Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 52


__ADS_3

Selepas kepergian erika tadi, kini jovan tengah menunggu alina yang katanya akan datang untuk mengantarkan makan siang serta menemaninya untuk menyantap makan siang bersama.


Kenapa alina belum datang juga?


Jam istirahat serta jam makan siang sudah hampir habis, namun keberadaan alina tak kunjung terlihat.


Apa mungkin alina melupakan janjinya.


Jovan terus saja bergumam dalam hatinya, membuatnya sedikit tidak tenang dan takut akan terjadi apa-apa dengan istrinya. Akhirnya jovan berniat untuk menelpon sang istri.


Di ambilnya benda pipih yang terletak di kantong jas putih yang sering ia kenakan selama bekerja menjadi seorang dokter.


Beberapa kali jovan menelpon alina namun tidak ada jawaban sama sekali. Kemudian panggilan kelima baru alina menjawab telepon jovan.


"Kamu di mana sayang? katanya mau nganterin makan siang buat aku." Kata jovan mengingatkan alina yang mungkin saja lupa.


"Maaf kak, aku sedang ada jam kuliah tambahan hari ini jadi aku nggak bisa nganterin makan siangnya." Suara alina di balik telepon berusaha mencari alasan.


"Baiklah kalau begitu kamu hati-hati ya sayang." Kata jovan.


Jovan pun memahaminya dan akhirnya menyudahi panggilan telepon mereka setelah mengucapkan salam.


Akhirnya jovan memesan makanan lewat aplikasi yang seperti biasa ia lakukan jika dirinya tidak pulang ke rumah untuk makan siang bersama yang dibuatkan oleh alina.


Tidak terasa waktu menjelang sore dan jam kerja jovan kini telah selesai. berniat langsung ingin pulang ke rumahnya.


"Jo, Kamu mau pulang?" Tanya panji yang tiba-tiba muncul di belakang jovan dan sepertinya papa panji juga berniat akan pulang ke rumah.


"Iya pah, jo mau pulang dulu." Jawab jovan.


"Baiklah, kamu hati-hati papa juga mau pulang. Oh iya sudah lama kamu tidak mengajak alina menginap di rumah, besok ajaklah ke rumah mama mu sudah sering bertanya karena kamu sudah tidak pernah lagi menginap di rumah utama nak." Kata papa panji.


Memang jovan selama alina sembuh dari kecelakaan waktu itu jovan sudah sangat jarang berkunjung ke rumah orang tuanya dengan alasan dirinya masih sibuk dan juga melihat alina kegiatannya full time tidak ada waktu untuk sekedar mengunjungi orang tua mereka. Jovan pun merasa bersalah karena memang kenyataany seperti yang di ucapkan sang papa.


"Insya allah pah jo dan alin besok kalau libur akan menginap di rumah, sampaikan salam jo sama mama." Kata jovan berusaha memberi pengertian pada papa panji.


"Hmm.. Papa dan mama selalu menggu kedatangan kalian." Ucap panji kemudian berlalu menaiki mobilnya.


Jovan pun mengangguk menatap punggung yang masih terlihat kekar itu memasuki mobilnya.


Menit kemudian setelah sang papa melenggang pergi meninggalkan rumah sakit itu, jovan pun melangkah menuju mobilnya untuk meninggalkan rumah sakit tersebut, ia pun sudah ingin segera menuju rumahnya untuk bertemu dengan istri tercintanya yang mungkin saat ini tengah memasak makan malam untuknya.


Sesampainya dirumah, jovan langsung mencari keberadaan alina, dan benar saja jovan mendapati sang istri sedang memasak makan malam untuk mereka.


"Sayang." Panggil jovan langsung dengan posisi memeluk sang istri dari belakang.


Sekilas alina hanyan menoleh ke arah suaminya yang tengah memeluk dirinya, alina hanya menampilkan senyum simpulnya.

__ADS_1


"Hei kamu lupa ya dengan janji kita hari ini, kenapa nggak jadi datang ke kantor?" Ucap jovan.


Seperti biasa alina sangat pandai menyembunyikan perasaannya, dia tidak ingin membuat jovan tahu bahwa siang tadi ia datang ke kantor suaminya namun hal yang semestinya tidak di dengar malah ia dengar dan membuat alina merasa kecewa dengan suaminya hari ini. Biarlah alina menunggu penjelasan dari jovan sendiri tanpa alina memintanya.


Alina hanya ingin melihat sikap jujur jovan kali ini.


"Kan aku sudah bilang tadi di telpon, alina sedang ada kuliah tambahan jadi tidak jadi ke tempat kak jo." Ucap alina dengan ekspresi datar, mencoba memberi alasan yang masuk akal.


"Baiklah, tapi lain kali kamu harus menghubungiku jika tidak jadi datang sayang, kamu tau? aku menunggumu tadi siang." Jelas jovan selembut mungkin, ia tidak ingin memperlihatkan rasa kecewanya karena alina tidak mendatanginya di kantor.


Alina kembali memperlihatkan senyum paksanya, ia juga tidak ingin memperlihatkan rasa curiganya pada jovan.


"Sebaiknya kak jo pergi mandi dulu." Kata alina.


Namun jovan semakin mengeratkan pelukannya entah kenapa ia begitu sangat merindukan istrinya hari ini dan selalu ingin berdekatan dengan sang istri.


"Apa kamu sudah mandi?" Tanya jovan, ia tau betul jika alina belum mandi sore ini karena jovan sangat hafal alina akan membersihkan dirinya setelah menyelesaikan kegiatan memasaknya.


"Alina setelah kak jo saja." Sahut alina, tangannya masih sibuk dengan mengaduk masakannya.


"Baiklah." Ucap jovan kemudian, namun tidak sama sekali melepaskan pelukannya.


"Kalau gitu lepasin alina dulu, karena alin sedikit susah bergerak nih." Imbuh alina.


"Hmm." Jovan hanya bergumam pelan perlahan ia pun melepaskan pelukannya.


Berniat membersihkan diri dan mencoba menenangkan fikirannya, jovan masih saja memikirkan tentang erika yang mendatanginya dikantor tadi siang, mengatakan bahwa dirinya tengah hamil.


Jovan semakin pusing saja di buat oleh wanita itu, jovan pun agak khawatir untuk membantu erika lagi takut akan menimbulkan salah paham lagi pada alina.


Usai menyelesaikan kegiatan mandinya jovan terlihat sudah mengenakan baju santainya kembali mengambil leptopnya berniat akan mengecek sebuah email dari sahabatnya mengenai laporan hasil rekapan penjualan toko obatnya.


Menit kemudian barulah alina memasuki kamar dan juga berniat untuk membersihkan diri, karena waktu sudah hampir menjelang magrib.


"Sayang kamu sudah selesai masaknya?" Tanya jovan yang melihat alina baru saja memasuki kamar mereka.


"Iya." Ujarnya singkat.


Kemudian dengan terburu-buru alina memasuki kamar mandi, menghindari jovan yang selalu mengambil perhatiannya.


Hampir dua puluh menit alina menghabiskan waktu untuk kegiatan mandinya.


Tepat pada saat adzan magrib berkumandang alina sudah menggunakan gamis santainya, langsung mengambil mukena untuk segera menjalankan sholat magrib.


"Apa kamu tidak menunggu suamimu?" Tanya jovan yang sudah melihat alina akan melaksanakan kewajibannya tanpa memanggil jovan seperti biasanya.


Alina menghentikan gerakannya yang sedang memakai mukena mendengar jovan menegurnya, lalu menoleh sekilas ke arah jovan.

__ADS_1


"Ya sudah kak jo segera ambil wudhu." Kata alina kemudian.


Jovanpun tersenyum pada istrinya, jovan merasa hari ini alina sedikit berubah tidak seperti biasanya.


Ketika jovan sudah selesai mengambil wudhu keduanya pun segera melaksanakan sholat berjamaah seperti biasa jovanlah menjadi imam alina.


Usai melaksanakan sholat magrib keduanya melanjutkan untuk membaca al-qur'an sembari menunggu waktu isya tiba barulah mereka akan makan malam bersama. Seperti itulah keseharian yang mereka lewati setiap harinya.


Tidak terasa adzan isya pun sudah berkumandang, kini keduanya tengah melanjutkan kewajibannya.


Lima belas menit kemudian, alina dan jovan telah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Kini mereka telah berada di meja makan berniat akan menyantap makan malamnya.


"Segini cukup?" Tanya alina tangannya tengah sibuk mengisi piring kosong milik suaminya.


"Cukup sayang." Sahut jovan.


Setelah selesai melayani suaminya barulah alin melanjutkan makannya.


Mereka menikmati makan malam dengan susana hening, tanpa ada yang berniat mengeluarkan suara.


Jovan pun heran karena biasanya alina akan berbicara banyak menceritakan kegiatannya setiap hari, tetapi hari ini ia merasa alina sedikit pendiam.


Setengah jam berlalu.


Selesai menikmati makan malamnya, sekarang alina dan jovan sudah berada di dalam kamar mereka.


Alina duduk bersandar di atas tempat tidur seraya memainkan ponselnya.


Sementara jovan sudah membaringkan dirinya dengan posisi terlentang maniknya menatap ke arah langit-langit kamar besar mereka, kedua tangannya menopang kepalanya bagian belakang.


"Kak jo, alina ingin hamil." Tiba-tiba saja alina mengutarakan niatnya, tentu saja membuat jovan terkejut dengan permintaan alina yang secara tiba-tiba.


Seketika jovan menoleh ke arah alina, menatap lekat wajah istrinya itu. Tidak tau lagi jovan harus menjelaskan apa ia takut menjelaskan sesuatu yang akan membuat sang istri kecewa akhirnya.


Karena dokter vina selaku dokter kandungan pernah menjelaskan sesutu pada jovan sebelumnya.


*


*


*


TBC...


Jika suka dengan ceritanya harap tinggalkan like ya biar authornya tetap semangat up.

__ADS_1


__ADS_2