
Pada siang hari menjelang sore, aby pulang ke rumah utama tepatnya rumah kedua orang tuanya, aby ikut atas dasar ajakan ayah hendra serta bunda rumi, dan tentu saja shanum harus ikut karena aby dan shanum sudah kembali menjadi suami istri lagi setelah aby meminta shanum kembali dan telah mengucapkan kata rujuk yang di saksikan oleh bundanya sendiri.
"Sebaiknya kalian istirahat di kamar saja nak, dan shanum tolong antarkan suami mu di kamar ya nak." Ucap bunda rumi yang kini tengah membereskan barang-barang kotor aby selama berada di rumah sakit.
"Bunda, biar shanum saja yang mengerjakannya." Kata shanum yang ingin mengambil alih pekerjaan sang mertua karena merasa tidak enak jika harus bunda rumi yang mencuci pakaian suaminya.
Bunda rumi melihat ke arah shanum sekilas kemudian tersenyum.
"Tidak masalah sayang, aby juga anak bunda jadi tidak ada salahnya kan." Ujar bunda rumi yang tidak bisa hilang perannya sebagai seorang ibu untuk putra putrinya.
"Sebaiknya kamu temani suamimu di kamarnya ya sayang." Kata bunda rumi lagi.
Shanum mengangguk kemudian, tidak bisa menolak dan akhirnya shanum memasuki sebuah kamar yang di tempti aby.
Aby yang lebih dulu memasuki kamarnya baru saja, ia berniat untuk membersihkan dirinya.
Sementara shanum melangkah perlahan menuju kamar aby, tidak bisa di pungkiri masih ada rasa ragu untuk menghampiri kamar laki-laki yang sudah kembali menjadi suaminya.
Sesampai di depan pintu kamar aby, dengan ragu shanum mengangkat tangannya mengetuk pintu kamar aby lalu kemudian mendorongnya perlahan setelah mendapat suara aby yang menyuruhnya masuk.
"Shanum? kenapa harus mengetuk pintu, ini juga kamar mu sayang kamar kita." Ujar aby yang saat ini penampilannya sudah bertelanjang dada karena baru saja ingin melangkah menuju kamar mandi.
Seketika shanum menunduk malu dengan panggilan aby untuknya, belum lagi penampilan aby saat ini membuatnya malu untuk melihat ke arah laki-laki itu.
"Kak aby sebaiknya mandi saja dulu." Ucap shanum yang sebenarnya ingin menghindar dari aby karena masih sangat belum terbiasa dengan penampilan aby saat ini.
Sementara aby hanya tersenyum jahil karena mengetahui jika shanum saat ini sedang merasa sangat malu untuk melihat ke arahnya, sangat terlihat dari raut wajah shanum yang pipinya memerah seperti tomat.
Dengan seenaknya aby menangkup pipi shanum dengan kedua tangannya membuat shanum melihat ke arahnya.
"Hei kenapa kamu sejak tadi menunduk saja? apa suami mu yang sedang mengajakmu berbicara berada di bawah sana?" Kelakuan aby saat ini membuat shanum semakin malu dan wajahnya semakin memerah saja.
"K..kak aby, apa sebaiknya kak aby mandi dulu nanti keburu masuk waktu ashar ." Kata shanum begitu sangat gugup.
Tiba-tiba saja aby mencium kening shanum tanpa meminta ijin terlebih dulu pada si empunya, semakin memerah saja shanum di buatnya.
Melihat keadaan shanum yang saat ini, aby langsung berbalik melangkah ke kamar mandi, meinggalkan shanum yang saat ini sedang malu dengan perlakuannya sediri. Tidak bisa di pungkiri aby juga menahan rasa malu serta gugup sekuat mungkin ketika mencium istrinya, pasalnya ini adalah pertama kali aby melakukannya. Aby sama sekali tidak terbiasa dengan hal ini. Tapi sebisa mungkin aby akan membuat shanum selalu luluh dengan perlakuannya. Agar shanum tidak mengira dirinya mengabaikan istri.
Shanum memegangi dadanya yang berdetak lebih cepat dari sebelumnya, serasa ada gelanyar aneh di seluruh tubuhnya ketika menerima perlakuan aby padanya, shanum beharap aby benar-benar tulus melakukannya, aby benar-benar tulus menganggap dirinya sebagai istri sesungguhnya. Tidak bisa di pungkiri ada rasa takut jika aby hanya berpura-pura padanya dan hanya di depan kedua orang tuanya dia berlaku baik seperti waktu itu.
Shanum senang kak aby bisa berubah.
Gumam shanum dalam hati, kini tersungging sebuah senyum di raut wajah cantiknya.
__ADS_1
Masih dengan rasa canggung shanum kembali melihat seisi kamar aby yang ukurannya lumayan besar, warna yang natural khas laki-laki terdapat sebuah tempat tidur yang berukuran king size sama seperti tempat tidurnya di rumah shanum.
Kamar aby terlihat begitu rapi, karena mungkin salah satu pelayan di rumah ini selalu membersihkannya, pikir shanum.
Lima belas menit telah berlalu, aby sudah menyelesaikan kegiatan mandinya.
"Ehmmm." Aby berdehem saat keluar dari kamar mandi ia melihat shanum sedang meneliti setiap sudut ruang kamar miliknya.
Seketika shanum menoleh mendengar suara aby.
"Kak aby sudah selesai?" Kata shanum yang saat ini kembali di landa rasa gugup karena melihat aby yang dengan se enaknya bertelanjang dada di depan matanya.
Shanum menundukkan pandangannya karena menghindari aby.
"Shanum sudah menyiapkan baju kak aby." Ucap shanum seraya melihat ke arah tempat tidur di mana shanum meletakkan baju ganti aby benerapa saat lalu.
"Terima kasih sayang." Kali ini aby benar-benar berhasil membuat shanum salah tingkah.
Shanum dengan terburuh-buruh ingin memasuki kamar mandi, berniat juga ingin membersihkan dirinya.
"Kalau begitu shanum mau mandi dulu." Pamit shanum, dirinya kini melangkah cepat meninggalkan aby yang saat ini masih menatapnya.
Tersungging senyum di bibir aby ketika melihat shanum yang sedang salah tingkah karena ulahnya. Sangat menggemaskan.
Kenapa tidak dari dulu saja aby menikmati semua ini, jika saja dia tidak egois dan mengedepankan sikap bodohnya sejak dulu ketika awal bersama shanum, mungkin saja dia sudah hidup bahagia dan bahkan mungkin sudah memiliki anak dari shanum.
Maafkan aku shanum, kali ini aku akan berjanji untuk selalu ada dan akan membahagiakanmu hingga kita menua bersama nanti. Aku berjanji.
Kembali aby bergumam dalam hati meyakinkan dirinya jika harus bisa memperbaiki semuanya, menebus semua kesalahan yang pernah ia perbuat pada wanita baik itu, yang sudah dengan sabat bisa bertahan selama setahun lamanya padahal jelas-jelas aby sudah mengabaikannya.
****
Waktu sudah menjelang malam, bunda rumi dan shanum sedang berkutat di dapur untuk menyiapkan hidangan makan malam.
"Shanum, panggilkan aby nak untuk makan malam bersama." Seru bunda rumi yang di angguki oleh shanum
Shanum kemudian pergi menuju kamar aby.
"Kak, makan malamnya sudah siap." Suara shanum berhasil mengalihkan perhatian aby dari leptop yang ada di hadapannya.
"Iya sayang, sebentar lagi aku turun." Sahut aby.
Lagi-lagi aby kembali membuat wajah shanum memerah.
__ADS_1
Detik kemudian shanum mengangguk lalu ia turun terlenih dulu meninggalkan kamar aby menuju ruang makan.
"Loh aby mana?" Tanya bunda rumi yang tidak melihat aby turun bersama shanum.
"Katanya sebentar lagi nyusul, kayaknya kak aby lagi sibuk sekali bunda karena sejak tadi dia fokus dengan leptopnya, barangkali ada beberapa pekerjaan kantor yang harus dia selesaikan.
Bunda rumi mengangguk paham, karena memang ia sudah tau kelakuan aby sejak masih lajang hingga saat ini yang selalu sibuk dengan bisnis perusahaannya.
Tidak lama kemudian aby pun sudah berada di ruang makan.
Dengan cekatan shanum melayani aby dengan sepenuh hati. Pekerjaannya saat ini belum pernah ia lakukan sama sekali selama pernikhaannya dengan aby. dan ini adalah yang pertama untuknya.
"Terima kasih." Ucap aby tersenyum pada shanum.
Shanum hanya mengangguk membalas senyuman aby.
Keluarga gunawan sedang mikmati makan malamnya dengan santai sambil mengobrol ringan.
Semuanya telah selesai menikmati makan malam mereka, kini bunda dan ayah sedang menonton televisi di ruang keluarga. Terlihat aby juga ikut menonton.
Sementara shanum sudah lebih dulu berada di dalam kamar aby. Rasa lelah begitu terasa karena mungkin seharian ini tubuhnya tidak mendapat istirahat untuk menemani dan mengurus kepulangan aby dari rumah sakit sejak pagi hingga siang tadi.
Sesampainya aby di kamar, manik aby tertuju pada shanum yang kini sudah tertidur pulas di kasur miliknya.
Perlahan aby melangkahkan kakinya setelah mengunci pintu kamar, ia berjalan ikut menaiki tempat tidur. Ini memang bukan pertama kalinya aby tidur bersama shanum karena memang dulu pernah beberapa kali ia sekamar dengan shanum ketika aby dan shanum menginap di rumah orang tua ataupun mertuanya, namun sama sekali tidak pernah sama sekali ada kontak fisik yang terjadi selama itu.
Tetapi saat ini keadaannya berbeda, kini aby telah memiliki perasaan terhadap wanita ini, dan tidak bisa di pungkiri kalau kalau aby ingin selalu dekat dengan shanum istrinya.
Saat ini aby sudah dalam keadaan berbari tepat di samping shanum, maniknya menatap lekat wajah cantik yang ada di hadapannya kini. Tanpa shanum sadari posisinya sudah menghadap aby, mungkin karena tidurnya begitu pulas.
Ciptaanmu begitu sempurna ya rabb, aku terlalu bodoh untuk tidak menyadarinya sejak dulu.
Aby menggumamkan sedikit rasa penyesalan yang kembali ia rasakan.
Kini tangan aby terlulur untuk mengelus kepala shanum yang saat ini masih tertutup hijab.
Entah shanum belum terbiasa membuka hijab di depannya atau memang ia kelupaan karena ketiduran.
Tidak membutuhkan waktu lama setelah lama aby meneliti setiap inci wajah sang istri, iapun merasakan kantuk dan ikut terlelap bersama shanum, aby berharap semoga hari esok dan seterusnya akan selalu merasakan kebahagiaan bersama wanita yang ada di kehidupannya saat ini.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...