Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 49


__ADS_3

Sudah tiga hari setelah alina meminta ingin tinggal di rumah orang tuanya dengan alasan ingin sendiri. Jovan sebisa mungkin untuk meminta penjelasan mengenai maksud alina ingin tinggal di rumah orang tuanya namun sama sekali tidak ada respon dari sang istri.


Entah kenapa jovan merasa alina berubah sekarang semenjak melihatnya ketika pertama kali sadar. Sebenarnya ada apa? apa salahnya? kenapa alina tidak mau berbicara padanya belakangan ini. Apa jovan melakukan kesalahan sebelum alina mengalami musibah kemarin?


Jovan terus saja bermonolog dengan berbagai macam fikirannya, ia tidak mengerti dengan sikap alina belakangan ini.


Pagi ini ketika dokter mengatakan bahwa alina sudah boleh pulang.


"Sayang, kamu sudah bisa pulang." Kata jovan dengan raut wajah bahagiahnya.


Tetap saja alina dengan raut wajah datarnya, tidak menampilkan raut wajah bahagiahnya pada jovan. Meski sangat ingin merespon sang suami tapi entah kenapa alina lagi-lagi mengingat kejadian terakhir kali ketika ia menelpon jovan waktu masih di luar negeri.


"Aku nunggu bunda saja." Sahut alina datar.


Jovan sangat terkejut mendengar sahutan alina, hingga dia tidak tahan lagi melihat tingkah alina yang selalu mendiamkannya.


"Alina sebenarnya kamu kenapa, kenapa selama aku berada disini dan berusaha mengajakmu berbicara tapi kamu tidak menghiaraukanku sama sekali? sebenarnya ada apa alina? apa aku punya kesalahan sebelumnya? tolong bicaralah setidaknya beritahu apa kesalahanku agar aku bisa memperbaikinya." Ujar jovan yang sudah tersulut emosi. tidak tahan lagi melihat alina selama dia berada disini selalu mendiamkannya.


Alina menangis, sebenarnya ia pun tidak tahan dengan sikapnya yang mendiamkan jovan seperti ini, tapi entah kenapa rasa tidak ikhlas dan rasa sesak di dadanya ketika kembali mengingat suara wanita dan juga jovan pada malam itu melalui telepon.


"Alina. Beritahu apa kesalahanku." Ucap jovan lagi.


Jovan yang melihat alina sudah menangis ia kembali mendekat berusaha ingin memeluk tubuh mungil istrinya, kali ini alina sudah bisa duduk di kursi roda yang di bantu oleh perawat tadi.


Alina menggeleng ketika melihat jovan ingin memeluknya.


"Jangan sentuh aku jovan." Pekik alina seketika menghentikan pergerakan jovan.


Bagai di sambar petir tubuh jovan seketika menegang mendengar ucapan alina barusan, kembali rasa terkejut menguasai dirinya. Ia sama sekali tidak mengerti apa kesalahannya dan tiba-tiba saja alina memperlakukannya seperti ini.


"A..alina?" Ucap jovan dengan terbata suaranya serasa tercekat untuk ia keluarkan.


Terlebih lagi mendengar alina memanggilnya dengan tidak biasa.


Baru saja jovan ingin kembali melayangkan pertanyaan tentang sikap alina, terdengar suara ketukan pintu dari luar menandakan ada yang akan masuk. Dan di sana sudah menampilkan bunda rumi berjalan memasuki ruangan tempat alin saat ini.


Jovan pun mengurungkan niatnya untuk menanyakan lebih dalam permasalahannya bersama alina. Ada rasa hawatir di benaknya, ketika mengingat alina akan ikut pulang bersama bundanya.


"Alina, ada apa?" Tanya bunda yang melihat putrinya menangis.


Bunda rumi langsung menghampiri alina yang sedang duduk di kursi roda.


"Apa kamu sudah siap untuk pulang nak?" Tanya bunda rumi.


Alina mengangguk.


"Maaf bunda, alina pulangnya ke rumah kami dulu." Ucap jovan pada bunda rumi, karena kemarin alina sempat berkata ingin kembali tinggal di rumah orang tuanya.


Bunda rumi mengangguk tersenyum, ia paham sang menantu sedang hawatir jika alina jadi tinggal di rumahnya.


"Alina akan tetap pulang ke rumah kalian, apa lagi sekarang ada suaminya yang menjaga, mana mungkin bunda mengambil alih tanggung jawabmu jo." Tutur bunda rumi dengan penuh pengertian.


Ada rasa lega yang di rasakan jovan ketika mendengar penuturan sang ibu mertua.


"Terima kasih bunda." Ucap jovan sangat bersyukur mendapat dukungan dari ibu mertuanya.


Barang-barang alina yang sudah siap sejak tadi, terlihat jovan sudah membawanya untuk di bawa ke dalam mobil.

__ADS_1


"Mama sama papa sudah menunggu di rumah." Ucap jovan ketika mendapati alina seperti mencari sesorang dan jovan mengerti apa yang sedang alina tunggu. Dan yang pasti adalah papa panji yang selalu datang melihatnya ketika punya waktu luang.


Alina yang menggunakan kursi roda dengan di dorong oleh bunda rumi dan jovan membawa barang-barang alina menuju mobil.


Tidak menunggu lama, kini jovan sudah mengendarai mobilnya menuju kediamannya dan alina beserta bunda rumi.


Kurang lebih setengah jam mereka telah sampai, mama intan beserta panji menyambut kedatangan sang menantu yang baru saja tiba, ada rasa bahagia melihat alina sudah kembali seperti semula. Meski ada yang kurang karena kehilangan calon cucu mereka.


"Selamat datang kembali sayang." Ucap mama intan pada menantu kesayangannya.


Alina tersenyum sambil menyambut pelukan dari ibu mertuanya.


"Sekarang kamu tinggal di rumah ini bersama jo di sini jangan pernah berfikir untuk pulang ke rumah orang tuamu nak, papa nggak akan biarin jo pergi lagi. Papa sudah meminta jovan untuk pindah ke sini saja melanjutkan kuliahnya agar kalian bisa terus bersama dan saling menjaga." Jelas papa panji.


Ada rasa bahagia di hati alina mendengar penuturan mertuanya itu, bahwa jovan akan tetap bersamanya. Tidak ada lagi rasa hawatir akan berjauhan dengan jovan.


"Terima kasih pah." Ucap jovan.


"Sebaiknya kamu kembali bekerja ketika alina sudah pulih lagi nanti, sambil kamu melanjutkan kuliahmu jika kamu mau. Papa akan memberikan kamu kebebasan sekarang, karena papa tidak mau lagi memaksakan kehendak papa. Kejadian kemarin adalah salah papa yang tidak bisa menjaga alina untukmu. Dan malah membuat kalian menjalani hubungan jarak jauh. Maafkan papa jo." Ujar papa panji lagi.


Jovan sangat bahagia mendengar setiap ucapan papanya, dia bisa menjaga alina setiap saat.


"Papa, terima kasih, papa jangan menyalahkan diri sendiri, ini adalah musibah, tidak ada yang mesti di salahkan pa." Jovan kembali mengungkapkan rasa terima kasihnya, Melangkah di hadapan papanya dan langsung memeluk tubuh sang papa.


Panji mengangguk tersenyum, ada rasa bahagia melihat anak dan menantunya merasa bahagia.


"Berhubung hari sudah hampir siang mama tinggal masak dulu ya." Kata mama intan memecahkan drama haru suami dan anaknya itu.


Bunda rumi yang duduk di samping alina beranjak berniat ingin membantu besannya menyiapkan makanan di dapur.


"Bunda, bang aby nggak datang?" Tanya alina yang tidak melihat keberadaan abangnya.


"Abangmu keluar kota karena urusan pekerjaan nak, jadi nggak bisa datang. Shanum juga sedang sibuk mengajar di kampus." Sahut bunda rumi memberi pengertian pada alina jika abang dan kaka iparnya tidak bisa datang.


"Jo sebaiknya antarkan istrimu ke kamar kalian untuk bersitirahat dulu." Saran mama intan.


Jovan mengangguk menuruti saran mama intan.


Sementara papa panji pergi keruang tengah untuk menonton tv seraya menunggu hendra ayah alina datang.


Jovan pun menghampiri sang istri, menuntun alina yang masih susah berjalan karena luka operasi belum sepenuhnya sembuh.


Alina tidak menolak dan juga tidak merspon tindakan jovan. Melihat alina masih susah menaiki anak tangga jovan dengan perlahan ia meraih tubuh alina yang masih bergerak lemah lalu menggendongnya.


Alina terkejut dengan tindak dadakan suaminya itu.


"Kak jo, aku masih bisa berjalan." Pekik alina.


"Ssstt.. Nggak ada salahnya aku membantu istriku kan?" Bisik jo pada alina.


Sontak saja membuat wajah alina memerah dengan tingkah suaminya, dengan spontan dia mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya. Meski ekspresi wajahnya masih saja tidak menampilkan senyum, namun jovan tidak menghiaraukan itu.


Ia berfikir akan mengambil kembali hati alina sekarang, dan akan menanyakan apa kesalahannya, sehingga alina bersikap dingin padanya beberapa hari kemarin.


Sesampainya di kamar jovan langsung meletakkan alina di atas tempat tidur yang sudah lama tidak mereka tempati, yang sudah beberapa bulan kemarin mereka tinggalkan.


Kembali suasana canggung mereka rasakan. Alina berfikir ia akan meminta maaf pada suaminya atas sikapnya kemarin dan meminta penjelasan pada jovan siapa wanita yang mengangkat teleponnya ketika hari itu.

__ADS_1


Ketika jovan akan beranjak dari tempat tidur, alina dengan segera memegang lengan suaminya.


"Kak jo." Panggil alina, wajahnya sedikit mendongak untuk melihat wajah suami yang sangat ia rindukan itu.


Jovan kembali duduk di sisi tempat tidur samping alina, dan kini posisi mereka saling berhadapan.


"Kak jo, maafin sikap alina beberapa hari kemarin." Lirih alina langsung memeluk tubuh jovan, seketika air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya.


"Hei, kenapa menangis sayang, kamu nggak salah apa-apa." Kata jovan seraya membalas pelukan wanita tercintanya.


"Alina sudah bersikap tidak wajar sama suami alina sendiri." Alina masih menangis, karena mengingat kesalahannya pada suaminya.


Semakin erat jovan memeluk alina.


"Sekarang aku mau bertanya, sebenaranya apa yang menyebabkan kamu bersikap seperti kemarin? apa suamimu ini punya kesalahan?" Tanya jovan dengan suara lembut.


Jovan menarik diri dari pelukan alina perlahan dan kali ini kembali menangkup wajah cantik istrinya, agar bisa menatap wajah cantik yang sudah sangat lama ia rindukan itu.


"Alina marah karena..."


"Kamu marah?" Jovan langsung memotong ucapan alina karena sedikit terkejut mendengar perkataan alina yang katanya marah, Lalu apa penyebab istrinya itu marah.


Alina terdiam sesaat, rasanya masih berat untuk mengutarakan apa yang ia rasakan beberapa hari kemarin.


"Alina?" Panggil jovan yang belum mendapat respon dari alina.


"Alina marah, karena kak jo bersama wanita ketika alina menelpon terakhir kali hari itu sebelum alina terjatuh dari tangga, hingga alina merasa kak jovan sedang bersama wanita lain pada malam hari, alina kaget mendengar suara kak jovan bersama wanita yang bernama erika itu." Suara alina terdengar sangat lirih dengan isak tangis yang semakin pecah. Dadanya serasa sesak mengungkapkan apa yang ia pendam selama beberapa hari kemarin.


Sontak saja membuat jovan terkejut mendengar ungkapan alina yang ternyata di balik kejadian naas yang menimpah alina adalah kesalahan dirinya.


Jovan menggeleng, ternyata alina sudah salah paham terhadapnya.


"Alina, aku bisa jelaskan. Itu semua nggak seperti yang kamu bayangkan sayang, aku sama sekali tidak memiliki wanita lain di sana." Ucap jovan berusaha meyakinkan alina.


Kemudian jovan menjelaskan semua kejadian yang ia lalui hari itu tanpa ada yang terlewat sedikitpun ketika awal mula mengantar erika dan sampai mobilnya mogok di malam hari.


"Sayang kamu percayakan?" Tanya jovan yang melihat alina belum merespon semua penjelasanya barusan.


Hening. Lama alina terdiam hingga akhirnya mengangguk lalu kembali memeluk jovan dengan begitu erat.


"Maafin alina yang ceroboh hinggah menyebabkan bayi kita tidak bisa di selamatkan." Kembali alina mengucapkan kata maaf.


"Nggak sayang, ini bukan salah siapa-siapa. Ini adalah ujian rumah tangga kita, jadi kita harus melewatinya bersama. Jadi jangan menyalahkan siapapun. Oke?" Ujar jovan kini tengah memeluk sang istri seraya mengelus kepala alina yang masih tertutup hijab.


Alina mengangguk. Kali ini tidak ada lagi amarah di hatinya.


Dan merekapun saling berpelukan melepas rasa rindu. Ada rasa bahagia di hati keduanya.


*


*


*


TBC...


Jangan lupa like ya teman-teman 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2