Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 11


__ADS_3

Malam hari telah tiba, sepasang suami istri itu baru saja melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Usai alina melaksanakan sholat isa di susul oleh jovan. Jovan belum ingin menjadi imam sholat alina karena dia merasa belum pantas untuk itu, sehingga dia memutuskan sholat setelah alina saja.


Selesai dengan kegiatan sholatnya jovan ingin membicarakan perihal hubungan mereka pada alina. Gadis yang belum lama ia kenal itu namun kini sudah menjadi istrinya.


"Ehmm.. Lin gue mau ngomong." Jovan berdehem terlebih dulu menghilangkan sedikit kecanggungan di antara mereka.


Alina yang masih mengenakan hijab itu menoleh ke arah jovan sekilas, lalu kembali menundukkan kepalanya, alina masih sangat malu untuk mengajak jovan berbicara duluan. Hingga jovan selalu berinisiatif mengajak alina untuk berbicara.


"Bisa nggak sih, kamu kalau ngajakin aku ngomong nggak usah pake lo gue, aku kan ngerasa jadi orang asing di sini. Nggak nyaman di dengernya." Sahut alina, yang tidak suka ketika jovan menggunakan bahas yang menurutnya nggak sopan itu.


Jovan tersenyum mendengar permintaan alina, tidak menyangka jika alina bisa berbicara seperti itu pada dirinya.


"Oke..okee. gue.. maksudnya aku nggak akan pake bahasa itu lagi jika di depan kamu." Sahut jovan menuruti permintaan alina.


Alina masih dengan posisi menundukkan kepalanya. Jovan semakin gemes melihat tingkah istrinya itu.


"Sekarang lihat aku." Kata jovan tangannya meraih dagu alina lalu mengangkatnya perlahan hingga pandangan mereka bertemu.


Jovan tidak bisa bebohong dengan ciptaan tuhan yang begitu cantik, dia sangat mengagumi wajah cantik wanita yang ada di hadapannya sekarang. Wanita yang sudah menjadi istrinya. Jovan masih tidak percaya jika tuhan menakdirkan dirinya berjodoh dengan alina.


Sementara alina merasa jantungnya berdetak lebih cepat, alina tidak terbiasa dengan posisi ini, alina sama sekali tidak pernah bertatapan dengan lawan jenisnya seperti saat ini.


"Mau bicara apa?" Tanya alina kemudian, dia memberanikan diri untuk mengeluarkan suara.


"Kamu keberatan nggak dengan pernikahan kita ini?" Tanya jovan mencoba ingin mengetahui apa isi hati alina selama menjalankan pernikahan mereka beberapa hari ini.


Alina ingin berbicara namun dengan posisi seperti ini dia merasa tercekat tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


"Alina?" Gumam jovan seperti berbisik namun masih bisa di dengar oleh alina.


Alina tergagap ingin menanggapi pertanyaan jovan.


"Aku menerima pernikahan ini karena keadaannya sangat mendesak, kamu taukan kita itu sudah di fitnah melakukan yang bukan-bukan. Dan semua ini gara-gara kamuu, jadi aku terpaksa menerima pernikahan ini." Sahut alina memberanikan diri berbicara pada jovan, dia mengeluarkan semua uneg unegnya pada jovan matanya sudah mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Padahal aku masih ingin fokus menjalani kuliahku dan meraih cita-citaku." Sambung alina lagi, kini sudah menangis tidak bisa menahan laju air matanya.


Alina sedih mengingat nasibnya tidak sesuai dengan rencananya yang ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dulu lalu menjadi seorang perancang busana setelah kuliah. Alina sangat ingin meraih mimpinya untuk menjadi seorang desainner ternama. Namun jalannya sudah berbeda sekarang, dia malah terjebak dengan pernikahan yang sama sekali tidak ada dalam fikirannya selama ini.


"Maafkan aku, ini semua salahku. Kamu nggak perlu khawatir, kamu masih bisa kuliah seperti biasa. Aku nggak akan ngebatasin kamu termasuk semua kegiatan yang kamu sukai." Kata jovan, mencoba ingin menenangkan alina yang sudah menangis.


Kemudian tangan jovan beralih menghapus air mata alina dengan lembut. Sementara alina tidak bergeming dia hanya menerima setiap perlakuan jovan, entah kenapa alina semakin merasa terbiasa dengan laki-laki yang ada di hadapannya sekarang. Apakah dia akan luluh dengan sikap lembut jovan selama beberapa hari ini?


"Kita bisa berteman, sambil saling mengenal satu sama lain jika kamu tidak keberatan. Kita jalani pernikahan ini pelan-pelan ya?" Ucap jovan lagi.


Benar saja alina semakin luluh dengan ucapan jovan kali ini, laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya sekarang sangat memperlakukannya dengan begitu baik. Tidak mungkin jika alina sama sekali tidak terbawa perasaan. Alina mengangguk menanggapi setiap ucapan jovan.


"Terima kasih." Ucap jovan dengan senyum tulusnya.


Alina kembali mengangguk merasa tenang karena jovan tidak terlalu memaksakan situasi pernikahannya sekarang.


"Aku mau tidur." Ucap alina, merasa sudah mengantuk.


"Baiklah sekarang tidur ya, aku akan tidur di sofa jika kamu tidak mau berbagi tempat tidur." Kata jovan, dia akan sebisa mungkin mengalah dengan alina.


"Aku nggak apa-apa, kamu boleh tidur disini." Ucap alina.


Alina sendiri tidak tega membiarkan jovan akan tidur di sofa, sementara jovan adalah pemilik rumah yang saat ini dia tempati.


Jovan tersenyum, dia sangat bersyukur alina bisa menerima keadaan ini secara perlahan. Dia berniat akan membuat alina selalu merasa nyaman.


Alina pun ikut tersenyum pada jovan, alina juga akan menerima takdir hidupnya yang sekarang. Dia akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk suaminya. Alina akan selalu mengingat semua nasehat bundanya.


Tak menunggu waktu lama alina membaringkan dirinya di tempat tidur, tidak lupa dia menaruh bantal guling di tengahnya. Takut jovan akan melakukan hal konyol lagi seperti saat di rumahnya kemarin, Alina masih sangat takut dan belum siap jika harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yang sesungguhnya.


Sementara jovan harus pergi ke ruang kerjanya kerana dia belum merasa ngantuk. Di sana terdapat banyak buku-buku koleksinya. Jovan berniat akan membaca kembali buku ilmu kedokterannya karena dia tidak mau mengecewakan sang papah di hari pertamanya bekerja nanti. Bukannya lupa dengan ilmu yang sudah pernah di pelajari sebelumnya di bangku kuliahnya hanya saja jovan ingin membukanya kembali. mungkin saja ada yang di lupakan.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tidak sadar jovan telah tertidur di ruag kerjanya dengan posisi menumpuh kepalanya dengan kedua lengannya, buku yang tadi di baca masih terbuka.

__ADS_1


Alina yang sejak tadi gelisa karena jovan tidak kunjung masuk ke kamarnya, dia pun berniat untuk mencari jovan di ruangan kerjannya karena tadi sempat mengatakannya pada alina jika jovan akan ke ruangan kerjanya.


Alina bangun dari tempat tidurnya, melangkahkan kakinya menuju ruang kerja jovan. Setelah sampai di depan pintu, dengan ragu alina memutar knop pintu ruang kerja tersebut.


Perlahan alina mendorong pintu itu, dan benar saja di lihatnya jovan telah tertidur di sana. Alina masuk menghampiri jovan. Di raihnya buku yang masih terbuka dan masih di genggam oleh jovan.


Merasakan ada gerakan, jovan akhirnya terbangun. Dilihatnya alin sedang berdiri di sampingnya memegang buku miliknya.


"Alin. Sedang apa kemari?" Tanya jovan seraya tangannya mengusap matanya yang sedikit memerah karena tertidur.


"Aku nggak bisa tidur di kamar itu sendiri, Jadi aku ke sini memanggilmu. Kenapa tertidur disini?" Kata alina jujur yang memang sejak tadi dia tidak bisa tidur.


"Maaf, aku ketiduran disini." Sahut jovan beranjak dari tempat duduknya.


"Sekarang kita ke kamar." Kata jovan mengajak alina keluar dari ruang kerjanya dengan menggandeng tangan alina.


Sebelumnya dia meletakkan buku yang baca tadi ke tempat semula.


Alina mengangguk mengikuti langkah jovan. Hatinya sedikit lega karena jovan tidak marah karena tidurnya terganggu.


Sepasang suami istri itupun memasuki kamar mereka. Alina kembali membaringkan dirinya di tempat tidur di susul oleh jovan, namun jovan merasa tidak suka karena lagi-lagi alina menaruh bantal guling di tengah-tengah mereka.


"Bantal gulingnya nggak usah di letakkan disini, mengganggu saja." Ucap jovan yang sudah menyingkirkan bantal guling itu.


Alina membulatkan matanya melihat tingkah jovan yang seperti itu.


"Tapi...."


"Udah sekarang tidur ya." Kata jovan memotong perkataan alina, posisinya sudah menghadap ke alina lalu tangannya memeluk alina dari belakang.


"Jangan seperti ini, aku nggak terbiasa." Ucap alina karena merasa tidak nyaman dengan posisinya sekarang.


"Nanti lama-lama akan terbiasa." Sahut jovan dengan santainya. Posisinya semakin mengeratkan pelukannya pada alina.

__ADS_1


Alina hanya pasrah tidak membantah lagi, senyum tersemat di bibir tipis jovan. tak mebutuhkan waktu lama akhirnya keduanya pun tertidur dengan lelap.


__ADS_2