Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 20


__ADS_3

Di rumah jovan.


Jovan yang sudah sejak tadi terlihat gelisa menunggu alina yang tak kunjung pulang ke rumahnya, karena jam sudah menunjukkan pukul 20.00 namun alina belum menampakkan dirinya.


Jovan semakin di buat kesal, meski jovan sudah di beritahu oleh bi mariam tadi bahwa alina akan berkunjung ke rumah bundanya, namun jovan menganggapnya hanya alasan karena jovan melihat keberadaan alina tadi sore sedang berada di cafe duduk bersama seorang pria lain.


Sejak tadi dia menelpon alina namun tidak ada jawaban sama sekali dari alin, jovan semakin di buat emosi.


Sementara alina masih di kediaman orang tuanya masih sangat menikmati kebersamaannya bersama bunda dan abangnya bahkan dia lupa dengan keberadaan ponselnya yang ia taruh di dalam kamarnya. Dia sama sekali tidak ada firasat bahwa suaminya sedang menunggu dan menghawatirkan dirinya dirumah.


Setelah lama menghabiskan waktu bercanda bersama bundanya alinpun berniat pamit pulang ke rumah suaminya.


"Bun alin mau pulang, Takutnya kak jo sudah ada di rumah nungguin alin." Kata alin.


"Baiklah, biar abangmu yang mengantarmu pulang nak."


Alin mengiyakan bundanya, dengan senang hati dia ingin di antar oleh abangnya. Kemudian alin ke kamarnya dan pergi mengambil tasnya yang ia taruh tadi. Namun alin tidak memeriksa ponselnya yang berada di dalam tas miliknya.


*****


Jovan masih dengan suasana hati emosinya, alin sama sekali tidak menghiraukan panggilannya. Sesekali dia melempar ponselnya di atas sofa ruang tamu, Sesekali mengusap kasar rambutnya serta wajahnya.


Jovan berfikir sejenak memang dia merasa bersalah karena sudah dua minggu ini dia tidak menegur alina hanya karena ingin tidak terbiasa dengan keberadaan wanita itu ketika dirinya sudah berada di luar negeri nanti. Satu bulan lagi jovan akan berangkat untuk melanjutkan kuliahnya atas paksaan sang papah.


Suasana hatinya sudah semakin tersulut emosi dengan paksaan papahnya belum lagi dia telah melihat alina bersama pria lain tadi di cafe. Bagaimana bisa dia meninggalkan alina sendiri di sini, belum apa-apa dia sudah memergoki sang istri. Jovan tidak bisa membayangkan jika dirinya sudah berada di negara lain, alina akan berbuat semaunya disini.


Kadang terbesit dirfikiran jovan apakah dia akan mengakhiri rumah tangganya ini? toh juga dirinya masih sangat mudah belum cocok berumah tangga. Apalagi alina yang masih sangat ke kanak kanakan.


Tapi membayangkannya saja ketika dia akan melepaskan alina, itu tidak mungkin ia lakukan mengingat orang tua mereka akan merasa sangat terpukul. Jovan juga mengakui bahwa dia tidak ingin melepaskan alina karena sudah memiliki perasaan terhadap gadis itu.


Membayangkannya saja jovan menggeleng dengan cepat, membuang fikiran konyolnya itu.


Nggak mungkin, gue nggak mungkin ngelepasi alina.


Bukannya dia sudah berjanji pada dirinya dan juga alina bahwa keduanya akan menjalani pernikahan ini secara perlahan. Namun semakin ke sini pernikahan yang mereka jalani semakin terasa asing, seperti tidak ada hubungan di antara dia dan alin.


Lama jovan berperang dengan pikirannya sendiri, terdengar suara ketukan pintu dia menduga bahwa itu adalah alina. Jovan menghampiri pintu tersebut lalu membukanya, dan benar saja alina sudah berdiri di depan pintu, jovan mengedarkan pandangannya di halaman rumah melihat siapa yang mengantar alina malam-malam begini? namun tidak ada siapa pun.

__ADS_1


Alina begitu sangat terkejut melihat jovan sudah berada di rumah, alina mengira bahwa jovan belum pulang karena biasanya jovan selalu pulang larut malam.


"Dari mana saja jam segini baru pulang?" Suara jovan terdegar datar saat bertanya pada alina, membuat alina merasa takut.


"Alin dari rumah bunda." Sahut alin menunduk takut melihat wajah jovan yang terlihat sangat marah.


Mendengar jawaban alina, jovan merasa bahwa alina telah membohonginya, jelas-jelas jovan telah melihatnya tadi di cafe.


Seketika jovan menarik tangan alina sedikit kasar menaiki tangga menuju kamarnya.


"Kak maaf alina terlambat pulang, tapi aku sudah bilang ke bibi tadi sebelum berangkat." Alina berusaha menjelaskan pada jovan agar suaminya tidak tersulut emosi.


"Kamu berani bohong sama suami kamu." Teriak jovan suaranya menggema di ruang kamarnya saat ini.


Alina menggeleng cepat semakin merasa takut tubuhnya sedikit bergetar, kedua netranya sudah mulai berkaca-kaca.


"Lalu siapa laki-laki yang menemanimu di cafe hari ini." Sarkas jovan.


"Kamu selingkuh alina? kamu bermain dibelakangku selama ini hah?" Nada suara jovan naik beberapa oktaf.


Alina lagi-lagi menggeleng cepat, air mata sudah luruh merasakan sakit di bagian lengannya yang sudah di cengkram kuat oleh jovan, belum lagi jovan menuduhnya selingkuh.


"Alina sama sekali nggak berbuat seperti yang kamu tuduhkan." Jawab alina sudah dengan isak tangisnya.


"Lepasin tangan alin.. Sakiittt." Tangis alina seraya berusaha menyingkirkan tangan jovan yang menyakiti tangan sebelahnya.


Seketika jovan melonggarkan cengkramannya yang begitu keras, dan beralih memegang tengkuk alina yang masih tertutup hijab. Dengan kasar dia menciumi bibir alina, alina yang mendapatkan perlakuan seperti itu begitu sangat terkejut, tangisnya semakin pecah namun jovan sama sekali tidak menghiraukan tangisnya.


Jovan semakin memperdalam ciumannya, fikirannya sudah di penuhi hasrat serta emosi sudah sangat menguasai dirinya, sementara alina terus berusaha mendorong jovan dengan kedua tangannya.


Air mata alina semakin luruh, dirinya terus merontah berharap jovan melepaskan dirinya, alina memang istrinya tapi tidak harus memaksanya seperti ini.


"Kak tolong lepasiiinnn." Teriak alina di sela ciuman kasar jovan berusaha melepaskan dirinya.


Sementara jovan tidak memperdulikan jeritan alina jovan membuka paksa hijab yang alina pakai.


"Aku nggak mauuuu, lepasiiiin." Teriak alin lagi yang masih saja terus menangis.

__ADS_1


Kini jovan berhasil melepas penutup kepala alina, sejenak jovan sangat terpaku melihat kecantikan alina tanpa menggunakan hijab. Kulit putih alina begitu sangat kontras dan memperlihatkan leher jenjang alina yang begitu sangat putih serta rambutnya yang lurus dan panjangnya melewati bahu. Seketika jovan menelan salivanya begitu sangat kagum.


Alina menggeleng memejamkan matanya yang terus mengeluarkan air mata, ia berusaha merontah menghindari jovan yang berusaha memaksa dirinya serta menciumnya.


Seketika jovan tersadar dengan apa yang telah ia lakukan, dia pun perlahan mengehentikan perbuatan kasarnya itu. Sudah semakin merasa bersalah pada istrinya sendiri.


Ya tuhan apa yang sudah ku lakukan pada alina.


Jovan mengusap kasar wajahnya, sementara alina masih dengan tangisnya, menunduk menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku lin." Ucap jovan lembut, ingin mendekap alina.


Alina masih dengan tangisnya, tidak lagi merespon ucapan jovan, kali ini ingin menghindari jovan tidak terima dengan perlakuan kasarnya barusan.


Alina menggeleng cepat, dan menepis tangan jovan yang ingin menyentuhnya.


"Jangan sentuh alin." Sarkas alin dengan sesegukan.


"Lin." Jovan berusaha ingin mendekap tubuh istrinya itu, mencoba untuk menenangkan alin.


"Alin mau pulang." Kata alin lagi, tubuhnya yang sudah sedikit gemetar karena takut dengan sikap kasar jovan barusan.


"ALINA..!!!! jangan seperti ini aku ini suami kamu aku bahkan berhak atas dirimu." Suara jovan kembali menggema lagi-lagi dia merasa jengah dengan sikap istrinya kali ini.


Alina menatap ke arah jovan dengan wajah sendunya, air mata semakin tidak bisa di bendung lagi, melihat tatapan alina seketika perasaan jovan terenyuh. Rasanya dia sudah sangat bersalah pada perempuan yang ada di hadapannya saat ini.


Bahkan ini baru pertama kalinya jovan bersikap kasar terhadap perempuan meski kelakuannya buruk di mata orang lain, tapi sumpah demi tuhan jovan selalu menghargai seorang perempuan karena selalu mengingat ibunya yang sudah membuatnya terlahir ke dunia ini.


Jovan kembali mencoba menghampiri alina, seketika dia mendekap tubuh alina yang sedang merasa ketakutan.


"Maaf." Hanya itu yang terus di ucapkan oleh jovan seraya tangannya memeluk alina sesekali mengusap lembut kepala alina yang sudah tidak tertutup hijab.


Alina tidak bergeming, sudah tidak merontah lagi. Sama sekali tidak merespon jovan ataupun menolak perlakuan jovan kali ini.


"Siapa laki-laki yang bersamamu di cafe tadi?" Kali ini jovan bertanya dengan sangat lembut, tidak bisa di pungkiri pikirannya masih di penuhi oleh alina yang bersama laki-laki lain ketika di cafe tadi.


Alina masih tidak mau menjawab perkataanya jovan. Dan akhirnya jovan barfikir bahwa dia harus mengalah dia tidak mau lagi bertanya pada alina dia akan mencari tau sendiri pada teman alina besok. Dia akan berusaha mempercayai alina selama alina masih menjadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2