
Aby menggeleng cepat, karena mungkin ia merasa tidak akan pernah bahagia kedepannya dengan terus meratapi rasa penyelasan seumur hidupnya.
"Aku akan menyesal seumur hidupku shanum, ini adalah penyesalan terbesarku seumur hidup." Gumam aby yang masih di dengan oleh shanum.
Mendengar perkataan aby, shanum hanya tersenyum getir. Kenapa baru sekarang merasa menyesal? padahal setiap hari shanum selalu berharap jika sikap aby akan berubah namun tidak pernah ia dapati.
"Harusnya tidak perlu menyesal, karena memang sejak awal salah satu di antara kita ada yang tidak mengingi perjodohan itu jadi wajar jika perjalanan pernikahannya tidak pernah baik-baik saja." Ujar shanum tidak membenarkan jika aby merasa menyesal karena aby lah yang lebih menolak perjodohan itu hingga merasa shanum selalu terabaikan.
Hampir satu jam setelah aby datang ke rumah shanum, ia merasa sudah terlalu lama aby di rumahnya dan itu tidak baik jika seorang laki-laki berada di rumah sorang wanita yang bukan muhrimnya jadi shanum mutuskan untuk mengakhiri pembicaraan ini.
"Baiklah kak aby, aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan karena semuanya memang sudah berakhir." Ucap shanum.
Aby hanya diam, dan mau tidak mau aby pun pamit kepada shanum untuk pulang.
"Aku harap kak aby selalu hadir di setiap persidangan besok agar semuanya cepat berakhir." Ujar shanum lagi. berusaha untuk terlihat tegar namun nyatanya hatinya tidak ingin mengatakan semua itu.
Shanum mengakui jika dirinya sudah mencintai laki-laki yang pernah menjadi suaminya ini, dan tidak mudah harus mengakhiri semuanya.
"Mungkin aku tidak akan pernah ada di persidangan." Ujar aby.
Shanum terkejut mendengarnya, dan menoleh ke arah aby.
"Jangan mempersulit keadaan kak aby." Tukas shanum dengan wajah datar.
"Maaf, aku harus pergi, dan mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi kecuali takdir Allah yang menginginkannya." Ucap aby ada rasa sakit mengatakan semua itu.
Shanum kembali terkejut dan sedikit melongo mendengar ucapan aby saat ini hingga ia susah mengeluarkan kata-kata. Entah kenapa mendengar perkataan aby yang seperti itu ada rasa sakit dan sesak yang ia rasakan.
"Pengacara ayah yang akan menyelesaikannya besok, jika kamu menginginkan semuanya segera berakhir." Ujar aby lagi.
"Pergi?" Lirih shanum mengulang kata pergi yang aby katakan, lagi lagi shanum menahan gejolak di hatinya untuk tidak mengeluarkan air mata lagi.
Benarkah aby akan pergi? apa sebegitu tidak inginkah aby melihatnya lagi hingga dia memutuskan untuk menghilang dari kehidupan shanum. Rasanya sakit mendengar semua itu.
Aby mengangguk sekilas melihat ke arah shanum lalu menatap ke arah lain.
"Turki, perusahaan ayah di sana sedang membutuhkan ku dan aku memutuskan untuk tinggal di sana memulai kehidupan baru. Lebih tepatnya meratapi penyelasan mungkin." Ujar aby sambil tersenyum getir mengingat kesalahan kesalahan yang sudah ia perbuat pada shanum.
Kak aby akan pergi? lalu bagaimana dengan aku di sini tidak meiliki siapa-siapa, apa sebenci itu kak aby padaku hingga harus pergi sejauh itu?
__ADS_1
Tidak terasa cairan bening keluar begitu saja di sudut mata shanum.
Detik kemudian shanum mengangguk, berusaha akan benar-benar mengakhiri semuanya.
"Kalau begitu aku pamit." Aby pun pamit pada shanum kemudian berjalan pergi meninggalkan shanum yang sepertinya tidak perduli akan kepergiannya besok.
Aby tau kesalahan yang di lakukan sangat besar, dan pantas shanum membencinya.
Shanum hanya diam tatapannya kosong, seolah shanum tidak mendengar suara aby yang meminta pamit padanya.
Aku berharap takdir Allah bisa mempertemukan kita kembali kak aby.
Gumam shanum ketika menatap kepergian aby yang sudah berjalan menuju mobil dan akan meninggalkan kediaman shanum.
Setelah kepergian aby shanum berlari ke arah kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Sedih dan hancur itulah yang di rasakan shanum saat ini. Shanum menumpahkan air matanya menangis terisak memegangi dadanya yang rasanya sesak. Ingin sekali shanum menolak dan melarang aby untuk pergi namun kenapa egonya lebih besar? shanum membenci dirinya yang saat ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 sore dan shanum masih saja terisak di atas tempat tidurnya, begitu sangat sakit yang di rasakan, hingga dia tidak bisa mengontrol perasaanya saat ini dan hanya bisa menangis menumpahkan semuanya.
****
Tak lupa aby menitipkan rumahnya untuk tetap di jaga dan membersihkannya setiap hari.
Kini aby berada di ruang kerjanya sejak tadi, perasaan yang entah apa yang di rasakan saat ini. Ada rasa tidak ingin pergi ke negara yang berbeda namun di satu sisi dia ingin memperbaiki semuanya dengan pergi meninggalkan tanah air, mungkin akan membuat shanum tenang setelah kepergiannya yang memang keinginan shanum untuk mengakhiri semuanya.
Perasaan yang tidak menentu sejak tadi selalu menghampirinya, sesekali aby selalu memegang dadanya.
Kenapa begitu sangat berat meninggalkan dirinya ya allah, tapi tidak mungkin aku memaksa dirinya untuk tetap bertahan di sisiku, sementara dia sangat menginginkan percerain ini.
Tidak terasa kini hari sudah berganti malam, aby berniat untuk mengunjungi rumah orang tuanya dan di sana juga sudah ada alina dan jovan menunggunya untuk berpamit.
Dan kini aby sedang di perjalanan menuju rumah utama orang tuanya. Sesekali fikirannya saat ini penuh dengan pertakataan shanum pagi tadi, kembali merasa sangat menyesal dengan sikap buruknya dulu terhadap shanum.
Meski shanum berkata jika sudah memaafkannya namun tetap saja perasaan menyesal itu selalu menghampirinya, mungkin saja akan merasakan penyesalan itu seumur hidupnya.
Tak membutuhkan waktu lama kini mobil aby sudah tiba di kediaman orang tuanya.
"Kamu sudah datang nak?" Sambut bunda rumi melihat kedatang putra kesayangannya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum bunda." Ucap aby menyalami tangan kanan bundanya.
"Walaikumsalam." Sahut bunda rumi dan alina bersamaan.
"Ayah dimana bunda?" Tanya aby.
"Ayah ke mesjid bareng kak jo, belum pulang." Sahut alina.
Tak lama setelah itu ayah hendra serta jovan pulang, keduanya mengucapkan salam.
"Tuh ayah sudah pulang." Kata alina menoleh ke arah ayahnya.
Aby pun menghampiri ayahnya kemudian menyalaminya.
"Kamu berangkat besok kan?" Tanya ayah hendra.
"Iya ayah, jadwal penerbangaku besok pagi." Sahut aby.
Mereka pun mengobrol sembari menunggu makan malam yang sedang di siapkan oleh bunda rumi dan alina.
Tiba-tiba terdengar suara bayi perempuan berumur 6 bulan menangis, zalfa. putri jovan dan alina.
Jovan segera beranjak menuju kamar alina untuk menemui putrinya kecilnya yang saat ini menangis.
Ayah hendra melihat ke arah aby yang saat ini hanya diam tidak banyak mengeluarkan suara.
"Apa kamu sudah membereskan masalahmu?" Tanya ayah.
Aby menoleh mendengar pertanyaan ayahnya, detik kemudian aby mengangguk samar, pandangannya kembali menunduk.
"Aku menyerahkan semuanya pada pengacarah ayah karena aku harus berangkat besok." Jawab aby.
"Baiklah, ingat aby jangan pernah sekali-kali kamu mengulang kesalahanmu lagi, ayah harap kamu bisa lebih memperbaiki diri disana."
Aby mengangguk mendengar nasehat sang ayah.
"Makan malam sudah siap, sebaiknya kita makan malam dulu." Panggil bunda rumi setelah selesai menyiapkan makan malam.
Mereka pun menikmati makan malam, sembari mengobrol ringan membahas perihal aby yang akan pergi besok.
__ADS_1