
Pada malam hari di rumah alina semua keluarga sedang menikmati makan malamnya. Terlihat alina dan jovan sedang duduk berdampingan.
Tak menunggu waktu lama semuanya telah menyelesaikan makan malam, bunda rumi serta ayah hendra menuju ruang tv. Sementara aby pergi ke ruangan kerja miliknya.
Alina sedang membersihkan bekas makan, membantu bi muna untuk membereskan bekas makannya.
"Biar bibi saja non, sebaiknya non istirahat saja. Kasian suaminya sedang menunggu di kamar." Kata bi muna.
Alina hanya tersenyum menanggapi perkataan bi muna ia tetap melanjutkan mencuci piring hingga selesai yang menurutnya bukan pekerjaan berat.
Usai mencuci piring kotor alina pun beranjak menuju kamarnya, dilihatnya jovan sedang duduk bersandar di headboard tempat tidurnya. Alina sangat merasa canggung.
Alina pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu karena belum mengerjakan sholat isa. Sebenarnya alina ingin bertanya pada laki-laki yang kini sudah berstatus sebagai suaminya itu, ingin menanyakan apakah jovan sudah melaksanakan sholat isa atau belum. Namun dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya, Alina pun memutuskan untuk segera pergi mengambil wudhu setelah itu dia langsung melaksanakan sholat isa.
Sementara jovan hanya memperhatikan ponselnya sejak tadi, sesekali dia melirik ke arah alina yang sedang beribadah.
Setelah mengerjakan sholat isa alina pun bersiap untuk tidur, tapi dia bingung mau tidur dimana karena di tempat tidurnya sudah ada jovan. Apa iya dia harus tidur bersama pria asing yang di hadapannya sekarang? sementara mereka sama sekali tidak ada yang memulai berbicara satu sama lain.
Lama alina mempertimbangkan jika dia harus tidur di ranjang yang sama atau tidak, akhirnya alina pun memutuskan untuk tidur di sofa saja. Alina mengambil selimut di dalam lemarinya dan mengambil bantal di tempat tidur.
Sementara jovan hanya memantau gerak gerik alina yang sejak tadi sedang merasa risau.
"Apa lo nggak mau berbagi tempat tidur dengan gue? kenapa lo lebih milih tidur di sofa yang berukuran kecil itu?" Kata jovan yang melihat alina sudah meletakkan bantal dan selimut di sofa.
"Emmm an..anu.. Aku hanya tidak terbiasa tidur dengan orang lain." Sahut alina merasa gugup.
Jovan merasa kesal dengan jawaban alina, apakah dirinya di anggap orang lain? sementara dirinya sudah menjadi suami sahnya.
"Apaaa? lo anganggap gue orang lain? apa lo nggak nganngap gue suami lo alina? bahkan baru beberapa jam yang lalu kita melakukan ijab kabul" Sarkas jovan yang sudah merasa kesal.
__ADS_1
Jovan pun beranjak dari tempat tidurnya langkahnya menghampiri alina di sofa. Alina yang melihat jovan menuju ke arahnya, seketika merasa jantungnya berdetak begitu kencang. Takut jovan akan meminta haknya malam ini.
Jovan meraih bantal serta selimut alina yang sudah di letakkan di sofa tadi, lalu di tempatkan lagi di atas tempat tidur.
"Ingat alina, gue udah sah menjadi suami lo jadi kita harus tidur bersama. Bahkan gue udah berhak untuk meminta hak gue sekali pun. Ingat itu." Tukas jovan lagi dengan nada sedikit tegas.
Alina yang mendengarkan jovan berkata seperti itu, sedikit bergidik ngeri membayangkan hal-hal di luar pikirannya.
Alina menggeleng cepat.
"Aku akan tidur di sini saja, aku nggak mau satu tempat tidur sama kamu." Kata alina yang menolak jovan.
Jovan semakin kesal mendengar perkataan alina. Dia pun mengambil tindakan langsung menggendong alina membawanya ke atas tempat tidur.
"Aaaaaaa.... Turunkan aku, apa yang kamu lakukan." Teriak alina yang terkejut dengan tindakan jovan secara tiba-tiba.
"Pelankan suara lo, orang akan beranggapan kalau gue sedang nyiksa lo di malam pertama. Apa lo nggak malu jika seisi rumah ini mendengar suara cempreng lo itu?" Seru jovan seraya berbisik penuh penekanan.
"Kamu memang menyiksa ku." Sahut alina ketus dengan wajah cemberutnya.
Jovan tidak tahan melihat wajah cemberut alina, dia pun langsung mendekatkan wajahnya tepat di wajah alina. Alina yang mendapat perlakuan itu dengan cepat ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jangan mendekat, aku nggak mauuu." Teriak alina namun kali ini suaranya tidak keras.
Jovan tak bergeming masih sajah memandangi tingkah konyol istrinya itu. Senyum jahil tersemat di sudut bibirnya.
Timbul ide untuk mengerjai gadis yang ada di depannya itu.
"Bersiaplah, gue akan meminta hak gue malam ini, lo akan berdosa jika menolaknya." Kata jovan, dan langsung saja menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dulu dan meninggalkan alina di tempat tidurnya.
__ADS_1
Alina membuka matanya secara perlahan. Jantung alina semakin berdegup sangat kencang, merasa syok mendengar kata jovan barusan.
Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? bagaimana bisa dia melakukannya dengan gadis yang masih berstatus mahasiswa. Bundaaa tolong anakmu ini, aku ingin tidur bersama bunda. Batin alina penuh rasa khawatir berharap jovan tidak melakukan apapun padanya malam ini.
Jovan sudah berada di dalam kamar mandi, dia tersenyum jahil membayangkan tingkah konyol istrinya.
Bisa-bisanya gue nikah sama tuh gadis manja. Batin jovan.
Tak membutuhkan waktu lama jovan pun telah selesai dengan kegiatan mandinya, di lilitkannya sebuah handuk berwarna putih pada pinggangnya untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Jovam keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, dilihatnya alina yang sudah berbaring di tempat tidur menyelimuti dirinya dengan selimut tebat. Tidak lupa menaruh sebuah bantal guling di tengahnya. Mungkin sebagai sekat agar dirinya tidak bersentuhan dengan jovan.
Jovan semakin terkekeh dalam hati, istrinya ini memang konyol atau memang lugu si.
Lama jovan berdiri memandangi dirinya di depan cermin, sekali lagi dia masih belum percaya jika dirinya sudah berstatus suami orang sekarang.
Jovan tidak mau ambil pusing dia pun tidak mau larut dalam pikirannya kali ini, ia berniat untuk memakai baju dan langsung beristirahat saja.
Di langkahkan kakinya menuju tempat tidur berukuran tidak terlalu besar itu, tidak seperti tempat tidur di rumahnya yang berukuran king size.
Dengan perlahan jovan menaikkan dirinya di tempat tidur.
Pasti dia hanya berpura-pura tidur. gumam jovan.
Jovan membaringkan dirinya, di singkirkannya guling yang ada di tengah-tengah mereka yang di letakkan oleh alina tadi.
Posisi alvaro kali ini miring menghadap alina. Ia pun ikut masuk ke dalam selimut yang di gunakan alina. Alina yang merasakan ada seseorang yang mendekatinya seketika tubuhnya menegang.
Jovan tau jika alina hanya berpura-pura tidur maka dari itu timbullah ide untuk memeluk alina dari belakang. Dan benar saja alina begitu terkejut tubuhnya menegang seketika merasakan sebuah lengan kokoh yang memeluknya.
__ADS_1
"Tidurlah gue nggak akan melakukan apapun, biarin gue meluk lo kayak ini." Ucap jovan yang sudah dengan posisi memeluk alina dari belakang.
Alina tidak bersuara, ia berusaha melawan suasana hatinya yang sedikit tidak tenang. Dan akhirnya keduanyapun tertidur nyenyak dan menuju alam mimpi.