Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 31


__ADS_3

Alina memakan eskrim dengan begitu lahap tanpa menawarkan pada abangnya, sejak tadi ketika masih dalam mobil alina sudah melahap eskrim yang di beli oleh aby tadi, hingga kini setibanya di rumah masih saja memuaskan dirinya dengan berbagai eskrim rasa coklat.


Aby membelikan alina eskrim begitu banyak, mata alina sontak berbinar melihat berbagai macam eskrim rasa coklat.


"Alina jangan berlebihan makan eskrimnya, nanti kamu sakit perut loh." Tukas bunda rumi yang sejak tadi melihat putrinya memakan eskrim tanpa menghiraukan makan siangnya di meja makan.


"Iya bunda, alina habisin yang ini dulu sisanya alina masih simpan di kulkas." Sahut alina.


Setelah memuaskan dirinya dengan eskrim alina pun beranjak dari ruang tv menuju kamarnya, rasanya sudah mengantuk dan ingin tidur siang.


"Mau kemana, kamu nggak makan siang dulu?" Tanya bunda rumi pada alina.


"Alina kenyang banget." Ucap alin.


Bunda rumi menggeleng melihat tingkah alina, bunda rumi pun memahami apa yang anaknya rasakan karena pengaruh dari kehamilannya.


Ketika sampai di kamarnya alina langsung melaksanakan sholat dzuhur setelah itu dia langsung membaringkan diri di atas tempat tidur, tak membutuhkan waktu lama alina sudah terlelap dengan begitu pulas.


Saking pulasnya alina tertidur hingga dia tidak menyadari ponselnya berdering sejak tadi. Hingga menampilkan beberapa panggilan vidio tak terjawab di poselnya.


****


Pada malam harinya alina belum juga sempat melihat ponselnya, setelah melaksanakan sholat magrib alina langsung bergegas ke dapur untuk membantu bundanya menyiapkan makan malam.


Sementara aby baru saja pulang ke rumah setelah berkutat dengan banyak pekerjaan di kantornya. Aby langsung saja mendudukkan dirinya di meja makan karena sudah merasa sangat lapar.


"Bang aby sudah pulang." Ucap alina.


"Hmmm.. Udah bisa langsung makan nggak ini, aby sudah laper banget nih bund." Kata aby yang memang sudah sangat lapar karena sejak siang tadi dia mengabaikan makan siangnya.


"Tunggu ayah dulu bang, ayahkan masih dimesjid." Sahut alina.


"Biarkan abangmu makan lebih dulu, mungkin dia sudah lapar, apa kamu mengabaikan makan siangmu aby?" Kata bunda rumi menebak jika putranya itu sudah mengabaikan makan siangnya.


"Aby lupa makan siang bund, tadi padat banget di kantor nggak sempat makan siang." Sahut aby.


Bunda rumi menggeleng mendengar sahutan aby yang begitu santainya dan sudah sering kali dia mengabaikan waktu makannya. Kadang-kadang bunda rumi sering menceramahi putranya agar tidak mengabaikan kesehatannya demi pekerjaan.


"Abang mah suka gitu, awas loh ntar abang sakit lagi, kalau bang aby sakit nanti yang jagain alin siapa?" Tukas alina.


Aby yang mendapatkan berbagai macam omelan dari adiknya sedikit masa bodoh, dia tidak terlalu menghiraukan ucapan alina, dia hanya fokus mengisi perut laparnya.


"Suami kamu tadi telpon ke abang, katanya kamu nggak angkat telponnya sejak tadi siang ya." Ucap aby pada alin, dia baru ingat kalau jovan tadi meleponnya untuk memberi tahukan pada alina.

__ADS_1


Sontak saja alina melihat ke arah abangnya. Dan dia juga baru menyadari jika hari ini dia telah mengabaikan ponselnya.


"Bunda, alin ke kamar dulu ya, pasti kak jo hawatir sama alin nggak ngangkat telponnya dari tadi." Alina pun langsung meninggalkan bunda dan abangnya di ruang makan, segera melangkah dengan cepat meninggalkan meja makan.


Bunda rumi hanya mengangguk.


Sesampainya di kamar alina langsung merogoh ponselnya yang terletak di atas nakas. Dan benar saja banyak panggilan vidio tak terjawab dari jovan serta beberapa pesan chat melalui aplikasi WA.


Kemudian alina langsung melakukan panggilan pada jovan.


"Assalamu'alaikum, kak jo maafin alina tadi siang alin nggak menjawab teleponnya. Alina ketiduran kak." Ucap alina dengan hati-hati. Berharap jovan tidak memarahinya.


"Walaikumsalam, aku hawatir lin." Sahut jovan.


"Maaf." Imbuh alin.


"Lain kali jangan seperti itu, aku bahkan tidak fokus melakukan sesuatu disini jika kamu mengabaikan teleponku sekali saja." Ucap jovan.


Alina hanya diam dan terus saja meminta maaf pada suaminya.


"Untung bang aby menjawab teleponku, dan bisa menanyakan keadaanmu." Kata jovan lagi.


Sebenarnya jovan sangat ingin memarahi alin namun entah kenapa hatinya tidak tega jika sedikit saja berbicara dengan nada tinggi pada alina. Jovan paham dengan perubahan-perubahan sikap yang terjadi pada ibu hamil, itu termasuk dalam pengaruh hormon. Karena sebelum-sebelumnya alina tidak pernah sekalipun mengabaikan ponsel miliknya hanya untuk menunggu kabar darinya.


Ada sedikit rasa lega pada hati alin setelah mendengar suara sang suami karena memang seharian ini alina mengabaikan ponsel miliknya.


"Kamu sudah berbicara dengan suami mu lin?" Tanya bunda rumi.


Alina mengangguk menanggapi sang bunda.


"Kalau begitu kita lanjutkan makan malamnya." Kata bunda.


Ayah hendra sudah pulang dari mesjid setelah mengerjakan waktu isya, sementara aby sudah kembali ke kamarnya sejak tadi.


"Bang aby mana bunda?" Tanya alina yang sudah tidak melihat keberadaan abangnya.


"Sudah kembali ke kamarnya, katanya dia ingin segera beristirahat sedikit kelelahan." Sahut bunda rumi.


Mereka pun melanjutkan makan malam hanya bertiga.


Tidak membutuhkan waktu lama usai menikmati makan malam mereka, ayah kembali ke ruang kerjanya untuk mengamati sedikit masalah pekerjaannya. Sementara bunda rumi beranjak untuk membereskan piring kotor bekas makan.


"Biar alin aja bunda." Kata alin.

__ADS_1


"Alina kamu istrihat saja sayang, biar bunda dan bi muna yang membereskannya." Sahut bunda.


Bunda rumi sangat melarang alina melakukan susuatu selama hamil mudah, dia tidak ingin putri kesayangannya yang sedang hamil merasa kelelahan. Jadi bunda rumi sedikit protektif dengan kehamilan alina saat ini karena mengingat ini adalah cucu pertamanya.


Alina hanya menuruti setiap apapun yang di larang oleh bundanya karena itu semua demi kebaikannya serta janin dalam kandungannya.


****


Di belahan bumi yang berbeda yaitu dimana kini jovan sedang mengenyam pendidikan yang akan di gelutinya nanti di masa depan yaitu sebagai dokter ahli beda.


Pagi ini jovan sedang bersiap untuk berangkat kuliah setelah menyantap sarapannya. Kini jovan sedang membelah jalanan yang sangat macet mengendarai mobilnya menuju harvard university.


Jovan menarik nafas kasar ketika menyaksikan jalanan yang tak kunjung reda kemacetan, perjalanan yang hanya ditempuh sepuluh menit namun ternyata hampir satu jam dia menghabiskan waktu mengendarai mobilnya.


"Siaaallll." Gumam jovan dengan tangannya yang sudah memukul stir mobilnya.


Setelah lama berkutat dengan jalanan yang begitu macet akhirnya jovan telah sampai di area kampusnya.


Jovan langsung saja menuju kelas mata kuliah yang akan di ikuti pagi ini. Terlihat temannya sudah sangat ramai.


Untung saja gue nggak terlambat.


Bunggghhhhh..


"I'm sorry..." Ucap seorang wanita yang telah menambrak jovan ketika jovan akan berbelok ke arah kelasnya.


Wanita itu terlihat buru-buru memberekskan buku-bukunya yang terjatuh barusan.


Jovan pun segera membantu wanita yang masih sangat terlihat mudah itu.


"I'm sorry." Ucap wanita itu sekali lagi.


"No problem." Sahut jovan.


Jovan melihat ke arah wanita tersebut, jovan melihat wanita itu tidak seperti warga negara asing, Dia berfikir jika wanita yang di hadapannya kini mungkin dari negara yang sama dengannya.


Tidak mau menghabiskan waktu lama, jovan pun segera melanjutkan langkahnya untuk memasuki kelasnya.


"Ehh,, kamu pasti dari indonesia ya?" Tanya wanita itu tiba-tiba.


Jovan yang sudah melangkah kini kembali menoleh ke arah belakang.


"Iya." Sahut jovan singkat.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum mendengar jawaban jovan, akhirnya dia akan memiliki teman sesama negaranya. Iya, memang wanita itu adalah mahasiswa baru di kampus ini. Dia baru saja mulai masuk kuliah hari ini.


__ADS_2