Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 59


__ADS_3

Semua yang mendengar penjelasan erika terperanga dan terkejut bukan main, termasuk alina. Bagaimana tidak syok dia sudah terlanjur menandatangani surat perceraiannya itu bahkan dia tidak memberi jovan kesempatan sama sekali, apakah alina di katakan bersalah di sini? dan apakah alina akan menyesal seumur hidupnya sudah tidak mempercayai suaminya sendiri.


Jovan yang tidak lagi memperdulikan apa pun, dia melenggang pergi begitu saja, putus sudah harapannya setelah alina dengan yakin membubuhi tanda tangan di surat cerai itu. Iya jovan mengaku memang bersalah karena sudah bertindak tanpa memberitahu alina terlebih dulu, bisa di bilang sudah melewati batasan di hukum agama.


Tapi jovan melakukan semua itu demi ke utuhan rumah tangganya dia berusaha menyembunyikan semuanya, jovan berfikir jika alina tidak perlu mengetahuinya sebab ia akan menangani masalah sahabatnya sendiri tanpa melibatkan dan membuat alina ikut pusing dengan masalah temannya sendiri.


Jovan berfikir seperti itu, namun siapa sangkah malah musibah besar yang menimpah rumah tangganya sendiri, bahkan mengakibatkan perceraian meskipun belum sepenuhnya pengadilan memutuskan, tetapi masalah rumah tangga jovan sudah sampai ke tahap sejauh ini.


Sementara erika setelah menjelaskan dengan detail dia pun ijin segera pamit untuk pulang karena ingin kembali ke rumah sakit menemani suaminya yang kondisinya belum sepenuhnya stabil.


Dan alina sketika terduduk lemas di lantai ruang tamu, cairan bening sudah memenuhi pipi mulusnya saat ini, menangis tersendu merenungi nasib rumah tangganya sudah di ambang perceraian.


"Alina sayang, ayo bangun. Kita akan memperbaiki semuanya." Ujar bunda berusaha memberi kekuatan pada putri cantik kesayangannya itu.


"Bunda, apa kali ini alina yang bersalah?" Isak tangis alina terdengar sangat memiluhkan.


Dia bersalah pada jovan, bersalah pada laki-laki yang sudah sangat ia cintai itu.


Bunda rumi menggeleng cepat tidak membenarkan alina menyalahkan dirinya, karena bagaiamanapun tidak ada yang perluh di salahkan. Semuanya hanya sekedar salah paham dan masih bisa di perbaiki.


Aby yang sejak tadi termenung di tempatnya memikirkan kebenaran yang sudah membuatnya salah paham, hingga mengakibatkan rumah tangga adiknya sendiri berada di ambang perceraian.


"Tidak, kamu sama sekali tidak bersalah." Ucap bunda rumi menenangkan sang putri.


"Kita akan memperbaiki kesalah pahaman ini." Ujar ayah hendra.


Bunda rumi hanya mengangguk.


"Alin mau ke kamar." Ucap alina meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, tangis alina seketika pecah, lagi-lagi ia memikirkan kesalah pahaman yang terjadi pada rumah tangganya.


"Bagaimana aku bisa meminta maaf pada kak jo. Apa dia mau memaafkan ku?" Gumam alina.


Alina menangis sepanjang hari hingga dia tertidur, dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 waktu sudah hampir magrib.


"Alina." Panggil bunda seraya mengetuk pintu kamar alina dari luar.


Tidak ada jawaban dan bunda rumi memasuki kamar alina yang tidak di kuncinya. Di lihatnya alina yang masih tertidur pulas dan raut wajahnya begitu terlihat sembab akibat seharian ini menangis.


"Alin, bangun nak sudah waktunya sholat magrib." Panggil bunda rumi dengan sedikit mengguncang pundak alina agar terbangun.


Alina merasa ada yang menyentuh dan manggilnya perlahan ia pun membuka matanya.


"Bunda?" Lirih alina masih dengan suara lemah.


"Ayo bersihkan dirimu sebentar lagi sudah waktunya maghrib." Kata bunda rumi.

__ADS_1


Alina hanya mengangguk dan segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi, Seharian memangis membuatnya sedikit kelelahan. Alina kali ini berfikir dia akan berusaha tegar menerima semua ini, dia tidak boleh menjadi wanita lemah.


Alina berfikir dia akan berusaha mperbaiki hubungannya bersama jovan.


Usai membersihkan diri dan melaksanakan sholat maghrib alina turun ke bawa untuk makan malam karena sudah di panggil oleh bundanya.


Ayah hendra, bunda rumi dan juga alina menikmati makan malam mereka, tidak ada yang berbicara satupun.


"Ayah, besok alina akan mulai berkuliah seperti biasa." Tiba-tiba alina memecahkan keheningan mengutarakan niatnya.


"Kamu yakin? apa kamu sudah baik-baik saja nak?" Tanya ayah hendra meyakinkan anaknya.


Alina hanya mengangguk, berusaha tegar di depan orang tuanya.


"Baiklah." Ucap ayah hendra memberi ijin pada alina.


Ketiganya sudah menyelesaikan makan malamnya, ayah hendra dan bunda rumi terlihat beranjak menuju ruang keluarga sembari menonton televisi, sementara alina langsung menuju ke kamarnya.


Termenung sendiri di kamar kembali memikirkan jovan yang kini masih berstatus sebagai suaminya, entahlah apakah jovan masih menerimanya sebagai istrinya. atau jovan sudah menandatangani surat cerai itu. Dan jika sudah itu artinya alina tinggal menunggu panggilan dari pengadilan.


Memikirkan semuanya membuat alina di landa kesedihan, ia kembali merasa bersalah karena tidak mempercayai suaminya sejak awal.


Ya allah apa yang harus alina lakukan.


Alina kembali bergumam dalam hati. Tidak terasa waktu isya sudah tiba, alina melaksanakan sholat isya, usai menjalankan ibadahnya alina memutuskan untuk tidur karena besok alina akan berkuliah memulai kembali hariannya seperti biasa. Dan juga alina ingin melihat keadaan butiknya yang sudah lama terabaikan.


Sementara di kediaman keluarga jovan, malam ini jovan kembali di landa kekalutan entah bagaimana nasib rumah tangganya saat ini yang berada di ambang kehancuran.


Jovan berusaha memejamkan matanya berharap esok hari akan menemukan jalan keluarnya, berharap semuanya akan kembali baik-baik saja.


Jovan memikirkan semuanya hingga dirinya tertidur pulas.


Tidak terasa hari sudah menjelang waktu subuh jovan terbangun dari tidurnya dan segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus mengambil air wudhu dan segera melaksanakan sholat subuhnya.


Usai melaksanakan ibadahnya jovan kembali duduk di tepi ranjang masih menggunakan pakaian kokoh serta sarung, dia kembali termenung memikirkan alina, sekilas jovan kembali melirik surat cerai yang ia letakkan di nakas samping tempat tidurnya sejak kemarin pulang dari rumah mertuanya.


Surat cerai yang belum ia bubuhi tanda tangan miliknya, rasanya sangat berat untuk melakukannya. Kembali ia melihat tanda tangan alina yang sudah tercoret rapi di atas nama alina, jovan merasa hatinya kembali sakit mengingat alina dengan mudahnya memberikan tanda tangan pada surat cerai itu. Surat yang sangat ia benci.


Bukankan perceraian sangat di benci oleh allah, lalu kenapa alina dengan mudahnya melakukan semuanya tanpa mau mencari kebenarannya.


Alina


Jovan menggumamkan nama wanita yang sangat ia rindukan itu. Wanita yang masih berstatus sebagai istrinya.


Jovan kembali berfikir apakah ia harus melakukan tanda tangan juga? apakah ia harus menuruti keinginan keluarga alina yang meminta bercerai darinya?


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi terdengar suara ketukan pintu dari luar segera jovan membukanya.

__ADS_1


"Jo, apa kamu akan bekerja hari ini? biar mama siapkan keperluanmu." Kata mama intan.


Mama intan sudah mengetahui semuanya, sudah mengetahui bahwa alina telah menggungat cerai putranya jadi kemungkinan kecil sedikit sekali harapan untuk alina kembali ke sisi jovan putranya.


Jovan hanya mengangguk samar, ia akan kembali bekerja hari ini.


"Jo akan kembali bekerja mah." Kata jovan.


Mama intan memasuki kamar putranya untuk menyiapkan pakaian jovan.


"Terima kasih ma." Ucap jovan setelah mama intan selesai menyiapkan semunya.


Mama intan kemudian beranjak dari kamar jovan ingin segera menyiapkan sarapan untuk putra dan juga suaminya.


"Mama." Panggil jovan seketika menghentikan langkah intan yang sudah berada di pintu kamar jovna.


Mama intan berbalik, menatap kembali ke arah jovan.


"Ada apa jo?" Tanya mama intan.


Hening, jovan terdiam seperti mengumpulkan keyakinan bahwa apa yang akan ia tanyakan kali ini benar atau tidak.


"Jo?" Kembali mama intan menyebutkan nama putrnya.


Jovan kini melihat ke arah sang mama.


"Ma, apa jo harus menuruti permintaan keluarga alina? meski kebenarannya sudah ia ketahui?" Tanya jovan pada intan, meminta pendapat yang akan ia putuskan.


Mama intan menarik nafas dalam, yang sebenarnya tidak mendukung jika jovan dan alina bercerai.


"Jo, sebaiknya kamu kembali menemui lagi alina. Dan menanyakan sekali lagi apakah dia benar-benar ingin berpisah darimu? mama berharap kamu dan alina tidak berpisah dan kalian bisa memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi, kita hanya manusia biasa yang penuh dengan ke khilafan nak, mama yakin alina akan memaafkan mu, usahakan jangan sampai ada yang namanya perceraian di keluarga kita. Mama selalu mendo'akan yang terbaik untuk rumah tangga kalian." Ucap mama intan sedikit memberi saran pada sang putra.


"Jujur, jo sangat mencintai alina mah dan jo tidak ingin berpisah." Ucap jovan lirih.


Mama intan mengangguk tangan mengusap lembut pipi putra kesayangannya itu, apa pun yang akan jovan putuskan mama intan hanya bisa mendukungnya selama itu yang terbaik untuk putra semata wayangnya.


"Kalau begitu, bersiaplah. Bukankah kamu akan bekerja?" Kata mama intan.


Jovan mengangguk, setelah kepergian intan jovan kemudian bersiap, terlebih dulu ia membersihkan diri di kamar mandi setelah itu ia memakai baju kerjanya yang telah di siapkan oleh mama intan.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2