Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Part 1


__ADS_3

Sementara di kota yang berbeda, rumah tangga aby dan shanum tengah terjalin, namun tidak seperti rumah tangga pada umumnya. Sudah satu tahun lebih aby dan shanum menjalani rumah tangganya namun tidak ada perubahan sikap baik yang di tunjukkan oleh aby pada shanum.


"Kak aby, ayo sarapan dulu." Panggil shanum yang kini tengah berdiri di depan pintu kama memanggil suaminya untuk sarapan.


Aby yang sedang fokus memakai dasi di depan cermin sama sekali tidak menggubris perkataan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Bahkan setiap hari shanum selalu melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan begitu baik tapi tetap tidak pernah di hargai.


"Aku akan sarapan di kantor." Jawab aby datar.


Lagi-lagi membuat shanum merasa kecewa, sama sekali tidak pernah mendapatkan perhatian dari suaminya bahkan tindakan yang setiap hari ia lakukan tidak pernah di hargai sama sekali.


"Apa shanum siapin bekal aja buat kak aby, biar sarapan di kantor saja?" Suara shanum memberanikan diri.


Aby menatap tajam ke arah shanum, dia tidak suka di atur oleh wanita itu. Wanita yang sama sekali tidak pernah ada dalam hatinya.


Mendapatkan tatapan tajam dari aby, seketika shanum menundukkan pandangannya, ia takut aby semakin marah.


"Sudah berapa kali ku katakan padamu, aku tidak akan pernah mau memakan masakanmu itu, jadi tidak usah menguras tenagamu untuk memasak sesuatu yang tidak berguna untuk ku." Sarkas aby masih menatap tajam ke arah shanum yang kini tengah menunduk takut di depan pintu kamarnya.


"Maaf, aku hanya menjalankan kewjaibanku sebagai seorang istri." Suara shanum terdengar bergetar sangat lirih menahan isak tangisnya.


Lagi-lagi suaminya berkata begitu menyakitkan di pendengarannya. Hati shanum sangat sakit mendengar semua perkataan aby yang bahkan setiap hari di layangkan untuknya.


"Aku sudah memintamu untuk berhenti melakukannya, meskipun dirimu memberikan seluruh duniamu untuk ku, hatiku tetap tidak akan tertarik padamu. Sudah ku bilang aku tidak bisa mencintai wanita yang memang tidak aku inginkan sejak awal." Ucap aby tak kalah tajam kali ini. Lalu pergi begitu saja meninggalkan shanum sendiri di rumahnya.


Seketika air mata shanum luruh mendengar kata-kata terakhir aby barusan, air mata yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga dan kini akhirnya luruh juga.


Rasanya shanum sangat ingin menyerah dengan pernikahannya ini, tetapi ia kemabli mengingat orang tuanya yang dulu begitu antusias menjodohkan mereka, shanum tidak ingin menghilangkan raut wajah kebahagiaan pada mertuanya terutama kedua orang tua yang sangat ia sayangi. Terlebih lagi kini ibunya sudah mulai sakit-sakitan dan selalu masuk rumah sakit.


Shanum tidak mungkin meminta menyudahi rumah tangga yang begitu sangat menyakitkan ini. Shanum tidak mau membuat ibunya sedih dan membuat kesehatannya semakin menurun. Shanum ingin mencoba bertahan di pernikahannya ini sampai batas waktu kesanggupannya.


Setelah kepergian aby, shanum langusung mengusap kasar air matanya, tangisnya pecah di depan kamar laki-laki yang sudah satu tahun menjadi suaminya.


Mami, shanum sakit mami. Shanum nggak kuat lagi menghadapi sikapnya. Apa yang harus shanum lakukan mami.


Shanum hanya bergumam lirih dalam hati seolah sang mami dapat mendengar setiap jeritan hatinya.

__ADS_1


Kemudian shanum masuk ke kamar yang selama ini ia tempati, kamar yang bisa ia buat untuk menumpahkan tangisnya ketika rasa sedih menghampirinya.


Iya, aby dan shanum tidak pernah tidur sekamar selama satu tahun pernikahan mereka. Aby sama sekali tidak pernah melihat ke arahnya. Aby bahkan tidak pernah menganggap keberadaan dirinya.


***


Sementara di tempat lain tepatnya di kantor perusahan G'group. kini aby tengah fokus menatap layar leptop yang ada di depannya.


Laki-laki itu sama sekali tidak memiliki beban hidup, di fikirannya hanya fokus dengan pekerjaannya setiap hari tanpa memikirkan yang ternyata selama ini ada hati wanita yang selalu ia sakiti.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya.


"Masuk." Ujar aby datar.


Wajahnya terlihat begitu dingin jika sudah berada di kantor perusahaan miliknya, perushaan yang sudah beberapa tahun ini ia jalankan dengan perintah sang ayah.


"Hai brow, lu nggak sarapan? jangan kerja mulu tanpa mengisi perut dulu." Mulut gio pagi-pagi sudah ingin menjahili sahabatnya itu.


Ya, gio memang sudah menjadi kepercayaan aby di kantornya, bisa di bilang gio ini adalah tangan kanan aby karena jika aby berhalangan untuk menghadiri suatu pertemuan yang membahas mengenai kantornya, Gio lah yang selalu ia percayakan.


Sudah di duga pasti jawaban aby akan selalu seperti itu.


"Lagian lu punya istri di anggurin di rumah, di masakin sarapan enak tiap pagi malah sok jual mahal." Cicit gio, lebih tepatnya menyindir kelakuan aby.


"Diem nggak lu, gue usir lu ya lama-lama, bikin mood gue hilang pagi-pagi." Kesal aby memperlihatkan raut wajah emosinya.


Gio mendengus kesal menghadapi sikap dingin aby, selalu saja seperti itu jika ingin di ingatkan mengenai istrinya.


"Jangan bahas apapu selain pekerjaan kantor." Tukas aby dengan nada dinginnya.


Gio tidak lagi berkutik, lagi-lagi dia gagal untuk kembali mengingatkan sahabatnya ini. Sejenak gio menghelah nafas dalam, rasanya ingin sekali membuat sahabatnya ini sadar akan kesalahannya.


Kesalahan yang telah menyia-nyiakan seorang istri yang sudah setahun ini bersamanya.


Gio masih duduk di sofa ruangan aby, niatnya masuk ke ruangan bosnya itu hanya sekedar untuk mengajaknya sarapan. Tapi entah kenapa gio tiba-tiba ingin memperingati sahabatnya kembali.

__ADS_1


"Setidaknya hargai kehadirannya aby, jangan sampai lu nyesel di kemudian hari." Ujar gio, kali ini dengan ekpresi yang sangat serius.


Aby hanya berdecak kesal mendengar setiap ucapan yang di lontarkan oleh gio.


"Gue bilang jangan bahas yang tidak penting gio. Gue muak mendengar ceramah lu itu." Aby sudah emosi.


Yang tadinya aby tidak memikirkan tentang shanum, kini fikirannya mulai terganggu dengan setiap perkataan gio barusan. Lagi-lagi fokus aby teralihkan.


"Setidaknya sebagai sahabat, gue berhak memperingati sikap tidak baik yang ada di diri lu itu aby." Tidak mau kalah, gio terus saja mendebat aby pagi ini.


"Lu bisa keluar sekarang juga, gue mau sendiri." Finis aby tidak ingin melanjutkan perdebatannya dengan gio.


Dan jika aby sudah berkata seperti itu, gio hanya bisa menghelah nafas kasar lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan aby.


"Terserah lu, yang jelas jangan pernah meminta pertolongan gue nanti ketika sudah waktunya lu menyesal." Ujar gio memperingati aby sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan aby.


Tak membutuhkan waktu lama gio telah meninggalkan ruangan aby dan segera kembali keruangannya. Kini ia kembali fokus dengan pekerjaannya.


Jangan sampai lu nyesel seumur hidup lu aby.


Gumam gio di dalam hati.


Tidak ingin ikut pusing dan tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga aby kali ini, dan sekarang gio kembali fokus pada kegiatanannya.


Namun ia tetap berharap semoga sahabatnya itu tidak akan pernah menyesal dalam hidupnya jika suatu saat terjadi sesuatu.


Karena bagaimana pun shanum adalah wanita, dia bisa saja menyerah menghadapi sikap dingin aby selama ini.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2