
Hari ini alina kembali melanjutkan rutinitasnya untuk berkuliah seperti biasa karena beberapa hari kemarin alina sempat ijin tidak bisa mengikuti kuliah seperti biasanya.
Setelah semalam mendapat pesan whatshapp sedikit mendapati ucapan semangat dari suaminya, pagi ini alina begitu sangat bahagia. Moodnya sedang baik hari ini.
"Alina." Panggil indah yang sudah duduk di kursi halaman kampus seraya melambaikan tangannya pada alin.
Alina juga membalas lambaian tangan sahabatnya dari kejauhan.
"Di antar sama bang aby ya lin?" Tanya indah yang tumben melihat alina di antar oleh abangnya.
"Iya, aku sengaja meminta di antar sama bang aby. Dia nggak mau biarin aku naik taksi lagi." Sahut alina tersenyum.
"Tumben, ada apa sih? Eh tungu..tunggu.. Kayaknya hari ini kamu kelihatannya bahagiah baget deh." Ucap citra yang memang melihat alina dengan raut wajah berbeda.
"Apaan sih ndah, orang aku emang gini tiap hari kok." Tukas alina cepat.
Tak lama setelah obrolan keduanya terlihat dosen mereka sudah akan masuk ke kelas. Alina dan indah pun segera beranjak menuju kelas mereka.
"Lin kok aku ngfans banget ya sama dosen bule itu, cantik banget nggak sih." Kata indah melihat dosen wanitanya yang begitu cantik mengenakan hijab.
Iya shanum seorang dosen yang di rekrut oleh salah seorang teman dadynya untuk bisa mengajar di kampus tersebut sebagai dosen desainner, karena kampus tempatnya mengajar sekarang sangat membutuhkan seorang pengajar yang seperti shanum memiliki ilmu pengetahuan luas serta banyak pengalaman.
"Halo adek-adek, selamat pagi semua. Apa semuanya sehat?" Ucap shanum mulai membuka jam kuliah yang akan di sampaikan pagi ini.
"Pagiiii kakak dosen cantiik." Sahut semuanya serempak, mahasiswa laki-laki serta wanita.
Shanum hanya tersenyum mendengar sahutan semua mahasiswa yang ada di kelas itu.
Lalu shanum memulai memeberikan materi untuk mata kuliah yang akan di ajarkan. Shanum menjelaskan dengan sangat detail sehingga bayak mahasiswa yang begitu menyukainya, dan juga sangat mudah mereka pahami.
Hingga menjelang siang para mahasiswa yang memang jam kuliahnya telah selesai, mereka segera beranjak untuk pulang ke tujuan masing-masing. Termasuk alina yang segera ingin pulang ke rumah tidak sabar menunggu panggilan vidio dari sang suami yang tengah berada di tempat jauh.
"Alina ya." Sapa shanum pada mahasiswanya.
Alina yang duduk di depan kampus sedang menunggu jemputannya, karena sebelumnya dia sudah menghubungi abangnya untuk meminta di jemput.
"Eh, iya kakak dosen." Sahut alina menganggukkan kepalanya dengan senyum cantiknya ke arah dosen mudah itu.
"Nunggu jemputan?" Tanya shanum.
Terlihat shanum juga sedang menunggu supir untuk menjemputnya, namun sudah sejak tadi shanum menelponnya tapi belum juga di angkat. Mungkin dia akan mencoba menghubunginya sekali lagi, namun jika belum ada jawaban shanum berfikir akan memesan taksi online saja, dari pada lama menunggu.
__ADS_1
Selang beberapa menit sebuah mobil berhenti tepat di hadapan alina serta shanum.
"Jemputan alina sudah ada, Alina duluan ya kakak cantik." Ucap alina melambaikan tangannya pada shanum.
Shanum hanya membalas dengan anggukan dan senyuman.
Sementara aby yang sedang berada di dalam mobil, tidak sengaja dia kembali melihat wanita yang akan di jodohkan dengannya. Namun aby tidak ingin memeprlihatkan dirinya.
"Abang, kok nggak jalan-jalan juga sih mobilnya, alina udah capek nunggu nih dari tadi pengen cepat sampai rumah." Tegur alina yang melihat abangnya tidak kunjung menghidupkan mobilnya.
Seketika alina membuyarkan lamunan aby yang sedikit terperanga melihat wanita yang sedang berdiri di depan kampus itu. Alina pun mengikuti arah pandangan aby.
"Bang aby kok liatin dosen alina kayak gitu sih." Kata alina.
"Dia dosen kamu?" Sahut aby, kini pandangannya sudah melihat ke arah alina.
Alina mengangguk menjawab pertanyaan abangnya.
Kemudian aby cepat-cepat kembali menjalankan mobil mewahnya itu.
"Dosen tercantik di kampus alina." Sahut alin kemudian, dengan senyum cantiknya.
Aby tidak lagi menanggapi perkataan alina, dia kembali fokus mengendarai mobilnya, ingin segera sampai menuju kediamannya.
"Nggak ada yang mau di jodohin, kamu ini apa-apaan sih, selalu saja membahas hal yang tidak penting sama sekali." Sarkas aby, sedikit tidak suka dengan pertanyaan alina.
"Kenapa sih bang aby selalu marahin alina setiap ngebahas tentang perjodohan itu. Kenapa nggak abang tolak aja, kenapa bang aby harus pasrah." Suara alina tidak kalah tinggi.
Alina tidak terima jika abangnya selalu mengucapkan nada yang terdengar marah padanya. Mungkin karena efek hormon kehamilannya sekarang jadi alina agak sedikit sensitif dengan keadaan sekitar.
"Ya allah, aku salah lagi nih dek. Maaf deh." Sahut aby cepat karena sudah melihat perubahan raut wajah alina yang akan mengeluarkan air mata.
"Maaf ya." Ucap bay lagi seraya mengelus kepala adik kesayangannya itu.
Alina hanya membuang muka ke arah jendela mobil, dia lebih memilih untuk menikmati pemandangan kota yang sedang ramai.
"Alina pengen makan apa? biar abang beliin." Ucap aby kemudian, mencoba mengambil kembali hati adiknya.
Kebiasaan aby ketika sudah membuat adiknya kehilangan mood, dia akan segera menawarkan hal-hal yang menarik yang mungkin alina sukai.
"Nggak mauu, alina cuma mau kak jo pulang." Sahut alina dengan nada sinis, pandangannya masih tertuju ke arah luar.
__ADS_1
Tentu saja permintaan alina saat ini tidak bisa ia penuhi, bagaimana bisa dia menyuruh jovan untuk pulang ke indonesia sementara adik iparnya itu sedang sibuk-sibuknya mengambil profesi seorang dokter bedah.
"Kamu jangan ngaco dek. Abang nggak mungkin penuhi permintaanmu itu." Ucap aby nada suara terdengar putus asa.
"Ya udah sebagai gantinya beliin alina eskrim yang banyak, rasa coklat ya bang." Kali ini alina dengan wajah cerianya karena membayangkan eskrim rasa coklat yang akan meleleh di dalam mulutnya.
Membayangkannya saja sudah membuat alina menelan salivanya karena ngiler.
"Ya sudah, kita ke kedai eskrim sekarang." Ajak aby.
Alina mengangguk antusias, seraya bergelayut manja di lengan abangnya.
"Bang aby memang terbaik." Ucap alina memeluk lengan abangnya.
Aby hanya menggeleng melihat tingkah sang adik, dia pun memakluminya karena alina sedang dalam kondisi mengandung keponakannya jadi perubahan mood ibu hamil bisa berubah-rubah. Aby juga ingin menjadi abang yang siaga untuk mengurusi kehamilan adiknya karena saat ini alina sedang tidak didampingi oleh suaminya pada saat hamil.
Jadi aby berfikir bahwa dialah yang harus selalu ada untuk alina. Apa pun yang alina inginkan aby akan berusaha menuruti keinginan adiknya itu selama itu tidak membahayakan dirinya.
Kini mobil aby sudah di depan kedai eskrim yang mereka tuju.
"Bang aby saja ya yang turun." Rengek alina yang memang malas beranjak dari mobil, belum lagi dia melihat para pembeli sedang ramai mengantri.
Aby hanya menarik nafa kasar.
"Baiklah tuan putri." Sahut aby kemudian menyanggupi permintaan sang adik.
Aby pun turun dan segera menuju kedai eskrim yang terlihat ramai oleh pembeli anak-anak dan remaja. Kemudian aby mengambil berbagai macam eskrim rasa coklat untuk alina.
"Kak abyaz?" Sapa seorang wanita yang berdiri tepat di samping aby.
Aby menoleh ke arah suara yang sedang menyapanya.
"Sahanum" Gumam aby mendapati wanita berwajah bule itu berdiri tepat di sampingnya.
Sepertinya shanum juga sedang membeli eskrim.
"Kak aby pencinta eskrim juga?" Tanya shanum mencoba menghilangkan rasa canggungnya.
"Hmmm." Sahut aby sedaanya, tidak ingin banyak menimpali pertanyaan wanita itu.
Tak lama setelah itu, kini giliran aby untuk membayar eskrim yang telah ia ambil lalu segera menyerahkan beberapa lembar uang kepada seorang kasir. Kemudian aby pergi begitu saja meninggalkan shanum tanpa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
Shanum hanya melihat kepergi aby, dia berpikir mungkin saja laki-laki yang akan di jodohkan dengannya itu tidak menyukainya, sehingga aby bersikap dingin seperti yang ia saksikan barusan.