
"Kesempatan seperti apa yang kamu maksud kak aby? aku bahkan sudah memberimu kesempatan selama setahun pernikahan kita, aku bahkan begitu dengan sabarnya menghadapi sikap dinginmu selama ini dan berharap akan berubah suatu saat, tapi apa? kak aby tidak pernah sama sekali menunjukkan perilaku baik terhadapku." Ujar shanum dengan suara bergetar menahan tangisnya.
Tanpa mereka sadari, ayah hendra mendatangi rumah aby dan baru saja akan memasuki halaman rumah aby, ayah hendra melihat pemandangan yang sepertinya shanum sedang menangis, tentu saja membuatnya kembali emosi melihat tingkah aby yang selalu menyakiti wanita yang bahkan tidak mempunyai kesalahan.
Ayah hendra segera turun dari mobilnya dan langsung menghampiri aby dan shanum yang masih berdiri di samping mobil aby.
"Ada apa ini?" Ucap hendra sudah berada tepat di samping aby.
Aby terkejut melihat keberadaan ayahnya yang secara tiba-tiba.
"Ayah?" Gumam aby dan shanum bersamaan.
"Kamu membuatnya menangis lagi aby?" Sarkas ayah hendra dengan wajah yang terlihat memerah karena menaha amarahnya.
Aby menggeleng dengan cepat, tidak membenarkan dengan tuduhan ayahnya.
Tidak bisa di kendalikan lagi hendra langsung melayangkan pukulan pada wajah aby hingga membuat aby tersungkur kebelakang.
Shanum terkejut melihat ayah mertuanya saat ini.
"Ayah sudah." Ucap shanum berusaha meredahkan amarah sang ayah mertua.
Air matanya sudah tidak bisa di bendung lagi.
"Sudah ayah bilang jika kamu tidak bisa menerimanya, ceraikan dia dengan cara baik-baik. Kamu masih saja membuatku malu aby, kamu bahkan tidak merasa malu dengan almarhum orang tua shanum? bukan hanya dengan mereka kamu berjanji, tapi juga dengan Allah. Tapi kenapa kamu malah menyia-nyiakan sebuah pernikahan nak, hanya dengan alasan kamu tidak mencintainya atau memiliki perasaan terhadap shanum." Teriak ayah hendra masih dengan emosi yang meluap-luap sangat tidak terima dengan perlakuan putranya sendiri yang dengan tega menyia-nyiakan seorang perempuan baik-baik.
"Ayah, aby minta maaf. Aby akan memperbaiki semuanya." Lirih aby.
Dengan langkah lebar ayah hendra memasuki rumah aby langsung menuju kamar yang selama ini di tempati oleh aby, berniat mengambil sesuatu di dalam laci nakas samping tempat tidur aby.
Kini sebuah map coklat berisi surat perceraian berada di tangan ayah hendra yang berhasil mengambilnya dari laci nakas milik aby.
Ayah hendra melirik ke arah shanum yang sejak tadi mengikutinya.
"Maafkan anak ayah nak." Ucap hendra dengan begitu lirih mengingat semua kesalahan aby.
Shanum mengangguk masih dengan lelehan air matanya.
"Jika keinginanmu sudah yakin akan bercerai dari aby maka ayah akan membantumu nak, jika itu yang terbaik menurutmu dan juga aby." Ujar hendra yang selalu mendukung apapun keinginan shanum.
"Ayaahhh." Teriak aby tidak terima dengan semua keputusan ayahnya.
Hendra hanya menoleh ke arah aby dengan tatapan dinginnya, sudah tidak ingin membiarkan kesalahan aby yang selalu menyakiti hati shanum. Hendra merasa sangat malu dengan keluarga shanum terutama dengan mendiang orang tua shanum karena memang dari awal hendra lah yang meminta menjodohkan putranya dengan shanum.
"Disini sudah ada tanda tangan shanum bukan? jadi untuk apa kamu menunda untuk menandatanganinya. Jangan mempersulitnya lagi aby." Ujar hendra dengan kekeh meminta tanda tangan aby pada surat perceraian yang di pegang saat ini.
__ADS_1
Aby tetap pada pendiriannya tidak ingin menandatangani surat itu.
"Jangan harap, sampai kapanpun tidak akan ku lakukan." Ucap aby datar dan pergi meninggalkan kediamannya.
Tidak terima dengan respon aby, semakin membuat emosi hendra menggebu.
"ABYAZ ZARENDRA jika kamu pergi tampa tanda tanganmu ini, kamu bukan putraku lagi." Suara hendra menggema berhasil menghentikan langkah aby.
Tentu saja membuat aby terkejut dan ini pertama kali ayahnya mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas di ucapkan untuknya putra kandungnya sendiri.
"Ayah." Lirih shanum menggeleng pada ayah mertuanya, shanum pun terkejut mendengar penuturan hendra.
Sementara aby masih terpaku di tempatnya, mendengar perkataan ayahnya barusan, bagaimana bisa seorang ayah yang sangat ia banggakan mengatakan hal seperti itu. Karena bagaimana pun aby tetap tidak bisa menolak permintaan ayahnya, seumur hidupnya aby belum pernah membantah setiap perkataan ayahnya.
"Bagaimana jika aby ingin mempertahankan pernikahanku dengan shanum ayah? aku ingin memperbaiki semuanya, tolong beri aby kesempatan." Ucap aby dengan begitu lirih, entah kenapa aby kali ini terlihat lemah dan air matanya keluar begitu saja.
Aby bersimpuh di hadapan ayahnya memohon dengan segenap jiwanya, berharap ayahnya mau memberinya kesempatan dan juga shanum menerima dirinya kembali.
"Maafkan aby ayah, tolong restui aby untuk mendapatkan maafnya aku berjanji akan memperbaiki semuanya." Ucap aby dengan suara bergetar karena tangisnya masih berlutut seraya menunduk sesekali tangannya mengusap kedua matanya yang mengeluarkan cairan bening.
Aby terlihat lemah jika ayahnya sudah bertindak dengan emosi, sejak kecil ia memang di didik dengan keras dan aby tidak pernah membantah apapun itu yang oleh ayahnya, bahkan menerima begitu saja saat ia di jodohkan dengan shanum.
Sementara shanum, melihat aby yang melakukan hal itu hatinya tiba-tiba merasa terenyuh, entah kenapa ada rasa sedih dan tidak tega melihat aby yang terlihat sangat bersugguh-sungguh meminta kesempatan darinya.
"Ayah mudah saja memberimu kesempatan, tapi bagaimana dengan sesorang yang sudah jelas-jelas kamu sakiti hatinya? apa dia bisa memberimu kesempatan?" Ucap hendra datar tatapannya lurus ke depan karena tidak ingin melihat aby yang saat ini.
Ada rasa sedih yang di rasakan oleh shanum ketika aby akan menyudahi semuanya jika dia tidak memberikan maafnya. Apa aby akan menyerah begitu saja? entah kenapa shanum seolah merasa sedih, bukankah shanum sangat menginginkan perceraian ini?
Aby menoleh ke arah shanum yang sejak tadi menangis dan menunduk.
"Apa tidak ada kesempatan lagi untukku shanum? tolong katakan di hadapan ayah. jika tetap tidak bisa maka aku akan benar-benar melepaskanmu." Lirih aby pada shanum.
Semakin menangis saja shanum mendengar ucapan aby.
Ayah hendra tidak ingin lagi melihat interaksi keduanya, ia memilih pergi dari kediaman aby. Bagaimana pun juga ia tetap ingin memberikan kesempatan untuk keduanya.
"Segera selesaikan masalahmu. Jangan sampai ayah melihat pemandangan yang seperti tadi, Ayah tidak suka melihat seorang wanita menangis." Ujar hendra kemudian berlalu pergi meninggalkan kediaman aby.
Shanum berniat beranjak pergi meninggalkan aby namun cepat-cepat aby menahan pergelangan tangan shanum.
"Sekali lagi aku bertanya padamu, apa tidak bisa kita meneruskan pernikahan ini shanum?" Tanya aby menatap intens pada shanum.
Shanum yang menerima tatapan dari aby seperti itu dengan segera ia menunduk menghindari aby, Ia hanya diam dengan pertanyaan aby seolah berat ingin menjawab pertanyaan tersebut.
"Shanum?" Lirih aby dengan sangat lembut.
__ADS_1
Shanum kembali mengeluarkan air matanya dengan masih menunduk.
Satu menit
Dua menit
Hingga menit ke lima
Shanum masih saja diam tidak merespon pertanyaan aby yang terakhir, entah kenapa bibir shanum begitu berat mengucapkan jawabannya yang ingin benar-benar mengakhiri pernikahannya.
"Shanum, Aku anggap diam mu ini berarti kamu benar-benar ingin mengakhirinya." Kembali aby berujar ketika tidak juga mendapat respon dari shanum.
Mendengar aby yang berbicara seperti itu, air mata shanum semakin berjatuhan di pipi mulusnya.
"Sekali lagi aku minta maaf atas semua kesalahanku yang sudah bersikap buruk sejak awal pernikahan kita. Jika mungkin tidak ada lagi kesempatan untuk mempertahankan pernikahan ini dan memperbaiki semuanya, baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu untuk mengakhirinya." Ucap aby dengan suara bergetar karena menangis, bersimpuh di hadapan shanum seraya menggenggam erat tangan shanum.
Dengan spontan shanum menatap wajah aby yang sudah di penuhi lelehan air mata, ada rasa takut di dalam hatinya mendengar aby yang akan benar-benar menceraikannya. Shanum menatap aby mencari kesungguhan dan shanum merasa jika aby benar-benar meratapi kesalahannya.
Shanum tetap diam, hanya air mata yang memenuhi pipi mulusnya saat ini.
"Sebelum aku menjatuhkanmu talak ijinkan aku memeluk wanita kuat ini untuk yang terakhir kalinya, wanita yang selalu terlihat kuat ketika aku menyakiti batinnya selama setahun ini." Pinta aby dengan segenap rasa bersalahnya.
Tanpa menunggu respon shanum aby berdiri dan langsung memeluk tubuh mungil wanita yang masih menjadi istrinya saat ini.
Sementara shanum hanya diam menerima perlakuan aby tanpa membalasnya.
"Maafkan aku shanum, mungkin aku akan menyesal seumur hidupku telah menyia nyiakan wanita sebaik dirimu. Dan aku sadar kali ini aku benar-benar telah mencintaimu." Gumam aby dengan posisi memeluk shanum.
"Kak aby." Hanya nama aby yang bisa shanum gumamkan kali ini.
Dia menegang mendengar penuturan aby kali ini, benarkah aby telah mencintai dirinya? Apa aby hanya berkata seperti itu demi mempertahankan pernikahannya. ia berfikir untuk tidak goyah, shanum berusaha untuk tetap dengan pendiriannya yang ingin berpisah.
Beberapa menit kemudian aby perlahan melepas pelukan shanum dan kembali menatap wajah cantik wanita itu.
"Baiklah, Aku Abyaz Zarendra Gunawan memutuskan hubungan suami istri di antara kita, maka haram bagiku untuk menyentuhmu." Ucap aby di sertai tangisnya, rasanya begitu sangat berat mengucapkan perpisahannya bersama shanum.
Begitupun juga dengan shanum yang mendengar suara aby telah menjatuhkannya talak. Harusnya shanum bahagia karena bisa terbebas dari ikatan pernikahan yang membuatnya sakit selama ini, tapi sebenarnya hati shanum begitu hancur.
Pernikahan yang ia impikan dan niatkan dalam hidupnya hanya sekali seumur hidup namun tidak sesuai dengan impiannya karena harus berpisah dengan cara bercerai seperti saat ini.
Shanum berusaha menerima semuanya, perlahan ia mengangguk dengan air mata masih saja terus mengalir tanpa bisa ia tahan dan tidak mengeluarkan suara tangis.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung....