Pernikahan Yang Terpaksa

Pernikahan Yang Terpaksa
Episode 45


__ADS_3

Jovan yang baru menyadari bahwa ponselnya ada di genggaman erika, dengan segera ia mengambilnya.


"Ponselku kenapa bisa ada di kamu?" Tanya jovan dengan raut wajah yang ingin terlihat ingin marah.


Erika yang mendapat pertanyaan dari jovan dan melihat raut wajah jovan terlihat marah seketika membuat erika menunduk kemudian memberikan ponsel milik jovan.


"In.. ini kak ada telpon dari seorang wanita tapi tiba-tiba saja sambungannya terputus, baru saja aku ingin memberitahu kak jovan." Sahut erika dengan hati-hati berharap jovan tidak marah.


Jovan dengan cepat mengambil ponselnya dan melihat daftar panggilan masuk dan ternyata alina yang menelponnya barusan. Jovan berniat ingin menelpon balik namun di urungkan karena melihat jam sudah mendekati pukul sepuluh malam, jovan berfikir jika dia akan menelpon kembali istrinya ketika pulang ke apartemennya sepulang mengantar erika.


"Lain kali jangan menyentuh barang orang sembarangan, apa lagi dengan lancang mengankat panggilan teleponnya." Ucap jovan sinis.


"Maaf, karena tadi telepon kak jovan terus saja berbunyi akhirnya saya berniat mengangkatnya lalu memberikannya pada kak jovan." Imbuh erika.


Jovan tidak lagi menimpali perkataan gadis yang di sampingnya itu, dengan segera menghidupkan kembali mobilnya yang sempat macet tadi. Syukurlah mobil jovan bisa kembali membaik.


Jovan dengan segera melajukan mobilnya melewati jalanan yang terlihat sepi itu.


Hampir dua puluh menit menghabiskan waktu berkendara hanya untuk mwngantar erika pulang, akhirnya jovan telah sampai di apartement miliknya. Kemudian jovan berniat membersihkan diri setelah itu jovan ingin sekali mengistirahatkan tubuhnya sejenak di atas tempat tidur.


Namun baru saja jovan akan memejamkan matanya tiba-tiba ponsel miliknya berdering menandakan ada panggilan masuk, dengan sigap jovan meraih benda pipihnya dan melihat nama penelpon yang tertera yaitu mama intan.


Mama? ada apa menelpon jovan, tumben sekali.


Batin jovan merasa tidak tenang, ia menggeser ikon berwarna hijau untuk menjawab panggilan telepon dari sang mama.


"Assalamu'alaikum mah?" Ucap jovan terlebih dulu membuka percakapan mereka.


Terdengar suara isak tangis mama intan di balik telepon, semakin membuat jovan merasa tidak tenang dan fikiran buruk mulai mendominan di benaknya.


"Walaikumsalam jo.. Pulang nak, alina istrimu sedang kritis." Suara isak tangis mama intan memberitahu jovan di balik telepon.


Mendengar isak tangis serta penjelasan sang mama, detak jantung jovan berpacu lebih cepat, tidak percaya dengan semua yang di ucapkan mama intan.


"Mama jangan bercanda mah, alina.. Alina barusan sempat menelpon jovan loh mah." Ucap jovan menampik semua informasi dari sang mama.


"Jooo..!! istrimu sedang kritis nak, segeralah untuk pulang." Tangis mama intan kembali pecah.


Jovan tidak lagi menyahuti mamanya, dengan segera ia memutuskan sambungan telepon lalu bersiap untuk pulang saat itu juga ia berharap harus mendapatkan tiket penerbangan ke tanah air.

__ADS_1


Ya allah ada apa dengan alina?


Pikiran-pikiran buruk mulai berputar di benak jovan mengenai istrinya, apalagi mendengar suara mama intan di balik telepon sedang menangis histeris menjelaskan kondisi alina.


Setelah menyiapkan keperluannya jovan dengan segera mengendarai mobilnya menuju bandara, tidak perduli lagi ia akan menitipkan mobilnya di mana nantinya. Yang jelas jovan saat ini memikirkan tentang alina dan harus segera sampai ke indonesia saat itu juga.


Namun apalah daya jarak tempuh amerika dan indonesia membutuhkan waktu kurang lebih 25 jam. Jovan semakin di buat gusar dengan jarak yang harus ia tempuh saat itu juga.


Ya allah selamatkan alina istriku, jangan sampai terjadi apa-apa padanya.


Jovan terus saja menggumamkan do'a untuk alina, seraya pandangan ke jalan raya tetap harus berkonsentrasi untungnya pengguna jalan tidak terlalu ramai karena malam sudah terlihat larut hingga jovan bisa leluasa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Setelah menempuh perjalan dua puluh menit menuju bandara akhirnya jovan pun sampai, sebelumnya jovan sudah memesan tiket untuk penerbangannya dan syukurlah jovan bisa mendapatkan jadwal penerbangan malam ini juga, Jovan pun segera melakukan chek in.


Tak lama menunggu pengumuman jadwal penerbangan jovan terdengar, jovan langsung berlari menuju area pesawat ia sangat berharap agar cepat sampai.


****


Di rumah sakit tempat alina sedang memperjuangkan hidupnya saat ini, operasi telah selesai di laksanakan namun kondisi alina masih sangat kritis dan bayinya sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Suasana menyedihkan dua keluarga besar itu pun sangat terasa di antara mereka mendengar alina yang masih kritis apa lagi kandungan alina yang masih berusia lima bulan tidak bisa di selamatkan.


Bunda rumi yang baru saja sadar langsung menemui suaminya untuk menanyakan kondisi alina saat ini.


"Bagaimana kondisi putri kita ayah?" Tanya bunda rumi yang sejak tadi tidak ada hentinya mengeluarkan air mata.


Aby yang melihat bundanya terpukul aby pun beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri bundanya.


"Bunda kita harus kuat demi alina. Alina pasti bisa melewati masa kritisnya." Ucap aby mencoba menenangkan sang bunda.


Seketika bunda rumi memeluk putra sulungnya.


"Bagaimana dengan kondisi bayinya?" Suara bunda rumi masih dengan sesegukan.


Aby hanya menggeleng menandakan bahwa kandungan alina tidak bisa di selamatkan.


Semakin histeris saja bunda rumi melihat respon putranya, apa yang harus di katakan pada alina dan suaminya ketika alina sadar nanti.


Lama mereka saling meratapi kesedihan, tak lama ayah panji pun keluar dan memberi instruksi bahwa calon cucu mereka tidak bisa di selamatkan harus segera di makamkan. Sangat terlihat raut wajah kesedihan dari panji termasuk mama intan yang tiada hentinya menangis.


Semuanya pun setuju dan ayah hendra serta aby beranjak untuk melihat janin yang belum sempat melihat dunia namun sudah lebih dulu meninggalkan mereka.

__ADS_1


Bunda rumi serta mama intan dan juga shanum memilih untuk menunggu kabar kondisi alina.


"Apa sudah ada yang memberitahu jovan tentang hal ini?" Tanya panji pada semuanya.


"Aku sudah memberitahunya pah." Sahut mama intan.


"Baiklah, kalau begitu saya dan pak hendra akan pergi memakamkan janin alina." Ucap panji.


Kemudian ketiga laki-laki itu berlalu untuk segera memakamkan calon bayi alina.


Usai memakamkan janin tersebut, meraka pun kembali ke rumah sakit dan menunggu kabar kondisi alina selanjutnya.


Baru saja papa panji sampai dokter vina tiba-tiba menghampirinya dan memberitahu jika kondisi alina semakin kritis dan masih membutuhkan beberapa kantong transfusi darah.


"Dokter panji, kondisi alina saat ini masih sangat kritis, setelah di lakukan pemeriksaan lagi tenyata tulang belakang alina mengalami fraktur akibat benturan yang sangat keras ketika terjatuh. Karena itu kita harus melakukan operasi lagi." Jelas dokter vina pada semuanya.


"Tolong selamatkan putriku." Ucap ayah hendra cepat.


"Tolong selamatkan menantu kita pah. Tolong selamatkan dia." Mama intan menghampiri suaminya.


Panji yang masih terpaku di tempatnya tidak bisa berkata-kata lagi, rasa sesal pun kian ia rasakan telah membuat jovan dan alina harus menjalani hubungan jarak jauh.


Apa yang harus ia katakan dengan putranya nanti, ia merasa bersalah tidak bisa menjaga sang menantu dengan baik sehingga bisa terjadi seperti ini. Pesan jovan kembali terngiang di ingatannya.


Mah, Tolong jagain alin ya mah, pah.


Panji mengusap kasar wajahnya merasa prustasi.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan alina, kenapa bisa terjadi seperti ini?" Tanya papa panji seolah putus asa.


Kemudian aby menjelaskan bahwa alina yang tiba-tiba terjatuh dari tangga dan membuat alina tidak sadarkan diri.


"Apa yang harus aku katakan dengan putraku, aku tidak bisa menjaga istrinya dengan baik." Suara serak panji terdengar seperti menahan tangis yang akan pecah.


*


*


*

__ADS_1


TBC...


Jangan lupa kasih like dan tetap beri hadiah ya teman-teman 🙏😊


__ADS_2