Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 10


__ADS_3

Ke esokan harinya semua keperluan alina sudah selesai di siapkan termasuk sebagian pakaianya. Jovan hanya menggeleng melihat dua koper berukuran sedang milik alina.


Wanita memang selalu seperti itu. Gumam jovan dalam hati.


Alina sedikit kerepotan membawa kopernya, lalu jovan mengambil alih dari tangan alina.


"Biar gue yang bawa." Ucap jovan mengambil koper alina.


Alina membiarkan jovan membawa barang-barangnya.


Alina menghentikan langkahnya, memandang kembali setiap sudut ruang kamar miliknya, rasanya sangat sedih harus meninggalkan kamarnya itu.


"Kenapa?" Tanya jovan melihat alina.


Alina hanya menggeleng, lalu dengan berat melangkahkan laki keluar dari kamarnya. Jovan mengerti dengan suasana hati alina saat ini.


"Tenang aja, gak usah se sedih itu, lo bakalan sering-sering datang kemari jengukin nyokap bokap lo." Ucap jovan kemudian.


Alina hanya berjalan tanpa menanggapi ucapan jovan di belakangnya.


Ayah serta bundanya sudah menunggu di ruang makan, menunggu sepasang suami istri tersebut.


"Ayo lin, sarapan dulu." Seru bunda rumi.


Mereka menikmati sarapannya.


Setelah selesai sarapan jovan dan alina pamit, untuk berangkat menuju rumah yang akan mereka tempati. Alina sangat berat meninggalkan rumahnya yang sejak kecil di tempati.


"Bunda, alina bakalan kangen banget sama bunda dan ayah." Kata alina memeluk bundanya lalu memeluk sang ayah.


Tidak lupa dia berpamitan dengan abangnya yang selalu menjahilinya setiap hari.


"Bang aby?" Lirih alina kedua netranya sudah menggenang, dan langsung memeluk sang kakak.


"Heiii, udah jadi istri kok masih cengeng sih dek." Kata aby tersenyum membalas pekukan sang adik, sebenarnya dia juga merasa sedih melepaskan kepergian adiknya.


"Pasti rumah akan terasa sepi tanpa kamu, abang bakalan sering sering pergi jengukin kamu di rumah suami mu." Ucap aby, berharap akan menghilangkan rasa sedih alina.


Alina mengangguk menanggapi abangnya.


Setelah melewati drama sedih mereka, akhirnya jovan dan alina sudah mengendarai mobil milik jovan sendiri.


Alina masih menangis dalam diam, air mata terus saja keluar tanpa bisa di tahan, jovan melihat alina masih menangis seketika menghentikan mobilnya di tepi jalan raya.


"Gue nggak suka ya liat lo nangis terus. Sebaiknya gue putar balik pulangin lo kerumah orang tua lo." Kesal jovan yang tidak suka melihat alina masih menangis.


Alina yang mendengar perkataan jovan semakin meluruhkan air matanya seraya menggeleng cepat. Dia tidak mau kembali pulang takut jika bundanya salah paham mengira dirinya dan jovan bertengkar.


"Ya udah berhenti nangisnya." Seru jovan lagi.


Alina mengusap kasar pipinya yang sudah di penuhi air mata. Tidak mengeluarkan lagi suara satu katapun.

__ADS_1


Jovan kembali melajukan kendaraannya membelah jalanan yang cukup ramai dan macet.


Hingga tiba di kediaman jovan sudah di sambut oleh seorang satpam dengan membuka gerbang.


"Selamat datang pak jovan." Ucap seorang satpam itu yang bernama asep.


Jovan membuka kaca mobilnya lalu mengangguk ke arah pak asep selaku satpan yang selalu siaga menjaga rumah jovan selama jovan berada di luar negeri waktu itu.


Setelah memarkirkan mobilnya jovan mengajak alina masuk ke dalam rumah miliknya tidak lupa membawa koper alina.


"Masuklah, ini rumah yang akan kita tempati." Kata jovan memasuki rumahnya dengan membawa koper milik alina.


Seorang wanita paruh baya menyambut sepasang suami istri tersebut.


"Selamat datang den jovan." Sambut bi mariam.


Jovan mengangguk tersenyum menanggapi asisten rumah tangganya, begitupun dengan alina.


Jovan memang memiliki sikap ramah kepada semua orang yang ada di rumahnya termasuk kepada asisten rumah tangganya.


"Bi tolong tata semua pakaian yang ada di koper ini ke dalam lemari ya bi." Kata jovan.


Bi mariam mengangguk menanggapi perintah majikannya itu.


Jovan membawa alina menuju kama utamanya.


"Ikut gue." Ucap jovan meraih tangan alina. Alina hanya mengikuti langkah jovan.


"Ini kamar kita.. Lo bisa instirahat di sini. Gue mau keluar bentar." Kata jovan meninggalkan alina di kamarnya.


*******


Dirumah ayah panji yaitu kediaman orang tua jovan.


Jovan baru saja sampai dirumah orang tuanya, sebelumnya ayahnya telah mengirim pesan pada jovan, meminta jovan untuk datang ke rumahnya.


"Ada apa pah." Tanya jovan setelah mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.


Panji telah menunggu jovan sejak tadi.


"Apa kamu sudah pindah ke rumahmu jo?" Tanya panji pada putranya.


"Baru pagi ini pah." Jawab jovan.


"Baguslah, apa kamu menyetujui jika minggu depan papa merekrutmu untuk bekerja di rumah sakit kota." Kata panji.


Jovan menangguk menanggapi ayahnya.


"Jo mau pah." Ucap jovan.


"Baiklah, persiapkan dirimu. Dan juga kali ini seriuslah menjalani sesuatu karena statusmu sekarang sudah bukan anak mudah yang bebas kemana mana seperti sebelumnya." Nasehat panji pada jovan.

__ADS_1


Jovan kembali mengiyakan nasehat papanya.


"Mama kemana pah?" Tanya jo kemudian, menanyakan keberadaan ibunya.


"Mama mu sedang ada arisan di luar bersama teman temannya." Jawab panji.


Lama jovan mengobrol bersama papanya, akhirnya dia memutuskan untuk pulang kerumahnya. Karena merasa tidak enak jika meninggalkan alin sendiri di rumah terlalu lama.


"Kalau begitu jo pamit pah, salam sama mama." Ucap jovan pamit.


Jovan meninggalkan kediaman orang tuanya dan kembali ke rumahnya sendiri dengan mengendarai mobilnya.


*****


Jovan telah sampai di rumahnya langsung menuju kamar utama miliknya. Di lihatnya alina sudah tertidur pulas di tempat tidur berukuran king size.


Selepas sholat dzuhur tadi alina langsung tertidur, Mukenanya pun masih terpakai tanpa di lepaskan terlebih dulu.


Apa dia sangat mengantuk? gumam jo dalam hatinya.


Jovan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera melaksanakan sholatnya. Usai mengerjakan kewajibannya jovan pergi ke dapur menemui bi mariam untuk menanyakan apakah makan siang sudah di siapkan atau belum.


"Bii.. Apa makan siang udah di siapkan?" Tanya jovan pada bi mariam.


"Sudah den jo, tadi saya membangunkan non alina tapi tidurnya sangat pulas jadi saya tidak jadi membangunkannya." Ucap bi mariam.


"Ya sudah biar saya yang membangunkannya." Kata jovan berlalu kembali masuk menuju kamarnya.


Di lihat alina masih saja tertidur, jo membangunkannya untuk makan siang, karena tidak mau alina kelaparan akibat terlambat makan siang.


"Heiiii bangun. Waktunya makan siang lin." Ucap jovan tangannya mulai nakal mengelus pipi mulus alina.


Sang empu sama sekali tak bergeming, nafasnya masih teratur tidak merasakan ada yang membangunkannya.


Hingga timbul ide jahil jovan, dia memberikan kecupan di kedua pipi mulus alina serta kening alina.


"Bangun sayang. Waktunya makan siang." Bisik jovan di telinga alina, tangan yang sejak tadi masih mengelus pipi alina.


Alina perlahan mengerjapkan matanya, di lihatnya jovan dengan jarak yang sangat dekat. Seketika alina langsung mendorong jovan menjauh darinya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya alina, sedikit kesal.


"Gue sedang membangunkan putri tidur, lo tidur nyenyak banget padahal ini kan masih siang." Ketus jovan, melihat alina yang mendorong dirinya.


Alina kembali menatap dirinya yang masih menggunakan mukena. Ingin melepaskan mukena yang di pakai namun di liriknya jovan masih berada di sampingnya, di urungkan kembali niatnya untuk membuka penutup kepalanya.


"Kenapa?" Tanya jovan.


"Aku mau memakai hijabku, Apa kamu boleh keluar sebentar?" Sahut alina.


"Nggak bisa lah, gue kan suami lo. Masa harus keluar dulu baru lo mau buka jilbab. Alina ingat ya gue tu udah halal buat lo jadi gue bebas ngapa-ngapain lo." Tukas jovan dengan mada penuh penekanan.

__ADS_1


"Cepetan gue tunggu lo di bawa." Kata jovam kemudian, mengalah dan ingin menuruti alina.


Entah kenapa semakin kesini jovan semakin ingin memenuhi semua keinginan alina, dan benar saja dia tidak tega membantah alina.


__ADS_2