Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 36


__ADS_3

Alina dan jovan masih dalam posisi saling memeluk tidak perduli begitu banyak pandangan mata yang tertuju pada mereka, seolah keduanya terlihat masa bodoh. Yang mereka tau saat ini adalah melepas rasa rindu yang sudah kian menggebu karena sudah hampir empat bulan tidak saling bertemu.


Jovan masih jelas merasakan jika wanita yang ada dalam dekapannya saat ini bergetar karena tangisan, jovan mengerti apa yang sedang di rasakan oleh istrinya, karena tidak bisa di pungkiri dirinya pun merasakan apa yang di rasakan oleh alina, rindu yang begitu sangat ia rasakan selama beberapa bulan kemarin.


Beberapa saat kemudian jovan menarik diri dari pelukan alina, kedua tangannya berusaha menangkup wajah cantik istrinya lalu kemudian memberikan sebuah kecupan yang cukup lama di kening sang istri.


"Heii sayang, jangan menangis. Aku ada di hadapanmu sekarang." Suara jovan lembut setelah mendaratkan sebuah kecupan pada kening alina.


"Kak jo? Kenapa kak jovan nggak bilang kalau jadi pulang." Lirih alina masih dengan suara seraknya karena efek menangis.


Kembali alina memeluk suaminya begitu erat, seolah tidak ingin membiarkan jovan untuk pergi lagi.


"Kalau aku memberitahumu, bukan surprise lagi namanya sayang." Sahut jovan dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Berarti kak jo bohongin alina kemarin." Keluh alina.


Jovan terkekeh mendengar alina yang merasa di bohongi, memang benar jovan sedikit menjahili istrinya kemarin. Hanya ingin memberi kejutan kecil pada istrinya dengan kehadirannya di acara penting abang iparnya.


"Sebaiknya kita mengobrol di sana sambil menunggu acara bang aby selesai." Ajak jovan menarik alina ke arah salah satu tempat duduk yang terlihat kosong.


Alina mengangguk mengiyakan ajakan suaminya, keduanya berjalan dengan genggaman tangan mereka yang tidak ingin saling melepas.


Namun baru saja alina dan jovan akan mendudukkan dirinya terdengar panggilan ayah hendra dan juga bunda rumi memanggil jovan dengan raut wajah tak kalah terkejutnya dari alina.


"Jovan? Kamu jadi pulang nak?" Tanya bunda rumi pada menantunya.


"Iya bunda." Sahut jovan segera menyalami punggung tangan bunda rumi serta ayah hendra.


"Waah ngasih kejutan sama alin ya, sudah dua hari alina mukanya di tekuk mulu gara-gara suami kasih kabar nggak jadi pulang katanya." Imbuh ayah hendra sedikit menyindir putrinya.


"Ayaahh ih." Keluh alina pada ayahnya terlihat raut wajah malunya, membuat jovan semakin gemes saja pada istrinya.


Bunda rumi serta ayah hendra tergelak melihat tingkah putri kesayangan mereka, terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


Bahagia orang tua ketika menyaksikan putra putri mereka sedang merasakan kebahagian seperti sekarang ini, kedua anak kesayangannya telah mendapat pendamping yang tepat. Rumi dan hendra berharap rumah tangga putra putrinya akan baik-baik saja sampai maut memisahkan.


Setelah mengobrol ringan mereka kembali pada sang mempelai untuk memberikan ucapan selamat.


"Selamat ya bang aby dan kak shanum, bahagia ya bang cepet punya dedek juga kayak alin." Ucap shanum pada abang dan kakak iparnya.


"Aliiinn." Imbuh aby tidak terima dengan perkataan alina yang seolah mengejek dirinya.


Jovan juga ikut memberikan ucapan selamat pada abang iparnya beserta istri.


"Selamat bang atas pernikahannya, nggak salah pilih memang nih bang aby,, langgeng terus ya bang." Ucap jovan tersenyum pada aby seraya menepuk bahu abang iparnya.


Aby hanya mengangguk menanggapi perkataan adik iparnya.


"Kata alina kamu nggak jadi pulang." Kata aby sedikit terkejut mendapati adik iparnya menghadiri acara pernikahannya.


"Surprise buat istri bang." Timpal jovan yang membuat aby tersenyum membayangkan wajah murung adiknya selama dua hari kemarin.


Selanjutnya para tamu undangan silih berganti mengucapkan selamat hingga acara selesai di gelar.


Acara resepsi aby dan shanum telah selesai, jovan berniat ingin langsung meminta pada mertuanya untuk meminta ijin membawa alina ke rumah mereka.


"Kak jo, apa nanti saja kita pulangnya? nggak enak kalau harus ninggalin rumah masih banyak kerabat di rumah." Ungkap alina yang memang merasa tidak enak jika harus meninggalkan rumah orang tuanya karena masih di ramaikan oleh beberapa keluarga inti dari hendra dan rumi.


"Nggak sayang, aku sudah meminta ijin pada ayah dan bunda. Kita pulang ya?" Jovan tetap kekeh ingin mengajak alina pulang ke rumah mereka.


Karena jovan memang sudah sangat merindukan alina, maka dari itu dia ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan alina di kediaman mereka tanpa ada yang mengganggu.


Sudah sejak semalam jovan menahan rindunya ketika baru sampai di rumah orang tuanya, rasanya jovan ignin langsung saja menghampiri alina di rumah mertuanya. Memang jovan semalam ketika sampai di tanah air langsung saja menuju kediaman orang tuanya tanpa memberi kabar pada alina dan juga mertuanya karena niat ingin memberi kejutan pada sang istri atas kedatangannya.


Jovan memang sempat memberi kabar pada alina empat hari sebelum acara resepsi abang iparnya, tujuannya hanya untuk mengecohkan hati sang istri, mungkin saja alina merasa kecewa atas kabar bahwa dirinya gagal pulang dengan alasan ada jadwal praktek yang harus dia ikuti satu minggu ke depan. Dan benar saja ketika mendengar ucapan ayah mertuanya tadu dan juga aby bahwa alina benar-benar merasa sedih mendengar jovan yang tidak bisa pulang.


"Ya udah kalau gitu alina siap-siap dulu, sekalian mau pamit sama bunda dan ayah." Kata alina yang akhirnya menuruti keinginan suaminya.

__ADS_1


Jovan mengangguk senang, lalu dia juga mengikuti langkah alina menuju kamar istrinya.


"Loh, kenapa kak jo ngikutin alin sih. Kak jo juga harus pamit dulu sama ayah sama bang aby juga. Tuh mereka ada di ruang tamu lagi ngobrol sama saudaranya ayah." Tukas alin melihat suaminya yang sejak tadi selalu mengikuti dirinya.


"Noo sayang.. Aku kangennya sama kamu, masa mau gabung sama mereka. Takutnya mereka nahan ngajak ngobrol lama. Mending melepas rindu sama isrtri." Sahut jovan dengan santainya tetap dengan mengikuti langkah alina.


Alina menggeleng melihat tingkah suaminya yang merasa aneh.


Ketika sampai di kamar alina, ia pun segera bersiap mengganti baju gamis yang lebih santai di padukan dengan hijab senada.


Sementara jovan hanya duduk di sisi tempat tidur alina seraya netranya terus memandang istrinya yang sedang berganti pakaian, sesekali jovan menyunggingkan senyumnya karena akhirnya bisa melihat sang istri di depan mata saat ini.


Alina yang masih merapikan penampilannya di depan cermin meja rias, tiba-tiba jovan beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri alina dan kembali memberikan pelukan, seolah tidak pernah puas untuk memeluk sang istri dari belakang.


"Kak jo, jangan gini alin susah nafasnya." Imbuh alin yang merasakan pelukan jovan begitu erat.


Jovan tidak menggubris perkataan alina, dia terus saja memeluk alina serta memberikan beberapa kali kecupan pada pipi sang istri.


"Kak jo, kasian si dedek dalam perut nanti susah nafasnya." Ucap alina lagi.


Langsung saja membuat jovan tersadar dan mengingat bahwa istrinya tengah hamil. Jovan sempat melupakan jika istrinya sedang mengandung buah hati mereka.


"Ya allah sayang, maaf kenapa aku jadi lupa sama adek yang ada di dalam sini. Saking kangen banget sama ibunya kali ya." Ucap jovan seraya terkekeh menampilkan deretan gigi putihnya, sebelah tangannya mengelus lembut perut alina.


Kembali jovan mendaratkan sebuah kecupan pada pipi istrinya, tanpa melepas pelukannya.


*


*


*


TBC...

__ADS_1


Jangan lupa tetap beri likenya ya readers semuanya 🙏😊


__ADS_2