Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 61


__ADS_3

Jovan membalas pelukan alina dengan begitu erat, tersemat senyum bahagia di bibirnya. Mendaratkan beberapa kali kecupan di pucuk kepala alina yang masih tertutup hijab.


"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu." Ucap jovan terdengar seperti berbisik.


Alina mengangguk tidak bisa lagi terucap kata-kata masih dengan isak tangisnya, ada rasa haru karena bisa berbaikan dengan suaminya yang sangat ia cintai itu.


"Sudah sayang jangan menangis lagi." Ucap jovan lembut, kini kedua tangannya mengusap air mata yang sejak tadi mengalir di pipi sang istri.


Kemudian jovan memberikan kecupan di kening alina, jovan kembali menangkup pipi alina menatap lekat ke arah wanita yang begitu sangat ia cintai.


"Apa kamu tetap akan pulang ke rumah mu?" Tanya jovan sekali lagi memastikan alina.


Alina mengangguk, karena menurutnya alina harus memberitahu orang tuanya, agar bunda dan ayahnya tidak merasa khawatir.


"Apa maksudmu sayang, itu artinya kamu akan meninggalkanku sendiri di rumah ini, begitu?" Kata jovan yang tidak terima jika alina tetap ingin pulang ke rumah orang tuanya.


Alina menggeleng tidak membenarkan perkataan jovan.


"Aku mau kasih tau bunda agar tidak khawatir." Sahut alina.


"Baiklah aku akan mengantarmu." Ucap jovan kemudian.


Alina mengangguk dan kini tersenyum.


Ahh jovan sangat bahagia melihat alina kembali tersenyum padanya, ini adalah hal yang begitu sangat ia rindukan selama hampir satu bulan belakangan ini. Jovan kembali mendaratkan kecupan di kening istrinya.


"Terima kasih, sudah mau memaafkanku sayang." Ucap jovan setelah mendaratkan kecupan pada kening wanita yang sangat ia cintai itu.


Alina kembali memeluk tubuh suaminya membenamkan kepalanya di dada jovan.


***


Sesuai rencana jovan dan alina mendatangi rumah ayah hendra dan juga bunda rumi, meski waktu sudah menunjukkan malam pukul 20.00 dengan antusias jovan mengantarkan sang istri.


Bunda rumi dan juga ayah hendra terkejut melihat kedatangan putri kesayangan dan laki-laki mudah yang masih berstatus sebagai menantunya itu.


"Alina?" Ucap bunda rumi dengan raut wajah penuh tanya.


Sekilas menoleh pada jovan. Jovan hanya mengangguk tersenyum kepada ibu mertuanya itu.


"Bunda, ayah. Alina ingin mengatakan sesuatu." Ucap alina dengan rasa gugup karena takut ayah dan bundanya akan menahannya di rumah ini.

__ADS_1


Alina kemudian mendekati kedua manusia yang sangat ia cintai itu lalu alina duduk di samping bundanya.


Bunda rumi juga mempersilahkan jovan untuk duduk.


"Katakan nak." Kata bunda rumi yang sudah penasaran dengan putrinya.


"Alina mau mengatakan jika alina dan kak jo akan kembali bersama, alin dan kak jo tidak ingin bercerai." Ujar alina dengan menunduk.


Bunda rumi yang mendengar akan hal itu begitu sangat bahagia, melihat alina dan jovan kembali bersama dan ingin memperthankan rumah tangga mereka.


"Masya Allah nak, kalian sudah mengambil keputusan yang bagus. Lebih baik memang kalian harus mempertahankan rumah tangga kalian nak, meski ujian terus menghampiri. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Keputusan yang bahkan allah membencinya dengan cara perceraian dalam rumah tangga, bunda dan ayah berharap kalian akan selalu bersama melewati kehidupan bersama hingga maut memisahkan, bunda dan ayah selalu mendo'akan rumah tangga kalian Sakinah Mawaddah Warohma." Ujar bunda sedikit memberi nasehat pada putri dan menantunya.


Sementara ayah hendra hanya diam, namun sebenarnya di dalam lubuk hati sangat bersyukur melihat sang putri kembali bahagia dan mengambil keputusan yang tepat.


"Bunda, ayah. Maafkan jovan karena telah melakukan kesalahan dan sudah bertindak tanpa sepengetahuian alina." Kini giliran jovan yang mengeluarkan suara, meminta maaf dengan sungguh-sungguh berharap kedua mertuanya kembali merestui hubungannya dengan alina.


Bunda rumi mengangguk terharu dengan kedua maniknya yang berkaca-kaca.


"Jagalah putriku dengan baik, jangan sekali-sekali kamu kembali membuatnya kecewa dan sakit hati. Kami sudah memaafkan mu, dalam rumah tangga sekecil apa pun masalah atau apapun itu sebaiknya harus di bicarakan bersama jangan ada yang di tutup-tutupi, karena bisa menimbulkan kesalahpahaman seperti kemarin. Ayah percayakan padamu untuk menjaga putri kesayangan ayah." Kata ayah hendra memberi masehat pada jovan.


Jovan mengangguk mengerti dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan lagi, tidak akan mengambil suatu keputusan tanpa sepengetahuan sang istri.


Merekapun kembali mengobrol sesekali tergelak membicarakan hal-hala yang lucu.


"Bunda, alina mau pamit untuk pulang bersama kak jo." Ucap alina meminta ijin.


"Apa sebaiknya kalian menginap saja nak, ini juga sudah larut malam?" Ujar bunda rumi.


Alina dan jovan saling pandang dan akhirnya mengangguk mengiyakan permintaan bundanya.


"Ya sudah kalian istirahatlah, bunda dan ayah juga akan istirahat karena sudah larut malam." Kata bunda rumi.


Merekapun pergi ke kamar masing-masing.


Pasangan yang baru beberapa jam berbaikan itu telah sampai di kamar milik alina, karena memang mereka mau tidak mau harus menginap karena permintaan sang bunda.


Alina sebenarnya masih ada rasa canggung.


"Alina, kenapa kamu hanya berdiri di situ. Kemarilah." Ucap jovan melihat alina yang hanya berdiri di pintu kamarnya yang belum di tutup sepenuhnya.


Perlahan alina mendekat ke arah tempat tidurnya.

__ADS_1


"Kak jo nggak marahkan kita tidur disini."


"Aku akan marah jika kamu tidak segera naik ke tempat tidur." Sahut jovan seraya menarik lembut tangan alina dan mengajaknya ke atas tempat tidur.


Alina hanya menampilkan senyum canggungnya.


Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sudah berbaring di atas tempat tidur, tidak ada yang mengeluarkan suara di antara alina dan jovan keduanya sama-sama terlarut dalam fikiran masing-masing.


Hening.


Dan menit kemudian jovan bersuara.


"Alina." Ucap jovan dengan suara pelan namun masih terdengar di telingah alina karena malam semakin sunyi.


"Jangan ada lagi pertengkaran di antara kita, semoga masalah yang menimpah rumah tangga kita kemarin adalah awal yang baik untuk bisa membina rumah tangga yang lebih baik ke depannya." Ujar jovan lagi matanya yang hanya fokus menatap langit-langit kamar alina dengan kedua tangannya menopang belakang kepalanya.


Sekilas melirik ke arah alina, menunggu respon wanita yang juga sedang berbaring di sampingnya saat ini.


"Hmm, akupun berharap seperti itu kak jo, aku ingin baik-baik saja selama bersama mu, dan kita akan menghadapi masalah bersama-sama tanpa ada yang kita tutupi di antara kita." Sahut alina, kata-katanya sedikit menusuk untuk jovan. Karena bagaimanapun jovan lah yang bersalah kemarin karena tidak pernah terbuka dengan istrinya.


Jovan menangguk kali ini sudah menghadap ke arah alina.


"Terima kasih sayang, dan aku minta maaf tidak akan mengulangi kesalahanku lagi. Aku berjanji." Ucap jovan kemudian, lalu menarik alina perlahan ke dalam pelukannya.


Alina hanya menerima perlakuan jovan, karena dia juga sangat merindukan ingin di peluk oleh suami tercintanya itu.


"Aku mencintai kak jovan." Suara alina dan semakin mengeratkan pelukannya pada jovan.


Alina tidur bersandar di dada bidang suaminya.


"Aku juga sangat-sangat mencintaimu sayang. Berjanjilah untuk tetap bersamaku sampai maut memisahkan kita." Ujar jovan memberi kecupan-kecupan lembut pada wajah sang istri.


Alina mengangguk tersenyum menanggapi setiap perkataan suaminya.


Keduanyapun tertidur menjelajahi dunia mimpi dengan posisi saling berpelukan.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2