Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 39


__ADS_3

Ke esokan harinya di kediaman jovan dan alina, usai menikmati sarapan bersama jovan berniat untuk mengantar alina berangkat kuliah namun alina tiba-tiba kembali merasakan mual dan muntah hinggah alina terlihat sangat pucat usai memuntahkan isi perutnya.


"Sayang, Sebaiknya kamu tidak usah pergi kuliah hari ini lebih baik istirahat di rumah saja." Saran jovan melihat istrinya yang sudah sangat pucat.


Alina menggeleng tidak ingin bolos kuliah lagi hari ini, karena sudah beberapa hari ini dia meminta ijin untuk tidak masuk kuliah karena pernikahan abangnya kemarin.


"Nggak bisa kak ada kuliah penting hari ini. Alin sudah sering tidak masuk." Tolak alina yang tetap kekeh ingin berangkat kuliah.


"Lebih penting kesehatanmu, kalau ku bilang tidak usah kuliah ya jangan membantah alina." Sarkas jovan nadanya terdengar marah.


Alina yang merasa jovan memarahinya membuatnya mengurungkan niatnya untuk berangkat kuliah pagi ini.


"Ayok ketempat tidur, aku akan membuatkanmu air lemon jahe agar mual muntah mu berkurang." Kata jovan seraya membantu alina ke tempat tidur.


"Aku bisa sendiri." Ucap lina yang tidak ingin di bantu oleh suaminya karena merasa jovan baru saja memarahinya.


Tangan alina mengusap kasar air mata yang sudah mengalir di pipi mulus alina, entah kenapa ia tiba-tiba sangat merasa sedih mendengar jovan sedikit meninggikan suaranya barusan.


Jovan yang sadar akan sikapnya barusan telah memarahi alina, dengan segera jovan meminta maaf ketika melihat istrinya sudah mengeluarkan air mata.


"Sayang, maaf aku hanya menghawatirkan keadaanmu." Ucap jovan lembut, tangannya terangkat untuk mengusap air mata istrinya.


Jovan sebagai seorang dokter paham akan perasaan sensitif ibu hamil dan morning sickness yang di alami oleh alina saat ini.


Kini alina sudah berada di atas tempat tidur, ia hanya diam dan tidak lagi mengeluarkan suara. Alina merasa sangat marah pada jovan karena itu, dia mendiamkan jovan.


Sementara jovan pergi ke dapur untuk membuatkan alina air lemon jahe berharap mual alina berkurang pagi ini. Jika belum juga redah, jovan baru akan memberi resep obat dokter agar mual muntah alina segera redah.


Tak membutuhkan waktu lama jovan telah selesai membuatkan alina lemon jahe, ia kembali ke kamar untuk memberikannya pada alina.


"Minumlah ini bisa meredahkan rasa mualmu." Kata jovan memberikan air lemon yang sudah ia buat tadi.


Alina menurut saja tanpa mengeluarkan suara, dia meraih gelas yang di pegang oleh jovan, lalu di teguknya sedikit saja.


"Di habiskan, kenapa cuma sedikit di minum? Itu tidak akan meredahkan mualmu." Kata jovan melihat alina yang hanya seteguk meminum air lemon jahe yang telah ia buatkan.


Alina tidak mengelak dia meneguk kembali lemon jahe yang di buat oleh jovan, kali ini alina meneguknya sampai benar-benar habis karena tidak mau mendengar kemarahan jovan lagi.


Beberapa menit setelah meminun lemon jahe tadi, benar saja perut alina sudah merasa nyaman dan tidak merasakan mual lagi.


"Bagaimana, apa sudah enakan?" Tanya jovan untuk memastikan apakah yang di rasakan oleh alina.


Alina menangguk saja, tidak ingin mengajak jovan berbicara.


"Kapan lagi jadwal memeriksa kehamilanmu?" Tanya jovan lagi yang ingin mengetahui jadwal kontrol alina ke dokter kandungan.


"Besok, tapi aku harus pergi kuliah dulu baru aku akan ke dokter." Sahut alina.


"Baiklah, aku akan menemanimu sepulang kuliah aku akan menjemputmu." Kata jovan.


Mendengar jovan ingin menemaninya untuk memeriksakan kehamilannya alina merasa sangat senang karena ini pertama kalinya alina di temani oleh suaminya ke dokter kandungan.

__ADS_1


"Benarkah kak jo mau nemenin alin ke dokter untuk periksa?" Tanya alina antusias ingin memastikan apakah benar jovan akan menemaninya.


Kali ini mood alina sudah membaik setelah mendengar ucapan jovan barusan.


Jovan mengangguk tersenyum.


"Tentu saja aku akan menemani istriku besok, ini pertama kalinya aku menemanimu, sebelum aku kembali ke amerika aku ingin melihat anakku dulu di dalam sini." Kata jovan seraya memegang perut alina.


Alina kembali tersenyum bahagia. Akhirnya besok alina memeriksakan kehamilannya bersama suaminya.


*****


Hari ini adalah hari kontrol alina ke dokter kandungan, sepulang kuliah jovan sudah berjanji untuk menjemputnya. Saat ini alina sedang menunggu kedatangan jovan di kampusnya.


Beberapa menit kemudian jovan tiba dengan mobil mewahnya untuk menjemput alina.


Terdengar suara kelakson mobil jovan berbunyi di depan kampus alina. Alina pun segera menghampiri mobil suaminya.


"Apa kamu menunggu lama?" Tanya jovan karena sedikit terlambat gara-gara jalanan kota macet.


"Lumayan lama." Sahut alina yang sudah duduk di samping kemudi.


Jovan hanya tekrkekeh mendengar sahutan istrinya.


"Maaf sayang, jalanan sangat macet jadi aku lama sampai sini." Ucap jovan meminta maaf.


"Nggak apa-apa, alin ngerti kok."


"Kak joo!!!!" Keluh alina seraya memegangi pipinya yang sudah di cium oleh jovan barusan.


"Kenapa? aku kan nyium istri aku."


"Nanti kalau ada yang lihat bagaimana, ini kan masih di depan kampus." Ucap alina seraya padangannya melihat ke arah sekitar depan kampus.


Kembali jovan mencium alina, kali ini mencium bibir alina. Hanya mengecupnya saja.


Alina semakin terbelalak melihat tingkah suaminya yang seenaknya saja menciumnya di pinggir jalana, meski keduanya tengah berada di dalam mobil namun tetap saja membuat alina malu jika di lihat orang lain.


"Kak jovan iihh." Teriak alina memukul lengan suaminya.


Jovan terkekeh melihat raut wajah merah istrinya yang sudah sangat malu, tangannya seketika mengelus kepala alina yang tertutup hijab.


"Kita jalan sekarang ya, aku sudah nggak sabar pengen ketemu si adek dalam sini." Kata jovan memegang perut alina, lalu kemudian kembali fokus untuk mengendarai mobilnya menuju dokter kandungan yang akan memeriksakan kehamilan alina.


Hampir dua puluh menit berkutat dengan jalanan yang terlihat macet, tepat pukul 14.00 siang jovan sudah sampai di rumah sakit yang di tuju, rumah sakit kota yang tempat jovan bekerja kemarin.


Keduanya berjalan memasuki gedung rumah sakit tersebut. Jovan yang sudah menggandeng tangan alina, sebelumnya jovan sudah menghubungi temannya yang bekerja di rumah sakit ini untuk mendaftarkan nama alina menemui dotker kandungan. Jadi alina tinggal menunggu panggilan saja.


"Jo?" Tegur papa panji yang baru saja keluar dari ruang operasi.


"Papah."

__ADS_1


"Kamu kenapa bisa di sini?" Tanya panji pada jovan.


"Jo temanin alina periksa kandungan, hari ini jadwal kontrolnya." Sahut jovan.


"Bagaiman kondisimu nak, apa baik-baik saja selama kehamilanmu?" Tanya papa panji pada menantunya.


"Alina baik-baik aja kok pah." Ucap alina tersenyum ke arah ayah mertuanya.


"Syukurlah, ya sudah kalau begitu langsung saja ke ruangan dokter vina." Kata panji.


"Iya pah kalau begitu jo sama alin ke poli kandungan dulu." Pamit jovan dan di anggguki oleh panji.


Keduanya pun berjalan menuju ruangan yang di tuju.


Beberapa menit kemudian alina sudah berada di dalam ruangan poli kandungan.


"Dokter jo silahkan masuk." Ucap dokter wanita yang berumur sekitar tiga puluh tahun yang berprofesi sebagai dokter spesialis obgyne di rumah sakit kota.


Jovan mengangguk tersenyum lalu duduk bersama alina di kursi yang sudah di sediakan.


"Kali ini di temanin suami ya mbak alin." Ucap dokter vina.


"Iya dok, maklum kita kan lagi LDRan amerika indonesia jadi saya nggak bisa nemenin istri kontrol rutin, dan ini pertama kalinya saya bisa menemaninya karena minta cuti kuliah kemarin ada acara keluarga dari pihak istri." Suara jovan yang menyahuti perkataan dokter vina.


"Nggak apa-apa yang penting tetap beri suport pada istri melalui ponsel smartnya kan bisa ya dokter jo. Sekarang kan jaman sudah canggih." Dokter vina.


"Tentu saja dok, bahkan setiap saat saya harus mendengar kabar istri saya." Sahut jovan lagi.


Dokter wanita itu terkekeh menampilkan gigi putih rapinya, sangat salut dengan pasangan mudah yang ada di depannya saat ini.


Beberapa saat kemudian alina di periksa untuk memastikan tanda-tanda vitalnya normal, kemudian beralih untuk memeriksakan kandungannya dengan melakukan USG.


Raut wajah jovan begitu bersemangat ada rasa haru melihat rahim alina yang sudah terdapat buah cintanya di sana.


"Sayang, itu anak kita." Kata jovan seraya mencium kening istrinya.


Pandangan pasangan mudah itu tertuju pada layar monitor alat USG tersebut. Di sana sudah menampilkan gambar rahim alina yang sudah ada janin di dalamnya.


Sekarang kandungan alina sudah berusia lima belas minggu, artinya kandungan alina sudah berusia tiga bulan setengah.


Usai melakukan pemeriksaan dan menerima foto USG janin serta mendengar penjelasan dokter tentang kondisi alina yang baik-baik saja. Tidak lupa menyarankan alina untuk selalu menjaga kondisinya.


Jovan dan alina mengerti, lalu keduanya berpamitan untuk pulang. Hati keduanya di lingkupi rasa bahagia yang tiada tara setelah melihat kondisi janin yang masih dalam kandungan terlihat baik-baik saja.


*


*


*


TBC...

__ADS_1


Jangan lupa likenya 🙏😊


__ADS_2