
Dini dan Deni yang baru sampai di rumah Ayah Sofyan,
disambut hangat oleh Bunda Mery.
"assalamualaikum Bunda"
salam sepasang suami istri pada Bunda saat memasuki rumah tidak lupa menyodorkan tangan yang disambut Bunda Mery.
"Ayah, man Bun?"
tanya Dini,
"ada didepan televisi?"
seru Bunda yang melihat kearah Rungan yang menyala.
hingga mereka beriringan menghampiri Ayah,
"ayah,"
seru Dini sembari memeluk Ayah Sofyan dan diikuti Deni dengan mencium punggung tangan mertuanya.
"udah pulang?"
tanya Ayah Sofyan pada Deni.
setelah mengobrol lima menit, pasangan pengantin baru itu pamit hendak Menganti baju.
sesampai dikamar, Dini merebahkan tubuhnya di atas kasur,
sedangkan Deni, membuka jaket serta mengantungkan jaketnya,
Deni mendekati Dini yang tidur di atas ranjang,
"sayang, mandi yuk!"
ajak Deni sembari membela pipi lembut Dini.
Dini melihat suaminya dengan sudut mata dan pura pura tidur,
"sayang,"
rengek Deni dengan mencium bibir mungil Dini,
awalnya ciuman Deni lembut tapi berulang hingga Dini melenguh membuat Deni tersenyum hingga lidah Deni bisa memasuki mulut istrinya tanpa membuang kesempatan Deni mengabsen setiap isi mulut Dini,
yang diikuti gerakan tangan Deni menelusup masuki baju dini hingga mendarat di dua bukit yang baru bertumbuh.
Dini menggeliat kegelian di ikuti lenguhan yang semakin menggoda jiwa ke lelaki an Deni semakin terpacu,
selah lama berciuman, sepasang pengantin baru itu melepaskan pertautan mulut mereka karena rasa sesak di dada kehabisan oksigen,
mereka mengirup oksigen gratis pemberian sang khalik dengan dada yang naik turun hingga mereka bisa bernapas normal,
Deni menyeka bibir istrinya yang basah dengan lembut,,
kembali mencium pipi Dini yang merona merah,
terbersit senyum melengkung di bibir Deni dengan pancaran kebahagian.
Deni memeluk tubuh Dini, berbisik tepat ditelinga istrinya,
"Abang sangat mencintai mu,"
sembari mencium daun telinganya istrinya hingga membuat Dini meremang dan memeluk Deni dengan erat.
deru nafas Dini terdengar kencang dengan dada yang turun naik diiringi bunyi debaran jantung yang berdetak kencang,
"mungkin kah Abang akan meminta hak nya?"
gumam Dini dalam hati saat menyenderkan kepalanya di dada bidang Deni.
"Abang cuma ingin jadi sumber kehidupan mu,
seperti mentari yang tanpa lelah menyinari bumi,
yang bisa membuatmu hidup indah dan bahagia, jadi tempat mu bersandar saat kamu lelah"
lanjut Deni hingga Dini menengadahkan wajahnya wajahnya,
__ADS_1
Dini menatap mata Deni tanpa biasa berkata kata,
hingga anak sungai menggenang di pelupuk mata indahnya
perlahan Deni menyapu air mata uang bergulir jatuh bagai anak Nanik hingga mendaratkan ciuman lembut dikedua mata Dini.
"sayang kamu hanya boleh mengandalkan suami mu ini dalam hidup mu, Bisakah?"
tanya Deni dengan mata yang menatap tajam namun penuh cinta.
Dini menggunakan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca, kembali memeluk tubuh Deni erat hingga tidak ada celah diantara mereka..
Deni mengendong tubuh mungil Dini kedalam kamar mandi, perlahan membuka pakaian Dini satu persatu,
mata Deni berbinar melihat keindahan tubuh istrinya yang putih mulus namu ada hiasan tahi lalat yang besar di pinggang sebelah kirinya,
Deni menelan ludahnya dan mencium lukisan indah itu hingga Dini merasakan ada rasa aneh menjalar di seluruh tubuhnya.
perlahan Deni mencium putik kecil yang baru mulai tumbuh hingga mengisap dengan rakus bagaikan anak kecil yang sedang kehausan, tangan kanannya menahan tubuh Dini, sedang kan tangan kirinya meremas pelan bukit yang satunya.
Dini semakin menggeliat dengan rasa aneh yang menggerogoti tubuhnya hingga kakinya gemetar.
entah sejak kapan Deni melepaskan pakaiannya hingga dia cuma memakai ****** ***** yang menutupi bagian tengah pahanya.
Deni merapatkan tubuhnya pada Dini, hingga bagian yang mengeras menekan pusat Dini,
Dini yang merasakan keras dibagiaan pusarnya,
perlahan tapi pasti tangannya memegang benda itu,
mata Dini membulat saat menyentuh benda keras dengan pipi yang memerah malu.
"pegang sayang".
bisik Deni dengan suara berat menahan gejolak tubuhnya.
nafas Dini sesak saat tangannya, menjadi kaku namun tidak beranjak dari benda itu.
perlahan Deni melepaskan kain segi tiga Dini, hingga terlihat hamparan bulu harus dengan keindahan yang membuat mata Deni berkabut,
Deni menempelkan entong pada hamparan bulu halus,
Deni mengerang saat merasakan nikmat yang tidak bisa dilukiskan nya,
"kenapa sayang?"
seru Deni panik,
"apa ada yang sakit?"
kembali Deni bertanya memperhatikan seluruh tubuh istrinya,
sungguh Deni kaget saat melihat banyak nya bekas ***** yang terukir di dada istrinya.
namun sesaat kemudian Deni tersenyum.
"bang Dini takut,
besok Dini masih ada ujian"
lirih Dini menunduk membuka mulutnya lebar saat melihat benda keras yang tegak berdiri tepat ditengah pahanya.
Deni tidak mengeluarkan suara malah meraih jari lentik Dini, mengarahkan pada entong,
"pegang"
bisik Deni menuntun jari istrinya bergerak di sana hingga tubuh Deni bergetar sampai tubuh Dini disemprot cairan kental seperti susu.
"terimakasih sayang"
seru Deni, hingga mereka mandi berdua saling membersihkan tubuh satu sama lain,
mereka telah berpakaian rapi, setelah shalat magrib pasangan suami istri itu keluar tuk makan malam bersama Ayah Sofyan dan Bunda Mery,
saat melihat anak dan menantu nya mendekat terbersit senyum dari mulut kedua orang tua Dini,
entah apa yang ada dalam pikiran orang tua itu saat melihat rambut anak dan menantunya yang basah.
setelah selesai makan malam mereka kembali kemamar.
__ADS_1
Deni menemani Dini yang tengah tekun belajar tuk ujian hari terakhir besok,
Dini belajar hingga larut malam,
dengan sangat hati-hati Deni mengendong tubuh langsing istrinya kertas ranjang karena telah tertidur di atas meja belajarnya.
Deni meluk tubuh istrinya saat tidur, Deni menarik selimut menutup tubuh mereka hingga mereka tidur tanpa melepaskan pelukan hingga menelusuri alam mimpi masing-masing.
π€π€π€π€
β’
β’
β’
β’
β’
π»πππ.....
π ππππππ‘ ππππ...
ππ
π·ππΎπππΊ ππππΈπΏ πΌππΌ.....
ππππππ ππππΈ, πππΌπ, π·π΄π πΏπΌπΎπΈ
ππππ π ππππππ‘ ππππ π πππ’π......
ππ€©π
ππππππ ππ’ππ πΏπΌππ πΉπ΄πππ πΌπ πππ π΅πΌππ΄ π π΄πππΌππΊ π¦ππ π ππππππ‘ππ’
ππππ
π‘πππππ π‘πππππππππ πΎπππΈπ π¦πππ ππππππππ’π πππ ππππππππ π πππ‘π π ππππ!
πππ
ππππππ ππ’ππ ππππππππ¦π
π€π€π€π€π€
ππππ ππππ¦π πππ π ππππππ ππππππππππ.
π₯°π€π₯³π
πππππππππ ππ ππππ π¦πππ π‘ππππ ππππππππ π ππππππ
ππ
β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
terimakasih kepada:
yang telah setia membaca karya saya,π
semua tuluisan saya asli dari pemikiran dan imajinasi saya sendiri,yang dibumbui dengan sedikit pengalaman nyata.
π€
saya hanya penulis baru, yang awalnya coba coba namun ketagihan π€
Terimakasih yang sebesar-besarnya karena telah memberikan
LIKE, KOMENTAR DAN DUKUNGAN,π
Tanpa dukungan anda semua saya bukan apa-apa dan tidak menjadi seperti sekarang π€
jangan lupa mampir juga dicerita saya yang lain
PRAHARA CINTA
MAAFKAN AKU BUNDA
AKU, KAU DAN IBU MU
__ADS_1
ARSIL
π