Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 7


__ADS_3

Tiga hari setelah kejadian itu keluarga hendra dan panji kini sudah berdamai, karena keputusan terakhir jovan tetap akan menikahi alina. Tidak mau ribut dan orang-orang luar mengetahui kejadian itu.


Sementara alin terus saja menangis di dalam kamar, tidak terima dengan keputusan orang tuanya. Sudah tiga hari ini alin berdiam di kamar dan menangisi nasibnya yang akan menikah secepat itu.


Bunda rumi terus menenangkan putrinya, merasa kasihan pada alin.


"Bunda kenapa percaya dengan omongan bang aby, alin sama sekali tidak melakukan kesalahan." Ucap alin menangis.


Bunda hanya memeluk alin, memberikan ketengan. Sebenarnya bunda ingin membela anak perempuannya itu namun tetap akan kalah pada keputusan sang suami.


"Bunda percaya sama kamu nak, tapi kamu sendiri kan tau kalau ayahmu tetap keras dengan keputusan akhirnya." Ucap rumi lembut sambil mengusap punggung alin.


"Alin nggak mau menikah. Alin sama sekali belum siap untuk menikah mah." Kata alin masih dengan isak tangisnya.


Rumi hanya diam tidak menanggapi perkataan putrinya karena tetap tidak bisa berbuat apa pun.


Rumah alin pun sudah di hias sedemikian rapi dengan hiasan bunga-bunga yang membuatnya semakin terlihat indah. Semua atas perintah keluarga jovan terutama intan.


Karena pernikahan akan di adakan besok, tidak banyak tamu undangan yang di libatkan hanya kerabat dekat serta tetangga saja.


Terlebih lagi jo meminta privasi, tidak mau mempublikasikan pernikahannya yang mendadak ini.


Sementara di rumah jovan, intan sedang sibuk mengurus persiapan pernikahan anaknya, semua itu atas perintah panji suaminya yang tidak bisa di bantah lagi.


Jovan sama sekali tidak menampakkan diri kecuali pada saat jam makan, baru dia akan keluar kamar. Niat awal panji sebenarnya hari ini jovan sudah masuk bekerja di rumah sakit yang sama dengan dirinya, tapi karena kejadian yang sedang menimpahnya jadi panji mengulur waktu agar jovan fokus dengan pernikahan yang akan di adankan esok hari.


Jovan tidak menyangka bahwa dirinya akan terjebak dengan masalah seperti ini.


********


Ke esokan harinya dimana hari pernikahan akan di laksanakan, jovan sudah mengenakan pakaian formal dengan di balut jas putih dan celana putih membuat penampilannya terlihat sempurna.


Sama sekali tidak ada senyum yang di tampilkan, raut wajahnya selalu dingin setelah kejadian itu.


Di rumah alin, alin sudah siap dengan riasan dan sudah mengenakan pakaian pengantin gaun syar'i putih sesuai keinginannya.


Alin sesekali mengusap air matanya yang terus saja luruh sejak subuh tadi, membuat para perias sedikit kesusahan dengan pekerjaannya.

__ADS_1


"Alin berhenti menangis nak, jangan seperti ini di hadapan para tamu nanti." Ucap bunda lembut.


Bunda rumi mengambil beberapa tissu lalu di usap lembut air mata alin. Air mata alin semakin luruh.


Tidak menunggu waktu lama keluarga pihak laki-laki pun telah tibah di kediaman alin, begitu juga dengan jovan.


Jovan menuruni mobilnya yang di kendarai oleh supir atas perintah ayahnya.


Sesaat kemudian setelah jovan siap, penghulu memberikan jovan beberapa pertanyaan selaligus menanyai kesiapan jovan dalam bertanggung jawab terhadap istrinya lahir dan batin selama hidupnya.


"Apakah saudara jovanka putra aditama telah siap?" Tanya seorang penghulu tersebut.


Jovan pun mengiyakan seorang penghulu yang ada di hadapannya itu. Lalu kemudian seorang penghulu itu menyerahkan kepada ayah alina untuk menjadi wali anaknya sendiri.


Dengan sigap ayah alina melakukan hal itu, ada rasa sedih yang ia rasakan ketika melakukan hal pertama kali menurutnya, menikhkan putrinya dan akan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab atas putrinya pada laki-laki yang di hadapannya kini.


"Apakah kamu siap nak jovan?" Tanya hendra.


Jovan menjawabnya iya dengan yakin, lalu di lanjutkannya dengan ijab kabul.


"Ananda Jovanka Putra Aditama Bintin Panji aditama Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya Alina Zakeisha Gunawan Binti Hendra Gunawan dengan maskawin berupa emas 70 gram, tunai." Suara lantang ayah hendra.


"Saya terima nikah dan kawinnya Alina Zakeisha Gunawan Binti Hendra Gunawan dengan mas kawin yang tersebut diatas, tunai." Kata jovan dengan satu kali tarikan nafas dan lantang.


Semua para saksi kemudian berkatah sah.


"SAH.."


"SAH.."


Jovan sedikit bernafas lega, namun tidak menampilkan raut wajah bersahabat sejak tadi menampilakn raut wajah dingin seolah tidak menyukai acara pernikahannya sendiri.


Setelah itu merekapun membaca beberapa doa untuk keselamatan dunia dan akhirat serta doa agar kedua pengantin selalu di berkahi oleh Allah swt.


Tak lama setelah itu alina pun keluar di tuntun oleh sang bunda untuk duduk tepat di samping suaminya. Tak menyangka alina telah menjadi seorang istri di umurnya yang masih terbilang mudah yaitu baru akan memasuki dua puluh tahun dan baru saja menjalani kuliah semester tiga.


Sementara jovan berumur dua puluh empat tahun, baru saja ia menyelesaikan kuliah kedokterannya dan belum sempat memulai pekerjaannya.

__ADS_1


Kini mereka sudah sah menjadi suami istri, lalu salah satu petugas KUA pun menyuruh mereka untuk menandatangani buku nikah keduanya. Alin dan jovan melakukannya dengan baik.


Pernikahan yang terbilang tidak terlalu ramai hanya di hadiri para tentangga serta kerabat dekat yang masing-masing dari pihak jovan dan alina. Dan juga tidak ada resepsi mewah.


Atas permintaan alina dan jovan sendiri tidak ingin di ketahui oleh siapa pun tentang pernikahannya yang begitu sangat cepat, karena niat awalnya dia harus lebih dulu menyelesaikan kuliah, tapi kenapa takdirnya berkata lain tidak sesuai seperti yang ia rencanakan.


Acara pernikahan pun telah selesai, waktu sudah menunjukan jam 15.00 sore. Kini suasana rumah alina sudah terlihat sepi dan hanya menyisahkan beberapa keluarga inti saja.


Alina sudah berada di kamarnya yang telah di hias begitu cantik dan mewah di penuhi oleh hiasan bunga-bunga mawar putih di padukan dengan merah.


Dia pun sudah membersihkan diri dan telah mengenakan gamis syar'inya dengan menggunakan hijab instan menutup bagian kepala hingga bawah dadanya.


Alina memang berpenampilan seperti itu setiap harinya meski hanya di dalam rumah saja.


Tidak di pungkiri mata alina merasa begitu bengkak akibat menangis sejak tadi.


Sementara suaminya jovan belum menampakkan diri sejak tadi, entah kemana perginya. Mungkin saja masih mengobrol dengan beberapa tamu keluarganya di ruang tamu.


Alina duduk di tepi ranjang memikirkan bagaimana kehidupannya kedepan nanti. Apakah dia harus mengikuti kemanapun suaminya mengajaknya? Sementara dia masih sangat membutuhkan sosok bunda yang selalu saja ada untuknya dan menyiapkan segala leperluan alina dalam hal apapun. Alina tidak menyangka sebelumnya bahwa dia akan menjalani kehidupan yang seperti ini.


Membayangkan akan jauh dari sosok bundanya alina meneteskan kembali air matanya. Seketika dia beranjak keluar dari kamarnya menghampiri sang bunda menuju dapur dan langsung memeluk bundanya dari belakang.


"Bunda." Ucap alina dengan suara serak seperti ingin menangis.


Bunda rumi sedikit terkejut, yang tiba-tiba alin datang memeluknya.


"Ada apa sayang, apa kamu butuh sesuatu nak?" Tanya rumi pada putrinya.


Alin hanya menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan seperti ini alin, kamu lihat kan sayang bunda sedang memasak." Ucap bunda rumi lagi.


Memang alina sangat begitu dekat dengan bundanya, selalu di manjakan oleh sang bunda.


"Bunda, alin tetap akan tinggal di sini kan bunda?" Tanya alin.


"Heii anak bunda ini ngomong apa si? kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu nak, ini rumah kamu juga kamu bebas tinggal di sini sampai kapan pun." Seru bunda rumi meyakinkan alin yang mungkin sekarang suasana hatinya sedang kalut akibat pernikahannya yang begitu tiba-tiba ini.

__ADS_1


Alin pun melepaskan pelukannya kemudian membantu pekerjaan bunda rumi di dapur untuk menyiapkan makan malam nanti.


__ADS_2