Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Part 3


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu hari ini adalah hari minggu dan tentu saja hari libur untuk shanum begitu juga dengan aby, shanum menggunakan hari liburnya untuk menyiram berbagai bunga di taman halaman belakang rumah dan juga depan rumah, shanum selama ini sangat suka menanam bunga-bunga di halaman rumah aby yang begitu luas.


Usai menyiram berbagai macam tumbuhan bunga-bunga shanum berlanjut untuk membersihkan rumah mereka dan juga menyiapkan makan untuk makan siang.


Tidak membutuhkan waktu lama pekerjaan shanum telah beres. Ia berniat ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Sementara aby meskipun hari libur ia tetap mengurung diri di ruang kerjanya karena ada beberapa dokumen yang dikirim oleh gio ke rumahnya untuk meminta persetujuan aby serta memberikan tanda tangannya.


Hampir menghabiskan waktu setengah jam shanum telah selesai membersihkan diri di kamar mandi, ia pun bergegas menuju dapur setelah memakai baju gamis rumahan serta hijab instan yang tetap terlihat syar'i.


Shanum berfikir ia akan membuatkan teh untuk suaminya karena ia melihat aby sedang memasuki ruang kerjanya sejak pagi tadi hingga saat ini belum juga keluar untuk mengisi perutnya.


Shanum berinisiatif untuk membuatkan aby teh dan juga membawakan cemilan yang telah ia buat.


Setalah membuatkan teh untuk suaminya shanum bergegas membawakannya ke ruang kerja aby.


Shanum melangkah dengan yakin memasuki ruang kerja aby seraya membawa sebuah nampan di tangannya ada gelas berisi teh hangat dan piring berisi cemilan.


Ia masuk ke ruang kerja aby yang ternyata pintu ruang kerja aby terbuka lebar, shanum melangkah mendekati meja kerja tempat aby saat ini tengah fokus memandangani leptopnya dan jari tangannya terlihat sibuk mengetik sesuatu di sana.


"Kak aby." Panggil shanum sedikit mengalihkan fokus aby.


Aby menoleh sekilas ke arah suara yang memanggilnya.


"Kak aby, sebaiknya minum tehnya dulu ya, shanum udah buatin teh dan juga cemilan. Sejak pagi tadi kak aby belum sarapan kan." Ujar shanum seraya menyodorkan sebuah nampan yang ada di tangannya.


Aby kembali menoleh dengan wajah datarnya menghelah nafas kasar ke arah shanum yang tengah berdiri di depan meja kerjanya.


"Shanum Fharisya, apa kamu tidak lelah dengan terus-terusan menyuguhkan ku sesuatu yang bahkan aku tidak pernah memakan atau meminumnya. Hah?"


Shanum menggeleng dengan begitu yakin, memang tidak ada kata lelah dan bosan dengan usahanya yang terus mencoba membuka hati suaminya, shanum bahkan setiap detik berharap hati aby akan terbuka untuknya agar bisa mempertahankan rumah tangganya. Karena shanum berfikir menikah itu hanya sekali seumur hidupnya.


"Shanum tidak lelah kok kak, shanum hanya mencari ridho Allah melalui suami shanum." Jawab shanum dengan begitu lugas serta selalu menampilkan senyum cantiknya.


Mendengar perkataan shanum aby hanya tertawa sumbang, seolah ia menertawakan kebodohan wanita yang ada di depannya ini. Sampai kapan shanum akan menyerah dengan pernikahan ini? pernikahan yang sama sekali tidak pernah aby anggap dan sama sekali tidak ada perasaan cinta di dalamnya.


"Shanum akan tetap berusaha untuk meyakinkan kak aby bahwa shanum juga layak menjadi sorang istri untuk suamiku." Kembali shanum berucap dengan begitu yakin.


Aby hanya mendengar perkataan shanum, tanpa menimpali setiap kata yang di keluarkan oleh wanita yang sudah menjadi istrinya saat ini.


"Keluarlah dan bawa kembali minuman itu, aku tidak haus." Ucap aby, mengusir shanum dari ruang kerjanya.

__ADS_1


Shanum kembali menggeleng.


"Tolong hargai sekali saja kak usaha shanum." Ujar shanum tangannya menyodorkan gelas yang berisi teh hangat.


Aby segera menepis gelas yang berada di tangan shanum membuat shanum terkejut hingga gelas itupun terjatuh di atas beberapa berkas yang ada di atas meja.


Nafas aby memburu dan raut wajahnya terlihat sangat emosi, menatap berkas sekilas dan detik kemudian dia melihat ke arah shanum dengan penuh amarah, bagaimana tidak, berkas yang terkena tumpahan teh itu adalah berkas yang sangat penting yang akan di persentasekan besok pagi bahkan sudah mendapat tanda tangan dari petinggi negara yang sudah memberi ijin peroyek yang akan di kerjakan oleh perushaannya.


"SHANUM....!!!!!" Teriak aby suaranya terdengar memenuhi ruang kerjanya.


Tangan aby dengan spontan menampar pipi shanum dengan keras, hingga membuat badan shanum terhuyung kebelakang.


"KAMU MERUSAK PEKERJAANKU SHA...." Suara aby masih berteriak menggemah terpotong oleh kehadiran sesorang di balik pintu ruang kerja aby.


"ABYYYY...."


Suara bunda rumi tidak kalah keras meneriaki nama putranya, sangat terkejut bukan main melihat perlakuan aby yang jelas-jelas melakukan kekerasan fisik pada menantunya.


"Bunda." Gumam aby,sedikit tersentak mendengar teriakan bundanya yang entah sejak kapan bundanya sudah berada di kediamannya ini.


Bunda rumi segera menghampiri shanum. Ia merasa sangat bersalah pada shanum.


"Kamu nggak apa-apa nak?" Bunda rumi berkata lembut pada shanum.


Shanum menangis dalam diam hanya mengeluarkan air matanya tanpa mengeluarkan suara. Lalu pergi ke kamarnya meninggalkan ruang kerja aby.


Bunda kembali menatap ke arah aby putranya.


"Apa yang kamu lakukan aby, kamu telah berbuat kasar terhadap istrimu. Allah membenci itu nak." Ujar bunda rumi.


"Maaf bunda, aby nggak sengaja melakukannya." Ucap aby dengan ekspresi seperti orang bingung kini tangannya masih bergetar setelah menyadari ia sudah berani menampar seorang wanita. Ini pertama kalinya untuk aby.


"Apa setiap hari kamu melakukannya aby?"


Aby menggeleng, tidak membenarkan perkataan bundanya.


"Kamu berani menampar seorang wanita yang sudah mengabdikan hidupnya terhadapmu nak, bunda kecewa dengan perlakuamu kali ini." Ucap bunda lagi ada nada marah serta kecewa terdengar di setiap ucapannya.


Tidak mendengar respon apapun dari aby, bunda rumi meninggalkan ruang kerja aby lalu menyusul shanum ke kamarnya.


Menit kemudian bunda rumi telah sampai di kamar aby yang ternyata tidak mendapati menantunya di dalam sana. Membuat bunda rumi kembali di lingkupi banyak pertanyaan di benaknya.

__ADS_1


Kemana shanum?


Gumam bunda rumi yang tidak mendapati keberadaan shanum.


Bunda rumi berniat ingin menanyakannya kembali pada aby, tidak sengaja ia mendengar suara tangisan dari dalam kamar yang berbeda, Bunda rumi melanjutkan langkahnya ke arah kamar yang terdengar sangat jelas suara shanum sedang menangis.


Perlahan bunda rumi membuka pintu kamar tersebut yang ternyata tidak di kunci.


"Shanum." Panggil bunda rumi kini sudah memasuki kamar yang di tempati oleh shanum.


Shanum menoleh ke arah bunda rumi yang sedang melangkah mendekatinya.


"Apa aby sering berlaku kasar terhadapmu nak?" Bunda rumi mulai bertanya terhadap menantunya itu.


Shanum menggeleng cepat, ia tidak ingin mengadu apapun kepada orang lain, ia berfikir dia tidak ingin menyebarkan aib keburukan suaminya.


Bunda rumi menatap shanum dengan lekat mencari kebohongan di raut wajah shanum.


"Tidak bunda." Suara shanum lirih masih dengan isak tangisnya.


"Bagaimana bisa kamu berkata tidak nak, yang bahkan kalian tidur terpisah seperti ini, apa kalian selama ini tidur terpisah?" Ucap bunda rumi pandangannya mengedar di setiap sudut kamar yang sekarang ia masuki.


Shanum tidak tau harus menjawab apa dengan wanita paruh baya yang sudah menjadi mertuanya saat ini.


Melihat shanum hanya diam, bunda rumi kembali melayangkan pertanyaannya.


"Sejak kapan kalian tidur di tempat yang berbeda seperti ini? apa kalian tidak bisa menghargai sebuah pernikahan sampai kalian berlaku seperti ini." Kata bunda semakin membuat shanum merasa sedih.


"Maafkan shanum bunda, belum bisa membuat kak aby menerima pernikahan ini, tapi shanum akan berusaha sebisa mungkin agar mempertahankan pernikahan ini. Tolong jangan beritahu mamiku, kesehatannya sedang tidak baik. Shanum janji akan mencoba bertahan." Lirih shanum dengan ketakutan jika sang mertua memberitahu kepada kedua orang tuanya perihal pernikahannya yang tidak baik-baik saja sejak awal.


"Bunda mendukungmu nak, berjuanglah sampai batas kesanggupanmu sayang, jika kamu sudah merasa lelah bunda akan mendukung keputusan akhirmu, bunda berharap aby akan segera memeperlakukanmu dengan baik layaknya sperti seorang istri sesungguhnya." Ujar bunda rumi, mencoba memberi dukungan kepada shanum.


Shanum mengangguk.


Ternyata benar dugaan bunda rumi selama ini, jika pernikahan aby dan shanum tidak pernah baik. Ada rasa sesal di benaknya telah menjodohkan dua manusia yang tidak saling mencintai satu sama lain. Dan inilah akibatnya pernikahan yang mereka jalani prnuh dengan penderitaan di dalamnya.


Bunda rumi ingin menceritakan semuanya kepada suaminya.


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2