Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 54


__ADS_3

Setelah memergoki sang suami pergi bersama wanita lain di pagi hari bahkan matahari belum menampakkan sinarnya.


Alina menyuruh supir taksi tersebut untuk kembali pulang ke rumah saja, dia tidak ingin menyaksikan lebih lanjut lagi sikap perhatian jovan pada wanita lain.


"Pak putar balik saja, tolong antarkan saya ke perumahan daerah x tadi." Kata alina pada sang driver taksi itu.


Sang driver taksi itupun mengangguk mengikuti perintah sang penumpang yang terlihat sedang memilik masalah rumah tangga.


Sementara jovan menghentikan mobilnya di area rumah sakit yang terlihat mewah itu, ia pun membuka mobil untuk erika dan kembali merangkul wanita hamil itu, wajah erika masih meringis menahan sakit di sekitar perutnya.


Namun ada sepasang mata yang tidak sengaja melihat jovan sedang merangkul seorang perempuan hamil. Terlihat wajah seseorang itu sangat marah, ia mengepalkan tangannya ingin sekali memukul jovan saat itu juga, rahangnya terlihat mengeras, tidak bisa ia tahan lagi, diapun mengikuti jovan memasuki gedung rumah sakit itu.


Seseorang itu tak lain adalah aby kakak kandung alina yang kebetulan sedang berada di rumah sakit tersebut, karena mengantar ibu mertuanya untuk mengontrol kesehatan sang mertua.


Sementara menunggu shanum dan ibu mertuanya sedang memeriksa kesehatan, aby pun menunggu dengan berjalan-jalan di area rumah sakit itu, namun pada saat berjalan ke arah depan rumah sakit maniknya tidak sengaja menangkap sosok jovan bersama wanita lain, aby pun bergegas mengikutinya.


Aby melihat jovan merangkul wanita itu menuju poli kandungan, mungkin saja wanita itu ingin meriksakan kehamilannya.


Awas kamu jovan, berani beraninya menghianati adikku.


Gumam aby dalam hati dengan penuh emosi, aby masih berjalan mengikuti jovan.


Ketika jovan sudah masuk keruangan yang di tuju ia pun berhenti berniat menunggu hingga jovan keluar bersama wanita itu.


Dua puluh menit kemudian jovan pun keluar bersama wanita itu, ingin rasanya aby menghampiri jovan dan langsung melayangkan bogem ke arah wajah jovan si berengsek itu, namun tiba-tiba ponsel aby sudah berdering menandakan ada panggilan masuk di ponselnya, di lihatnya nama shanum tertera di layar, aby menjawab telepon tersebut terdengar suara shamum dari balik telepon sedang memeberitahu aby bahwa ibunya sudah selesai melakukan pemeriksaan dan sudah ingin pulang.


Aby mengiyakan kemudian menutup sambungan telepon dan langsung berjalan meninggalkan tempat jovan saat ini.


Dengan rasa emosi aby mengendarai mobilnya, bayangan wajah jovan sedang bersama wanita yang bukan adiknya membuatnya naik pitam seketika emosi kembali menguasai dirinya.


Selama hampir setengah jam aby sudah sampai di halaman rumah sang mertua, shanum bergegas membantu ibu kesayangannya itu turun dari mobil milik aby.


Namun aby tidak turun, dan berkata pada shanum beserta ibu mertuanya kalau diriya akan pergi lagi karena ada urusan penting di kantornya yang tiba-tiba mendadak.


Aby kembali mengendarai mobilnya, emosi sudah semakin menumpuk dia rasakan, tangannya terlihat terkepal sesekali memukul-mukul setir mobilnya.


Ia berniat ke rumah alina saat itu juga, ingin memberitahu perihal apa yang telah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


Tak membutuhkan waktu lama aby kini telah sampai tepat di halaman rumah alina langsung menuruni mobilnya tidak mau menunggu lama aby langsung memanggil-manggil nama adiknya itu.


"Alinaaaa." Panggil aby dengan nada mininggi.


"Alinaaa apa kau ada di dalam?" Panggil aby sekali lagi.


Beberapa detik kemudian terlihat alina membuka pintu rumahnya, ia terkejut melihat kakaknya mendatangi rumahnya, Tumben.


Terlihat alina dengan wajah sangat sembab seperti habis menangis dan sangat kentara matanya bengkak jelas-jelas masih ada sisa-sisa bulir air mata di kedua maniknya.


"Bang." Lirih alina seperti sedang menahan tangisnya.


"Alina, kamu habis menangis?" Tanya aby penuh selidik, maniknya mengamati raut wajah alina.


Tidak menghiraukan pertanyaan abangnya itu, alina mengalihkan pembicaraan dengan mengajak aby masuk ke dalam rumah.


"Ayo bang masuk dulu." Ajak alina, sedang menetralkan suasana hatinya.


Aby masuk ke rumah alina tidak mau menunggu lama aby langsung bercerita mengenai apa yang ia lihat tadi di rumah sakit tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


"Bang, akupun sudah menyaksikannya sendiri kelakuan jovan. Apa yang harus ku lakukan bang." Alina sudah tidak bisa menahan air mata lagi ia pun menangis sesegukan di hadapan aby.


"Aku mau pulang saja ke rumah bunda dan ayah, aku nggak sanggup ngejalani rumah tangga kayak gini bang, sudah beberapa minggu ini alina melihat gelagat aneh dari jovan dan ternyata baru pagi tadi aku berani mengikutinya hingga mataku menangkap sesuatu yang sangat menyakitkan, jovan menghianati alin bang." Dengan isak tangis alina menceritakan kejadian pagi ini, maniknya tidak bisa lagi menahan laju air matanya, semakin deras saja mengalir.


Aby mengangguk paham dengan apa yang sedang di rasakan oleh adiknya saat ini, iapun tidak bisa berkomentar apa-apa. Karena aby juga sedang membenarkan apa yang telah di katakan oleh alina karena diapun telah menyaksikannya sendiri.


Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara mobil di halaman depan rumah alina, sudah tidak asing lagi itu suara mobil milik jovan.


Tak lama jovan pun muncul di pintu ruang tamu.


"Bang aby?" Ucap jovan dengan wajah bersahabat seperti menyambut kedatangan abang iparnya yang tumben-tumbennya mendatangi kediamannya.


Jovan pun melihat ke arah alina yang terlihat sedang memeluk abangnya itu. Jovan heran melihat alina sedang menangis sesegukan. Apa mungkin alina begitu sangat merindukan kakaknya? sampai-sampai ia menangis sesegukan seperti itu? berbagai macam pertanyaan berputar di otak jovan.


"Alina kamu kenapa sayang?" Tanya jovan seperti tidak terjadi apa-apa.


Sementara aby sudah tidak bisa lagi menahan emosi, terlebih lagi melihat ekspresi jovan yang begitu santainya seperti tidak berbuat kesalahan fatal. Aby bangkit dari tempat duduknya melepaskan pelukan alina dan sontak melayangkan tinju dengan tangan kokohnya di wajah tampan jovan.

__ADS_1


"Dasar laki-laki berengseeekkk!!!" Suara aby yang di penuhi dengan nada amarah dan emosi aby sudah sangat menguasai dirinya.


Jovan yang tidak siap mendapatkan pukulan dari abang iparnya itu sontak jatuh tersungkur ke arah belakang hingga terduduk di lantai ruang tamu rumahnya.


Sementara alina yang melihat kejadian itu semakin menangis histeris, alina pun tidak bisa berbuat apa-apa, di sisi lain hatinya sudah sangat sakit menyaksikan perbuatan suaminya tadi.


"Apa maksud bang aby mengataiku berengsek?" Jovan bangkit dia pun juga sudah merasa emosi karena tiba-tiba mendapat pukulan tiba-tiba dari aby.


"Hehh berengsek, kamu ceraikan alina sekarang juga, dan pergilah bersama wanita simpanan mu itu." Uca aby lagi-lagi dengan nada membentak seraya mencengkram kerah kemeja yang di kenakan jovan saat ini.


Bagai di hunus belati tajam ribuan kali, jovan tentu saja terkejut bukan main mendengar abang iparnya berbicara seperti itu, apa lagi ketika mendengar aby meminta dirinya menceraikan alina. Yang jelas-jelas jovan tidak bisa mengabulkannya.


Jovan menggeleng keras seolah tidak terima dengan tuduhan aby saat ini.


Siapa yang punya wanita simpanan? kenapa aby menuduhnya seperti itu. Apakah aby pernah melihatnya bersama wanita lain?


"Jika kamu tidak ingin menalak alina sekarang juga, aku yang akan membantu alina melayangkan gugat cerai padamu, dan kamu bisa bebas bersama wanitamu itu." Lagi-lagi aby mengeluarkan kata-kata yang sulit untuk jovan terima.


Jovan kembali di buat terkejut dengan keputusan abang iparnya itu.


"Ayo alina, kita pulang." Aby menyeret alina untuk meninggalkan rumah jovan.


Jovan tidak terima dengan keputusan aby saat ini.


"Apa hakmu membawa istriku keluar dari rumahku. Aku suaminya bang, kamu jangan bertindak seperti ini sebelum mendengar penjelasanku." Jovan berusaha menahan alina yang sudah mengikuti aby keluar dari rumahnya.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi, aku dan alina sudah melihatnya sendiri pagi ini. Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi." Sinis aby seraya menuju mobilnya.


"Alinaa. Alina aku bisa jelaskan semuanya, jangan memutuskan sesuatu seperti ini dulu." Kali ini jovan melihat ke arah alina, tangannya menahan sebelah pergelangan tangan alina.


Alina menggeleng menepis tangan jovan begitu kasar seolah tidak memberikan jovan kesempatan untuk menjelaskan karena alina mengingat kejadian pagi tadi, dan sepertinya sudah tidak ada yang perlu di jelaskan lagi.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2