PRAHARA CINTA

PRAHARA CINTA
PEMASANGAN CINCIN TUNANGAN


__ADS_3

Deni tebangun sebelum matahari muncul.


Deni melihat jam didinding kamarnya menunjukan jam 4 pagi,


"selamat pagi dunia,hari ini awal dari masa lajang ku"


gumam Deni dalam hatinya dengan matang kan wajah gadis manis yang telah berhasil membuat nya menjadi pria bucin.


Deni yang masih duduk ditepi ranjang singel miliknya mengedarkan pandan,


terukir senyum disudut bibirnya,


Deni menyeka rambut nya, bangkit melangkah kekamar madi,


Deni yang telah selesai mandi dan berpakaian rapi menatap jendela melihat indahnya matahari pagi yang memancarkan sinarnya menelusur masuk menerpa tubuh Deni yang telah siap menyongsong hari ini.


"Tuhan sungguh indah ciptaan mu,"


Bisik Deni melihat matahari yang bersinar menyinari bumi.


Diruangan tengah terdengar suara bergemuruh sayup sayup ditelinga Deni,


Semua saudara Deni yang hadir tuk menghadiri dan saksi pertunangan Deni dan Dini sudah bangun sibuk mempersiapkan semuanya demi kelancaran pertunangan Deni.


Deni yang melangkah luar dari dalam kamar ingin berbau dengan sepupunya.


"cie,,


yang mau tunagan udah rapi sendiri"


canda Bio yang baru bangun


"kirain wangi apa yang gagu tidur, bikin merinding"


lanjut Bio cekikikan meliahat Deni yang melotot melihat nya.


"Bangun pergi madi bersihin iler yang nempel"


ucap Deni sembari memukul bahu Bio yang masih duduk dengan lilitan selimut ditubuh nya..


"Jangan Bang,masih dingin"


sanggah Bio yang semakin menggulung tubuh nya dengan selimut.


"emang Abang yang udah gak sabar ketemu sama calon bini"


Lanjut Bio yang mengedipkan sebelah mata pada Deni.


Deni yang merasa jengah diledek Bio memilih berbaur dengan sepupunya yang lain,sembari menelpon seseorang.


"Angga, jangan lupa ya,,


pagi ini ketempat Abang"


ucap Deni berbicara pada karyawan nya.


"Bang,Aku juga boleh ngajak Bebe ngak?"


tanya Bio yang sedari tadi mendengar percakapan Deni dengan Angga.


"Hitung hitung belajar bagai mana cara lamaran dan tunagan,ntar tancap gas aja lagi"


kelakar Bio yang mulai dengan segala sikapnya nyeleneh.


Deni hanya menatap Bio dengan memutar bola matanya.


Bio yang melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi dengan ketawa yang sangat riang berhasil mengoda Deni,

__ADS_1


hahahaha.


keluarga Deni sudah terlihat rapi semua terutama Bapak yang memakai baju batik dengan celana dasar hitam dan Ibuk yang memakai baju kebaya brokat dengan rok batik senada dengan Bapak.


Deni terlihat tampan dengan Stelan baju putih dibalut dengan jas biru lauk dengan celana yang sewarna.


"woi, ganteng sekali Abang ku,,semoga tidak terlihat sama nenek lampir"


ujar Bio yang telah rapi melihat Deni teringat akan sosok yang terus mencari Deni selama ini.


mendengar ucap Bio yang sembarangan membuat semua yang ada diruangan itu menoleh melihat Deni dan tertawa berjamaah.


Raut wajah Deni berubah seketika karena memahami maksut dari ocehan Bio,


Deni menjitak kepala Bio cukup keras."Awww! sakit Bang."


pekik Bio yang bersembunyi dibelakang Ibu Deni sembari mengusap kepalanya.


"makanya kalo ngomong tu yang benar!"


balas Deni dengan raut wajah yang tegang dan serius.


"Deni,kanapa memukul sepupu mu?"


ucap Ibu melihat anaknya penuh tanya.


"kenapa ponakan Ibu bisa ingat sama orang yang paling Deni hindari?"


Balas Deni masih dengan raut wajah yang serius dan menegang,teringat akan sikap Yanna nekat pernah mencelakai Dini.


kini keheningan menyapa mereka,semua tidak terlibat obrolan atau candaan.


semua terdiam, ketika melihat Deni dengan raut wajah yang sangat gelisah.


Bapak dan Ibu mengetahui perubahan Deni,karena orang tua Deni sangat mengetahui kenekatan Yanna.


ucap Bapak mengalihkan situasi yang tersa sangat sunyi dengan menunjukan jam Dinding.


"Sudah jam 9,jangan terlalu lama keluarga besan menunggu rombongan kita!"


lanjut Bapak yang telah memegang pundak Deni lembut.


Dikediaman Dini semuanya telah siap menunggu kedatangan Keluarga Deni,


Ayah terlihat sangat gagah dengan stelan baju batik yang dipadu padan kan dengan celana merah marun Dan bunda yang berbaju gamis merah marun berhiaskan renda renda kening emas sangat serasi dengan Ayah


Dini sangat Cantik dan begitu imut dengan Baju gamis warna putih rumah yang bertaburan Payet yang berkilauan.


semua keluarga Dini sangat kagum dengan kecantikan Dini.


saat Rombongan orang tua Deni datang halaman rumah Orang tua Dini,


saudara Dini yang hadis sedari tadi terpana melihat ketampanan Deni.


"tampan sekali calon mu Din,"


bisik sepupu Dini menyenggol Dini yang juga terpana mengintip kedatangan Deni dibalik jendela kamarnya.


Dini yang tersadar dari lamunannya menunduk karena malu dengan jantung yang berdebar sidebar muka bersemu merah.


Deni mengedarkan pandanganya mencari keberadaan gadisnya.


"Ayo masuk jangan sungkan,anggap rumah sendiri"


sambut Ayah pada orang tua Deni dengan sangat ramah.


"Assalamualaikum"

__ADS_1


ucap Bapak,Ibu dan rombongan saat memasuki rumah orang tua Dini.


mereka duduk diruangan tengah.


kehadiran keluarga Deni disambut dengan baik oleh keluarga Dini.


semenjak duduk diantara keluarga orang tua Dini,Sorot mata Deni selalu terarah ke pintu kamar Dini yang tertutup rapat,sesekali melihat keluarga yang berkumpul.


Bunda yang sangat mengerti dengan arti tatapan Deni,melangkah menuju kamar Dini,


"Din,ayo luar,keluarga Deni sudah menunggu"


ucap Bunda pada Dini yang telah terlihat sangat rapi dan cantik.


"Bun,Dini sangat gugup,"


lirih Dini memegang tangan Bunda dengan sangat erat.


"astagfirullah,kenapa kamu sagat gugup seperti ini Dini?"


tanya Bunda yang kaget saat memegang tangan Dini yang sangat dingin.


Bunda memegang kedua bahu putrinya tuk berdiri, menggandeng tangan Dini berjalan keluar.


Deni yang melihat kehadiran Dini beriringan dengan Bunda,menatap Dini tanpa berkedip,


"Bang,kok bengong gitu,bentar lagi tinggal digarap"


Bisik Bio tepat ditelinga Deni,berhasil menyadarkan Deni beralih melihat Bio dengan tatapan yang membingungkan.


"kalo tidak banyak orang,sudah aku pukul kamu."


balas Deni sangat pelan pada Bio yang masih tersenyum lebar dengan memperlihatkan deretan gigi nya.


Hari ini,sesuai rencana mengadakan pertunangan. pada hari ini secara resmi Deni mengutarakan niatnya tuk bertunangan dengan Dini.


Dengan menyematkan cincin dijari manis Dini,


begitu juga dengan Dini memasangkan cincin di jari Deni.


tak lupa Deni memasangkan sebuah gelang di pergelangan tangan Dini,


Dini sangat kaget dan terharu menatap Deni yang memasangkan gelang yang saat itu menarik perhatiannya.


Deni menatap Dini dengan penuh kasih,Semua orang lantas mersa senang setelah pemasangan cincin.


Kini Dini telah menjadi seorang perempuan telah resmi dilamar, maka dengan demikian Dini tidak boleh menerima lamaran lelaki lai..


Deni dan Dini terlihat bahagia,begitu juga dengan kedua belah keluarga mereka yang sangat bahagia.


setelah pemasangan cincin,kedua kuaraga melaksanakan syukuran dengan makan bersama dengan segala persiapan yang telah ditata keluarga Dini dengan sangat baik,


keluarga mereka membaur tidak ada jarak.


......................


...😉😉...


𝑫𝑼𝑲𝑼𝑵 𝑵𝑶𝑽𝑬𝑳 𝑰𝑵𝑰 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝑽𝑶𝑻𝑬, 𝑷𝑶𝑰𝑵, 𝑫𝑨𝑵 𝑳𝑰𝑲𝑬 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒔𝒂𝒉𝒂𝒃𝒂𝒕 𝒃𝒂𝒄𝒂 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 😉😍🤩


𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒑𝒂 𝑳𝒊𝒔𝒕 𝑭𝑨𝑽𝑶𝑹𝑰𝑻 𝒅𝒂𝒏 𝑩𝑬𝑹𝑰 𝑹𝑨𝑵𝑻𝑰𝑵𝑮 𝒚𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒉𝒂𝒃𝒂𝒕𝒌𝒖 𝒌𝒖


🙏🙏🙏


𝑻𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝑲𝑶𝑴𝑬𝑵 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒊𝒅𝒊𝒌 𝒔𝒆𝒓𝒕𝒂 𝒔𝒐𝒑𝒂𝒏 😘😘😘


𝑨𝒈𝒂𝒓 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝒊𝒏𝒊 𝒔𝒆𝒎𝒂𝒌𝒊𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒌𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈.

__ADS_1


🤭🥰🤗🥳🌞


__ADS_2