Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 17


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 07.30 pagi, baru saja alina selesai bersiap untuk pergi ke kampus begitupun juga dengan jovan yang akan pergi bekerja, sebelumnya mereka menikmati sarapan terlebih dulu yang sudah di siapkan oleh bi mariam.


"Non alin dan den jovan sebaiknya sarapan dulu." Kata bi mariam yang melihat kedua majikannya telah selesai bersiap.


"Baik bi, terima kasih ya." Ucap alin ramah.


Alina dengan segera mengisi piring suaminya yang kosong, sudah menjadi kebiasaan alina selama menikah. Lalu keduanya menikmati sarapan dengan suasana hening tanpa ada yang berbicara.


Tak membutuhkan waktu lama alin dan jovan telah menyelesaikan waktu sarapan mereka.


"Berangkat bareng ya." Ajak jovan.


Alina mengangguk mengiyakan ajakan suaminya, keduanya pun berjalan beriringan menuju mobil yang akan mereka kendarai.


Lama berkutat dengan jalanan yang sangat macet pada pagi hari akhirnya mobil jovan telah sampai di kampus alina.


"Kak jo alin masuk ya, hati hati di jalan." Kata alina pamit pada jovan.


"Hmmm. Kalau aku nggak sibuk aku bakalan jemput kamu nanti. Ntar kabari aku kalau sudah pulang." Kata jovan sebelum alina benar-benar pergi.


"Iya kak." Kemudian alina turun setelah mencium punggung tangan suaminya.


Jovan baru melanjukan mobilnya setelah alina benar-benar masuk di halaman kampusnya.


*****


Jovan sudah sampai di area rumah sakit kota tempatnya bekerja, baru saja dia turun dari mobil terlihat rina sedang menghampirinya.


"Hai jo." Sapa alina menghampiri jovan.


"Gue lupa jika hari ini adalah hari pertama lu masuk bekerja." Kata jovan.


Keduanya berjalan masuk ke ruangan mereka masing masing.


Jovan sudah berada di ruangannya baru saja dia duduk diruangannya terlihat beberapa pengunjung sudah menunggu di depan ruangannya, asisten yang selalu setia menemaninya terlihat memanggil nama pasien satu persatu. Hingga waktu menjelang siang masih ada beberapa pasien yang datang berkunjung.


Jovan lupa jika dirinya sudah mengatakan pada alina tadi pagi akan menjemput alina ketika pulang kuliah jika tidak sibuk. Hingga dering ponselnya bersuara menandakan ada panggilan masuk. Jovan menjeda sebentar pekerjaannya melihat ke arah ponsel miliknya menampilkan nama penelpon yaitu alina.


"Assalamu'alaikum.. Apa kak jo sedang sibuk? jam kuliah alin sudah selesai hari ini, apa kak jo ada waktu buat jemput alin?" Tanya alin di balik telepon.

__ADS_1


Seketika jovan merasa bersalah hari ini dia tidak bisa menjemput istrinya itu karena masih ada beberapa pasien yang harus di tangani.


"Alin maaf, sepertinya aku tidak bisa menjemput mu karena pekerjaanku belum selesai." Sahut jovan merasa bersalah, berharap alin akan mengerti.


"Baiklah alin pulangnya naik taksi saja." Ucap alin kemudian.


Dia paham akan kesibukan suaminya, hingga dia tidak harus merasa kecewa jika jovan tidak bisa menjemputnya kali ini.


"Jo makan siang bareng yuk.. Udah jamnya nih." Ajak rina yang tiba-tiba nyelonong masuk ke dalam ruangan jovan.


Sementara telepon yang di pegang jovan masih dalam keadaan tersambung dengan alina.


Alina dapat mendengar suara wanita di seberang telepon, dan mengajak suaminya untuk makan malam.


"Lin udah dulu ya. Kalau pekerjaanku sudah selesai aku akan pulang cepat." Kata jovan kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


Alina sudah tidak lagi mengeluarkan suara, dia juga tidak menyahut perkataan jovan ketika akan menutup teleponnya. Sedangkan jovan menutup teleponnya begitu saja tanpa harus menunggu sahutan alina karena terkejut melihat rina yang masuk begitu saja ke dalam ruangannya.


"Rin lu masuk enggak ngetuk pintu dulu." Tukas jovan, sedikit tidak suka dengan sikap rina yang masuk tanpa permisi ke dalam ruangannya.


"Sorry jo, gue cuma mau ngajak lu makan siang kok." Sahut rina santai tanpa merasa bersalah.


"Lu nelpon siapa sih serius amat." Sambung rina, penasaran siapa yang di telepon oleh jovan.


Sebelumnya jovan telah memberitahu pada asistennya untuk tidak lagi menerima pasien pada jam istrirahat.


Rina terus saja mengikuti langkah jovan menuju kantin rumah sakit. Mereka berduapun menikmati makan siangnya di kantin rumah sakit yang cukup terlihat ramai oleh pengunjung.


"Kenapa lu terus ngikutin gue." Sinis jovan.


"Gue kan masih baru disini, belum punya temen baru wajar lah gue ngikutin lu karena cuma lu doang yang gue kenal." Sahut rina santai.


******


Sementara di tempat lain, alina masih di dalam taksi pikirannya sedang kacau setelah jovan menutup teleponnya tanpa pamit, terlebih lagi alina mendengar suara seorang wanita yang mengajak jovan untuk makan siang bersama.


Pikiran-pikiran buruk tentang suaminya terus saja berkeliaran di benanknya seolah dia tidak mempercayai suaminya itu.


Kak jo akan makan siang bersama siapa sih, kenapa dia tidak memberitahuku. Gumam alina dalam hati.

__ADS_1


Ingin rasanya menelpon kembali sang suami untuk menanyakan perihal dimana ia makan siang dan bersama siapa namun alina tidak memiliki keberanian untuk itu. Bisa saja jovan akan marah terhadapnya dan mengira dirinya tidak mempercayai suaminya.


Alina tidak ingin memperlihatkan rasa tidak percayanya pada jovan, bisa jadi akan membuat rumah tangga mereka yang belum genap seumur jagung itu berantakan. Lebih baik alina diam saja mungkin saja jovan akan menceritakannya nanti setelah pulang bekerja.


"Buk, kita sudah sampai ke alamat yang ibu sebutkan tadi." Kata driver taksi itu, ketika sudah sampai di depan rumah jovan.


"Eh.. Iya pak." Alina yang sedikit melamun merasa terkejut tidak menyadari jika dirinya telah sampai depan rumah.


Alina pun menuruni taksi tersebut setelah menyerahkan tarifnya kepada driver taksi itu.


Masih di rumah sakit tiba-tiba saja ponsel jovan berbunyi menandakan ada panggilan masuk, jovan yang baru saja sampai di ruangannya setelah menghabiskan makan siangnya.


"Halo pah." Ucap jovan sudahb menjawab panggilan telepon dari ayahnya.


"Keruangan papah sebentar jo, ada yang ingin papa katakan." Kata ayah di balik telepon.


"Baik pah." Sahut jovan lalu keduanya memutuskan sambungan telepon.


Jovan pun bergegas ke ruangan papanya. Benar saja panji tengah menunggu kedatangan jovan di ruangannya.


"Ada apa pah." Tanya jovan sedikit penasaran.


"Duduklah jo."


"Ayah ingin menanyakan apa kamu akan melanjutkan kuliahmu lagi untuk mengambil jurusan spesialis bedah?" Tanya panji.


Jovan yang mendapat pertanyaan tersebut sedikit berat untuk menjawabnya karena satatusnya sekarang sudah berbeda. Dulu dia akan bebas memilih akan melanjutkan kuliahnya dimana saja, namun sekarang dia bahkan berat untuk memilih karena sangat tidak mungkin untuk meninggalkan istrinya jika harus melanjutkan kuliahnya.


"Perihal itu pah, beri jovan waktu untuk berfikir lagi. Jo sekarang sudah menikah, jovan harus membicarakannya dulu pada alin." Sahut jovan.


"Tapi ayah sangat berharap kamu akan melanjutkan kuliahmu jo." Ucap panji, sangat mengharapkan sang putra untuk menjadi dokter spesialis beda seperti dirinya.


Jovan hanya diam, tak bergeming dia masih sangat bingung apa dia harus meninggalkan alin untuk sementara waktu selama dia melanjutkan kuliahnya. Jovan pun mencoba meminta pada ayahnya untuk melanjutkan kuliahnya di indonesia saja.


"Jo akan mengambil ahli bedahnya di indonesia saja pah." Pinta jovan.


"Apa maksudmu jovan, ayah sudah berharap kamu akan melanjutkan kuliahmu di luar negeri. Disana lebih baik dari pada di sini, di sana kamu akan lebih mendapatkan banyak pengetahuan baru.


"Pah..."

__ADS_1


"Jangan membantah, papa tidak mau tau kamu tetap akan melanjutkan kuliahmu di Universitas Harvard." Bantah panji cepat memotong perkataan jovan.


"Alina juga masih menjalani kuliahnya kan, jadi kalian masih sama-sama berkuliah. Kalian bisa hidup terpisah untuk sementara waktu sampai kamu menyelsaikan kuliahmu. Jangan terlalu dipusingkan jo kaliankan masih sangat mudah." Ucap panji yang sangat berharap jovan akan menuruti perintahnya.


__ADS_2