
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun aby belum juga menampakkan dirinya akan pulang ke rumah.
Sementara shanum baru saja selesai menata beberapa masakan yang telah ia masak tadi dan kini tengah menunggu kepulangan suaminya, shanum sangat berharap semoga kali ini aby mau memakan masakannya. Semoga ada perubahan sikap aby kepadanya menjadi lebih baik, shanum selalu berharap akan hal itu.
Shanum dengan setia menunggu kepulangan aby, sementara ia menutup makanan yang sudah di sajikan di atas meja makan. Ia beranjak dari duduknya dan berpindah ke ruang tamu untuk menunggu kepulangan suaminya.
Shanum mendudukkan dirinya di atas sofa empuk di ruang tamu rumah milik aby, sejenak ia mengistirahatkan tubuhnya karena merasa lelah seharian sudah membersihkan rumah sebesar ini sendirian.
Aby benar-benar tidak menyewa seorang pembantu rumah tangga di rumahnya selama ia tinggal di sini. Tetapi shanum tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena ia masih sanggup untuk melakukannya sendiri. Biarlah, hitung-hitung shanum telah melakukan tugasnya sebagai seorang istri untuk suaminya. Mungkin saja secara perlahan aby akan membuka hati untuknya suatu saat. Pikir shanum, ia sangat begitu berharap perikahan ini akan baik-baik saja hingga akhir hayat.
Tiga puluh menit
Satu jam
Dua jam
Tiga jam
Shanum masih setia menunggu meski waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Kok kak aby belum pulang ya, apa mungkin pekerjaannya di kantor masih sangat banyak, hingga membuatnya lembur?
Shanum menghela nafas panjang, selalu saja seperti ini setiap hari aby pergi bekerja pagi dan akan pulang larut malam.
Lagi-lagi shanum mengeluh, dan sangat ia sayangnya jika makanan yang telah ia masak akan berakhir di bak sampah. Namun ia masih berharap aby akan pulang secepatnya dan langsung memakan makan malamnya.
Tak lama terdengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya, sekilas bibir shanum melengkung menampilkan senyum cantiknya.
Segera shanum beranjak dari sofa untuk melihat di jendela dan benar saja itu mobil aby suaminya sudah pulang, shanum dengan segera membuka pintu rumahnya dan menyambut kedatang aby.
Terlihat aby menuruni mobilnya, sangat terlihat raut wajah lelah di sana.
Pasti kak aby capek banget ya.
Gumam shanum dalam hatinya.
Perlahan aby melangkah masuk ke dalam rumah, pandangannya langsung tertuju pada shanum yang berdiri di depan pintu sudah menunggu kedatangan dirinya, selalu saja seperti itu meski dia pulang larut malam.
__ADS_1
Shanum menampilkan senyumnya mengulurkan tangannya pada aby yang kini sudah berada di hadapannya. Namun gerakan shanum hanya sia-sia karena aby sama sekali tidak merespon tindakan istrinya itu, ia langsung melenggang memasuki rumahnya tanpa melihat keberadaan shanum.
Lagi-lagi hari ini pengharapan shanum kembali sia-sia. Shanum mengikuti langkah aby masuk ke dalam rumah setelah itu ia segera mengunci pintu ruang.
"Apa mau aku siapkan air hangat untuk mandi?" Ucap shanum.
"Tidak perlu." Sahutnya datar, tetap melangkah menuju lantai dua.
"Kak aby sudah makan malam? jika belum, shanum hangatkan makanannya. Shanum udah masak buat makan malam kita." Suara shanum mengehentikan langkah aby.
Aby yang terus melangkahkan kakinya, kini terhenti karena suara shanum yang menyuruhnya untuk makan malam.
Aby berbalik ke arah shanum dan lagi-lagi ia menatap tajam wanita yang menurutnya keras kepala ini.
"Jangan tanyakan perihal makan malam jika sudah jam segini, sudah pasti aku telah menikmati makan malamku di luar sana." Ucap aby lugas tanpa beban, tatapan tajamnya masih tertuju pada shanum.
Shanum menunduk menghindari tatapan yang sangat membuatnya takut. Shanum sangat takut jika aby akan berlaku kasar terhadapnya, shanum takut aby akan melakukan hal kasar pada fisiknya. Tapi syukurnya selama ini aby tidak pernah melakukan hal kasar pada fisiknya, hanya saja aby selalu menyakiti hatinya dengan perkataan kasarnya setiap hari yang selalu ia lontarkan untuk dirinya.
Setelah menolak shanum yang telah mengajaknya makan malam, aby kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Ia sudah ingin mengistirahatkan tubuhnya yang sudah begitu lelah hari ini melakukan pekerjaan.
Shanum hanya menatap kepergian aby yang masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu ia kembali menuju ruang makan.
Maaf ya allah shanum sudah berlaku mubazir lagi.
Setelah membersihkan makanan yang tersisa, shanum mencuci bekas piring yang ia gunakan tadi.
Setelah dapur bersih barulah shanum pergi ke lantai atas menuju kamarnya.
Shanum terduduk di atas tempat tidurnya menatap setiap sisi kamar yang selama ini ia tempati, kali ini fikiran shanum begitu kalut memikirkan rumah tangganya yang sama sekali tidak ada perubahan, sudah satu tahun lamanya ia menunggu perubahan sikap suaminya namun tidak juga ada perubahan.
Terkadang shanum berfikir jika ia ingin mengakhiri hubungan rumah tangga yang tidak ada cinta di dalamnya, tapi lagi-lagi ia memikirkan hati yang mungkin akan bersedih dan kecewa jika mereka tau rumah tangganya tidak baik-baik saja.
Ya allah, apa yang harus aku lakukan rasanya aku lelah dengan semua ini.
Lama shanum berperang dengan fikirannya, kemudian membaringkan diri di tempat tidur dan tidak lama akhirnya terlelap dengan fikiran yang setiap malam bahkan tidak ada ketengan.
***
__ADS_1
Ke esokan harinya ketika selesai mengerjakan sholat subuh shanum langsung ke dapur untuk memasak sarapan.
Seperti biasa ia akan memasak sarapan untuk dirinya dan juga aby.
Hari ini shanum ada kelas mengajar di kampus, hingga membuat shanum harus bersiap lebih pagi.
Bergelut selama 30 menit di dapur akhirnya shanum selesai melaksanakan tugas memasaknya. Setelah itu dia beranjak menuju kamar untuk membersihkan diri lalu bersiap.
Tak lama setelah itu shanum telah siap dengan gamis rapi dan hijab syar'inya.
Dengan langkah berat shanum menghampiri pintu kamar aby, berniat untuk memanggil sang suami untuk sarapan bersama.
Namun baru shanum akan mengetuk pintu kamar milik aby, terlihat aby sudah keluar lebih dulu membuka pintu kamarnya.
"Kak aby sebaiknya sara..."
Aby langsung memotong ucapan shanum.
"Aku sarapan di kantor." Tukas aby kemudian langsung pergi meninggalkan shanum yang masih berdiri di depan kamarnya.
Aby dengan segera melangkahkan kakinya dengan langkah panjang menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.
Sementara shanum setelah mendengar sahutan aby langsung menuju dapur dia mengambil kotak makan untuk di isinya, shanum berniat memberikannya untuk aby.
Setelah menyiapkannya dengan terburu-buru shanum langsung menyusul aby yang sudah terlihat akan menaiki mobilnya.
"Kak, sarapan di kantor sebaiknya kak aby bawa ini saja." Ucap shanum seraya menyodorkan kotak makanan yang ada di tangannya.
Lama shanum memegang kotak nasi tersebut namun aby tidak sama sekali ingin mengambilnya.
"Kamu mau ke kampus bukan, kamu saja yang bawa bekalnya. Aku tidak mungkin memakan masakanmu di kantor." Sarkas aby kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah tanpa mengambil kotak nasi yang sudah di siapkan oleh shanum.
Dengan raut wajah kecewa shanum kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil aby sudah tidak terlihat lagi, dirinya juga harus bersiap untuk ke kampus.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...