
Operasi telah selesai di lakukan dan aby sudah di pindahkan kembali di ruang ICU karena memang kondisi aby masih dalam masa kritis pasca operasi kondisinya masih membutuhkan perawatan intensif.
"Bagaimana kondisi putra saya dokter?" Tanya ayah hendra ketika melihat dokter keluar dari ruang ICU.
"Untuk saat ini kondisi pasien masih dalam keadaan kritis, kami tim dokter sudah berusaha semaksimal mungkin. Dan tetap berdoa saja pak semoga ada keajaiban tuhan. Kami akan tetap memantau tanda-tanda vital pasien melalui alat-alat yang menempel pada tubuhnya saat ini, sangat besar harapan kami jika pasien akan segera pulih." Jelas seorang dokter tersebut.
"Kalau begitu saya permisi pak." Pamit dokter itu berlalu menuju ruangannya.
Ayah hendra dan juga yang lainnya mendengar ucapan dokter tersebut kembali bersedih, ternyata aby belum melewati masa kritisnya meski sudah menjalani operasi yang cukup lama.
Terutaman shanum semakin besar rasa penyesalannya. Tububnya seperti tidak bertulang rasanya ingin sekali mengulang waktu dan memperbaiki semuanya. Jika saja dia tidak mementingkan ke egoisannya. mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini
"Maafkan shanum ayah." Ucap shanum membuat ayah hendra menoleh padanya.
"Sudahlah nak, ini bukan salah siapa-siapa ini sudah menjadi takdirnya dan kita harus ikhlas menerima dan menjalani semua." Sahut ayah hendra yang memang tidak ingin menyalahkan siapa-siapa disini.
"Kita semua tetap harus mendo'akan aby." Lanjutnya lagi.
"Bagaiaman keadaan aby ayah?" Tanya bunda rumi yang tiba-tiba muncul dari arah ruang perawatan.
Ayah hendra sedikit terkesiap mendengar istrinya menghampirinya, bukankah rumi masih dalam perawatan kenapa bisa berada di sini?
"Ayah, bunda memaksa untuk keluar dari ruangan. Alin sudah menahannya dan kak jo tapi bunda tetap memaksa dan ingin melihat keadaan bang aby." Jelas alina pada ayahnya.
Ayah hendra mengangguk kemudian dengan segera menghampiri tubuh rapu sang istri.
"Putra kita akan baik-baik saja, dia membutuhkan doa kita." Ujar ayah hendra pada istrinya.
"Aku ingin melihat putraku." Kekeh bunda rumi tetap ingin bertemu putranya.
Akhirnya bunda rumi berada di dalam ruang ICU setelah di ijinkan oleh dokter jaga. Bunda rumi dengan perlahan berjalan ke arah bed tempat aby terbaring lemah dengan alat-alat medis yang menempel di tububnya.
"Nak, jangan buat bunda sedih seperti ini sayang. Ayo bangun nak bukannya kamu hanya meminta ijin untuk pergi menangani perusahaan ayahmu yang berada di turki? tapi kenapa malah seperti ini nak." Lirih bunda rumi dengan isak tangisnya.
Bunda rumi terus saja mengajak aby berbicara seolah aby dapat mendengarnya, seraya tangannya mengelus tangan aby yang menempel selang infus di sana.
__ADS_1
****
Satu minggu berlalu, dan selama aby berada di rumah sakit shanum terus saja menjaganya tanpa meninggalkannya barang sebentar kecuali ada hal penting yang harus ia kerjakan perihal kantornya.
Aby juga masih terbaring belum sadarkan diri, dokter mengatakan jika aby mengalami koma karena memang setelah melakukan operasi di bagian otak pasien akan mengalami koma beberapa hari kedepan setelah melewati masa kritisnya.
"Shanum sebaiknya kamu pulang dulu nak istirahat di rumah kamu, bunda takut kamu akan kelelahan belum lagi kamu memikirkan masalah di kantormu." Ujar bunda rumi menyarankan shanum untuk pulang terlebih dulu beristirahat di rumahnya.
Shanum menggeleng tidak ingin meninggalkan aby disini. Ia ingin sekali meminta maaf pada laki-laki yang telah ia buat seperti ini hanya karena ingin mendapatkan perhatian dan kesempatan darinya.
"Shanum akan menunggu kak aby sampai sadarkan diri bunda. Sahnum ingin meminta maaf padanya." Sahut shanum yakin.
"Tapi nak, wajahmu sudah sangat pucat tidak baik menyiksa dirimu seperti ini bagaimana bisa aby memaafkanmu dalam keadaan seperti ini." Kata bunda rumi lagi.
Karena memang keadaan shanum saat ini sedang pucat sebab dia kurang tidur serta tidak adanya nafsu makan meski bunda rumi terus saja membujuknya. Entahlah penyesalan itu terus saja menjadi bumerang untuknya.
"Kalau begitu bunda pulang sebentar ingin mengambil sesuatu untukmu, bunda sudah menyuruh alina untuk memasak makanan kesukaanmu, dan kamu harus memakannya nanti." Titah bunda rumi sebelum pergi meninggalkan ruangan tempat aby saat ini.
Shanum hanya mengangguk, setiap hari selalu begitu selama seminggu ini bunda rumi dan alina lah yang selalu memberinya semangat dan tidak boleh larut dalam penyesalan, bunda rumi dan ayah hendra selalu berkata jika yang di alami aby saat ini adalah sudah takdir dari yang maha kuasa jadi tidak perlu di sesali lagi.
"Bunda hati-hati, dan maafkan shanum yang selalu merepotkan bunda dan keluarga yang lain." Kata shanum merasa bersalah.
Bunda rumi hanya menggeleng.
"Kamu tidak merepotkan siapapun nak, kamu sudah bunda anggap sebagai putri bunda sendiri sama seperti alina." Ucap bunda rumi, sedikit membuat shanum merasa terharu. Ia sangat beruntung memiliki mantan mertua sebaik bunda rumi. Andai shanum bisa lebih bersabar lagi waktu itu dan tidak memaksa aby untuk bercerai pasti shanum masih bisa merasakan lebih dekat lagi kasih sayang seorang ibu dari bunda rumi yang berstatus sebagai mertuanya.
Setelah kepergian bunda rumi, shanum kembali menatapa aby yang masih saja betah di pembaringannya, seolah mimpinya begitu sangat indah dan aby enggan untuk bangun menyadarkan mimpinya itu.
Saat ini tinggallah shanum sendirian menjaga aby. Sesekali shanum mengelus lembut tangan aby yang tidak terpasang selang infus. Menatap wajah pucat yang sudah seminggu belakangan ini terbaring lemah tak sadarkan diri.
"Apa kak aby sebetah itu dan sangat menikmati mimpi indahmu kak? hingga tidak mau bangun, apa kak aby tidak ingin meminta kesempatan itu lagi? shanum berjanji akan memberikannya asal kak aby kembali sehat seperti semula." Shanum kembali mengajak aby berbicara, dan begitu setiap hari shanum lakukan selalu membisikkan suatu harapan di samping aby seolah aby bisa mendengarkannya.
Dua puluh menit setelah shanum berbicara dan shanum baru saja dari kamar mandi usai membersihakan dirinya. Tiba-tiba saja shanum di buat terkejut bukan main karena mendapatkan aby yang sudah membuka kedua matanya dan berusaha untuk mendudukkan dirinya.
"Kak abyyy..." Teriak shanum ketika melihat aby sedang berusaha untuk duduk.
__ADS_1
Seketika aby menoleh ke arah suara yang dengan histeris memanggilnya.
Shanum langsung membantu aby untuk duduk.
"Kak aby jangan terlalu banyak bergerak dulu kak." Kata shanum khawatir seraya membantu aby.
"Shanum." Gumam aby melihat hanya shanum yang ada di saat ini.
Shanum hanya mengangguk.
Tidak lama setelah itu bunda rumi dan ayah hendra muncul, dan juga alina serta jovan. Baru saja mereka membuka pintu ruang yang di tempati aby selama koma bunda rumi seketika melongo dan detik kemudian berjalan cepat ke arah putranya yang terlihat sedang duduk di atas tempat tidur.
"Kamu sudah sadar nak? Apa tidak ada yang sakit? katakan pada bunda." Lirih bunda rumi melihat senang bercampur haru melihat putranya yang sudah sadarkan diri.
"Biar alin yang memanggil dokter bunda." Seru alina langsung keluar memanggil seorang dokter dan juga perawat.
Tak lama kemudian seorang dokter serta perawat masuk kedalam ruangan, mengatakan jika kondisi aby sudah membaik dan sudah bisa di pindahkan di ruang perawatan.
Rasa syukur tidak ada hentinya mereka ucapkan atas kondisi aby yang sudah membaik.
Sementara aby sejak tadi hanya memandang shanum dengan tatapan kosongnya seolah ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Bukankah shanum sangat menghindarinya lalu kenapa wanita itu masih saja memperdulikannya?
Saat ini aby sudah mengingat semuanya mingingat kejadian terakhir yang ia alami. Aby sempat berfikir saat itu jika dirinya sudah akan menghadap sang maha kuasa ketika aby merasakan sekujur tubuhnya begitu sangat sakit merasakan hantaman keras sebuah kendaraan yang entah apa, aby sama sekali tidak mengingat hal itu. Yang sangat jelas di ingatannya waktu itu adalah ketika ia meminta pamit pada shanum namun shanum seolah enggan untuk menatapnya untuk yang terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi ke negara yang terbilang jauh.
Apa kamu memperdulikan keadaanku shanum?
Gumam aby dalam hatinya, tatapannya masih saja tertuju pada shanum, sementara shanum yang mendapatkan tatapan seperti itu dari aby hanya bisa menunduk merasa khawatir. Apakah aby akan menyalahkan dirinya atas semua kejadian yang di alaminya.
Entahlah shanum merasa sangat takut.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...