Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 5


__ADS_3

Jovan terus mengendarai mobilnya tidak menghiraukan gadis yang sedang menangis dalam diam di sampingnya. Hingga sampai pada tujuannya yaitu kediaman orang tuanya.


"Turunlah, gue ngajak lo ke rumah atas perintah papa dan mama gue. Ntar bakalan gue ceritain semuanya." Kata jovan dengan santai.


"Kenapa harus maksa, bahkan sama orang yang nggak kamu kenal sama sekali." Lirih alin masih dengan air mata yang sejak tadi keluar.


"Hapus air mata lo, gue nggak suka liatnya. Cengeng amat sih jadi cewek." Teriak jovan yang sudah kesal dengan sikap manja alin.


Mendengar teriakan jovan, alin begitu kaget semakin menundukkan kepalanya dan tentu saja air matanya semakin luruh.


"Kamu meneriaki ku apa hakmu hahh?" Pekik alin dengan suara tercekat karena berusaha menahan tangisnya.


Jovan tidak tahan lagi dengan sikap gadis cengeng di hadapannya sekarang, dengan segera mungkin dia sendiri yang menghapus air mata alin dengan telapak tangannya.


Tentu saja alin kaget dengan tindakan jovan yang seenaknya menyentuh dirinya. Alin sangat tidak menyukai bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Itulah yang membuat alin menangis sejak tadi.


"Tolong jauhkan tangan lancang mu itu." Sinis alin sambil menepis keras tangan jovan.


Jovan menarik nafas kasar, berusaha menenangkan rasa kesalnya terhadap alina, dengan segera dia membuka pintu mobil kemudian membuka pintu mobil penumpang yang di tempati jihan, Tidak ingin menyentuh gadis itu lagi. Akhirnya jovan menarik pelan ujung jilbab jihan yang terulur hingga bawah pinggangnya.


"Ikutlah ke dalam." Kata jovan berusaha bersikap lembut.


"Oh iya nama gue jovan, lo bisa panggil gue jo atau jovan. Terserah." Kata jovan lagi.


Alina tidak mau bangkit dari duduknya, dia masih saja diam di tempat tidak menghiraukan laki-laki yang mengajaknya berbicara.


"Lo turun sendiri apa harus gue gendong sampai dalam rumah?" Ucap jovan, seketika membuat alin kaget dan segera turun dari mobil, karena takut pria itu berbuat seenaknya lagi seperti sebelumnya.


Jovan melengkungkan senyum samar melihat tingkah gadis ceroboh yang kemarin di tabraknya.


Huuuhff ternyata gampang juga ngedapatin cewek lugu kayak dia. batin jovan


Alina mengikuti langkah jovan dari belakang, dia pun pasrah dengan nasibnya sekarang. Mimpi apa dia semalam sehingga dia bisa terjebak dengan situasi seperti ini. Alina tidak pernah menyangka bisa seperti ini ada laki-laki asing yang memaksakan kehendaknya.


Alina menghentikan langkahnya ketika mendengar suara ponselnya berdering, Tertera nama indah lalu alin segera mengangkatnya.


"Ya ndah." Kata alin.


"Dimana lin, kamu udah nyampe rumah belum?" Tanya alin khawatir di balik telepon.


Alin bingung maunjawab apa, di lihatnya jovan yang di sebelahnya sedang melihatnya, alin segera mundukkan kepalannya.


"Udah kok ndah, ini udah di rumah. Udah dulu ya ndah aku lagi ada kerjaan nih." Jawab alin dengan rasa gugup karena telah berbohong pada sahabatnya sendiri.


"Ya udah kalau gitu, Takutnya kamu kenapa-kenapa tadi, makanya aku telpon." Kata indah lalu keduanya pun menutup teleponnya.


Usai menerima telepon, alin melirik ke arah samping sekilas. Seketika pandangan mereka bertemu, alin yang menyadari itu langsung melihat ke arah lain.


Jovan tersenyum hanya tersenyum simpul melihat tingkah gadis yang di depannya itu.


Lalu jovan mengajak alin masuk ke rumhanya.


"Masuk lah." Kata jovan.


Alin hanya mengikuti langkah laki-laki itu.


"Mah." Teriak jovan.


Tak lama intan menghampiri jovan di ruang tamu. Tak lama setelah jovan memanggil, mama intan yang sedang sibuk menata makanan di meja makan, pergi menghampiri anaknya.

__ADS_1


"Eh tamunya udah dateng ya." Kata mama intan.


"Assalamualaikum tante." Ucap alin yang berjalan memasuki ruang tamu.


"Walaikumsalam. Ayok nak silahkan duduk dulu." Kata intan mempersilahkan tamunya.


Alin hanya mengangguk tersenyum, lalu duduk di sofa ruang tamu. Alin sendiri heran dengan sikap mama jovan, kenapa begitu sangat antusias menyambutnya.


"Jadi ini gadis yang di ceritakan oleh papamu jo? yang telah kamu tabrak itu?" Tanya intan pada putranya.


Alin terkejut mendengar bahwa laki-laki yang menculiknya saat ini adalah seseorang yang telah menabraknya. Namun zea berusaha untuk menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Ma jangan di ungkit lagi kejadian itu." Kata jovan tidak terima jika intan membahas lagi kejadian buruk waktu itu.


"Aku mau ke kamar, mama yang menyuruhku untuk mengajaknya ke sini. Jadi mama saja yang menemaninya." Ucap jovan lalu pergi menuju kamar miliknya.


Intan menggeleng melihat sikap putranya itu, kapan putranya akan merubah sikapnya jadi lebih sopan. Intan tidak bisa lagi menghadapi sikap dingin putranya itu.


"Maafkan sikapnya ya nak." Kata intan.


Alin hanya mengangguk.


"Oh iya, maaf ya nak alin mama menyuruh jovan untuk mengajakmu ke sini, mama ingin meminta maaf atas kesalahannya yang selalu ugal-ugalan membawa kendaraan." Ucap intan tulus.


"Ehh, nggak apa-apa tante itu musibah yang menimpah alin. Nggak mungkin menyalahkan siapa pun." Sahut alin sopan.


"Nama mu alin?" Tanya mama intan.


"Iya tante, kenalkan saya alina." Jawab alina.


Mama alin menggangguk tersenyum.


Tak lama setelah itu intan mengajak alin untuk makan siang bersama setelah panji sampai rumah. Memang panji setiap harinya pulang untuk makan siang di rumah jika tidak ada jadwal padatnya.


Bunda pasti menghawatirkan ku saat ini. batin alina.


Intan menyuruh mbok anis untuk memanggil jovan di kamarnya.


Tak lama setelah itu jovan pun tiba di ruang makan dan duduk di tempatnya. Dia mengabaikan gadis yang di ajaknya tadi.


Mereka pun makan dengan suasana tenang, sesekali intan dan panji mengajak alin berbicara agar tidak merasa canggung.


Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya. Alin pun berniat membantu untuk membereskan bekas makannya, namun dengan cepat intan melarangnya.


"Tidak usah alin, biar mbok anis yang membereskan." Kata intan menarik tangan alin menuju ruang tamu.


"Eeh nggak apa-apa kok tante."


Intan memnggeleng tetap tidak membiarkan alin melakukan sesuatu, intan mengajak alin mengobrol.


Satu jam sudah alin dirumah jovan, dia berniat pamit untuk pulang.


"Kalau begitu, alin pamit dulu tante. Takutnya mama khawatir di rumah." Kata alin ingin pamit.


Intan mengiyakan alin untuk pamit, lalu memanggil jovan untuk mengantar alina pulang. Dengan malas jo mengantar alina ke kediamannya.


Setelah berada di dalam mobil keduanya pun tidak ada yang mengeluarkan suara. Jovan hanya fokus pada kemudinya.


"Rumah lo dimana?" Tanya jovan kemudian.

__ADS_1


"Di kompleks xx." Sahut alina.


Jovan terus mengendarai mobilnya menuju alamat yang di sebutkan alin barusan. Tak lama kemudian keduanya sampai rumah alin.


Alin cepat-cepat ingin turun dari mobil. Tapi tangannya kesusahan membuka seatbeltnya.


"Kenapa buru-buru?" Tanya jovan.


Pandangan jovan teralihkan pada tangan alin yang sedang kesusahan membuka seatbelt tersebut.


Jovan berniat membantu alin, karena memang seatbelt mobolnya suka eror dan belum sempat di perbaiki.


"Sini gue bantu." Kata jovan.


"Ng..nggak usah aku bisa sendiri." Alin gugup, tidak pernah berdekatan dengan laki-laki sedekat ini. Apa lagi hanya berdua di dalam mobil.


Jovan dengan sikap seenaknya seperti biasa tidak menghiraukan kata lawannya. Ia pun mendekatkan dirinya pada alin kedua tangannya membantu melepaskan seatbelt yang sedang eror itu.


Posisi keduanya begitu sangat dekat hanya berjarak beberapa centi saja, alin yang tidak siap dan ingin menolak hanya bisa memejamkan matanya tidak ingin bertatapan lebih intens pada laki-laki asing di hadapannya sekarang.


Namun seorang pria dari luar melihat mereka dengan salah paham, karena kaca mobil jovan tidak terlalu gelap dan bisa terlihat oleh seseorang dari luar.


Aby pun segera menghampiri mobil itu dan betapa terkejutnya dia mengetahui bahwa seorang perempuan yang tengah berada dalam mobil tersebut adalah adik perempuannya sendiri.


Seketika emosi aby meluap, dan mengetuk pintu mobil dengan keras.


"Apa yang kalian lakukan, hanya berdua di dalam mobil?" Teriak aby yang sudah di kuasai oleh emosi. Karena tidak menyukai jika adiknya melakukan yang tidak-tidak dan bikin malu keluarganya.


Alin yang mendengar teriakan kakaknya segera mendorong jovan, seatbelt yang berusaha jovan lepaskan kini sudah berhasil terlepas.


Dengan cepat alin membuka pintu mobil jovan, lalu segera keluar.


"Bang, ini nggak seperti yang abang lihat." Kata alin mencoba menjelaskan pada abangnya.


Aby yang sudah sangat emosi seketika menarik kerah baju milik jovan.


"Apa yang kamu lakukan padanya hahh?" Teriak aby emosi.


Jovan menggeleng tidak terima dengan tuduhan aby.


"Ini nggak seperti yang lo lihat bro. Tenang dulu." Kata jovan santai.


Aby tidak suka melihat ekspresi jovan yang begitu santai seolah meremehkannya, hingga aby melayangkan bogem mentah pada jovan.


Buuuggghh...


Jovan tersungkur hingga jatuh tersungkur karena tidak siap dam tidak menjaga keseimbangannya.


"Abang, jangan lakukan itu." Teriak alin.


Bunda rumi dan ayah hendra yang mendengar keributan di halaman rumahnya segera keluar.


"Ada apa ini?" Tanya hendra.


"Ayah, bang aby salah paham sama alin." Jawab alin yang sudah menangis.


"Ada apa ini aby, kenapa membuat keributan disini?" Ayah hendra sudah emosi.


"Laki-laki ini telah berbuat mesum sama anak perempuan ayah." Sahut aby masih dengan rasa emosinya yang sudah sangat menguasainya.

__ADS_1


Hendra terkejut mendengar perkataan aby. Pandangannya melihat tajam ke arah alina.


Alina menggeleng dan melihat ke arah bundanya untuk meminta pembelaan. Air mata sudah membasahi pipinya.


__ADS_2