
Sudah satu bulan berlalu setelah hari dimana shanum merawat aby yang sedang demam, shanum dan aby tidak lagi pernah bertemu.
Ketika aby datang menemui shanum di rumahnya, aby tidak pernah menemui keberadaan shanum. Asisten rumah tangganya selalu berkata jika shanum pergi bekerja dan belum kembali ke rumah.
Aby selalu menghampiri perusahan milik almarhum mertuanya yang saat ini di pegang alih oleh shanum, aby juga sudah mendatangi kampus tempat mengajar shanum waktu itu ia berharap mungkin saja shanum masih di sana tapi tidak pernah juga ia temui, rektor kampus bilang shanum sudah tidak lagi bekerja di kampus itu.
Membuat aby semakin di landa rasa khawatir ingin sekali bertemu shanum yang tidak pernah ia temui satu bulan selama belakangan ini.
Bahkan shanum sudah mengirimkannya surat gugatan cerai ke rumahnya tanpa mau menemuinya terlebih dulu.
Shanum juga pernah pergi menemui kedua orang tua aby jika dirinya mengutarakan keputusannya yang ingin berpisah dari aby, shanum juga menceritakan tentang pernikahan yang di jalani selama ini. Dan betapa marahnya ayah hendra waktu itu dan langsung mendatangi aby ke rumahnya melayangkan pukulan serta sumpah serapanya pada putra sulungnya itu.
Aby yang begitu bodoh telah menyia-nyiakan wanita sebaik shanum, kedua orang tua aby merasa kecewa pada putra kebanggaannya itu. Begitu juga alina yang kecewa terhadap kakak kesayangannya.
Saat ini aby merasa terpuruk tidak bisa bertemu dengan shanum meski dia sudah meminta bantuan sang ayah namun tidak ada respon yang dia dapat. Ayahnya bahkan selalu melayangkan kata-kata kasarnya terhadap aby.
"Gio, tangani meeting hari ini, gue mau nemuin shanum di rumahnya." Ujar aby, berharap kali ini usahanya tidak sia-sia.
Gio yang sedang sibuk dengan sebuah leptop di hadapannya menoleh ke arah aby yang selalu meminta bantuannya.
"Tapi ini rapat penting aby, kenapa loe selalu nyusahin gue. Loe bener-bener nggak punya perasaan." Gerutu gio.
"Tolongin gue io, ini yang terakhir gue janji besok-besok nggak lagi." Ucap aby dengan memohon.
Aby dengan sangat memohon berkata pada gio.
Sementara gio hanya pasrah-pasrah saja menerima perintah dari bos sekaligus sahabatnya itu. Bagaimana mungkin gio mengabaikan sahabatnya yang sedang kesusah, gio adalah tipe orang yang sangat peduli pada sesama apalagi jika menyangkut sahabatnya itu.
"Oke oke.. Demi rumah tangga loe." Kata gio kemudian.
Aby tersenyum mendengar perkataan gio, sudah ia duga gio tidak mungkin tega mengabaikan dirinya yang sangat butuh bantuannya saat ini.
"Makasih brow." Ucap aby seraya menepuk pelan bahu gio, kemudian ia berlalu dari ruangan gio meninggalkan kantornya berniat menuju kediaman shanum untuk menemuinya.
Aby berharap shanum akan berada di rumahnya pagi ini.
Aby menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah shanum.
Menempuh perjalanan selama tiga puluh menit akhirnya aby sampai di kediaman peninggalan almarhum orang tua shanum.
Aby baru akan meuruni mobilnya, maniknya langsung tertuju pada seorang wanita yang sedang berjalan bersama seorang laki-laki.
Shanum, wanita yang masih sah menjadi istrinya itu sedang tertawa bahagia bersama laki-laki tepat di hadapannya. Sepertinya shanum dan laki-laki itu akan berpergian karena melihat penampilan mereka yang cukup rapi.
__ADS_1
Shanum? Lirih aby menyebut nama istrinya itu.
Sementara shanum yang masih fokus mengobrol dengan fariz berjalan menuju sebuah mobil.
Aby dengan segera keluar dari mobilnya dan langsung menemui wanita yang selama ini sangat ingin ia temui.
"Shanum." Panggil aby ketika shanum akna memasuki moblinya.
Shanum merasa terkejut melihat keberadaan aby yang belakangan ini tidak pernah lagi saling bertemu.
"Kak aby?" Gumam shanum dengan raut wajah heran.
Aby melirik laki-laki yang terlihat mudah dan tampan kira-kira seumuran dengan dirinya kini berada di samping shanum, laki-laki yang membuat shanum tertawa bahagia di pagi hari.
Apakah shanum sudah mendapatkan pengganti dirinya sehingga shanum menghindarinya belakangan ini? segala macam pertanyaan timbul di benak shanum.
"Ada perlu apa kak aby kemari, apa kak aby akan mengantar surat perceraian itu apakah kamu sudah menandatanganinya?" Shanum berbicara datar langsung menanyakan masalah perpisahannya yang sudah sangat di inginkan.
Merasa geram aby mendengar pertanyaan shanum.
"Aku ingin melihat keadaan istriku." Jawab aby dengan tegas dan menekankan kata istri.
Shanum yang mendengar perkataan aby hanya tersenyum remeh, seolah angin lalu ketika aby menganggapnya istri saat ini.
Aby yang merasa di abaikan membuatnya merasa naik darah dan tidak terima dengan penolakan shanum, seketika menarik tangan shanum yang sejak tadi berpegangan.
"Shanuummm." Bentak aby.
"Apa begini caramu shanum? berani kamu mengabaikan suamimu demi laki-laki lain hahh !!!" Ucap aby sarkas penuh dengan penekanan.
Fariz tidak terima dengan perlakuan kasar aby, seketika ikut emosi.
"Eeehh apa-apaan ini, apa kamu tidak bisa berlaku lembut dengan wanita?" Fariz menepis tangan aby yang se enaknya main kasar pada adik sepupunya itu.
Akhirnya aby dan fariz terlibat keributan dan hampir saja saling pukul jika shanum tidak segera menghalau keributan keduanya.
"Kak sudah, jangan buang waktu kakak." Ucap shanum lebih memilih menahan tubuh fariz dan jelas terlihat seperti shanum sedang memeluknya.
Tentu saja membuat aby semakin geram dan tersulut emosi karena melihat hal itu.
seketika aby menarik tangan shanum dan membawanya le mobil miliknya.
"Wooeee jangan sekasar ini sama cewek loe ya." Fariz tak kalah emosi. Ingin memukul wajah aby namun segera shanum tahan untuk tidak mengotori tangan kakak sepupunya itu.
__ADS_1
"Kak." Shanum menahan tubuh fariz seraya menggeleng.
Namun aby tidak menghiraukannya dan ia berhasil membawa shanum pergi dari tempat itu.
Shanum merasa di perlakukan kasar seperti itu hanya bisa menangis, karena berusaha melawan sejak tadi tetap tidak bisa mengalahkan tenaga aby yang cukup kuat.
"Lepasiiin, apa hakmu membawaku pergi." Teriak shanum berusaha melepaskan dirinya dari genggaman aby.
"Aku suami mu dan aku berhak atas dirimu." Jawab aby lantang.
Sementara fariz melihat pertengakaran suami istri itu hanya bisa melongoh, berusaha menolong shanum ia berfikir tidak memiliki hak karena memang aby masih suami dari shanum. Dan fariz memberi waktu untuk aby memperbaiki semuanya, meski shanum selalu meminta fariz untuk membantunya agar urusan perceraiannya dengan aby segera selesai.
Kini shanum sudah berada di dalam mobil aby dengan lelehan air mata.
"Kak aby kenapa selalu memperlakukanku seperti ini? apa salahku, aku sudah memintamu untuk menceraikanku, tidak harus memeprtahankan rumah tangga seperti ini. Tolong kak lepasin shanum aku ingin menjalani kehidupan dengan tenang." Ucap shanum sesegukan meratapi nasibnya yang seperti sekarang ini.
Aby yang menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi ketika mendengar ucapan shanum segera ia memelankan laju mobilnya. Sekilas ia menoleh ke arah shanum yang sudah menangis.
Tidak ada respon dari aby, ia lebih fokus melajukan mobilnya membelah jalanan menuju ke suatu tempat.
Menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit kini mobil yang di kendarai oleh aby oun sampai di tempat tujuan, aby membawa shamum ke rumah yang pernah mereka tinggali.
"Ayo masuk." Sarkas aby kembali menarik tangan shanum.
Shanum menggeleng cepat, dan menepis tangan aby untuk bisa lepas dan tidak ingin mengikuti aby.
Melihat respon shanum yang seperti itu aby tidak menyukainya dan terus saja memaksa shanum untuk masuk kedalam rumah tersebut.
"Kamu bahkan dengan mudahnya pergi dengan laki-laki lain. Kenapa kamu selalu menghindar jika aku yang mengajakmu." Ujar aby dengan emosinya.
Melihat ekspresi aby yang begitu sangat marah membuat shanum takut, namun ia berusaha menyembunyikan ketakutannya shanum berfikir ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan laki-laki ini, ia harus selalu terlihat tegar dan harus bisa melawan.
"Jika laki-laki lain bisa memberiku kenyamanan untuk apa aku mempertahankan suami sepertimu yang sama sekali tidak pernah menghargai kehadiran seorang istri yang sudah berusaha menjalankan tugas semestinya namun tetap tidak di hargai keberadaannya." Sahut shanum tak kalah lantang sangat terlihat raut wajah emosi.
Perkataan shanum yang terlontar membuat aby merasa tertampar karena apa yang di katakan oleh shanum memang benar adanya. Genggaman aby pada pergelangan shanum perlahan melemah, dia mengakui semuanya memang benar adalah kesalahannya.
"Beri aku kesempatan shanum, aku ingin memperbaiki semuanya." Lirih aby.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...