Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Part 5


__ADS_3

Satu bulan sudah telah berlalu, sore ini shanum baru sampai rumah sepulang mengajar ia mampir ke rumah orang tuanya, sejak semalan shanum tiba-tiba sangat merindukan dady dan maminya. Dan akhirnya shanum mengunjungi kedua orang tuanya sepulang mengajar.


Kini rasa rindu yang semalam sudah terobati setelah bertemu tadi.


Shanum berniat untuk membersihkan diri karena badannya sudah sangat lengket ingin tersiram air.


Sementara aby? entahlah shanum tidak mengetahui keberadaannya sudah hampir satu minggu dia tidak pulang ke rumah, ia bahkan tidak berpamitan pada shanum akan pergi kemana.


Shanum sangat ingin bertanya pada adik iparnya tapi shanum takut jika alina tidak juga mengetahui keberadaan aby itu akan menimbulkan banyak pertanyaan nantinya.


Akhirnya shanum hanya memendamnya sendiri termasuk kepada kedua orang tuanya sendiri shanum tidak mau membuat kedua orang tuanya khawatir.


Tidak membutuhkan waktu lama shanum telah selesai membersihkan diri di kamar mandi, saat ini shanum tengah mengeringkan rambutnya yang basah di depan cermin rias yang berada dalam kamarnya.


Shanum ingin melupakan semua yang terjadi pada rumah tangganya, saat ini shanum ingin menenangkan fikiranya, rasanya shanum sudah lelah menghadapi sikap dingin laki-laki yang telah menjadi suaminya selama setahun ini yang tak kunjung mendapatkan perubahan.


Shanum tidak tau lagi harus berbuat apa, sementara shanum sudah melakukan yang terbaik untuk mengambil hati laki-laki itu. Tapi nyatanya tetap saja shanum sulit untuk menggapai hati laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.


Kali ini shanum hanya bisa pasrah apapun yang akan terjadi dengan rumah tangganya kelak, meski setiap hari ia mengucapkan doa di setiap sholatnya agar rumah tangganya tetap bertahan hingga maut memisahkan dan bisa menumbuhkan rasa cinta pada diri aby untuk shanum. Shanum selalu berdo'a akan hal itu.


Tetapi shanum hanya manusia biasa yang memiliki batas kesabaran, mungkin saja dirinya akan mudah menyerah ketika rasa sabar itu telah habis.


Lama shanum termenung di depan cermin seraya menatap pantulan dirinya di sana.


Apakah shanum tidak cantik? kenapa kak aby seolah melihatku seperti melihat seorang musuh. Apa salahku?


Shanum lagi-lagi bermonolog dengan berbagai macam yang ada di fikirannya.


Sejenak menghelah nafas dalam, shanum mencoba menerima garis takdir yang di tetapkan oleh sang pencipta.


Usai mengeringkan rambut kemudian shanum menaikkan dirinya di atas tempat tidur berniat ingin beristirahat sebentar sebelum ia memasak untuk makan malamnya, tidak mau berfikir lagi di mana keberadaan aby kali ini, ia hanya ingin hari ini berharap fikirannya bisa tenang tanpa memikirkan sesuatu yang belum tentu memikirkan dirinya.


Shanum ingin sekali fikirannya kembali seperti sebelum ia menikah, seperti seorang gadis yang hidup tanpa beban.


Baru saja shanum mendudukkan dirinya di atas tempat tidur tiba-tiba suara ponsel berdering membuyarkan fikirannya.


Di sana tertera nomor asing yang entah dari siapa, lama shanum menatap dan ragu untuk menjawabnya hingga bunyi ponsel itu terhenti, detik kemudian ponselnya kembali berdering. Di saat bersamaan entah kenapa tiba-tiba perasaan shanum di hinggapi rasa khawatir yang begitu sangat.


Shanum mencoba menjawab panggilan telepon tersebut.


"Halo?" Ucap shanum terlebih dulu membuka suara.

__ADS_1


"Halo selamat sore, apa benar ini dengan saudari shanum? ini dari kepolisian kami ingin memberitahukan, telah terjadi kecelakan di jalan tol jalur B, dan kami mendapatkan mobil dengan nomor plat Xxxxx dengan kerusakan parah dan pemiliknya atas nama tuan darman dan nyonya jesi. Saat ini sedang di larikan ke rumah sakit umum daerah A." Ucap seorang petugas polisi di balik telepon.


Bagai di tusuk ribuan pedang, tubuh shanum seketika menegang mendengar pemberitahuan di balik telepon yang ia terima saat ini.


Bibir shanum serasa keluh ingin memberondong berbagai macam pertanyaan terhadap si penelpon, genggamannya pada ponsel seketika melemah dan mengakibatkan ponsel tersebut jatuh di lantai.


Tidak mungkin, itu tidak mungkin mami dan dady mereka pasti salah orang, tadi mamai dan dadyku masih di rumah dan mereka tidak pergi kemana-mana.


Shanum menggeleng soelah menolak segala macam pikiran buruk yang sedang menguasai dirinya.


Segera shanum mengambil hijab syar'i seperti biasa untuk di pakainya, shanum ingin segera menuju rumah sakit yang telah di sebutkan oleh si penelpon tadi. Buru-buru ia merogoh tas serta memungut ponsel yang jatuh tadi di lantai.


Dengan hati yang tidak karuan shanum keluar meninggalkan rumah, mencari keberadaan taksi yang mungkin saja ada yang lewat. Shanum dengan pandangan gamang melihat kiri kanan berharap taksi segera datang. Dan syukurnya tidak perlu menunggu lama shanum memberhentikan taksi yang lewat.


Dengan tubuh gemetar shanum telah berada di dalam taksi tersebut. Segala macam fikiran buruk mulai muncul di benaknya.


"Mami, dady." Shanum terus menggumamkan kedua orang tuanya, air mata sudah mulai menganak sungan dikedua pipi mulusnya.


Itu tidak mungkin dady dan mamiku..


Lagi-lagi shanum selalu mengelak dalam hatinya jika yang didengar tadi adalah bohong.


Hampir selama sepuluh menit taksi membawa shanum menuju rumah sakit yang di tuju, kini shanum telah berada di rumah sakit umum daerah A, sekilas ia bertemu jovan suami dari alina.


Jovan yang baru saja telah menangani pasien kecelakan yang ternyata adalah orang tua dari shanum. Dengan berat hati jovan memberitahu kondisi kedua orang tua shanum saat ini.


Jovan terlihat mengangguk samar.


Melihat respon jovan semakin histeris saja shanum saat ini.


"Jo dimana dady dan mami sekarang, beritahu aku di mana ruangannya. Mereka baik-baik saja kan jo, tidak terjadi apa-apa kan jo?" Dengan isak tangis shanum membrondong pertanyaan pada jovan.


Sementara jovan tidak tau harus berkata apa.


"Maaf kak shanum, kami tim dokter sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa om dan tante tapi......." Jelas jovan dengan berat hati.


"Tidak... Dady dan mami pasti mereka baik-baik saja kan jo, dimana mereka jo, dady dan mamiku tidak mungkin meninggalkanku."


Terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka dan ternya adalah bunda rumi dan ayah hendra serta ada alina juga yang baru sampai. Mereka telah di beritahu oleh jovan sebelumnya.


"Shanum, yang sabar nak ini sudah kehendak Allah sayang." Bunda rumi langsung memeluk menantunya yang sedang menangis histeris.

__ADS_1


"Kak shanum." Panggil alina, diapun turut bersedih melihat kondisi kakak iparnya sekarang.


"Aku mau bertemu dady dan mami." Pinta shanum masih dengan isak tangisnya.


Semuanya mengangguk dan menemani shanum untuk melihat keberadaan orang tuanya.


Jovan mengantar shanum dan di ikuti oleh yang lain, di salah satu ruangan terdapat dua manusia yang saat ini sudah terbujur kaku tertutup oleh kain putih di atas tempat tidur di ruangan otopsi.


Setelah sampai, shanum mendekati jasad yang di ketahui adalah orang tuanya. Dengan perlahan shanum membuka kain penutup berwarna putih itu.


"Mami" Lirih shanum mendekati sang mami yang sudah terlihat kaku tidak bernyawa, manampilkan wajah pucat masih ada darah yang sudah terlihat mengering di beberapa bagian wajah maminya.


"Mami, mami bangun yuk. Mami jangan tinggalin shanum kayak gini, aku sama siapa di sini mi. bangun mami...mami, banyak hal yang ingin shanum ceritakan, kenapa mami meninggalkanku secepat ini, ayo bangun mi" Lirih shanum dengan isak tangisnya.


Semua yang menyaksikan shanum ikut menangis mendengar jeritan shanum saat ini.


Sekilas shanum melirik ke arah orang-orang yang ada di sekitar rungan tersebut.


"Bunda, ayah.. tolong bangunin mami dan dady shanum. dia nggak mungkin kan ninggalin shanum sendirian. Mereka nggak boleh pergi secepat ini." Suara jeritan shanum terdengar piluh di telinga siapapun saat ini, kecuali aby yang tidak terlihat keberadaannya di sana.


"Dadyyyy... Dokter tolong dedy saya dokter.." Shanum kembali berteriak memanggil sang dady.


"Shanum jangan seperti ini nak, ikhlaskan mereka. Allah lebih menyayangi mereka nak." Ucap bunda rumi menenangkan sang menantu.


Sementara alina memeluk jovan seraya menangis, tidak kuat melihat kesedihan kakak iparnya.


"Tenglah nak, semua sudah takdir Allah." Ayah hendra ikut menenangkan sang menantu.


****


Saat ini shanum dan keluarga yang lain menyaksikan pemakaman kedua orang tuanya.


Shanum terus saja menangis di pelukan ibu mertuanya, terus menggumamkan nama kedua orang tuanya, beberapa kali shanum tidak sadarkan diri namun dia tetap kekeh ingin ikut mengantar kedua orang tuanya di peristirahatan terakhirnya.


Hampir satu jam kini acara pemakaman darman dan juga jesi telah selesai, semua para pelayat yang ikut mengantar jenazah, satu persatu telah meninggalkan pemakaman. Kini hanya shanum dan juga bunda serta ayah hendra yang masih setia menunggu di sana.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2