Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Part 4


__ADS_3

Hari terus berlalu, sudah dua hari setelah kejadian di mana aby telah menampar shanum. Kini shanum tidak lagi melakukan sesuatu di dalam rumah yang ia tinggali bersama aby saat ini.


Seolah shanum sudah menyerah dan tidak lagi melakukan tugasnya sebagai seorang istri seperti biasanya, dimana shanum selalu memasak untuk dirinya dan juga aby, shanum tidak mau lagi berlaku mubazir Karena shanum sadar itu hal yang di benci oleh Allah.


Sementara aby tetap bersikap seperti biasanya, seolah tidak terjadi apa-apa.


Pagi ini aby akan berangkat ke kantor perusahaannya. Ketika saat menuruni tangga ia melirik sekilas ke arah dapur namun tidak mendapati keberadaan shanum di sana.


Aby sedikit heran karena biasanya shanum setiap pagi selalu menawarinya sarapan terlebih dulu sebelum ia berangkat kerja, tetapi sudah dua hari ini aby tidak lagi mendapati shanum yang selalu berada di dapur ketika dia tidak pergi mengajar di kampus.


Kemana dia, apa dia belum bangun jam segini?


Batin aby bertanya tanya keberadaan shanum.


Sedangkan shanum kini tengah bersiap setelah membersihkan dirinya di kamar mandi, sudah dua hari ini di sibukkan dengan kegiatan menyiapkan soal untuk ujian semester para mahasiswanya di kampus, hingga dia jarang keluar dari kamarnya dan mengurusi dapur, shanum juga berfikir tidak akan ada yang memakan masakannya jika dirinya memasak.


Setiap hari jika sepulang dari mengajar shanum selalu mampir di warung nasi untuk mengisi perutnya.


Shanum belakangan ini selalu memikirkan rumah tangganya yang sedang tidak baik sejak awal pernikahan hingga hari ini, terlebih lagi sudah di ketahui oleh ibu mertuanya.


Pagi tadi setelah kejadian kemarin aby menamparnya, shanum mendatangi mertuanya sepulang dari kampus, dia meminta untuk tidak mengatakan pada siapapun perihal aby yang selalu berlaku kasar terhadapnya, dan syukurnya bunda rumi mau menuruti keinginannya selagi shanum baik-baik saja. Dan bunda rumi meminta jika aby melakukan hal yang tidak pantas lagi, ia meminta pada sang menantunya untuk meninggalkan putranya.


Karena bunda rumi merasa malu kepada shanum, dengan kelakuan tidak baik dari putranya. Putra yang selalu ia banggakan selama ini.


****


Saat ini aby sudah tiba di kantornya, ketika baru saja sampai ia langsung mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.


Sejenak aby menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya, menghela nafas berat, ia pun kembali memikirkan perbuatannya kepada shanum selama pernikahan ini, kelakuan yang sangat buruk di mata siapapun.


Apa yang harus ku lakukan, seharusnya aku mengakhiri saja pernikahan ini, dari pada aku terus menyiksa batinya.


Kembali aby menarik nafas dalam dan mengusap kasar wajahnya.


"Ehmm." Gio berdehem masuk ke ruang aby secara tiba-tiba.


Aby yang terlihat membuka matanya yang baru saja ia pejamkan dengan posisi menyandar seraya mendongakkan kepalanya di sandaran ujung kursi.


"Ada apa?" Tukas aby seraya kembali menegakkan tubuhnya.


"Berkas yang rusak kemarin udah selesai gue perbaiki dan sudah gue dapat tanda tangan pak anggara." Ucap gio meletakkan berkas yang ada di tangannya.

__ADS_1


Aby mengambil berkas tersebut lalu mengamati dengan seksama, ada kelegaan karena berkas yang rusak akibat ulah shanum kemarin sudah di perbaiki.


"Terima kasih." Ujar aby kembali ke posisi menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


"Lu kenapa, tidak biasanya seperti ini. Ada masalah?" Tanya gio penasaran.


Aby tidak merespon pertanyaan gio, ia hanya kembali memejamkan matanya.


"Aku menamparnya kemarin." Ucap aby memberitahu sahabatnya. terdengar rasa sesal pada nada bicara aby.


"M..maksud lu nampar siapa?" Suara gio yang tergagap mendengar aby berbicara seperti itu, jangan bilang aby telah menampar istrinya sendiri.


"Shanum." Jawab aby, dengan posisi seperti tadi masih dengan santai memejamkan matanya di sana.


Mata gio membulat merasa terkejut bukan main, aby telah menampar shanum yang nitebannya adalah istrinya sendiri yang selama ini tidak di anggap oleh aby.


"Gila lu by.. Nggak nyangka gue punya teman kayak lu. Lu berani nampar bini lu sendiri gue yakin bini lu nggak sengaja lakuin hal itu. Lu main tampar aja." Ucap gio kesal seolah tidak menerima kelakuan buruk sahabatnya kali ini.


"Dia udah rusak pekerjaan penting gue io." Sahut aby, kini kembali memeprbaiki posisi duduknya.


"Tapi kalakuan buruk lu itu bisa bikin lu nyesel seumur hidup, aahhh males gue punya temen kayak lu by kelakuan lu itu udah melewati batas tau nggak." Sarkas gio kemudian pergi meninggalkan aby sendiri di ruangannya.


Gio sangat muak melihat kelakuan sahabatnya yang sama sekali tidak menghargai kehadiran istrinya selama ini.


Gio tidak menggubris panggilan aby, ia keluar begitu saja meninggalkan ruangan aby. Ia berfikir lebih baik menyelesaikan pekerjaannya di ruangannya dari pada memberi nasehat manusia keras kepala seperti aby.


Melihat gio tidak merespon panggilannya membuat aby semakin frustasi, ia mengusap kasar wajahnya.


***


Tidak terasa waktu sudah menjelang malam kali ini aby menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat karena biasanya aby selalu pulang dia atas jam sepuluh malam, namun kali ini aby akan pulang pukul delapan malam.


Aby berniat ingin cepat-cepat kembali ke rumah membersihkan diri agar fikirannya yang sedang kacau sejak pagi tadi berharap bisa tenang.


Sesampainya dirumah aby merasa ada yang berbeda, di mana biasanya shanum selalu menyambutnya dengan senyuman tapi kali ini ia tidak mendapati keberadaan shanum di pintu ruang tamu.


Apa shanum sudah tidur?


Batin aby bertanya tanya keberadaan shanum yang sejak pagi tadi tidak ia temukan.


Tidak mau ambil pusing aby langsung melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua tempat kamarnya dan kamar shanum.

__ADS_1


Setelah sampai kamar miliknya aby langsung membuka pakaian yang ia kenakan karena badanya sudah merasa sangat lengket, akhirnya aby langsung memutuskan untuk segera mandi.


Kurang lebih selama hampir tiga puluh menit aby merendam tubuhnya dengan air hangat kini ia meyudahi kegiatan mandinya dan segera menggunakan pakaian rumahan.


Setelah mengenakan pakaian dan mengeringkan rambutnya, aby melangkah keluar menuju dapur ingin membuat sesuatu di sana.


Kali ini aby berharap menemukan shanum karena ia berniat ingin meminta maaf. Tapi lagi-lagi tidak menemukan keberadaan shanum, bahkan tidak ada makanan di sana.


Bukannya dia tetap memasak makan malam? meski aku selalu menolaknya. tapi kenapa kali ini dia tidak memasak lagi?


Segala macam pertanyaan timbul di benak aby, akhirnya aby memutuskan untuk membuat kopi sendiri.


Sementara shanum di dalam kamar sedang fokus dengan leptopnya terlihat sedang mengerjakan sesuatu di sana.


Namun shanum tiba-tiba merasa haus dia melirik ke tempat wadah air yang biasanya selalu terisi tapi ternyata kosong dia lupa untuk mengisinya kembali.


Shanum beranjak dari duduknya dan mengambil wadah air tersebut dia berniat akan ke dapur untuk mengambil air putih. Setelah sampai dapur ia mendapati aby disana sedang membuat sesuatu.


"Kak aby?" Gumam shanum.


Aby masih mendengar suara shaum, ia menoleh dan mendapati keberadaan shanum, manik keduanya bertemu tatap, namun shanum cepat-cepat menunduk karena takut aby kembali melayangkan kata-kata kasar terhadapnya seperti biasa.


Sementara aby yang tadi berniat ingin meminta maaf kepada shanun namun suaranya terasa tercekat seolah tidak bisa berbicara. Entahlah dia merasa gugup hanya untuk meminta maaf.


"Ada yang bisa shanum bantu kak?" Tanya shanum memberanikan diri untuk bertanya pada aby, bagaimana pun juga shanum tetap harus mengabdi pada laki-laki ini.


"Tidak." Jawab aby datar.


Shanum mengangguk sekilas mendengar jawaban aby. Kemudian ia melanjutkan kegiatannya yang ingin mengambil air putih.


Setelah itu shanum kembali ke kamarnya ingin menyelesaikan kegiatannya.


Dan aby masih berada di dapur menyelesaikan membuat kopi. Setelah ia rasa selesai aby pun kembali ke kamarnya.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Segini dulu ya, besok lanjut lagi 😊


__ADS_2