Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Part 14


__ADS_3

Seminggu sudah semenjak aby menjatuhkan talak pada shanum, kini dia hanya berdiam di rumahnya selama seminggu ini tanpa melakukan aktifitas apapun, bahkan banyak pekerjaan yang di abaikan di perusahaannya, dan tentu saja membuat gio kewalahan dengan bolak balik dari kantor ke rumah aby hanya untuk meminta sebuah tanda tangannya.


Aby selalu memandang surat cerai yang masih berada di atas meja samping tempat tidurnya bahkan aby belum menanda tangani surat cerai tersebut, entah kenapa dia sangat berat menandatangi surat perceraian itu, bukan kah dia dan shanum sudah benar-benar berakhir? lalu kenapa aby masih sangat berat untuk menandatangani surat perceraian itu.


Sementara shanum saat ini tidak kalah terpuruknya, sudah seminggu ini ia mengurung diri di dalam kamarnya terus saja menangis meratapi nasibnya yang tidak bisa mempertahankan rumah tangganya.


Maafkan shanum dady, maafkan shanum mami. Shanum tidak bisa mempertahankan pernikahan shanum bersama kak aby.


Lirih shanum seolah berbicara dengan kedua orang tuanya, saat ini ia sedang menatap sebuah pigura yang terdapat gambar kedua orang tuanya bersama dirinya di sana.


"Shanum sudah benar kan dady, mami? Bahkan shanum tidak memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Monolog shanun masih menatap potret mendiang kedua orang tuanya.


"Shanum mencintanya, tapi kenapa rasa sakit yang selama ini dia berikan selalu membuat shanum takut ingin memberinya kesempatan." Lagi-lagi shanum berbicara pada pigura kedua orang tuanya seolah benda yang dipegang itu bisa menyahutinya.


Hati shanum saat ini sangat kalut antara sedih atau senang karena statusnya saat ini yang sudah tidak lagi bersama laki-laki yang selama ini mengabaikan kehadirannya. Namun tidak bisa di pungkiri rasa sedih dan juga penyesalan sedang mendominan karena tidak memberikan kesempatan pada aby yang sedang berusaha untuk memeperbaiki semuanya.


Semenjak aby menjatuhkannya talak shanum lebih memilih untuk berdiam diri di dalam kamarnya sesekali tantenya yaitu ibu dari fariz mengantar makanan ke dalam kamarnya. Sementara fariz kaka sepupunya mengalah untuk tetap menyelesaikan pekerjaannya di kantor perusahaan milik almarhum orang tua shanum karena fariz sangat paham apa yang di rasakan oleh shanum saat ini.


***


Satu bulan pun berlalu tapi aby masih sama dan tidak juga menandatangani surat cerai tersebut. Namun setelah memikirkannya sepanjang malam tadi malam bahwa dia dan shanum sudah benar-benar berakhir dan harus mengakhirinya secara hukum aby memutuskan untuk menandatangani surat cerainya dan akan mengembalikannya kepada shanum langsung siang ini.


Pagi ini aby sudah di sibukkan dengan kegiatan di kantornya, beberapa pekerjaan harus sudah selesai dalam waktu seminggu karena aby memtuskan untuk pindah bekerja di luar negeri setelah mendapatkan persetujuan dari ayahnya dan tentu saja sang ayah mengijinkannya dirinya karena kebetulan salah satu cabang perusahaan yang ada di luar negeri tepatnya di turki tidak ada yang memimpinnya sehingga sedikit terbangkalai jadilah aby berfikir untuk menghilanglan rasa penyesalannya dia memutuskan untuk menyendiri di negeri orang.


"By, apa keputusan loe sudah bulat? buat tinggal di sana?" Tanya gio yang sejak tadi selalu menanyakan hal yang sama.


Aby yang mendengar pertanyaan yang sama sejak tadi membuatnya sedikit mendengus kesal.


"Gue udah yakin banget dan sudah gue udah fix nggak bisa di rubah lagi." Sahut aby yakin.


"Apa loe ngga mau memperjuangkannya sekali lagi buat ngedekatin mantan istri loe? siapa tau aja dia sudah berubah fikiran kan." Ucap gio hanya sekedar iseng untuk melihat reaksi aby.


Aby menggeleng cepat pertanda dia sudah tidak mau lagi memaksa takdirnya yang benar-benar sudah berakhir bersama shanum dan mungkin kesalahannya terlalu fatal hinggah shanum begitu sulit menerimanya kembali.


"Kesalahan gue sudah sangat menyakitinya, jadi nggak mungkin ada kesempatan lagi buat gue." Sahut aby sangat terlihat raut wajah penyesalan serta kecewa karena shanum tidak pernah mau memberinya kesempatan itu.

__ADS_1


Gio hanya terlihat mengangguk tidak ingin lagi bertanya apapun, sebenarnya gio sangat menyayangkan shanum tidak memberikan aby sebuah kesempatan. Karena gio melihat kali ini aby sangat bersungguh sunggu untuk memperbaiki semua kesalahannya.


"Terus yang megang perusahan di sini siapa by?" Tanya gio.


"Loe tenang aja, masih ada ayah kan." Sahut aby.


Setelah keduanya mengobrol aby memutuskan untuk pergi sebentarenuju rumah shanum, yang di ketahui oleh aby shanum sekarang sedang berada di rumahnya.


Kini aby sudah mengudikan mobilnya menuju rumah shanum.


Tiga puluh menit aby menempuh perjalanan kini sudah sampai di kediaman shanum dan telah memarlirkan mobilnya tepat di halam depan rumah shanum.


"Shanumnya ada bi?" Tanya aby pada seorang wanita paruh baya yang sedang menyiram bunga-bunga di taman.


"Ada pak, tunggu sebentar saya akan panggilkan." Ucap wanita itu yang mungkin salah satu asisten rumah tangga shanum.


Aby mengangguk mengiyakan, di tangannya sudah memegang sebuah map coklat yang berisi surat perceraian yang sudah ia bubuhi tanda tangannya.


Beberapa menit kemudian shanum muncul dari balik pintuk rumahnya, sedikit terkejut shanum melihat aby berdiri di samping tanaman yang sedang dengan posisi membelakanginya.


"Kak aby." Gumam shanum.


"Shanum." Ucapnya.


"Assalamu'alaikum." Suara aby mengucapkan salam, ada rasa gugup, sedih dan juga penyesalan dalam benaknya saat ini.


"Walaikumsalam." Sahut shanum menjawab salam aby.


"Apa aku boleh masuk sebentar?" Tanya aby.


Shanum hanya mengangguk setuju dan mempersilahkan aby masuk ke dalam rumahnya.


Gugup, itulah yang di rasakan shanum dan ada rasa canggung.


Shanum kemudian mempersilahkan aby untuk duduk.

__ADS_1


"Aku datang kemari hanya mau meyerahkan ini." Uhar aby seraya menyodorkan sebuahap coklat yang sejak tadi berada di tangannya.


"Maaf aku baru menandatanganinya pagi tadi, Jujur shanum. Sebenarnya aku masih sangat berat melakukan semuanya tapi setelah aku fikir lagi jika ikatan di antara kita benar-benar sudah berakhir. Sekali lagi aku minta maaf atas semua kesalahanku yang dengan sengaja menyakitimu." Ujar aby lagi, sangat terlihat raut wajah penyesalan serta kecewanya.


Sementara shanum hanya menunduk menghindari tatapan aby padanya. Lagi-lagi air mata yang berusaha ia tahan jatuh begitu saja di sudut matanya, shanum dengan segera mengusapnya tidak ingin terlihat lemah di hadapan aby.


"Kak aby." Gumam shanum terdegar sesegukan menahan tangis.


Aby mengangguk, melihat shanum menangis ingin sekali aby merangkul wanita itu kedalam pelukannya. Ternyata sesakit ini melihat seorang wanita yang kita cintai menangis.


"Maafkan shanum. Yang sudah gagal menjadi istri buat kak aby, tidak bisa menjadi wanita yang kamu cintai serta inginkan. Shanum mengaku gagal dalam hal ini hingga kak aby selama ini selalu mengabaikan kehadiran shanum. Sekali lagi maafkan shanum jika shanum tidak bisa memberikan kak aby kesempatan, aku hanya takut di abaikan lagi. Rasanya sakit kak aby jika kehadiran kita tidak pernah di anggap ada." Ucap shanum sudah di penuhi lelehan air mata di pipinya.


Ya shanum memang lemah jika menyangkut masalah hati.


"Sekali lagi maafkan semua kesalahan shanum selama menjadi istri kak aby, semoga kak aby menemukan wanita yang tepat sesuai keinginanmu. Terima kasih sudah mau menerima shanum menjadi istrimu saat itu. Asal kak aby tau saat kak aby datang melamar shanum kepada kedua orang tua shanum, ada rasa senang dan juga khawatir saat itu. Senang bisa menikah dengan laki-laki pilihan orang tua saat itu, shanum merasa bangga banget saat itu bisa melihat dady dan mami tertawa bahagia melihat putrinya yang selalu ia jaga akhirnya mau menikah." Masih dengan suara bergetar karena menangis shanum berucap.


"Namun ada rasa khawatir jika shanum tidak di terima oleh laki-laki yang akan menikahi shanum, di balik rasa senangku waktu itu ada rasa takut karena selalu mendapati sikap dingin ketika bertemu dengannya. Tapi aku selalu menutupinya dari mami dan dady. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa."


"Pernah aku mencoba menolaknya secara halus, dengan mengatakan aku belum siap menikah karena masih ingin fokus bekerja. Tapi lagi-lagi dady menyemangati putrinya ini seperti ia selalu menyemangati ketika aku mengeluh perihal kuliahku yang mata pelajarannya seidikit susah. Dady dan mami selalu memberiku suport. Dan akhirnya aku luluh dengan lapang hati aku menerima perjodohan itu." Ucap shanum sesekali ia mengusap air mata yang terus keluar.


Sementara aby begitu sakit mendengar semua uangkapan hati shanum penyesalan semakin memenuhi perasaannya. Sangat menyesal hingga tidak bisa ia tahan cairan bening ikut menetes di sudut matanya yang sejak tadi memandangi wanita yang sudah tidak lagi menjadi istrinya saat ini.


"Maafkan laki-laki bodoh ini shanum." Hanya itu yang bisa di ucapkan dengan suara sangat lirih.


Shanum mengangguk berusaha untuk tegar, ia kembali mengusap air mata yang memenuhi kedua pipinya mencoba menatap aby yang saat ini ternyata ikut menangis seraya menatap dirinya.


"Sekarang kak aby, sudah tidak ada lagi beban di antara kita. Aku berharap setelah ini hanya bahagia yang akan memenuhi hari-hari kita kedepannya. Dengan berpisah sudah pilihan yang sangat tepat jika kebersamaan selalu menyakitkan." Ujar shanum berusaha menampilkan senyumnya sambil menatap aby.


Aby menggeleng cepat, karena mungkin ia merasa tidak akan pernah bahagia kedepannya dengan terus meratapi rasa penyelasan seumur hidupnya.


"Aku akan menyesal seumur hidupku shanum, ini adalah penyesalan terbesarku seumur hidup." Gumam aby yang masih di dengan oleh shanum.


*


*

__ADS_1


*


Bersambung....


__ADS_2