Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 24


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, itu artinya seminggu lagi jovan akan benar-benar berangkat meninggalkan istrinya untuk beberapa tahun ke depan. Alina terus saja menangis dan berdiam diri di dalam kamar setelah jovan memberitahukannya dua hari yang lalu.


Jovan semakin tidak tega melihat alina yang sudah dua hari ini hanya diam dan menangis di kamar, sesekali alina mengucapkan dan meminta pada jovan jika dia ingin pulang saja ke rumah orang tuanya.


"Sayang, jangan gini aku jadi nggak tenang pas ninggalin kamu nantinya." Ucap jo pada alin yang sejak tadi menemani alin duduk di tempat tidur bahkan dia sudah dua hari ini tidak pergi bekerja.


Begitu pun juga dengan alina sudah dua hari dia tidak masuk kuliah.


Alina sama sekali tidak membalas setiap ucapan yang keluar dari mulut jovan, alina hanya diam dan menangis.


"Aku mau pulang ke rumah bunda." Ucap alina datar, tidak ada lagi nada suara manjanya seperti biasa.


"ALIN, kamu malah bikin aku pusing, lama-lama aku stress kalau kayak gini hadapin kelakuan kamu yang sama sekali nggak ada dewasanya." Tukas jovan dengan nada suara tinggi yang sudah sangat frustasi melihat tingkah ke kanak kanakan alina.


Jovan memang mudah tersulut emosi, namun itu tidak berlangsung lama. Begitu tersadar dia sudah membentak alina, jovan langsung meminta maaf pada istrinya yang sudah terlihat semakin mengeluarkan air mata.


"Maaf." Lagi-lagi kata maaf keluar dari mulut jovan.


Kini sudah posisi mendekap erat tubuh istrinya.


"Kita bisa lewatin ini semua, kalau aku ada libur aku pasti bakalan pulang buat ketemu kamu. Jangan khwatir, kalau kayak gini aku jadi berat banget mau perginya belum lagi tekanan dari papah, aku pusing lin." Liri jovan terus meminta alin untuk mengijinkannya pergi.


Lelah alina menangis seharian diapun memutuskan untuk tertidur wajah putihnya yang terlihat sembab membuat jovan merasa sangat menyesali keputusannya menuruti papahnya untuk menjalani kuliahnya di luar negeri.


Usai memastikan alina sudah tertidur pulas jovan pergi ke ruang kerjanya untuk melihat hasil penjualan toko obat yang ia rintis bersama indra sahabatnya. Syukurlah tidak terjadi masalah dengan pekerjaannya untuk saat ini, jovan sudah memutuskan untuk mempercayai indra sepenuhnya menjalankan bisnisnya itu dan menyalurkan obat ke beberapa cabang toko obat atau apotek yang ada di beberapa kota.


Jovan lumayan menghasilkan uang dalam jumlah besar dengan bisnisnya ini. Jadi dia bisa sedikit lebih tenang untuk meninggalkan alina dan tidak terlalu memikirkan biaya hidup istrinya serta biaya kuliah alina di tanah air selama dia berada di luar negeri nanti.


Satu jam jovan menghabiskan waktu di ruang kerjanya, kini dia beranjak dari tempatnya dan menuju dapur karena waktu sudah menjelang sore namun dia belum juga mengisi perutnya dengan makan siang tadi. Iya jovan melewati makan siangnya karena ikut khawatir melihat alina yang sudah dua hari ini tidak mau beranjak dari kamarnya, alina hanya mandi serta mengganti baju bahkan sarapannya jovan sampai mebawanya ke dalam kamar dan lagi jovan membujuk alina setengah mati hanya untuk sarapan.


"Bi. Apa tadi bibi siapin makan siang?" Tanya jovan pada bi mariam yang sudah berada di dapur.


"Iya den, mau di hangatkan?"


"Iya bi hangatkan lagi ya, jo udah lapar banget nih ngelewatin makan siang tadi." Kata jovan sudah duduk di meja makan memainkan ponselnya sembari menunggu makanan yang sedang di hangatkan oleh bi mariam.


Usai bi mariam memanaskan semua lauk yang telah ia masak tadi, dia pun menghidangkannya di meja makan.

__ADS_1


"Non alin belum mau keluar kamar ya den?" Tanya bi mariam yang tidak melihat keberadaan alina.


"Biar jo yang antar ke kamar buat alin ntar habis makan." Sahut jovan cepat.


Jovan pun menikmati makan siangnya yang tertunda menjadi sore hari. Setelah itu jovan berniat untuk membawakan alina makan ke dalam kamar.


Jovan meletakkan sebuah nampan yang berisi nasi serta lauk pauk buat alina. Kemudia jovan berniat membangunkan alin untuk makan, jovan berpikir bahwa alina pasti sangat lapar karena sudah melewati makan siangnya, terlebih lagi dia hanya sarapan sedikit tadi pagi.


"Sayang. Ayo bangun kamu pasti lapar yang." Gumam jovan dengan wajahnya mendekat ke arah alina.


Dan pada saat tangan jovan menyekan rambut alina yang terlihat menutupi wajahnya. Jovan begitu sangat terkejut ketika dia merasa suhu tubuh alina sangat panas.


"Alin, kamu demam sayang." Jovan sangat panik mendapati istrinya demam tinggi.


Jovan dengan sigap mengambil stetoskop serta alat pengukur suhu untuk memastikan alina masih dalam keadaan normal tidak lupa jovan mengukur tekanan darah alina.


Dan benar saja suhu alina begitu sangat tinggi 39°c


Alina dehidrasi hingga suhu tubuhnya meningkat karena sejak pagi tadi hanya sedikit meneguk air serta tidak memakan sarapannya dengan benar.


Dengan segera jovan mengambil beberapa perlengkapan infus dan jovan langsung memasangkan cairan infus pada alina.


Jovan duduk di sisi tempat tidur sesekali jovan mengecup seluruh wajah istrinya. Namun belum juga ada respon sama sekali dari alina.


Infus sudah terpasang pada lengan alina.


Lima belas menit jovan berusaha terus membangunkan alina, akhirnya alina mengerjapkan matanya.


"Sayang." Gumam jovan, besyukur alina sudah sadar.


"Kak. Kenapa tangan alin?" Lirih alina dengan suara lemahnya sedikit terkejud melihat punggung tangan sebelah kanannya sudah terpasang selang infus.


"Kamu demam, tadi sampe nggak sadarkan diri. Bikin aku hawatir." Kata jovan kembali memberi kecupan pada kening istrinya.


"Jangan banyak bicara dulu, aku mau bilang ke bibi biar kamu di buatin bubur ayam." Kata jovan lalu beranjak dari kamar menemui bi mariam untuk meminta membuatkan alina bubur ayam.


Tidak menunggu lama bi mariam telah selesai membuatkan bubur ayam untuk alina.

__ADS_1


"Makasih ya bi." Ucao jovan.


"Sama-sama den, non alin kenapa den? sampe di infus begitu." Tanya bi mariam sedikit hawatir melihat majikannya.


"Alin demam bi." Sahut jovan.


Jovan membantu alina untuk duduk, dan ingin menyuapi istrinya.


"Alin bisa sendiri kak." Ucap alin ingin mengambil alih sendok di tangan jovan.


"Jangan bawel, nurut aja." Tukas jovan tetap kekeh ingin menyuapi alina.


Mau tidak mau alina menuruti suaminya yang menyuapi dirinya. Dan alina pun menghabiskan bubur ayam yang telah di buat oleh bi mariam, meski dengan sedikit paksaan dari jovan.


"Udah kak, alina kenyang banget."


"Jangan keras kepala lagi, kamu makannya harus teratur." Tegas jovan pada istrinya.


"Jangan beritahu sama bunda ya kak, alin nggak mau bunda nantinya hawatir." Pinta alina pada jovan.


Jovan mengangguk menanggapi istrinya.


Tak terasa hari sudah malam, setelah jovan melaksanakan sholat isya bersama alina dan juga makan malamnya. Jovan menyuruh alin segera beristirahat lebih pagi, tidak mau menyuruh istrinya terlambat tidur bahkan sampai tidak tidur karena menangis setelah jovan memberitahu alin jika dirinya memutuskan untuk mengikuti arahan papahnya.


"Kak jo." Suara alin yang belum juga tidur menyebut nama suaminya.


Jovan yang sudah berbaring di samping alin melirik ke arah samping tempat istrinya.


"Kenapa sayang, apa ada yang sakit?" Tanya jovan tangannya sudah memegang kening alin.


"Ka jo jangan lupain alina jika sudah di luar negeri nanti, tetap kasih kabar pada alin." Kali ini alin mengingatkan suaminya agar selalu memberinya kabar ketika sudah hidup terpisah, suara alina terdengar lirih, sangat kentara dia menahan tangisnya.


Alina sebisa mungkin untuk mengikhlaskan kepergian suaminya, alina berpikir ini juga demi masa depan suaminya kelak. Jadi dirinya harus ikhlas berjauhan dengan suaminya. Dia sudah berniat pada dirinya akan fokus menjalani hari-harinya dan ingin fokus dengan kuliahnya meski tanpa di dampingi suami.


Ya allah rasanya berat mau ninggalin istriku jika harus kayak gini.


Jovan tidak tega mendengar penuturan alina, dia memutuskan untuk tidak menimpali perkataan alina yang baru saja di ucapkan. Dia lebih memilih untuk memeluk erat tubuh istrinya.

__ADS_1


"Janji ya kak." Kata alin lagi, meminta kepastian pada jovan.


Jovan mengangguk, masih dengan memeluk tubuh mungil istrinya. Tak menunggu lama alina terlelap di dalam pelukan jovan, begitupun juga dengan jovan sudah berada di dunia mimpi. Mereka tertidur dengan posisi saling memeluk.


__ADS_2