Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 53


__ADS_3

Kini jovan menatap pada alina ingin menjelaskan sesuatu yang mungkin akan membuat sang istri kecewa karena ia belum bisa membiarkan alina untuk hamil.


Karena saran dari dokter kandungan jika kandungan alina belum cukup pulih sepenuhnya akibat benturan keras yang di alami dulu, belum lagi setelah melakukan operasi karena terjadi fraktur tulang belakang, jadi dokter menyarankan untuk tidak boleh mengandung dulu.


Jovan menarik nafas dalam, kini menatap alina yang sedang berbaring di sampingnya. Sementara alina masih setia menunggu respon jovan.


"Sayang, bukannya aku belum bisa memenuhi keinginanmu untuk kembali mengandung, tapi ada alasan yang membuatmu belum bisa mengandung anak kita." Ucap jovan dengan hati-hati takut alina akan merasa terpuruk.


Alina semakin di buat terkejut dengan jawaban yang di berikan oleh suaminya.


"Apa maksud mu kak, apa kamu tidak ingin aku mengandung anak kita?" Tanya alina penuh rasa curiga.


"Atau kamu sudah memiliki anak dari wanita lain?" Perkataan alina yang ini berhasil membuat jovan seketika menegang di tempatnya, tidak menyangka alina akan berkata seperti ini pada suaminya sendiri.


Entah pemikiran dari mana alina bisa menudu suaminya berbuat seperti itu, itu artinya alina tidak mempercayai jovan selama ini.


Jovan langsung terduduk, menatap tidak percaya ke arah istrinya itu, ada rasa sesak dan membuat nafas jovan memburuh mendengar ucapan alina baru saja.


"Apa kamu menuduhku alina?" Ucap jovan nadanya terdengar marah.


Alina pun ikut terduduk membalas tatapan tajam jovan.


"Lantas mengapa kak jo melarangku untuk hamil? apa ada yang salah dengan diriku, apa aku tidak cocok menagndung anakmu?" Suara alina sudah terdengar serak menahan tangisnya.


"Tidak, bukan seperti itu alina. Kamu salah paham dengan perkataanku tadi. Aku tidak melarangmu mengandung anak kita, aku hanya memintamu untuk menundanya sementara waktu sampai kondisimu benar-benar pulih. Maaf aku belum memberitahumu jika dokter vina pernah berpesan kalau kamu harus menunggu kondisi rahimmu benar-benar pulih baru bisa kembali mengandung." Jelas jovan berharap alina paham dengan perkataannya kali ini.


"Kalau kamu tidak percaya, kita bisa membuat janji dengan dokter vina untuk meminta menjelaskannya kembali padamu." Kata jovan kembali meyakinkan alina.


Alina sudah menangis, mendengar penjelasan jovan jika dirinya belum di perbolehkan hamil kembali membuatnya semakin bersedih.


Padahal dirinya sudah ingin sekali mengandung anaknya kembali, anaknya bersama jovan. Bukan anank jovan dari wanita lain.


Melihat alina menangis jovan mendekat pada istrinya lalu memeluknya.


"Kita harus bersabar, aku bisa menunggunya alina sampai kapanpun dan sampai kamu benar-benar di katakan pulih dan siap untuk mengandung kembali anak kita, jangan menuduhku yang tidak-tidak seperti yang kamu katakan itu." Lirih jovan, dengan meyakinkan istrinya bahwa dia bisa bersabar menantikan kehadiran buah hati di dalam rumah tangga mereka.


Alina hanya diam, membiarkan tindakan jovan yang tengah memeluknya, dia ingin sekali menanyakan perihal yang di dengar ketika jovan berbicara dengan wanita bernama erika itu, namun entah kenapa mulut alina terasa berat sekali untuk menanyakannya.


Alina berfikir akan mencari taunya sendiri. Dan membuktikan jika jovan benar-benar tidak menghianatinya.

__ADS_1


"Tidurlah ini sudah malam, jangan berfikir yang tidak-tidak." Kata jovan seraya melepas pelukannya bersama alina.


Jovan sebagai dokter selalu memperhatikan jadwal menstruasi alina hinggah dia bisa mengetahui masa subur alina dan mencegah akan terjadinya kehamilan pada alina ketika akan berhubungan pada istrinya itu.


Meski kesedihan masih menguasai hatinya namun alina berusaha untuk menerima kenyataan jika dirinya belum di perbolehkan untuk hamil.


"Apa kak jo mau menerimaku apa adanya jika diriku belum kunjung hamil?" Tanya alina membuat jovan tiba-tiba terkejut dengan pertanyaan sang istri.


"Apa yang kamu katakan alina. Bahkan jika kamu di takdirkan untuk tidak bisa mengandungpun aku tetap akan mencintaimu apa adanya dan tidak pernah ada yang bisa menggantikanmu, akan ku pastikan itu." Ujar jovan sedikit tidak terima jika alina merendahkan dirinya yang seperti tidak yakin jika dirinya masih bisa menjadi seorang ibu.


Ada rasa sedikit rasa lega mendengar perkataan jovan baru saja.


"Jangan selalu berfikir yang tidak-tidak, itu akan membuatmu menjadi stres. Cepatlah tidur." Kata jovan lagi.


Alina mengangguk menuruti, kemudian dia membaringkan dirinya meski pikirannya masih di penuhi dengan berbagai macam pertanyaan tentang pembicaraan sang suami bersama wanita yang bernama erika itu.


****


Hari berganti hari begitu cepat berlalu tidak terasa sudah tiga bulan berlalu sejak alina mendengar perkataan jovan dengan erika waktu itu.


Alina tidak lagi ingin membahas itu dia mencoba berusaha percaya pada jovan, namun kali ini ia merasakan sikap jovan sedikit berubah dan jadwal pulang dari rumah sakit pun selalu terlambat, sudah satu bulan belakangan ini jovan selalu pulang malam, entah apa yang di lakukannya di luar sana. Membuat alina selalu berfikir yang tidak-tidak.


Hingga tibalah hari ini dimana alina mengikuti jovan yang tiba-tiba pagi ini masih pukul 06.00 pagi jovan pamit untuk pergi bekerja dengan buru-buru memakai baju yang bahkan alina belum menyiapkan apa-apa, jovan juga tidak sarapan di rumah karena alina belum selesai memasak sarapan.


Setelah mengambil tasnya dan alina sudah keluar dari halaman rumahnya kebetulan ada taksi lewat alina langsung saja menghentikannya menyuruh seorang driver taksi tersebut untuk mengendarai kendaraannya dengan cepat, untung saja bisa mendapati mobil suaminya yang kebetulan sedang berhenti saat lampu merah.


"Pak tolong ikuti mobil putih itu." Kata alina menyuruh supir taksi itu.


"Baik buk."


Terlihat lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau yang artinya mobil jovan sudah mulai bergerak untuk melanjutkan perjalanannya, alina melihat dengan jelas jika suaminya sedang terburu-buru terlihat dari caranya megendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Supir taksi itu pun mengikuti mobil jovan sesuai perintah alina tadi.


Tak lama setelah itu alina melihat mobil jovan perlahan berhenti di sebuah rumah minimalis, entahlah itu rumah milik siapa. Kenapa suaminya mendatangi rumah orang sepagi ini dan apa tujuannya?


Alina menyuruh supir taksi itu untuk berhenti tidak jauh dari mobil jovan.


Berbagai macam pertanyaan yang muncul di pikiran alina.

__ADS_1


Alina melihat jovan sedang memasuki rumah tersebut tanpa ada yang membukanya, sepertinya jovan sudah biasa memasuki rumah itu.


Satu menit.


Dua menit.


Tidak terasa sepuluh menit sudah berlalu, tiba-tiba pandangan tidak menyenangkan alina saksikan, Alina merasakan hatinya hancur jutaan keping, suaminya yang begitu ia percayai dan cintai dengan sepenuh jiwa dan raganya pagi ini telah menuntun seorang perempuan yang tengah hamil terlihat sekali perut perempuan itu sedikit membuncit. Sepertinya perempuan itu sedang tidak baik-baik saja sangat terlihat dari raut wajahnya sedang meringis kesakitan.


Satu minggu ini alina selalu mendapati gelagat aneh jovan yang selalu pulang terlambat bahkan sering pergi sangat pagi dengan alasan untuk bekerja.


Hinga hari ini alina memberanikan dirinya untuk mengikuti sang suami karena sudah tidak tahan lagi melihat tingkah jovan yang berubah padanya. Alina merasa jovan sudah membohonginya.


Ada yang bilang, firasat seorang istri tidak pernah meleset, dan ternyata semua itu memang benar. Alina sudah menyaksikannya sendiri pagi ini.


Sejak awal mengikuti arah mobil sang suami, hati alina sudah mulai tidak menentu saat mengetahui jalan yang di lewati jovan bukanlah jalan ke arah rumah sakit kota tempat jovan bekerja.


Tapi hatinya masih berusaha untuk menepis segala fikiran negatif yang selama ini berputar di kepalanya.


Hingga membuat alina benar-benar semakin di kuasa fikiran negatif, dan ternyata benar jovan tengah mendatangi sebuah rumah minimalis, entah siapa pemiliknya.


Alina ingin sekali turun menghampiri jovan dan ingin mengetahui apa yang di lakukan jovan di dalam sana, hingga menit kemudian seketika membuat alina terkejut bukan main.


Di lihatnya wanita itu sudah masuk ke dalam mobil milik jovan, kemudian jovan kembali mengendarai mobilnya perlahan.


Tidak ingin kepergok, alina dengan cepat menyuruh supir taksi itu untuk segera menjalankan mobilnya menghindari mobil jovan.


Setelah ia rasa aman barulah alina menyuruh kembali supir taksi tersebut untuk mengikutinya lagi.


Alina dengan hati yang hancur, menangis terisak didalam taksi tanpa memperdulikan sang driver di depan sedang menatapnya heran.


Beberapa puluh menit kemudian alina melihat mobil jovan sedang berhenti di sebuah rumah sakit terbesar di kota itu, bukan rumah sakit tempat jovan bekerja.


Ada apa sebenarnya, kenapa jovan tidak membawanya ke rumah sakit tempatnya bekerja saja?


Memikirkannya semakin membuat alina merasa sesak di dada. Alina tidak sanggup lagi melihat tingkah suaminya kali ini, hingga ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya saja tanpa menyaksikan lebih lanjut perlakuan jovan terhadap wanita itu.


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2