
Hari ini jovan kembali ke amerika dan tentu saja membuat alina bersedih begitu juga dengan jovan karena mereka harus berpisah kembali apa lagi alina dalam kondisi hamil tentu ia merasakan kesedihan yang teramat dalam jika harus menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya. Karena saat ini alina merasa ingin selalu di sisi jovan ingin selalu bermanja dengan suaminya.
"Kak jo, apa keberangkatannya nggak bisa di tunda, aku masih ingin menghabiskan waktu bersama kak jo." Ucap alina dengan suara lirih terasa masih sangat berat untuk melepas kepergian suaminya.
Air mata sudah membasahi pipi alina sejak pagi tadi ketika melihat suaminya tengah bersiap untuk memakai baju usai mandi.
Jovan pun ikut merasakan kesedihan seperti yang di rasakan alina, melihat istrinya seperti itu semakin terasa berat untuk meninggalkannya.
"Alina, maaf sayang aku tidak bisa menunda lagi. Aku akan ketinggalan banyak mata kuliah pentingku di sana jika harus berlama-lama di sini, aku berjanji akan menyelesaikan kuliahku secepat mungkin agar bisa pulang dan kita bisa kembali bersama." Jovan terus meyakinkan alina sejak tadi.
Tangan jovan kembali mengusap lembut air mata istrinya yang sejak tadi sudah menetes.
"Mah tolong jagain alin ya mah, pah." Pinta jo pada kedua orang tuanya yang akan mengantarkan jovan menuju bandara.
Mama intan dan panji mengangguk keduanya bergantian memeluk putra kesayangan mereka yang akan menuntut ilmu di negara asing.
Sementara kedua orang tua alina tidak bisa mengantarkan jovan karena memang kedua orang tua alina sedang berada di luar kota untuk menghadiri acara keluarga dari pihak bunda rumi.
Usai mengantarkan jovan ke bandara alina dan kedua mertuanya kembali ke rumah. Seminggu ke depan alina menginap di rumah orang tua jovan karena permintaan mama intan yang ingin mengajak menantu kesayangannya untuk tinggal di kediaman keluarga panji raditama.
Kini alina dan kedua mertuanya sudah berada di kediaman keluarga panji.
"Nak sebaiknya istirahat di kamar jovan saja ya, tenangkan dirimu." Kata mama intan menyuruh alina untuk beristirahat.
Alina mengangguk lalu beranjak menuju kamar jovan.
Sementara papa panji kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sebenarnya intan tidak tega melihat kesedihan menantunya itu, tidak tega melihat putra dan mentunya harus menjalin hubungan jarak jauh, karena tentu terasa berat untuk keduanya termasuk alina yang sedang dalam kondisi hamil pasti sangat membutuhkan perhatian lebih dari suaminya, namun apalah daya jovan lagi-lagi tidak ingin membantah, hanya menuruti keingin sang ayah yang menginginkan putranya untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri yang sudah di rencanakan sejak jovan baru saja menyelesaikan kuliah kedokterannya.
__ADS_1
Alina sudah berada di kamar jovan, kembali alina meluapkan kesedihannya menunggu kabar sang suami berharap sampai di tempat tujuan dengan selamat.
Tiba-tiba alina kembali merasakan gerakan bayi dalam perutnya seketika kesedihan yang di rasakan alina perlahan redah kembali di lingkupi rasa bahagia mengingat calon anaknya bergerak aktif di dalam sana. Tangan alina mengusap lembut perutnya menikmati gerakan dalam perut yang sudah terlihat membuncit.
"Pasti kamu akan merindukan ayahmu nak." Gumam alina masih dengan mengusap perutnya.
Alina kembali mengingat raut wajah bahagia jovan ketika mereka sedang menyaksikan gerakan pertama calon anak mereka.
Lama alina bersedih di dalam kamar sendirian tidak terasa dirinya tertidur dengan mata sembab.
****
Sementara di tempat lain tepatnya di kediaman aby. Kini pasangan yang baru saja satu minggu sudah sah berstatus suami istri tersebut kini sudah tinggal di kediaman yang di maksud oleh aby yaitu rumah aby sendiri.
Sudah lima hari aby dan shanum tinggal di rumah yang terpisah dari orang tua shanum. Meski shanum terasa sangat berat meninggalkan kediaman orang tuanya namun mau tidak mau dia harus berbakti kepada suaminya, mengikuti kemana pun suaminya akan mengajaknya tinggal.
Pagi ini shanum tengah menyiapkan sarapan untuk suaminya yang akan berangkat ke kantor, walaupun shanum tau aby suaminya itu tidak akan memakan sarapan yang telah ia masak tapi shanum tetap harus menyediakannya karena itu salah satu kewajiban seorang istri, Shanum berfikir mungkin saja suaminya ingin sarapan di rumah.
Kini aby sudah bersiap untuk ke kantor, terlihat aby menuruni tangga menuju ruang tamu untuk memakai sepatu.
"Kak aby, apa sebaiknya tidak sarapan dulu di rumah?" Lagi-lagi shanum melakukan kebiasaannya untuk menegur suaminya agar sarapan di rumah.
"Aku sarapan di kantor." Tukas aby lalu pergi menuju mobil yang akan ia gunakan untuk ke kantor.
Begitulah setiap hari shanum selalu merasakan kekecawaan dari sikap dingin suaminya, seperti tidak menganggapnya ada. Padahal shanum tidak memiliki kesalahan apa pun.
Setelah kepergian aby, cairan bening keluar dari sudut mata perempuan berparas cantik itu, tidak tau lagi harus melakukan apa untuk menghadapi sikap suaminya. Tidak mungkin shanum mengadu kepada orang tuanya ataupun kepada mertuanya, shanum tidak mau melibatkan orang tua dengan masalah rumah tangganya yang terbilang masih baru saat ini.
Kenapa kak aby bersikap dingin padaku, apa salahku? aku tidak mengerti dengan sikapnya.
__ADS_1
Shanum menangis dalam diam ia meratapi nasibnya yang menikah dengan laki-laki yang tidak mencintainya.
Shanum berniat untuk bersiap ingin kembali melakukan aktifitas mengajar di kampus tempat alina kuliah. Karena shanum sudah mengambil cuti selama satu minggu acara pernikahannya kemarin jadi ini adalah hari pertama ia masuk kembali untuk mengajar.
Usai bersiap shanum menunggu taksi yang telah ia pesan sebelumnya. Tidak membutuhkan waktu lama taksi sudah tiba lalu shanum segera menaiki kendaraan yang akan mengantarkannya menuju kampus tempat ia mengajar.
Sebelumnya ia sudah meminta ijin pada aby untuk berangkat mengajar pagi ini, meski tidak ada respon dari sang suami namun shanum tetap melakukan itu.
Di kampus shanum mencoba mencari keberadaan alin, namun tidak ia temukan keberadaannya. Ia berharap ingin mengakrabkan diri dengan adik iparnya tersebut.
"Indah, apa kamu tidak melihat alina?" Shanum bertanya kepada perempuan yang di ketahui adalah sahabat alina.
"Hari ini alina ijin tidak masuk kak, karena mengantar suaminya ke bandara yang akan berangkat ke amerika." Jawab indah sahabat alina.
"Oh alina ijin ya. Ya sudah kalau begitu terima kasih informasinya ya." Ucap shanum tersenyum kemudian berlalu meninggalkan indah.
Shanum berjalan ke ruangannya ia mengambil leptopnya yang akan di bawah ke dalam kelas mata kuliah yang akan di ajarkan pagi ini.
Shanum adalah salah satu dosen desainner di kampus tersebut. Jadi wajar dia membawa peralatan untuk menggambar sebuah desain busana yang akan di contohkan pada mahasiswanya.
*
*
*
TBC...
Jangan lupa likenya ya teman-teman 🙏😊
__ADS_1