
Alina semakin sibuk saja dengan butiknya, sering kali pegawainya menelpon pada alin jika sering ada pelanggan berkunjung ke butiknya yang ingin menemui alina untuk meminta langsung berbagai rancangan busana buatan alin.
Tidak terasa hari hari yang di lewati alina begitu menyenangkan karena alina merasa dengan menyibukkan diri rasa rindunya sedikit terobati pada jovan. Sesekali dia memberi kabar pada jovan bahwa dirinya baik-baik saja, alina meminta jovan untuk tidak selalu menghawatirkannya terutama menghawatirkan kehamilan alina, dia berjanji akan menjaga kehamilannya dengan baik serta tidak ingin terlalu kecapean. Itulah permintaan jovan agar alina tidak usah terlalu bekerja keras.
Sementara bisnis jovan yang di jalani oleh indra sahabatnya semakin lancar dan tidak ada kendala, alina juga mengetahui hal itu. Tak jarang alina menerima hasil dari bisnis yang jovan tekuni bersama indra. Alina memutuskan hasil bisnis toko obat jovan akan ia tabung untuk masa depan keluarga kecilnya nanti terutama untuk bayi yang telah tumbuh di rahimnya.
"Alin, apa kamu tidak berniat untuk mengunjungi suami mu sesekali kan kuliah bisa ijin cuti beberapa bulan kalau mau." Kata indah sahabat alin yang tiba-tiba memberi saran pada alina.
Alina menoleh pada indah seraya tersenyum, kemudian alina menggeleng.
"Kak jo melarangku, apa lagi sekarang aku sedang hamil, tidak mungkin dia memberikan ijin untuk mendatanginya." Sahut alina.
"Apa kamu tidak merindukan suami mu?" Tanya indah lagi.
"Aku bahkan sangat sangat merindukannya." Sahut alina raut wajahnya tiba-tiba terlihat sendu.
"Oh iya lin, aku boleh nggak main ke butik mu?" Pinta indah mencoba mengalihkan pembicaraan mereka, karena sudah melihat alina menampilkan raut wajah sendunya.
Alina mengangguk antusias, dia sangat senang jika sahabatnya mau mengunjungi butiknya.
"Selesai mata kuliah terakhir kita ke butik ya ndah." Kata alin semangat.
"Oke."
****
Alina dan indah sudah berada di dalam mobil indah membelah jalanan yang cukup ramai menuju butik alin setelah selesai jam kuliah, tak lupa alina mampir untuk membeli makan siang di sebuah rumah makan langganannya, alina juga membelikan untuk kedua pegawainya.
"Kok beli banyak lin.. Buat siapa?" Tanya indah yang heran melihat alina membeli empat bungkus makanan.
"Buat karyawan aku, sekalian beliin buat mereka." Sahut alina.
Indah hanya ber oh ria membulatkan mulutnya, sudah biasa indah menyaksikan sahabatnya suka berbagi pada siapa pun, pantas saja alina mendapatkan rejeki yang melimpah apa lagi sekarang butiknya sedang lancar.
Tak lama setelah itu mereka telah sampai di butik alin.
"Eh ada mbak alin." Ucap susi salah satu karyawan alina.
"Iya, ini buat kalian berdua untuk makan siang." Kata alina memberi dua bungkus nasi pada susi dan riska.
__ADS_1
"Waah makasih banyak mbak." Ucap kedua karyawan alin merasa senang, ini bukan pertama kalinya alina memberikan sesuatu untuk mereka.
Alina dan indah masuk ke dalam ruangan alin, ruangan tempat alina menuang ide-idenya untuk merancang berbagai jenis pakaian.
Indah sedikit melongoh melihat nuansa ruangan alina, karena memang ini yang pertama kalinya indah memasuki ruang kerja alina.
"Masyaallah lin, cantik banget sih ruangan kamu." Suara indah yang kagum melihat perpaduan warna ungu mudah dan putih serta berbagai macam hiasan dinding pada ruang kerja alina.
"Kalau kayak gini si aku jadi betah banget jika berkunjung ke sini setiap hari lin." Ucap indah lagi.
"Sering-sering aja main kesini." Timpal alina.
Setelah keduanya mengobrol ringan alina dan indah pun mulai makan siang untuk mengisi perut yang sudah terasa keroncongan.
****
Satu minggu telah berlalu, hari ini adalah hari dimana keluarga hendra berkunjung kembali ke rumah keluarga darman yaitu sahabat hendra sekaligus rekan bisnisnya.
Keluarga hendra berniat akan melamar shanum hari ini juga. Semuanya tengah bersiap termasuk alina yang sangat antusias dengan acara lamaran abangnya.
Karena kebetulan hari ini adalah hari minggu tentu saja memanfaatkan waktu libur mereka untuk mengunjungi rumah calon besannya.
Abyaz hanya mengikuti kemauan ayahnya tanpa sebuah bantahan lagi dia pasrah dengan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan itu.
"Assalamu'alaikum." Ucap salam serempak keluarga hendra ketika sampai di depan pintu rumah keluarga darman.
Keluarga darman pun menyambut mereka dengan antusias serta penuh dengan raut wajah bahagia. Termasuk mami jesi wanita tengah baya berparas bule itu.
"Walaikumsalam." Ucap tuan rumah menyambut para tamu yang datang.
"Ayo semuanya silahkan masuk." Sambut jesi dengan senyuman.
Kuarga hendra pun masuk di kediaman calon besannya.
Alina yang sejak tadi penasaran dengan sosok calon istri abangnya mengedarkan pandangan ke sekitar ruang tamu namun gadis yang dia tunggu belum juga menampakkan dirinya.
Tapi ada sebuah foto berukuran besar yang menempel di ruang tamu, foto seorang perempuan yang sepertinya alina sangat mengenalnya.
Foto shanum yang mengenakan pakaian busana muslim cantik berwarna gold dengan selempang kejuaraan sebuah vestifal acara pameran busana.
__ADS_1
Itu kan kakak dosen yang cantik, kok bisa ada fotonya di rumah ini. Masyaallah cantik banget sih.
Alina bergumam dalam hatinya mengagumi foto gadis cantik yang terpajang di ruang tamu tersebut.
Dua orang pembantu keluarga darman tengah menghidangkan beberapa cemilan serta minuman di atas meja ruang tamu.
Dua keluarga besar itu mengobrol ringan sesekali membahas tentang pekerjaan sebelum membahas niat inti mereka.
Selang beberapa menit seorang wanita cantik menampakkan dirinya, tengah berjalan menuruni tangga dari lantai dua rumahnya.
"Kakak dosen." Pekik alina dengan raut wajah terkejut melihat dosennya berada di rumah calon istri kakaknya.
"Alina?" Gumam shanum yang juga heran melihat mahasiswanya sedang berada dirumahnya.
"Kak shanum, ini rumahnya?" Tanya alina yang masih tidak percaya.
Shanum mengangguk tersenyum menanggapi alina.
"Bunda, ini loh dosen alin di kampus dia yang mengajarkan kami mengenai materi mendesain busana." Kata alina antusias.
"Saya adiknya bang aby, pasti kakak calon istrinya abang." Suara alin yang begitu semangat memperkenalkan dirinya sebagai adik abyaz pada calon kakak iparnya.
"Bang, apa kakak dosen itu calon istrinya abang?" Tanya alina pada aby.
Aby tidak menghiraukan alina, dia masih menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Ayo shanum, duduk disini nak." Kata bunda rumi.
Shanum sudah berada di tengah-tengah mereka, kini saatnya keluarga hendra mengutarakan niatnya ingin segera melamar shanum untuk putra sulungnya yaitu aby.
"Begini, kami kemari berniat akan melamar shamum untuk aby." Kata hendra mengutarakan niatnya.
"Bagaimana shanum, apa kamu menerima lamaran dari aby?" Tanya darman pada putrinya.
"Isyaallah shanum terima apapun yang terbaik menurut dady dan mami, shanum akan menerima kak aby sebagai calon suami shanum." Ucap shanum dengan yakin.
Setelah memikirkannya beberapa hari belakangan ini setelah mendapat kabar dari dadynya bahwa aby akan datang untuk melamarnya, shanum memantapkan hatinya untuk menerima aby menjadi suaminya di masa depan, tidak lupa dia juga meminta petunjuk pada allah. Hingga akhirnya shanum memutiskan akan menikah dengan laki-laki pilihan dadynya.
Shanum berharap ini yang terbaik untuk masa depannya nanti.
__ADS_1
Dua keluarga besar itu pun menentukan tanggal pernikahan aby dan shanum. Mereka memutuskan untuk menikahkan anak mereka dua minggu lagi. Shanum serta aby menerima keputusan orang tua mereka.