Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 60


__ADS_3

Dua minggu kemudian, jovan menjalani hari-harinya seperti biasa begitupun juga dengan alina yang tengah di sibukkan dengan kuliah dan memantau butik yang sedang di rintisnya, keduanya sama-sama sibuk sehingga mengabaikan masalah mereka.


Meskin terbesit di fikiran jovan untuk ingin menemui alina dan menanyakan perihal kelanjutan hubungan mereka, tapi masih berat untuk ia menemui alina takut alina masih marah padanya.


Jovan belum juga menandatangani surat cerai itu, karena memang ingin mempertahankan rumah tangganya.


Sementara bagi alina kuliah dan kerja sama-sama menjadi tujuan utamanya saat sekarang, dia tidak ingin memikirkan masalahnya belakangan ini, terbukti dia kembali ceria dan tidak memikirkan hal-hal yang aneh terkait perpisahannya dengan jovan.


Sore ini sepulang dari butiknya alina duduk di salah satu cafe yang tidak jauh dari butik, entah kenapa alina tiba-tiba saja ingin menyendiri menikmati minuman yang tengah di pesan sebelumnya.


Kali ini alina tengah fokus memandangi leptopnya menjelajahi sosial media yang di gunakan untuk mempromosikan beberapa barang yang ada di butik miliknya, usaha alina benar-benar berkembang pesat. Alina sangat bersyukur akan hal itu.


Sesekali alina menyesap minuman yang tengah ia pesan sebelumnya.


Alina tidak menyadari dari meja lain yang tidak jauh darinya ada sepasang mata yang tengah fokus memperhatikannya, sosok pria yang begitu sangat merindukan dirinya.


Apa alina sudah benar-benar melupakan ku?


Jovan bergumam dalam hati benar-benar merasa sedih melihat alina baik-baik saja sama sekali tidak ada kesedihan di raut wajahnya dan merasa sudah melupakan dirinya.


Dari kejauhan jovan melihat seorang laki-laki sedang menghampiri meja alina dan seperti ingin begabung dengan alina. Jovan sedikit kesal melihat alina dengan mudahnya tersenyum pada laki-laki lain.


"Hai adik manis, boleh aku duduk di sini?" Tanya laki-laki itu yang sudah terlihat akrab dengan alina.


"Kakak?" Ucap alina terkejut melihat laki-laki di depannya saat ini, kemudian alina tersenyum pada laki-laki itu.


"Kok sendirian aja." Kata gio.


"Iya kak alina cuma pengen sendiri aja." Sahut alina yang sedang fokus dengan leptopnya sekilas dia menoleh ke arah gio.


Gio mengangguk.


"Berarti kakak ganggu ni?" Tanya gio iseng.


Alina menggeleng cepat, merasa tidak enak jika dirinya mengatakan merasa terganggu dengan kehadiran gio sahabat kakaknya itu.


Keduanya pun terlihat sedang mengobrol santai sesekali terdengar suara gelak tawa alina, memang sejak alina remaja gio sudah bersahabat dengan aby hingga alina dan gio sudah begitu dekat dan alina menganggap gio adalah abangnya juga sama seperti aby.


Sementara dari kejauhan terlihat jovan seperti sedang sangat kesal tatapannya sangat tajam ada kilatan emosi ketika melihat ke arah dua manusia yang sedang tertawa itu.


Alina masih istri sah gue, gue nggak bisa biarin ini.


Emosi jovan sudah tidak tertahankan lagi ketika melihat gio mengusap kepala alina yang tengah tertawa begitu bahagiannya, kemudian jovan menghampiri alina di tempatnya.


"Lepaskan tangan kotormu itu dari istriku." Sarkas jovan, suaranya sedikit meninggi hingga memancing perhatian orang-orang sekitar. Dengan cepat tangan jovan menepis tangan gio yang masih mengusap kepala alina.


Memang gio selalu memperlakukan alina seperti adiknya sendiri sehingga tidak ada rasa canggung di antara mereka, namun jovan yang melihat itu tidak terima, karena jovan memang tidak mengenal gio sebelumnya.


Alina terkejut bukan main melihat kehadiran jovan di hadapannya secara tiba-tiba.


"Kak jo." Gumam alina dengan raut wajah terkejut.


"Hei, santai bro." Ucap gio dengan santainya mengusap tangannya yang di tepis oleh jovan tadi.


"Santai kamu bilang? se enaknya kamu menyentuh istriku." Jovan masih dengan emosinya, kini mendorong gio sedikit mundur ke belakang.

__ADS_1


"Kak jo stooppp!!!!" Pekik alin, alina mendekati gio karena alin tidak mau terjadi salah paham hingga mengakibatkan gio jadi korban bogem jovan.


"Kamu bahkan menghampiri laki-laki itu di banding suami mu alina?" Ucap jovan tidak terima dengan tingkah alina.


Kali ini jovan merasa kalah dan dia harus bertindak tegas, dia tidak mau lagi terlihat lemah dan terus merasa terpuruk akibat masalahnya belakangan ini.


"Ayo pulang." Ajak jovan menarik tangan alina keluar dari cafe tersebut dan membawa alina menuju mobilnya.


"Lepas kak jo, tangan alin sakiit." Teriak alina merasa pergelangan tangannya begitu di genggam erat oleh jovan.


Jovan tidak menyadari jika kali ini dia sudah menyakiti alina, masih saja fokus membawa alina masuk ke dalam mobilnya dengan rasa emosi yang begitu mendominan dalam dirinya.


Jovan cemburu melihat alina bersama laki-laki lain. Jovan tidak suka melihat itu.


"Masuk." Sarkas jovan sedikit mendorong tubuh alina ke dalam mobil.


Kedua manik alina sudah mengeluarkan cairan bening, tidak terima dengan perlakuan kasar jovan.


Jovan kini sudah duduk di bangku kemudi, sekilas melirik ke arah alina yang sudah menangis.


"Kali ini kamu harus pulang ke rumah kita." Ucap jovan penuh penekanan seolah tidak ingin di bantah.


Alina menggeleng tidak terima dengan pernyataan jovan yang seenaknya ingin mengajaknya pulang ke rumahnya.


"Aku mau pulang ke rumah bundaku." Pekik alina dengan isak tangisnya.


"Kamu jangan seperti anak kecil alina, yang sedikit-sedikit menangis seperti ini." Kata jovan merasa kesal melihat alina menangis tidak mau di ajak pulang.


Alina tetap bungkam dengan air matanya yang masih keluar.


Jovan memakaikan alina seatbelt dan segera menjalankan mobilnya menuju kediaman mereka yang pernah ia tempati sejak awal menikah.


Tidak membutuhkan waktu lama mobil yang jovan kendarai sudah sampai di pelataran rumah minimalis yang terlihat tampil mewah itu, meski alina sejak tadi berteriak meminta ingin kembali ke rumah orang tuanya namun kali ini jovan tidak menghiraukannya. Sudah cukup kesabaran jovan, karena dia ingin tetap mempertahankan rumah tangganya. Jovan sudah membulatkan tekadnya ingin kembali mengambil hati alina


Jovan tidak ingin terjadi perceraian di antara mereka.


Alina kembali di seret paksa oleh jovan menuntun masuk ke dalam rumah, alina merasa bahwa tingkah jovan kali ini begitu kejam, ini buka jovan yang ia kenal.


"Lepasiiin." Teriak alina berusaha menepis tangan jovan.


Jovan terus saja menarik alina menuju kamar yang pernah mereka tempati, dan menghempaskan alina di atas tempat tidur berukuran besar itu.


Alina semakin menangis terisak karena merasa pelakuan jovan begitu sangat kasar, alina tidak pernah melihat sifat jovan yang seperti ini.


"Stop menangis alina, aku muak mendengarmu yang sejak tadi hanya menangis seperti anak kecil." Tukas jovan masih dengan nada tingginya.


Wajah alina terangkat menatap tajam ke arah jovan.


"Bagaimana bisa aku masih mengakuimu sebagai suami jika perlakuamu sekasar ini." Pekik alina tidak terima dengan perkataan jovan.


"Aku mau pulang ke rumah bundaku, bunda dan ayah pasti mencariku." Ujar alina turun dari tempat tidur.


"Kamu tetap di sini dan akan tinggal di sini bersamaku, Tidak ada bantahan." Ucap jovan penuh penekanan seraya menahan alina yang ingin keluar dari kamarnya.


Alina bergerak meraih tasnya berniat ingin mengambil ponselnya dan menelpon ayahnya, alina ingin meminta ayahnya menjemputnya ke rumah jovan.

__ADS_1


Jovan yang melihat pergerakan alina dengan cepat ia merampas ponsel milik alina.


"Apa? kamu mau menelpon abangmu itu. Hah? yang bahkan mau menghancurkan hubungan kita." Tuduh jovan, kini ponsel alina sudah berada di tangannya.


Alina tidak bisa berbuat apa-apa lagi, jovan telah mengambil akses yang bisa di gunakan untuk menghubungi keluarganya, alina tidak lagi memberontak kali ini ia terduduk di lantai kamar hanya bisa menangis.


"Tolong biarkan aku pulang, aku ingin memberitahu orang tuaku terlebih dulu agar mereka tidak hawatir." Suara alina melemah serasa suaranya tercekat karena terus saja menangis.


Jo melihat alina yang sudah sedikit tenang, dia pun kembali menghampiri alina.


"Alina lihat aku, tatap mataku. Apa benar-benar sudah tidak ada rasa cinta untuk ku alina?" Tanya jovan kali ini dengan suara lembut, tidak ada lagi emosi.


Jovan menangkup kedua pipi lembut alina, menatap lekat ke arah manik alina. Berharap masih ada rasa cinta untuknya.


Sedangkan alina hanya diam tidak menanggapi pertanyaan jovan, karena dia merasa masih bingung.


"Alina." Gumam jovan sekali lagi.


Hening.


Hanya terdengar suara sesegukan alina karena habis menangis.


Alina masih belum ingin menanggapai pertanyaan jovan.


"Apa diam mu mengatakan bahwa kamu benar-benar akan mengakhiri rumah tangga ini? tolong bicara alina." Ujar jovan masih dengan posisi yang sama.


Lagi-lagi tidak ada respon, hingga akhirnya jovan mengambil keputusan.


"Baiklah, itu artinya kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Aku akan melepaskan mu meski sebenarnya aku masih sangat mencintamu." Ucap jovan dengan yakin, karena ingin memastikan hubungannya yang sudah hampir sebulan tidak ada kejelasan.


Meski sebenarnya jovan yang masih menggantung hungungannya karena belum berani untuk memberi tanda tangan pada surat cerai yang sangat ia benci itu.


"Baiklah, aku akan menandatangani surat cerai sesuai keinginanmu dan ku pastikan tidak akan ada lagi hubungan apapun di antara kita sejak setelah aku benar-benar menanda tangani surat cerai itu hingga kedepannya nanti." Ucap jovan lantang, dan beranjak ke arah nakas lalu membuka laci mengambil surat cerai yang masih di simpan rapi.


Detak jantung alina tiba-tiba berdetak sangat cepat merasa sangat terkejut bukan main karena mendengar setiap perkataan jovan barusan.


Maniknya melihat pergerakan jovan yang melangkah ke arah nakas dan terlihat sudah mengambil surat yang di maksudnya.


Dilihatnya jovan yang akan membubuhi tanda tangan pada surat yang sangat ia benci itu. Dengan gerakan cepat alina beranjak dan berlari ke arah jovan.


Seketika memeluk jovan dari belakang mengehentikan pergerakan jovan untuk melakukan hal yang sama sekali tidak di inginkan.


"Aku nggak mau kamu melakukan hal itu, aku masih mencintaimu kak jo." Ucap alina lagi-lagi dia mengeluarkan air matanya dan menangis sesegukan, masih dengan memeluk erat jovan menenggelamkan wajahnya di belakang jovan.


Bolpoin yang di pegangi oleh jovan seletika terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai, menarik nafas lega terucap rasa syukur mendengar ucapan alina yang masih mencintai dirinya.


Kali ini jovan berbalik ke arah alina kemudian membalas pelukannya dengan begitu erat sama-sama menumpahkan rasa rindu di antara keduanya.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2