memberi ketenangan pada anak bungsunya itu.


"Bunda sebaiknya alina meminta cerai saja dari jovan, alin nggak akan tahan jika jovan benar memiliki wanita lain dan memiliki anak dari wanita lain bunda. Alina nggak akan kuat bunda." Ucap alina masih dengan tangisan pilunya.


Bunda rumi hanya mengangguk saja, seolah memberi dukungan apapun pada putrinya.


***


Sementara di kediaman jovan, dirinya masih saja merenungi apa kesalahannya terhadap alina. Setelah beberapa jam kepergian alina dari rumahnya jovan merasa kacau dengan apa yang dia alami saat ini.


Jovan merasa memang telah salah karena dirinya terus saja menyembunyikan kebenaran dari alina selama ini, dia sudah berani melakukan sesuatu di bekang alina selama ini tanpa sepengatahuan alina.


Maafkan aku alina aku akan menceritakan semuanya, aku akan memperbaiki semua kesalahanku. Aku berjanji


Jovan tidak ingin rumah tangganya berantakan seperti ini, dia sudah cukup nyaman bersama alina selama ini. Mengingat ucapan aby yang memintanya untuk menceraikan alina, semakin membuatnya kacau saja.


Jovan menggeleng keras tidak ingin ada kata perpisahan dengan rumah tangganya.


"Tidak, aku tidak akan mengabulkan permintaan bang aby tadi." Gumam jovan pada dirinya sendiri.


Jovan berniat akan mendatangi rumah orang tua alina berniat ingin berbicara pada alina dan akan menjelaskan semuanya. Jovan yakin pasti orang tua alina sudah mengetahui semuanya, pasti alina dan aby sudah menceritakan semua kejadian hari ini.

__ADS_1


Lama jovan duduk merenungi semua kesalahannya, tiba-tiba saja dia kedatangan sang ayah dengan masih memakai pakaian kerjanya. Panji datang sendiri ke rumah jovan.


"Jooo!!!!" Suara panji memanggil jovan dengan nada tinggii seperti sedang marah.


Ada apa lagi ini, ada apa dengan papa?


"Papa, ada apa pa?" Tanya jovan berdiri dari posisi duduknya.


Namun belum sempat jovan berdiri sepenuhnya tiba-tiba saja panji lagsung melayangkan bogem pada wajah putranya itu. Lagi-lagi jovan menerima pukulan di wajahnya.


"Dasar kamu laki-laki tidak bertanggung jawab, laki-laki berengseekk kamu jo.!!!! Suara amarah panji menggema di ruang tamu rumah jovan.


Begitulah panji memang sangat memperlakukan jovan dengan keras, meski jovan adalah putra satu-satunya, tapi panji tidak akan segan-segan memukul jovan jika melakukan kesalahan. Tidak ingin membiarkan jovan salah jalan jika saja didikannya lemah.


Jovan yang kembali menerima pukulan secara tiba-tiba dari sang ayah membuatnya tersungkur di sofa dengan begitu kasar, seraya tangannya memegang wajahnya yang kesakitan terkena pukulan.


"Papa...."


"Jangan lagi berkilah jovanka, jelas-jelas kamu sudah bersalah dan telah menghianati istrimu sendiri. Bahkan papa tidak pernah mengajarkan mu menjadi laki-laki berengsek seperti itu jovan." Ucap panji masih dengan emosinya.


Jovan menggeleng tidak terima dengan tuduhan papanya sendiri.


"Papa salah paham." Ucap jovan membela dirinya.


"Aku sudah mengetahui semuanya jo, kamu tidak usah menyembunyikannya lagi. Ayah mertuamu sudah memberitahuku semuanya melalui telepon barusan sebelum ayah kesini."


"Berani-beraninya kamu mempermalukan papa jovan." Ucap panji.


"Kalian semua salah paham, aku tidak pernah melakukan hal itu. Jo tidak serendah itu pa, jo tidak seberengseek itu pa." Sarkas jovan tidak terima dengan kesalah paham yang dia alami saat ini.


"Papa tidak percaya karna papa juga sudah mencari tahunya sendiri dan benar kamu telah memiliki wanita simpanan jo, bahkan kamu menempatkannya di rumah yang tidak di ketahui oleh siapapun. Dasaarrr brengseekk kamu jo." Panji masih saja dengan amarahnya dan lagi-lagi melayangkan pukulan di wajah jovan dengan begitu keras sehingga sudut bibir jovan mengeluarkan darah.


Jovan hanya diam tidak membalas sedikitpun meski sang papa terus saja memukulnya.


"Papa, itu semua salah. Jo bisa jelasin semuanya. Tolong percaya sama jovan pah." Lirih jovan kali ini ia menyadari kesalahannya, tidak seharusnya ia menyembunyikan hal sebesar ini dari siapapun.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2