Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 48


__ADS_3

Suara tangis alina masih saja memenuhi ruangan tersebut, tangis yang begitu terdengar pilu di pendengaran menandakan bahwa hatinya kini begitu merasakan kecewa yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Jovan segera memeluk erat tubuh alina yang masih dengan posisi berbaring lemah, berharap bisa memberi kekuatan. Ia pun tidak bisa berkata-kata karena saat ini jovan tengah ikut larut dalam kesedihan seperti yang di rasakan oleh sang istri.


Dua jam telah berlalu kini waktu telah menunjukan pukul satu dini hari, suara tangis alina sudah mulai tidak terdengar lagi.


"Sayang, kita yang kuat ya. Kita pasti bisa melewati semua ini." Ucap jovan dengan begitu lirih.


Tangannya kini tengah mengelus pucuk kepala sang istri berharap bisa memberikan ketenangan, dan bisa menyurutkan perasaan sedih alina.


Alina sama sekali tidak merespon, ia hanya memejamkan mata tidak ingin melihat wajah laki-laki yang tengah berada di sampingnya saat ini.


Hingga beberapa menit kemudian datang dua orang perawat yang bertugas untuk memindahkan alina ke ruang perawatan yang sudah di sediakan sebelumnya.


"Dokter jo, kami akan memindahkan istri anda." Ucap perawat tersebut meminta ijin pada jovan.


Jovan mengangguk mengiyakan ucapan perawat tersebut.


Hingga beberapa menit kemudian alina sudah berada di ruang perawatan VIP yang sudah di sediakan.


"Sebaiknya kita istirahat, besok bunda dan yang lainnya akan kemari lagi." Ucap jovan seraya memperbaiki posisi alina di tempat tidur dan memakaikan selimut untuk menutupi tubuh alina.


"Sayang kamu nggak ingin makan sesuatu?" Ucap jovan yang kali ini bertanya perihal keinginan alina untuk mengisi perutnya yang masih kosong.


Hening. Tidak ada respon sama sekali


Alina masih saja mendiamkan suaminya, sama sekali tidak ingin merespon apa pun perkataan jovan. Jovan berfikir dan juga memahami bahwa alina saat ini tengah merasakan kesedihan hingga masih sangat enggan untuk merespon setiap ucapan jovan.


"Ya sudah kalau begitu. Tidurlah." Kata jovan kemudian, kini posisi tangannya memberi elusan pada kepala alina yang saat ini tidak tertutup hijab.


Tak menunggu waktu lama alina sudah kembali memejamkan matanya dan terlelap dalam mimpi dengan perasaan sedih yang masih sangat menguasai dirinya.


Jovan masih memandangi istrinya yang sudah tertidur pulas.


Sayang maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku masih saja mementingkan keinginan papa dan lebih memilih untuk hidup berjauhan denganmu.


Lirih jovan dalam hati, tidak bisa di pungkiri rasa sedih masih ia rasakan atas kehilang calon bayinya.


Ada cairan bening yang terlihat menetes dari kedua manik jovan, ketika mengingat kejadian yang menimpah istrinya.


Fikirannya masih saja terus mencari jawaban penyabab kenapa bisa alina terjatuh dari tangga, bukankah ia selalu memperingati alina untuk selalu berhati-hati? dan juga alina adalah wanita yang begitu mementingkan sekitar termasuk dirinya yang tengah hamil, tidak mungkin alina melakukan kecerobohan hingga dia bisa terjatuh. Jovan berfikir alina tidak pernah ceroboh.


Lama jovan bermonolog dengan fikiran-fikrannya hingga rasa kantuk meghampirinya dan sudah sangat ingin memejamkan mata. Tak menuggu waktu lama ia telah ikut terlelap bersama sang istri menyandarkan kepalanya tepat dia samping alina dengan posis menyangga kepalanya menggunakan sebelah lengannya dan tangan satunya ia gunakan untuk tetap memegang tangan sang istri.


***


Ke esokan hari bunda rumi serta anggota keluarga yang lainnya telah datang untuk melihat alina, sebelumnya jovan sudah memberi kabar pada semua anggota keluarganya bahwa alina sudah sadarkan diri dan sudah di pindahkan ke ruang perawatan.


Ada rasa senang yang melingkupi relung hati seorang bunda mendengar kabar bahwa putri kesayangannya kini telah sadar dan sudah baik-baik saja. Begitu juga ayah hendra serta aby dan shanum.

__ADS_1


"Bunda." Suara alina memecahkan keheningan antara dirinya dan jovan, ketika melihat kedatangan keluarga tercintanya.


Bunda rumi seketika menghampiri putri kesayangannya dan langsung memberikan pelukan hangatnya.


Tiba-tiba saja alina menangis dalam pelukan bundanya. Sebagai seorang ibu bunda rumi sangat paham apa yang di rasakan putrinya saat ini, mungkin saja jovan sudah memberitahukan kebenarannya bahwa kandungannya tidak bisa di selamatkan hingga alina merasakan kesedihan seperti ini.


"Sabar sayang, semuanya akan baik-baik saja. Kamu yang kuat nak insya allah akan di gantikan dengan kebahagiaan nantinya." Imbuh ayah hendra yang berada di belakang bunda rumi.


Ia pun ingin memberikan pelukan hangat pada putri kesayangannya itu.


"Ayah." Lirih alina kini melihat ke arah ayahnya, seolah meminta kekuatan dari sang ayah.


Ayah hendra memajukan langkahnya dan segera meraih tubuh mungil putri kesayangannya yang masih terlihat berbaring di tempat tidur kesakitan itu.


"Sabar ya nak, Anggaplah calon bayi yang belum sempat kamu lihat itu adalah sebagai penolongmu kelak di akhirat." Tutur ayah hendra dengan penuh kelembutan, kini tangan yang masih terlihat kekar itu mengelus kepala sang putri serta memberinya kecupan hangat di kening alina.


Semakin terisak saja alina ketika mendengar penuturan sang ayah.


Sementara aby dan shanum hanya berdiri mematung di samping tempat tidur alina, tidak sanggup untuk berkata-kata. Aby bersyukur kini alina sudah baik-baik saja meski belum sepenuhnya menerima kenyataan yang terjadi pada keluarga kecil adiknya.


"Apa kamu sudah sarapan nak?" Tanya bunda rumi.


Alina menggeleng karena tidak ingin sarapan.


"Alina nggak lapar bunda." Ucap alina kemudian.


"Bunda udah bawain makanan kesukaan mu sayang." Kata bunda yang tengah menyiapkan bekal yang di bawah tadi dari rumahnya.


"Jo. Kamu sudah sarapan nak?" Tanya bunda rumi.


"Jo baru saja ingin keluar untuk membeli sarapan bunda tapi tidak ada yang menjaga alina." Sahut jovan.


Sebenarnya jovan masih sangat canggung terhadap keluarga alina. Namun sebisa mungkin ia berusaha menetralkan perasaan canggungnya.


"Kalau begitu kamu sarapan dulu gih, mumpung masih hangat bunda bawa dari rumah." Kata bunda rumi dengan raut wajah yang terlihat senang.


Entah kenapa perasaan bunda rumi sangat terlihat bahagia melihat putrinya kembali baik-baik saja sekarang. Terlebih lagi ada sang menantu yang selalu menjaga putrinya, karena ia tau alina begitu sangat merindukan suaminya.


Tak berselang lama mama intan serta panji baru saja memasuki ruag perawatan alina.


"Mama." Alina menyapa ibu mertuanya yang baru saja datang.


Mama intan langsung menghampiri menantu kesayangannya dan langsung memberikan pelukan.


"Jangan terlalu banyak bergerak dulu nak." Ucap mama intan yang terlihat hawatir.


Alina dan ibu mertuanya sudah sangat terlihat akrab terlebih lagi mama intan sangat menyayangi menantu kesayangannya itu.


"Maafin alin mah, nggak bisa jagain kandungan alina." Lirih alina maniknya kembali terlihat sendu.

__ADS_1


"Tidak sayang, ini bukan salah siapa-siapa. Ini sudah musibah nak, Ini ujian untuk rumah tangga kalian yang harus kalian lewati dengan rasa sabar." Nasehat mama intan.


Alina kembali memeluk wanita yang sudah menjadi ibu mertuanya itu.


"Sudah nak, kamu dan jovan harus sabar." Ucap mam intan lagi.


Mama intan senantiasa selalu memberi nasehat pada menantu serta putranya. Berharap mereka bisa melewati ujian dalam rumah tangga alin dan jovan saat ini.


Lama mereka saling bertukar obrolan hingga tidak terasa waktu sudah hampir siang dan semuanya berniat ingin kembali ke kediaman masing-masing begitu juga dengan aby dan shanum segera mengucapkan pamit.


"Alin, bang aby pulang dulu ya dek. Cepat pulih dan kamu harus sabar." Kata aby menghampiri sang adik.


Alina memeluk abang kesayangannya itu kemudian mengangguk.


"Kak shanum." Sapa alina pada kakak iparnya.


Shanum tersenyum kemudian memeluk adik iparnya.


"Yang sabar ya lin." Hanya itu yang dapat di ucapkan pada alina.


Selepas kepergian abangnya tadi. Alina tiba-tiba saja mengatakan sesuatu yang membut anggota keluarga terkejut begitupun dengan kedua mertuanya terutama jovan sebagai suaminya.


"Bunda jika alina pulang dari rumah sakit besok, alin mau balik dan tinggal di rumah bunda dan ayah."


Jovan yang mendengar ucapan alina barusan seketika menegang, maniknya yang sedang fokus pada ponselnya, kini langsung menoleh ke arah alina tidak mengerti apa yang di maksud istrinya.


Bunda rumi dan ayah hendra tidak kalah terkejut mendengar ucapan putri mereka.


"Nak, suami mu ada disini jadi sebaiknya kamu minta ijin dulu sama jovan." Tutur bunda rumi.


"Mungkin alina ingin menenangkan diri di rumah orang tuanya jadi tidak masalah." Imbuh mama intan dan di angguki oleh panji menandakan mereka setuju.


Padahal mereka tidak mengetahui maksud dari perkataan alina, bahwa ia ingin menghindari jovan. Tapi alina sama sekali tidak mau mengatakan sesuatu, ia ingin menunggu sampai jovan menjelaskan sesuatu selama berada di luar negeri.


"Bunda, alina mau sendiri dulu." Tukas alina tidak memperdulikan keberadaan jovan di sekitarnya.


Semakin kacau saja perasaan jovan, kembali mendengar ucapan alina yang mengatakan bahwa dia ingin sendiri dulu.


Apa maksudmu alina.


Jovan hanya menggumam dalam hati.


*


*


*


TBC...

__ADS_1


Jangan lupa like ya teman-teman 🙏😊


__ADS_2