
Hari ini Bio tutup telat dari biasanya, karena menunggu Deni kembali dari kota,
disisi lai Yully tengah menelpon ibunya,
Tut..tut..Tut...
bunyi telpon terhubung menunggu tersambung dengan orang Diyang dituju.
saat tersambung Yully mengutarakan tujuannya,
"Bu, Uly pulang sore ya?,
lagi ditempat Dini!"
"ngapain, kan lagi ujian,?"
tanya ibu
"ini lagi belajar!"
bohong Yully
hingga membuat Dini yang namanya disebut kaget dan bingung sembari menyipitkan mata.
"ya, jangan pulang kemalaman"
"oke ibu ku sayang"
ucap Yully dikuti dengan berakhirnya sambungan telpon.
Yully nyengir melihat tatapan Dini,
"kamu bohong"
seketika Dini
"cuma sesekali,
sama kamu nya kan benar!"
timpal Yully sembari melirik Bio.
tak berselang lama Deni baru datang,
"itu babang tangan!"
tunjuk Yully saat melihat Deni dengan motornya yang dipenuhi tumpukan barang bawaan.
Dini tersenyum saat melihat Deni yang baru membuka helm yang menutupi kepalanya.
lelahnya terbayar dengan senyum yang tulus dari istrinya,
Bio dengan gesit membatu Deni memindahkan semua belanjaannya kedalam,
dari belakang Dini memberikan satu gelas air mineral kepada Deni,
"bang, minum dulu!"
pinta Dini lembut, hingga Deni meraih gelas meneguk air sampai habis,
"terimakasih sayang!"
ucap Deni sembari tersenyum lembut menjepit dagu Dini.
"jadi kepingin"
bisik Yully tepat saat Bio berada didepannya dengan barang masih ditangan,
Bio tersenyum mendengar ucapan Yully,.
"nanti ya, lebih dari itu dikasih, bantu dulu biar cepat selesainya!"
sahut bio yang membuat Yully ikut tersenyum.
"bang, semua tuk disini, apa sebagian tempat Angga?"
tanya bio yang telah berhasil memindahkan separoh barang yang ada di atas motor Deni
"sini semua, tempat Angga sudah tadi"
ujar Deni..
setelah semuanya tersusun rapi mereka,bersiap tuk pulang,
"Bio, Abang duluan, nanti jangan lupa periksa semua kunci!"
pamit Deni
setelah Deni dan Dini pergi, Bio menarik tangan Yully,
serta menjepit dagu Yully tidak lupa merapatkan bibir mereka,
"muah"
"dah puas kan"
ucap Bio pada Yully yang kaget dengan gerakan tiba-tiba Bio,
hingga mereka tertawa.
"tidur bareng mau nggak?"
tanya Bio saat menaiki motor,dengan mengedipkan sebelah mata,
Yully tersenyum
"ayo,, kapan?"
sela Yully sembari mengalungkan tangan di pinggang Bio saat telah duduk di atas motor.
__ADS_1
motor melaju kencang menuju rumah Yully..
Deni dan Dini baru sampai di rumah, yang disambut oleh Bunda Mery,
"assalamualaikum bunda"
ucap Deni dan Dini sembari menyalami tangan wanita paruh baya itu.
Yanna yang tak perca tentan yang didengarnya hari ini, masih diam membisu.
Buk Tin yang sedari tadi berusaha mengajak anak nya berinteraksi terlihat tidak berdaya,
tiba-tiba Yanna terisak dengan tangis yang mengalir membasahi pipinya,
"semua itu tidak mungkin kan pak, buk?"
tanya Yanna dengan berurai air mata,
Buk Tin memeluk tubuh Yanna yang bergetar, hingga Buk Tin tak sanggup membendung air matanya mengalir pelan jatuh dipunggung Yanna,
Pak Nawir yang juga merasa pusing menjambak frustasi rambut putihnya.
"Tuhan tolong sudahi cobaan ini, hamba sudah tidak sanggup,"
erang pak Nawir. hingga beliau mendekat memeluk kedua wanitanya yang saat ini sangat terluka.
ingatan pak Nawir kembali ke masa dia awal bertugas,
"apakah ini karma ku dimasa lalu, hingga orang yang ku sayang yang menerima akibatnya sekarang?"
gumam pak Nawir saat bayangan masa lalu itu kembali melintas di benaknya.
hingga pak Nawir mengeratkan pelukanku pada kedua wanita yang dia sayangi itu.
flashback on
"aku tidak bisa menerima cintamu, lebih baik mau lupakan aku!"
"tapi Nawir, aku sangat menyukai mu!"
ujar seorang gadis yang telah jatuh hati pada Nawir semasa kuliah dulu
flashback off
pak Nawir pernah menolak seorang wanita dimasa silam hingga wanita itu membawa cinta dan lukanya pergi tanpa sepatah kata.
sedangkan dikediaman Buk Dewi dan Pak Bambang,
anak gadisnya tengah duduk termenung dengan perasaan sakit dan hancur,
sudah hampir tiga hari dia di acuhkan seta tidak mengetahui duduk permasalahannya hingga dia dihindari dari seseorang yang telah membuat mimpinya menjulang tinggi,
namun hasilnya sangat diluar ekspektasi,
Sanga adik yang sangat peka atas masalah saudara tentunya berusaha menghampirinya,
kalo ada masalah cerita, jagan di simpan sendiri!"
seru Alan yang mensejajarkan duduknya di samping Mita,
"aku, nggak mau punya saudara sinting!"
kelakar Alan hingga membuat Mita geram dengan menatap Alan dengan sorot mata tajam
"jadi kamu nyumpahin kakak mu ini sinting?"
sarkas Mita menatap Alan lekat.
Alan tertawa sembari menggelengkan kepalanya
"cuma ngingetin kakak ku yang cantik!
Karan batas kemampuan otak manusia hanya 1 juta Gigabyte,
jika melampaui itu, bisa eror kakak ku sayang!"
ucap Alan sembari menunjuk kepalanya.
Mita hanya menatap Alan heran dan kembali acuh.
"ingat kakak, cinta yang dipaksakan pada akhirnya akan hancur, biarkan berjalan semestinya.
semuanya tidak bisa dipaksakan!"
seru Alan menasehati Mita
"mungkin dia sedang merenung dan memastikan hatinya!"
lanjut Alan hingga membuat Mita tersadar dam melihat Alan dengan mata yang berkedip.
"kenapa dia bisa menebak pikiranku?"
gumam Mita, namu masih bisa didengar Alan.
Alan tersenyum simpul,
"karena aku Adik mu yang punya Indra keenam!"
ujar Alan berbangga diri.
"sok tau kamu!"
sela Mita, sembari melempar Alam dengan bantal,
"idih, bantal bau iler dilempar, bikin aroma penciuman ku terkontaminasi!"
tangkas Alan saat Mita melemparinya adegan bantal.
hingga kedua anak pasangan Pak Bambang dan Buk Dewi itu bercanda saling bercerita.
__ADS_1
"udah deh, kamu keluar sana, aku mau belajar besok masih ujian!"
usui Mita pada adik laki-laki nya, sembari mendorong tubuh Alan ke depan pintu kamarnya.
Buk Dewi yang melihat tingkah anaknya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"ingat yaa, jangan sampai berantem dan membuat rumah berantakan lagi!"
seru Buk Dewi sembari menunjuk kedua anaknya secara bergantian.
"ngak janji, ibu ku!"
sela Alan sembari memeluk Buk Dewi dan mencium pipi ibunya.
"dih, caper!"
celetuk Mita dengan mencebikkan bibirnya.
"Yee, kakak cemburu!"
ujar Alan dengan menggoyangkan kepala ke kiri ke kana.
mengejek Mita,
"udah,, udah,, pusing ibu!"
usaha Buk Dewi menenangkan kedua anak nya,
menutup pintu kamar Mita,
"belajar yang rajin, besok kan masih ujian"
nasehatnya pada putri sulung,
serta membawa Alan menjadi dari kamar Mita,
"kamu, belajar sana!"
perintah Buk Dewi sembari me mengusap punggung Alan lembut.
"siap ibu suri!"
ucap Alan sembari menunduk hingga membuat Buk Dewi tersenyum melihat putra bungsunya.
☺️☺️☺️☺️
𝐻𝑎𝑖𝑖.....
𝑠𝑎𝒉𝑎𝑏𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑐𝑎...
😊😊
𝐷𝑈𝐾𝑈𝑁𝐺 𝑁𝑂𝑉𝐸𝐿 𝐼𝑁𝐼.....
𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑉𝑂𝑇𝐸, 𝑃𝑂𝐼𝑁, 𝐷𝐴𝑁 𝐿𝐼𝐾𝐸
𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑎𝒉𝑎𝑏𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑐𝑎 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎......
😉🤩😍
𝑗𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑙𝑢𝑝𝑎 𝐿𝐼𝑆𝑇 𝐹𝐴𝑉𝑂𝑅𝐼𝑇 𝑑𝑎𝑛 𝐵𝐼𝑆𝐴 𝑅𝐴𝑁𝑇𝐼𝑁𝐺 𝑦𝑎𝒉 𝑠𝑎𝒉𝑎𝑏𝑎𝑡𝑘𝑢
🙏🙏🙏🙏
𝑡𝑜𝑙𝑜𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙𝑘𝑎𝑛 𝐾𝑂𝑀𝐸𝑁 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑢𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑖𝑑𝑖𝑘 𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑠𝑜𝑝𝑎𝑛!
😘😘😘
𝑗𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑙𝑢𝑝𝑎 𝒉𝑎𝑑𝑖𝑎𝒉𝑛𝑦𝑎
🤭🤭🤭🤭🤭
𝑎𝑔𝑎𝑟 𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎 𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑒𝑚𝑎𝑘𝑖𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔.
🥰🤗🥳🌞
𝑇𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑘𝑎𝑠𝑖𝒉 𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑙𝑎𝒉 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑒𝑛𝑎𝑛 𝑠𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝒉
💖💋
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
terimakasih kepada:
yang telah setia membaca karya saya,🙏
semua tuluisan saya asli dari pemikiran dan imajinasi saya sendiri,yang dibumbui dengan sedikit pengalaman nyata.
🤭
saya hanya penulis baru, yang awalnya coba coba namun ketagihan 🤭
Terimakasih yang sebesar-besarnya karena telah memberikan
LIKE, KOMENTAR DAN DUKUNGAN,🙏
Tanpa dukungan anda semua saya bukan apa-apa dan tidak menjadi seperti sekarang 🤗
jangan lupa mampir juga dicerita saya yang lain
PRAHARA CINTA
MAAFKAN AKU BUNDA
AKU, KAU DAN IBU MU
ARSIL
🙏
__ADS_1