
Ke esokan harinya aby mendatangi rumah jovan, namun tidak menemui jovan di rumah yang ia tinggali bersama alina. Aby ingin menemui jovan hanya untuk memberikan surat gugatan cerai untuk jovan.
Karena tidak menemui jovan di rumahnya akhirnya aby mendatangi rumah orang tua jovan. Aby tidak mau menundanya lagi ini juga saran dari ayah hendra untuk segera membebaskan alina dari rasa sedihnya.
Tidak membutuhkan waktu lama mengendarai mobilnya akhirnya aby sampai di kediaman panji.
"Assalamu'alaikum." Ucap aby di balik pintu.
Terlihat mbok anis asisten rumah tangga kelurga panji membuka pintu dan menyambut salam aby, kemudian mempersilahkan masuk.
"Cari siapa ya pak?" Tanya mbok anis.
"Jovan ada?" Tanya aby to the pint.
"Den jovan sedang ada di kamarnya, sudah tiga hari ini dia sakit pak." Sahut mbok anis.
Mama intan mendengar ada yang datang dan akhirnya dia menghampiri ruang tamu untuk menemuinya.
"Siapa yang datang mbok?" Tanya mama intan berjalan menuju pintun ruang tamu.
"Aby? Ayo masuk nak." Ucap intan mempersilahkan laki-laki yang masih menjadi kakak ipar jovan.
Aby pun masuk ke dalam rumah orang tua jovan, tanpa perlu basa basi ia menyerahkan amplop coklat berisi surat gugatan cerai untuk jovan.
"Maaf tante saya rasa tidak perlu berlama-lama, saya datang hanya untuk menyerahkan ini saja." Ujar aby sambil menyerahkan amplop yang di pegangnya sejak tadi.
"Apa ini nak aby?" Tanya mama intan.
Kemudian mama intan membuka amplop coklat tersebut, seketika membuat dirinya terkejut membaca surat itu.
"Ma.. maksudnya ini apa? kenapa harus berujung perceraian. Apa alina benar-benar ingin berpisah dari jovan?" Ucap mama intan terbata, ada rasa kecewa melihat sura gugatan cerai tersebut.
Sama sekali tidak ada kesempatan untuk jovan memperbaiki kesalahannya.
"Assalamu'alaikum." Tiba-tiba terdengar suara salam dari panji yang baru saja pulang dari kantor.
"Walaikumsalam." Jawab salam intan dan aby bersamaan.
"Ada apa ini?" Tanya panji karena melihat sang istri seperti sedang menangis.
"Pah, alina menggugat cerai jovan." Ucap intan sudah mengeluarkan air mata.
Kemudian panji langsung merampas surat tersebut dan membacanya. Benar saja alina benar-benar telah menggugat cerai jovan.
"Panggilakan jovan mah." Kata panji.
Intan pun menaiki tangga memanggil jovan ke kamarnya.
"Jo, papa mu memanggilmu nak." Kata intan memberitahu jovan.
"Kenapa ma? jo mau ke rumah alina sekarang." Kata jovan terlihat sudah bersiap-siap ingin menemui alina di rumah mertuanya.
Karena ia mendapat kabar dari erika bahwa erika belum sempat menemui alina, jadi jovan berfikir dia saja yang mengajak alina untuk menemui erika hari ini agar permasalahan rumah tangganya cepat selesai.
"Sebaiknya temui papa mu dulu." Kata mama intan.
Jovan hanya mengangguk dan keluar meninggalkan kamarnya, mama intan menyusul di belakang jovan.
"Bang aby?" Jovan sedikit terkejut melihat keberadaan aby di kediaman keluarganya.
"Jo, lihatlah itu." Kata panji menyerahkan kertas ditangannyan.
"Apa ini pah?" Jovan mengambil kertas tersebut.
Beberapa detik kemudian jovan membaca dan membuatnya terkejut bukan main.
"Segeralah tanda tangani." Ucap aby datar.
Jovan menggeleng cepat, tidak terima dengan gugatan cerai alina.
__ADS_1
"Tidak. sudah ku bilang aku tidak akan bercerai dengan alina." Tegas jovan.
Jovan berlalu meninggalkan aby dan juga orang tuanya, ia berniat ingin langsung menanyakannya pada alina.
"Kamu mau kemana jo." Panggil panji melihat jovan berlalu membawa surat cerai tersebut.
Jovan terburu-buru mengendarai mobilnya, ingin segera bertemu dengan alina. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap segera sampai di kediaman orang tua alina.
Sementara aby masih terpaku melihat reaksi jovan. Ia pun dengan segera mengikuti mobil jovan.
"Saya permisi." Pamit aby tanpa ingin berlama-lama.
Aby mengikuti arah mobil jovan yang melaju begitu cepat.
Tidak membutuhkan waktu lama jo telah sampai di tempat alina.
"Jovan?" Bunda rumi terkejut melihat jovan yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumahnya.
"Bunda hari ini alin mau berang..." Ucapan alin terpotong ketika menemui jovan di depan bundanya.
Alina yang berniat ingin bernagkat kuliah namun di nurungkan, karena tidak ingin melihat kehadiran jovan langsung kembali ingin masuk ke kamarnya.
"Alina tunggu." Jovan menahan pergelangan tangan alina yang kembali ingin masuk.
Alina berusaha menepis tangan jovan namun tetap saja jovan dengan kekeh menahannya.
"Apa maksudnya ini alina?" Tanya jovan sambil memperlihatkan surat gugatan cerainya.
Aby yang baru saja sampai rumah orang tuanya, kali ini ia hanya diam melihat perlakuan jovan, ia ingin melihat sejauh mana keras kepala jovan.
Bunda rumi juga hanya diam melihat keduanya.
"Benar alina? kamu tidak bisa mempertahankan lagi rumah tangga kita?" Tanya jovan sekali lagi.
Alina hanya diam tidak tau harus berkata apa.
Melihat alina tidak meresponnya, akhirnya jovan memutuskan untuk menyuruh alina menandatangani surat gugatan cerai itu terlebih dulu.
Seketika alina menangis tanpa mengeluarkan suara.
"Alina. Ayo tanda tanganlah, Bukannya kamu akan melakukan ini?" Ujar aby.
Alina masih saja tidak bergerak untuk segera menandatangani surat itu akhirnya aby menuntun alina untuk melakukannya.
"Ayo alin." Ujar aby lagi.
Dengan tangan gemetar alina mendantangani surat cerai tersebut.
Jovan sangat syok melihat alina dengan mudahnya membubuhi tanda tangan miliknya di surat cerai itu.
"Sekali lagi aku bertanya sebelum aku ikut menandatanganinya, apa kamu masih belum ingin mendengar semua penjelasanku alina?" Tanya jovan memperhatikan wajah alina yang kini masih dengan posisi menunduk dan menangis.
Lagi-lagi alina tidak meresponnya, dan hanya menoleh ke arah lain seraya tangannya mengusap air mata yang tidak bisa ia tahan.
"Ibu ada yang mencari non alin di depan." Tiba-tiba mbok anis datang memberitahu bunda rumi jika ada yang mencari alina.
Tidak lama setelah perkataan mbok anis, seorang wanita muda dalam keadaan hamil memsuki ruang tamu kediaman keluarga hendra.
Alina melihat wanita yang tidak asing di hadapannya semakin membuatnya menangis dan tidak sanggup berhadapan dengan wanita itu.
"Erika." Gumam jovan yang terkejut melihat kedatangan erika.
"Jovan, maaf aku baru bisa datang hari ini karena kemarin aku sedang menemani rey di rumah sakit." Ucap erika merasa bersalah pada jovan.
Jovan tidak menanggapi.
"Ini wanita simpanan mu jovan. Berani sekali kamu mengajaknya ke rumah ini." Emosi aby yang tidak bisa di tahan lagi.
"Alina mau ke kamar." Ujar alina melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
"Alina aku dan kak jovan tidak ada hubungan apa-apa, dia hanya membantuku dan suamiku sudah hampir tiga minggu ini." Alina menghentikan langkahnya mendengar ucapan wanita yang bernama erika itu.
Kemudian erika menjelaskan semuanya tanpa ada yang terlewat satupun.
Flashback on
Enam bulan yang lalu rey dan erika telah menikah mereka meninggalkan kuliahnya di luar negeri untuk sementara waktu selama melakukan acara pernikahan keduanya, dua bulan kemudian rey mengalami kecelakaan dan menyebabkan dirinya terbaring koma di rumah sakit, erika begitu syok mendengar kabar mengenai suaminya terlebih lagi tidak ada sanak saudara mereka keduanya adalah anak yatim piatu, mereka menjalani kuliah dengan bantuan beasiswa yang mereka dapatkan.
Saat itu erika tidak tau lagi harus menghubungi siapa, biaya rumah sakit membuatnya pusing tidak bisa berbuat apa-apa sementara sang suami membutuhkan cepat penanganan.
Hingga akhirnya dia terpikir tentang jovan yang kebetulan ia mengenalinya dan juga sebagai sahabat rey, erika memutuskan untuk menemui jovan mungkin saja bisa meminta bantuan.
Kebetulan rey pernah bercerita pada erika perihal tempat kerja jovan hingga pada saat itu erika mendatangi jovan memberitahu jika rey kecelakaan.
Tepat di ruangan jovan erika menemuinya.
"Erika?" Jovan sedikit terkejut melihta kedatangan erika yang tiba-tiba.
"Maaf aku mengganggu kak jovan kemari, ada yang ingin aku katakan perihal rey. Aku ingin meminta bantuan kak jovan." Ucap erika seperti sedang putus asa saat itu.
Jovan menyerngit heran mendengar nama rey, bukan kah rey sedang kuliha di luar negeri? lalu kenapa bisa mereka di indonesia?
"Rey?" Tanya jovan memastikan.
"Rey kecelakaan dan dia sedang kritis harus segera di operasi." Kali ini erika sudah terisak tidak bisa membendung air matanya.
Jovan terkejut mendengarnya, bagaimana pun rey adalah temannya selama berada di luar negeri waktu itu, dan rey banyak bercerita pada jovan tentang kehidupannya membuat jovan merasa perihatin.
"Apa yang harus aku bantu erika? dan di rumah sakit mana rey sekarang?" Tanya jovan kemudian, ia penasaran dengan keadaan rey kali ini.
"Di rumah sakit x." Jawab erika masih dengan tangisnya.
"Bgaimana kamu bisa ada di indonesia, bukankah kalian sedang menjalani kuliah di luar negeri?"
"Aku dan rey sudah menikah." Ujar erika lagi-lagi membuat jovan terkejut.
"Kenapa tiba-tiba begini, kalian menikah tanpa mengundangku?" Ucap jovan.
Detik kemudian erika menjawab tanpa beban dan merahasiakan aibnya pada jovan.
"Aku hamil kak jo."
Jovan semakin terkejut saja, ternyata rey dan erika telah menjalin hubungan sejauh itu, hingga membuat mereka menikah.
"Lalu kalian tinggal di mana?" Tanya jovan.
"Kami menyewa kos kosan kecil." Sahut erika.
"Aku sedang ingin meminta bantuan kak jovan, apa bisa meminjamiku uang untuk biaya rumah sakit rey?"
Jovan mengangguk, karena merasa iba dengan kondisi mereka.
"Aku akan membantumu, dan juga aku akan mencarikan rumah yang layak untuk kalian tinggali." Ucap jovan.
Membuat erika bersyukur jovan mau membantunya.
Seminggu kemudian pada saat erika mau melihat kondisi rey di rumah sakit, pagi-pagi sekali jovan mendatangi rumah yang di tinggali erika, rumah yang jovan sewakan untuk sementara waktu.
Niatnya mau mengantar erika ke rumah sakit tempat rey sedang di rawat paska operasi, dan masih dalam keadaan koma.
Tiba-tiba erika merasa perutnya sangat sakit, tepat saat jovan sampai di rumah erika pagi itu. Akhirnya jovan membantu erika dan merangkul erika dan membawanya ke mobil.
"Aku bantu, jangan terlalu memikirkan keadaan rey. Dia akan baik-baik saja, rey laki-laki kuat. Pikirkan juga kehamilanmu sekarang." Nasehat jovan sembari merangkul erika memasuki mobilnya.
Jovan juga tidak tega melihat erika dalam keadaan sakit sendirian, tanpa dampingan sang suami.
Jovan menemani erika memeriksakan kehamilannya di dokter kandungan tempat rey di rawat pagi itu.
Setelah memeriksakan kehamilan erika, kembali keduanya melihat keadaan rey yang masih dalam keadaan koma.
__ADS_1
Flashback off