
Waktu sore sudah berganti malam, saat ini aby sudah berada di halaman rumah shanum ia baru saja sampai dan terlihat sedang memarkirkan mobilnya.
Seorang penjaga terlihat sedang menyambut aby.
"Selamat datang pak aby." Ucap seorang satpam tersebut.
Aby mengangguk sopan.
"Apa shanum ada di rumah?" Tanya aby.
"Non shanum sepulang dari pemakaman orang tuanya sepertinya belum keluar rumah sejak tadi, barangkali masih ada di dalam pak." Jawan satpam tersebut.
Aby terlihat manggut-manggut, dia melihat keadaan rumah sangat terlihat sepi.
Aby mencoba mengetuk pintunya, dan tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membuka pintu ruang tamu.
"Nak aby?" Ucap wanita paruh bayah tersebut, dia adalah tante rita saudara dari ayahnya shanum.
"Tante." Sahut aby, tangannya terulur untuk bersalaman dengan tante rita.
"Ayo masuk." Kata tante rita mempersilahkan aby.
Aby pun masuk ke rumah yang terlihat mewah itu.
"Maaf tante saya baru pulang dari tugas luar kota, saya tidak mengetahui kejadian yang menimpah dady dan mami, selama seminggu saya sedang ada urusan di luar kota, dan shanum tidak memberitahu perihal yang terjadi pada dady dan mami." Ucap aby panjang lebar, berharap tante rita bisa mengerti keadaannya karena tidak dapat melihat dan mengantarkan mertuanya ke peristirahatan terakhirnya.
"Tante mengerti nak." Sahut tante rita.
"Apa saya bisa menemui shanum tante?" Pinta aby.
Tante rita mengangguk mengiyakan permintaan aby. Karena memang tante rita tidak mengetahui permasalahan rumah tangga antara shanum dan aby. Dia mengira rumah tangga keponakannya selama ini baik-baik saja. Dia juga memaklumi jika aby sangat sibuk dengan pekerjaannya dan shanum tidak sempat memberitahu pada suaminya apa yang sedang terjadi dengan darman dan jesi orang tua shanum.
__ADS_1
"Sebaiknya segera temui shanum karena sejak tadi dia tidak pernah keluar kamar sepulang dari pemakaman dady dan maminya, tante sudah membujuknya untuk makan malam tapi dia selalu menolak." Ujar tante rita.
Aby mengangguk, dan beranjak untuk segera menemui shanum.
Sesampainya di depan kamar aby, ada rasa ragu pada diri aby untuk bisa menemui shanum. Lama aby berdiri di depan kamar shanum dengan ragu tangannya terangkat untuk menyentuh pegangan pintu.
Sedikit memberanikan diri aby pun segera membuka kamarnya, setelah pintu kamar shanum terbuka, mata aby langsung tertuju di tempat tidur milik shanum, di sana ia melihat shanum yang masih menggunakan mukenanya sedang duduk bersandar di tempat tidurnya dengan memegang sebuah figura. Aby menduga jika shanum sedang memandang figura kedua orang tuanya, karena terlihat shanum masih menangis di sana.
Shanum belum menyadari akan kehadiran aby, karena shanum sedikit melamun seskali ia mengusap air mata di pipinya.
Perlahan aby mendekati shanum di tempat tidurnya. Hingga shanum menyadari ada yang datang, shanum menoleh ke arah suara langkah kaki tersebut, ia sedikit terkejut dengan kehadiran aby. Namun raut wajah shanum tidak menampilkan ekspresi apapun, ia cepat-cepat menghapus air matanya yang sejak tadi terus mengalir.
"Shanum." Gumam aby, namun shanum masih bisa mendengarnya.
Aby melihat keadaan shanum yang begitu sangat terpuruk saat ini. Aby paham pasti shanum begitu sangat kehilangan karena kepergian kedua orang tuanya sekali gus.
"Ada apa kak aby?" Tanya shanum melihat aby mendekatinya dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang tepat di samping shanum saat ini.
Shanum tidak merespon perkataan aby, air mata semakin memenuhi kedua pipinya. Shanum berfikir aby hanya basa basi, aby tidak pernah perduli terhadapnya apalagi terhadap keluarganya.
Aby ingin sekali merengkuh tubuh shanum kedalam dekapannya, ingin membuat shanum sedikit tenang, tapi aby tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu. Karena selama ini aby tidak pernah perduli terhadap shanum.
Shanum sesekali terus mengusap air matanya yang terus saja keluar tanpa bisa ia bendung.
"Tidak perlu meminta maaf kak, shanum mengerti posisi shanum di kehidupan kak aby selama ini, kak aby memang tidak pernah mau mengetahui semua hal tentang shanum apalagi keluarga shanum selama ini."
"Aku paham dengan posisiku, sebagai istri yang tidak pernah di anggap selama setahun pernikahan, dan aku bersyukur jika apa yang terjadi selama ini tidak pernah di ketahui oleh kedua orang tuaku, sehingga dady dan mami tidak merasa menyesal atas apa yang terjadi pada putrinya selama ini. Dady dan mami tidak pergi dengan rasa penyesalan aku bersyukur tidak pernah menceritakannya pada mereka."
"Sekarang mereka sudah tidak ada di dunia ini, aku ingin terbebas dari pernikahan yang tidak semestinya di jalani seperti ini kak."
Shanum menjeda sejenak kata katanya, dadanya serasa sesak mengungkapkan semua apa yang selama ini ia pendam. shanum berkata dengan lirih terdengar sesegukan karena tangisnya.
__ADS_1
Sementara aby hanya diam mendengar setiap perkataan shanum dan aby merasa sangat tertampar dengan perkataan shanum yang memang benar adanya, karena selama ini aby tidak pernah menganggapnya ada sebagai istri, bahkan shanum sudah berusaha keras untuk menunjukkan bagaimana istri yang baik. Namun hati aby tetap seperti batu dan tidak pernah menghargai setiap usaha shanum selama ini.
"Selama ini shanum selalu berdo'a di setiap sujud shanum agar hati suamiku bisa terbuka untuk menerima keberadaanku, tapi Allah memang belum mengabulkannya dan mungkin tidak akan pernah terkabulkan."
"Padahal aku hanya ingin menjadi istri yang baik dan ingin mendapatkan ridho Allah dengan melalui seseorang yang sudah menjadi suamiku ingin berbakti kepada seorang suami, tapi setiap usaha yang sudah shanum lakukan tidak pernah bisa di hargai, jangankan kamu menghargai usahaku kak menganggapku sebagai istri saja tidak sedikitpun." Ujar shanum yang semakin terisak dengan semua ungkapan hatinya yang ia pendam selama ini.
"Dari pada kita menghabiskan waktu dengan menjalani pernikahan seperti ini, sebaiknya kita akhiri saja kak. Aku berfikir kita tidak mungkin menghabiskan waktu seperti ini kan kak?"
"Mari kita bercerai kak aby, bukan kah itu lebih baik untuk kita. Kita bisa berpisah dengan cara baik-baik dan kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing." Ujar shanum memberanikan diri mengungkapkan semuanya.
Serasa di hantam sebuah batu besar aby melongoh mendengar setiap perkataan shanum. Perasaan aby saat ini sangat kalut, mendengar ucapan shanum yang ingin meminta berpisah seperti ada yang hilang dari diri aby, meski shanum meminta berpisah dengan cara baik-baik.
"Jika kak aby ingin, kamu bisa menjatuhkan talak untuk shanum sekarang juga kak." Ucap shanum lagi dengan sangat menguatkan dirinya, yang sebenarnya hati shanum begitu hancur mengatakan semuanya pada aby.
Karena shanum berfikir aby tidak mungkin bisa menerimanya, jika aby ingin maka sudah dari dulu dia menerima keberadaan shanum tapi nyatanya tidak ada perubahan pada sikap aby selama setahun lebih pernikahannya.
"Shanum, jangan berkata seperti itu, aku minta maaf aku...." Ucapan aby terpotong karena ucapan yang keluar dari mulut shanum.
"Aku sudah memaafkan kak aby, akan lebih baik kita bercerai saja kak." Ucap shanum dengan yakin sangat menginginkan perceraian dari aby.
"Mungkin kebahagiaan kak aby tidak bersama shanum, mungkin saja ada wanita lain yang lebih baik dari shanum hingga kak aby menutup hati untuk shanum selama ini." Shanum berkata dengan isak tangisnya.
Aby yang mendengar itu merasa terpukul ia merasa sangat bersalah pada wanita yang selama ini sudah berbakti kepadanya, namun tidak pernah dia menghargainya. Hati aby sangat teriris mendengar ucapan shanum kali ini. Ia menyadari kesalahannya yang telah menyia nyiakan shanum.
Tidak terasa cairan bening mengalir di sudut mata aby, mengingat akan semua kesalahannya pada wanita yang ada di hadapannya ini.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...